Baleriano Chapter 18: Crazy On 3 Days


Aku tidak mau keluar dari kamar. Kegiatanku hanyalah melamun, menyesali diri mengapa aku sebodoh ini. Dan tentu saja mengutuk orang yang telah membuatku bodoh mempercayai ketulusannya.

Aku tidak tahu bagaimana dengan nasib butik yang telah kutelantarkan dengan sengaja. Entahlah apa kata pelanggan nanti, tapi aku tetap tak akan peduli dengan kata mereka. Biarlah mereka sibuk dengan cemoohannya tentangku.

Aku sendiri di kamar. Merenungi nasib. Mempertanyakan diri sendiri.

Aku masih belum bercerita tentang masalahku pada siapapun. Aku masih ingin sendiri. Aku masih ingin merenungi diri.



Mataku sembab karena telah cukup lama aku menangis. Sempat aku bercermin dan mendapati mataku bengkak. Lama-lama, aku merasa bahwa mataku tak kuasa untuk membuka dengan lebar, karena aku selalu tak bisa menahan tangis.

Aku sendiri di kamar. Menangis. Menangisi keadaan. Menangisi seseorang.

Entah sampai kapan aku akan berhenti menangis. Sulit bagiku untuk menerima kenyataan dan mengikhlaskannya.

“Ra...” panggil Mama.

Aku hanya diam. Aku tak menyahuti panggilan Mama.

Jika Mama ingin masuk ke dalam kamar, silahkan saja. Pintu selalu terbuka untuk Mama. Tetapi maaf, aku masih tidak bisa bercerita apapun kepada Mama. Aku masih ingin memendamnya sendiri.

Mama pun membuka pintu kamarku. Aku hanya melirik sekilas.

“Ada bunga mawar lagi... Mama letakkan di sini ya?” kata Mama sambil meletakkan setangkai mawar putih di atas meja dekat pintu.

Ada setumpuk mawar putih di atas mejaku. Tapi sama sekali aku tak menyentuhnya. Mengetahui siapa pengirimnya pun aku tak peduli.

Setangkai mawar putih selalu datang setiap saat. Entah siapa yang mengirimnya, aku tak akan peduli. Aku tidak pernah menggubrisnya. Namun mawar putih itu semakin menumpuk di atas mejaku tanpa pernah kusentuh sekalipun.
***

Aku hidup gila dengan ketidakwarasanku
Aku ada dengan segala kebodohanku
Aku mempercayai yang seharusnya tidak terjadi
Aku berbicara tanpa tahu susunan kata-kata
Begitu bodohnya aku ketika menjatuhkan diri padamu
Ternyata kau tak lebih dari sekedar lumpur busuk di pekuburan.

Aku hanya bertemankan buku harian. Ia yang selalu mendengar ceritaku, keluh kesahku, ratapanku, amarahku dan segala pertanyaan maupun pernyataan. Namun sayang, ia tak pernah menjawab segala tanyaku. Ia hanya bisa mendengarkan tanpa pernah menjawab.
***

Aku tak pernah tahu kapan siang berganti malam, kapan malam berganti siang. Jendela kamar kututup rapat. Aku tak membiarkan sedikit pun cahaya masuk ke dalam kamarku. Aku ingin sendiri.

Aku juga tidak tahu berapa lama aku hidup gila seperti ini. Aku juga tidak ingat kapan terakhir kali aku membasuh diri. Rambutku telah terbentuk layaknya rambut singa. Bau badan tak pernah kugubris. Toh tidak ada orang yang mendekatiku, jadi buat apa aku mandi.

Hanya Mama yang mengerti tentangku. Meski aku selalu menghiraukan kata-katanya, meski aku tak pernah mempedulikannya. Aku hanya mempedulikan diri sendiri, yang memang sedang ingin sendiri. Hanya sendiri.

“Ra...” sebuah suara memanggilku.

Aku hafal suara itu. Suara Kak Nara.

