Pertanyaan Penelitian Pengembangan Saat Seminar Proposal

Assalammualaikum wr wb

Mungkin saya adalah salah satu blogger absurd yang malah lebih rela curhat di blog padahal keesokan harinya akan menjadi pemateri seminar proposal. Iyaa, saya cukup stres. Kepala pening, pusing, butuh relaksasi.



Salah satu wujud relaksasi saya adalah ya begini, nulis di blog. Tapi yang ditulis ini ya berkaitan dengan besok, yaitu menulis perkiraan pertanyaan dan jawaban yang akan ditanyakan besok.

Nah, ini saya melakukan penelitian pengembangan bahan ajar. Judulnya "Pengembangan Buku Teks Pelajaran Terintegrasi Mitigasi Bencana Pada Pokok Bahasan Getaran dan Gelombang". Jadi, pertanyaan ini cocok buat teman-teman yang akan melakukan seminar proposal dengan penelitian yang serupa dengan saya. Yuk cuus, disimak...

1. Mengapa di rumusan masalah ada hasil belajar sedangkan di bab lain kamu tidak membahas hasil belajar sama sekali?

Maaf Pak, itu luput dari perhatian. Seharusnya tidak ada hasil belajar di rumusan masalah karena saya tidak melakukan penelitian tentang hasil belajar.

"Mengapa tidak melakukan penelitian tentang hasil belajar?"


Saya bisa saja mengukur hasil belajar, tetapi pada penelitian ini saya ingin mengetahui bagaimanakah kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi bencana mengingat bahwa siswa adalah anggota masyarakat yang rentan terhadap bencana dan kita tinggal di daerah rawan bencana.

Baca juga: Menuju Sidang


2. Mitigasi bencana yang Anda maksud ini seperti apa?

Secara definisi, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Jadi, ketika saya memberikan produk ini ke siswa, maka saya telah melakukan mitigasi. Begitupun juga dengan siswa, apabila ia telah membaca produk ini, maka ia telah melakukan mitigasi untuk dirinya sendiri.

Mitigasi yang saya lakukan di produk ini adalah memberikan wawasan tentang cara-cara yang harus dihadapi siswa apabila merasakan tanda-tanda bencana. Contohnya seperti pada halaman 3, di situ terdapat warning tentang hal yang harus dilakukan apabila siswa merasakan gempa bumi.

3. Mengapa Anda memilih melakukan penelitian di sekolah tersebut?

Sebenarnya produk ini dapat digunakan atau diterapkan di mana saja, mengingat bahwa negara kita adalah negara rawan bencana. Jadi, produk ini dapat diterapkan dimana saja. Alasan saya memilih SMP 12 sebagai lokasi penelitian saya adalah karena sekolah tersebut menggunakan kurikulum yang menempatkan getaran dan gelombang pada semester kedua.

"Memangnya menggunakan kurikulum apa?"


KTSP. Awalnya memang saya tidak memilih SMP 12 sebagai lokasi penelitian saya, melainkan SMP 10 yang menggunakan K13. Saat itu saya memilih sekolah tersebut untuk penelitian di semester ganjil.

Tetapi untuk semester genap pada K13, pokok bahasannya umumnya merujuk pada bahasan Biologi. Maka saya berinisiatif untuk berganti sekolah demi kelancaran penelitian saya. Toh, produk saya bisa diterapkan di mana saja, di sudut-sudut Indonesia.

Baca juga: Baca Revisian

4. Apa tujuanmu mengembangkan bahan ajar ini?

Saya merasakan keresahan ketika mengetahui bahwa siswa atau pelajar merupakan anggota masyarakat yang rentan bencana karena kekurangtahuan mereka terhadap langkah-langkah untuk melindungi diri ketika ada bencana datang. Untuk itu, dirasa perlu bahwa ada materi mitigasi bencana yang masuk ke siswa melalui perantara buku.

Lagipula, sayang sekali bahwa materi getaran gelombang pada umumnya, yang biasanya dikaitkan dengan gempa bumi dan tsunami, namun tidak ada langkah-langkah atau antisipasi menghadapi bencana, jadi kesannya nanggung. Maka dari itu, saya merasa perlu mengembangkan bahan ajar ini.

"Mengapa yang Anda kembangkan adalah buku? Mengapa tidak modul atau lainnya?"


Karena buku adalah bahan ajar yang mendasar, yang menjadi pegangan siswa ketika di sekolah. Saya bisa saja menggunakan modul untuk dikembangkan, tetapi saya belum menemukan modul sekolah yang bisa saya kembangkan. Karena umumnya sekolah menggunakan buku teks, maka yang saya kembangkan adalah buku teksnya.

"Memangnya kurang apa bukunya?"


Tidak pantas rasanya apabila saya menilai kejelekan bukunya berdasarkan isi, gambar, warna, ataupun lainnya karena hal itu sudah dipikirkan matang-matang oleh penerbit. Namun, dengan melihat keadaan bahwa siswa merupakan anggota masyarakat yang rentan terhadap bencana, namun pada buku yang dipelajari siswa sama sekali tidak disinggung tentang langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menghadapi bencana.

Padahal pemberian wawasan mitigasi bencana itu perlu, meskipun tidak masuk ke semua bab yang ada di buku, namun masuk ke beberapa bab yang erat hubungannya, itu sudah cukup. Dari situ kita sudah dapat mengurangi siswa yang akan menjadi korban bencana selanjutnya.

5. Apa itu validitas bahan ajar?

Validitas bahan ajar adalah ukuran kevalidan atau ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Semakin tinggi tingkat kevalidannya, maka semakin baik pula bahan ajar tersebut digunakan.

"Kalau tidak valid bagaimana?"

Mengikuti petunjuk alur model yang digunakan dan ketentuan kevalidan. Apabila kurang valid, bisa digunakan asal dengan revisi. Seperti itu untuk lainnya.

Ah, sementara itu aja yaaa... Saya mau belajar yang lain...

Doaka yaaa... semoga seminar proposal saya dilancarkan... Lisanku dilancarkan, pendengaranku dapat mendengar dengan baik dan jelas, serta pikiranku terbuka dan dapat berpikir mengolah saran, pertanyaan, dan rekomendasi dari peserta dan tim dosen.

Mohon doanya dengan sangat...

Wassalammualaikum wr wb

2 Comments

  1. ehm jadi ngerasa balik ke masa muda hahahhaa
    dohhhh

    BalasHapus
  2. Halo kak, mau nanya dong. kalau pada penelitian pengembangan ini kita memilih sampelnya gimana kak?

    BalasHapus