Baleriano Chapter 20: Setumpuk Mawar Putih


Aku mengambil tumpukan mawar putih yang berada di meja dekat pintu kamarku. Ada banyak mawar putih. Aku yakin, ini semua pasti pemberian Davin.

Di setiap ikat mawar putih, terlampir sebuah kertas kecil yang berisi pesan singkat. Aku pun membaca satu persatu kertas kecil tersebut.



Maura, maaf... saya tidak tahu apa-apa..
Maura, maafkan saya...
Maura, berhentilah menangis, tersenyumlah.. 
Maura, maafkan saya.. maafkan segala salah saya selama ini..
Maura, smile you don’t cry 
Maura, tersenyumlah…
Maura, maafin saya ya...
Maura, saya ingin bercerita banyak padamu..
Maura, saya ingin kau mendengarku..
Maura, saya butuh kamu..
Maura... bangunlah dari keterpurukanmu... 
Maura, saya ingin kamu berhenti menangis..
Maura, maaf... 
Maura, tersenyumlah.. 

Aku terharu membacanya. Aku menjadi merasa bersalah, bahwa ternyata sebegitu keukeuhnya Davin untuk meminta maaf padaku. Tapi sayang, selama itu pula otakku telah membatu dan sulit untuk menerima semua hal baik yang ditawarkan padaku.

Aku merasa semakin bersalah pada Davin. Tak seharusnya aku bertindak bodoh seperti ini. Seharusnya aku tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa Davin sama saja dengan Elang. Seharusnya aku berpikir lebih jernih daripada menjadi orang gila selama berhari-hari.

Tapi, yang lalu biarlah berlalu. Mungkin, kegilaanku selama ini bisa menyadarkanku untuk memandang hidup dengan optimis, menerima hal-hal yang baik, dan tentu saja lebih dekat dengan Tuhan.

Semua cobaan yang dialami dan semua hal yang telah dilewati adalah sebagai peringatan dini untuk para manusia agar lebih dekat dengan Tuhan-Nya.
***

Yang kumau ada dirimu ~
Tapi tak begini keadaannya ~
Yang kumau selalu denganmu ~
Jika Tuhan mau begini ~
Ubahlah semua jadi yang kumau ~
Karena kuingin semua berjalan ~
Seperti yang kumau ~

Lagu milik Krisdayanti yang berjudul Yang Kumau menjadi list music yang pertama kali aku dengarkan sejak tragedi pagi hari di taman tiga hari yang lalu. Lagunya sungguh menyentuh, hampir mirip dengan kisahku saat ini.

Terkadang seseorang tidak bisa menerima akan hadirnya takdir, tetapi seusaha apapun ia, pasti tak akan bisa mengelak dari takdir dan menyalahkannya.

Seperti aku yang tak mungkin menyalahkan takdir, melainkan menyalahkan diri ini yang tidak bisa menerima keberadaan takdir.

Davin memang mantan Kara, tetapi kenapa aku tidak bisa menerima kenyataan itu? Kenapa aku malah marah-marah nggak jelas seperti itu sampai mengkhawatirkan banyak orang? Kenapa pikiranku dangkal sekali dan kenapa aku bertindak sebodoh ini?

Dan kini aku tahu jawabannya, yaitu tidak bisa menerima kenyataan. Bukan takdir, hanya kenyataan. Davin hanya mantan pacar Kara, bukan jodoh Kara. Jika bicara jodoh, pasti ada sangkut pautnya dengan kuasa Tuhan yang disebut takdir, bukankah begitu?
***

"Ma,” panggilku menghampiri Mama yang sedang berada di dapur.

“Ya? Ada apa, Maura sayang?”

“Aku mau nanya...”

“Nanya apa, sayang?”

“Yang ngasih mawar putih itu... Davin kan?” tanyaku ragu.

Mama mengangguk.

“Ngasihnya setiap hari?”

“Iya. Ngasihnya setiap waktu.”

“Sejak 3 hari yang lalu?”

“Iya,” Mama mengangguk lagi. “Memangnya kenapa, Ra?”

“Kok hari ini Davin nggak ngirim mawar lagi?”
***

Cinta adalah perasaan yang sulit dipahami
– Nur Mala Hayati -

0 Comments