Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mama, Lestari Bersama Papa

Senangnya mendapatkan papa baru. Itulah yang ada di benakku saat ini. Aku merasa bahwa aku telah mendapatkan papa yang lebih baik daripada papaku yang lama. Memang, aku tak bisa menelaah apa saja sifat buruk papaku yang lama, sampai-sampai aku lebih membanggakan papaku yang baru.

Aku ingat, saat pertengakaran heboh antara papa dan mama sebelum mereka memutuskan untuk bercerai., mereka memberiku satu pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang dapat menentukan masa-masa indahku. “Mana yang kau pilih? Mama atau Papa?” Aku sebagai bocah yang menginjak masa-masa remaja hanya bisa tertunduk lemas. Sebenarnya aku tak ingin salah satu dari mereka pergi meninggalkanku, aku ingin mereka selalu bersama dan selalu merasa bahagia bila berkumpul bersama. Tapi alangkah mustahilnya jika aku memilih keduanya. Aku harus pilih salah satu di antara mereka.

Entah bagaimana bisa aku melontarkan sebuah kata “Mama”. Saat itu aku sempat berfikir, remaja seusiaku ini lebih membutuhkan peran seorang mama untuk menjalani masa-masa remaja yang indah. Tapi tak menutup kemungkinan bahwa kebhagiaan juga aku dapatkan jika aku menghabiskan masa beliaku dengan seorang papa. Tapi, mengapa batinku lebih memilih mama? Mungkinkah ini yang dinamakan nurani hati?

Tetapi aku tak ingin munafik juga, bahwa aku rindu papaku. Lebih tepatnya papaku yang lama. Aku pernah berfikir bahwa jika aku ikut dengan papaku, aku akan mendapatkan ibu tiri. Itulah alasan yang kuambil dari kisah fiksi maupun non fisik bahwa semua yang namanya ibu tiri itu selalu kejam. Maka dari itu, aku memilih mama. Lagipula, aku tak pernah mendengar istilah “papa tiri kejam”. Itulah sebabnya aku memilih mama.

Hari ini, 20 hari tepatnya aku memiliki keluarga baru. Dengan mama dan papa baru. Semoga dengan keluarga baru ini, akan kudapatkan suasana baru.

***


Untuk Mama tercinta

Ma, maaf sebelumnya Lestari nggak sopan telah menulis surat kayak gini. Lestari Cuma pengen minta maaf sama Mama. Kalo Lestari nggak suka lagi sama Papa. Karena banyak hal yang membuat Lestari tidak bisa memaafkan Papa.

Ma, Lestari disiksa… Lestari disuruh melakukan hal yang nggak jelas. Lestari disuruh melakukan hal aneh. Lestari disuruh masak 50 jenis makanan hanya dalam waktu 1jam saja. Lestari juga harus makan malam di tengah kolam renang. Lestari juga harus mengerjakan tugas Bi Inem dan Pak Diman. Tak hanya itu saja, masih banyak kekonyolan lain yang harus dilakukan Lestari untuk membuat Papa senang dan tertawa terbahak-bahak. Ma… Lestari disiksa. Lestari dipukul, ditampar, disiram, direndam di bak mandi dan masih banyak siksaan lain yang mama tak ketahui.

Ma, Lestari juga tak tau mengapa Papa bisa berubah sifatnya. Sejak Mama pergi ke Kuala Lumpur, sejak itu pula Papa menyiksa Lestari. Apa salah Lestari sehingga Papa memperlakukan tindakan itu terhadap Lestari?

Ma, Lestari sungguh-sungguh tersiksa dengan kelakuan Papa. Dan Lestari tak ingin hal ini berlanjut. Dan dengan kemantapan hati, Lestari bertekad melarikan diri dari ruma. Lestari tak ingin siksaan ini berlanjut. Maaf ya ma, jika Lestari melakukan tindakan bodoh ini yang bisa membuat remuk hati Mama. tapi Ma, Lestari sudah nggak betah di rumah ini.

Ma, Lestari berpesan kepada Mama, jaga diri baik-baik ya?Mama harus tetap tabah jika Mama menghadapi 2 kepribadian Papa.

Ma, jika Mama mencari Lestari, janganlah cari Lestari, tapi carilah Papa Darmawan. Lestari akan mencari Papa yang baik.

Ma, Lestari juga ingin minta maaf kalo selama ini Lestari telah merepotkan Mama. Lestari juga turut mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Mama bahwa Mama telah bersedia merawat Lestari mulai dari Lestari kecil hingga Lestari sekarang ini.