Tiba-tiba Kak Nara membuka pintu kamarku yang memang tidak terkunci.

Ruanganku gelap. Aku melihat dengan memaksa mataku untuk bekerja lebih optimal dalam ruangan minim cahaya. Aku melihat Kak Nara sedang mencari tombol lampu. Sepertinya ia ingin menyalakan lampu di kamarku.

Tak berapa lama kemudian, lampu menyala. Mataku silau dibuatnya. Aku menunduk, menutupi wajahku dengan bantal.

“Ya ampun!” teriak Kak Nara. Sepertinya dia kaget.

Aku menyingkirkan bantal dari wajahku, membiarkan wajah kusutku nampak jelas di hadapan Kak Nara yang baru kali ini menengokku.

“Kamu kok?” kalimat Kak Nara menggantung.

Aku hanya diam. Menatap tajam mata Kak Nara. Kak Nara bergidik ngeri melihatku.

“Kamu udah gila ya, Ra?” tanyanya tanpa tahu sopan santun.

Aku kesal dengan Kak Nara yang menganggapku orang gila.

Dengan sigap aku melemparkan bantal ke arah Kak Nara berdiri. Bantal itu mengenainya. Ia mengeluh kesakitan, padahal itu hanya sebuah bantal. Kak Nara memohon ampun padaku.

“Ampun, Ra. Kamu jangan gini dong!”

Namun aku tak puas dengan hanya satu benda. Aku pun mengambil vas bunga yang tak jauh darikudan melemparkannya ke arah Kak Nara. Tapi sayang, tidak mengenai Kak Nara. Ia sempat menghindar dari lemparanku.

“Auw! Ra! Apa-apaan sih kamu?!”

Aku pun segera mengambil benda yang berada di atas meja dekat tempat tidurku. Benda apapun. Dan aku telah mendapatkan sebuah benda yang cukup tajam. Aku memegang sebuah gunting.

“Ra, kamu mau apa dengan gunting itu?! Letakkan gunting itu, Ra...!” kata Kak Nara sambil bergidik ngeri.

Dengan tatapan tajam seakan ingin memangsa, aku siap melempar gunting ke arah Kak Nara.

“Ra! Ampun, Ra! Letakkan gunting itu! Bahaya, Ra!” Kak Nara hanya bisa memohon ampun padaku dan memintaku untuk menurunkan gunting yang aku pegang. Tapi aku tetap ingin menancapkan gunting ini di kepala Kak Nara dari kejauhan. Aku ingin memuaskan batinku.

Dengan sigap dan cepat aku melemparkan gunting ke arah Kak Nara. Namun sayang, tidak sampai tujuan. Gunting itu terlempar jauh ke dalam kamar mandi. Ternyata Kak Nara berhasil menghindari lemparanku.

Aku melihat Kak Nara bernafas lega, meski masih merasa ketakutan.

“Kamu gila, Ra!” teriak Kak Nara sambil berlari meninggalkan kamarku.

Aku pun mengambil jam beker dan melemparkannya ke pintu. Aku kesal dengan Kak Nara. Aku benci Kak Nara.

Hanya aku yang boleh berkata bahwa aku gila!
***

Semakin lama, aku merasa bosan dengan kesendirianku. Ternyata gelapnya kamar tak mampu memeluk ragaku. Ternyata buku harian tidak bisa menjawab segala pertanyaanku. Ternyata bantal dan guling tidak pernah bisa menenangkan hatiku.

Aku butuh seseorang.

Seseorang yang hidup, yang tahu etika, yang tahu bagaimana aku dan masalahku. Aku ingin bercerita tentang apapun itu. Aku ingin bercerita sepuasnya untuk melampiaskan kekesalanku.

Aku butuh seseorang. Adakah yang mau mendengar ceritaku?
***


Cinta itu sebuah rasa yang memabukkan, membungkam mulut, membutakan mata, menulikan telinga.
- Rindu MEV - 

0 Comments