Ma, kata terakhir yang ingin kuucapkan kepada Mama, bahwa LESTARI SAYANG MAMA…


Salam sayang

Anakmu, Lestari Darmawan


Selesai sudah surat yang kutujukan untuk Mama. Segera kumasukkan ke dalam amplop. Semua barang ku cek. Baju, foto, uang, dan surat. Oke! Setelah ini aku harus menuju ke dapur untuk mengambil beberapa makanan, lalu pergi ke pos satpam dan menemui Pak Diman untuk menitipkan surat ini. Lalu, aku keluar rumah dan bertekad mencari Papaku yang lama. Dimanapun ia berada, aku akan mencarinya.

***


“Bagaimana belajarmu tadi di sekolah Les?”

“Seperti biasa…”

“Katanya kemarin ulangan akutansi dan hasilnya sekarang diumumkan, lalu bagaimana nilainya?”

“100”

“Wuah, senangnya. Lagi-lagi dapat 100”

“Hehe, tapi Lestari biasa saja” aku tersenyum simpul. Membuat papa yang kusayang menjadi gemas.

Hari ini aku dan Papa hanya makan nasi dan kecap. Seperti biasa, lauknya krupuk. Tapi, meski begitu kami menyantapnya dengan lahap. Maklum, seharian belum makan.

Selesai makan, kami berdua masih belum tidur. kami asyik mengobrol di ruang tamu berpetak yang hanya berukuran 2m x 2m.

Tok tok tok... Rupanya ada orang yang mengetuk pintu. Hmm, siapa ya?

“Siapa ya Pa? kok malam-malam begini masih ada yang bertamu?”

“Iya, siapa ya Les?”

Segera aku dan Papa menuju pintu. Saat kami membuka pintu, banyak cahaya yang membuat mata kami silau. Banyak orang di depan gubuk kami. Banyak orang yang membawa kamera. Siapa sih mereka?

“Lestari… Papa…”

Siapa sih?

Dan saat kami mengamati dengan seksama siapa yang ada di hadapan kami, kami terkejut. “Mama???”

Aku dan Papa langsung memeluk seseorang yang dipanggilnya Mama. Kami semua menangis.

Telah sekian lama kami bertiga tak bertemu, lebih tepatnya 3 tahun lamanya. Sejak aku kabur dari rumah dan berhasil mencari papa lama ku yang ternyata tinggal di sebuah gubuk dan bermata pencaharian sebagai kuli bangunan.

“Pa... Mama kangen Papa… Les… Mama kangen Lestari…”

“Papa juga kangen sama Mama”

“Lestari juga…”

Semakin histeris tangisan kami. Tangisan yang tak kunjung reda. Setelah sekian lama kami larut dalam kerinduan masing-masing, kami pun mengusap air mata yang telah membanjiri pelupuk mata.

“Bagaimana bisa Mama menemukan kami?” tanyaku. Aku sudah lama ingin berbicara dengan Mama.

“Setelah Mama membaca surat dari kamu, Mama jadi tau apa yang selama ini dia lakukan selama Mama pergi bertugas ke luar negeri. Tak hanya kamu yang disiksa, Pak Diman, Bi Parni dan Mama turut disiksa oleh Papa barumu yang bejat itu. Mama tak tahan atas kelakuannya dan Mama melaporkannya pada pihak yang berwajib dengan kasus KDRT. Sejak itu, Mama merasa kehilangan keluarga kecil Mama. Mama kehilangan Papa. Mama kehilangan Lestari. Dan Mama mencoba mencari Lestari dan Papa. Tapi selama 3 tahun, pencarian Mama tak membuahkan hasil. Hingga Mama meminta bantuan tim ‘Cari-mencari’ untuk mencari keluarga kecil Mama. Mama ingin menemukan kebahagiaan itu lagi. Mama ingin menemukan kelestarian hati bersama keluarga kecil Mama. Dan untuk kali ini, Mama berhasil menemukan kalian. Kedatangan Mama ke sini untuk minta maaf kepada Papa dan Lestari.” Mama menyeka air matanya.

“Pa, maafin Mama ya yang telah menceraikan Papa. Mama baru menyadari bahwa rasa cinta yang ada di hati Mama, hanyalah milik Papa. Jadi, sekali lagi Mama minta maaf ya?” Mama memohon maaf dari Papa.

Papa mengangguk, dan ia mencium kening istrinya. Telah lama ia tak mencium belahan jiwanya.

“Les, Mama minta maaf ya? Mama telah meninggalkanmu dan membiarkanmu tinggal bersama orang jahat. Mama minta maaf ya?”

Aku mengangguk pasti. Ia memeluk mamanya.

“Pa, Les, satu hal lagi yang ingin Mama sampaikan kepada Papa dan Lestari”

“Apa Ma?” sahutku.

“Mama ingin kita bertiga kembali bersatu dan menjadi keluarga baru yang utuh. Maukah kalian menerima kehadiran Mama kembali?”

Tak pelak, aku dan Papa memeluk Mama….


cerpen-mama-papa

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Posting Komentar untuk "Mama, Lestari Bersama Papa"