Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Napak Tilas Gerbong Maut

Assalammualaikum wr wb

Minggu lalu saya datang ke Bondowoso untuk memanjakan tubuh saya yang telah tertempa seminggu lamanya. Hambar rasanya jika tidak mampir ke tempat wisata. Salah satu tempat wisata yang baru saja dirilis adalah Museum Kereta Api Bondowoso.

Depan Museum Kereta Api Bondowoso
Dulunya, kawasan ini adalah Stasiun Bondowoso yang merupakan stasiun kereta api kelas I yang terletak di Kademangan, Bondowoso. Stasiun ini dulu melayani kereta api lokal tujuan Jember dan Panarukan. Pada tahun 2004, kereta api tersebut dinonaktifkan karena prasarana yang sudah sangat tua. Sehingga, dijadikanlah stasiun ini sebagai Museum Kereta Api Bondowoso yang diresmikan pada tanggal 17 Agustus 2016.




Lokasi museum ini tidak jauh dari terminal bus Bondowoso, juga tidak jauh dari alun-alun kota. Sampai saat ini, tidak ada karcis atau tiket membayar untuk masuk ke museum. Cukup kita membayar dengan ucapan terima kasih kepada para pejuang tanah Indonesia yang merelakan dirinya untuk menumpahkan darah dan bertaruh nyawanya. Salah satu perjuangan yang amat memilikan terekam dalam peristiwa gerbong maut, insiden yang terjadi 69 tahun silam.

Stasiun Bondowoso tempo dulu (sumber)
Stasiun Bondowoso yang kini menjadi museum (sumber)
Sebelum, dijadikan museum, stasiun ini sempat dipugar oleh PT Kereta Api. Teman-teman bisa lihat-lihat foto pemugarannya di sini.


Ketika kita memasuki Museum Kereta Api Bondowoso, suasananya masih terasa kental dengan khas stasiun kereta api. Bangunan ini merupakan produk arsitektur Belanda yang mulai dibangun pada 23 Juni 1893. Stasiun ini berlanggam Indische Empire Style, suatu gaya arsitektur Barat yang berkembang pada abad ke-18 dan 19 dan telah disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat.

Mulai memasuki museum
Kemudian kita akan langsung masuk menuju hall. Langit-langit atap pada hall, juga masih tampak bagus. Kokoh. Di dalam hall disajikan lukisan besar yang membentang di dinding. Lukisan tentang betapa pilunya masa silam Indonesia. Sajian utama pada hall adalah bacaan kilas balik tentang sejarah perkeretapian di Indonesia dan khususnya di Bondowoso. Bacaan yang tersaji, juga disematkan foto-foto yang akan menguatkan imajinasi kita tentang Indonesia tempo dulu dengan kereta api sebagai sarananya.
Sajian pembuka

Langit-langit pada hall
Bahan bacaan tentang perkeretapaian di Indonesia
 Ada salah satu bacaan yang menarik dan cukup menyita perhatian saya, yaitu tentang nama-nama penggagas kota Bondowoso. Wilayah Bondowoso, pertama kali dibuka pada akhir abad ke-18 oleh Raden Bagus Assrah atau Mas Astrotuno. Beliau merupakan anak angkat dari pimpinan kabupaten Besuki, yaitu Bupati Rangga Kiai Suroadikusumo. Pada tahun 1794, mas Astrotuno diangkat sebagai Demang dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotuno untuk mengembangkan wilayah Bondowoso. Nama-namanya itu loh, beuuuuh kece banget.

Budayakan membaca


Stasiun ini menghubungkan Panarukan - Kalisat. Jalur kereta api ini dioperasikan sejak 1 Oktober 1897 untuk mengangkut hasil perkebunan dan pertanian seperti tembakau, kopi, beras. Hasil perkebunan tersebut didapatkan dari Jember, Banyuwangi, Bondowoso, serta Situbondo menuju pelabuhan Panarukan untuk diekspor ke luar negeri.

Tebu-tebuan dan tembakau, hasil produksi yang dikirim ke luar negeri

Timbangan. Buat kamu yang beratnya 500 kg.

Coba tebak, rempah-rempah apakah ini?

Ini timbangan untuk mengukur takaran kopi

Tembakau dan kopi. Khas Bondowoso

Peti untuk memuat hasil produksi perkebunan dan pertanian
Pada tahun 2004, PT Kereta Api (Persero) memutuskan menutup jalur Panarukan-Kalisat karena penumpangnya sepi sedangkan biaya operasional cukup besar. Maka dari itu, kini tinggalah barang-barang berharga dan berjasa yang sering digunakan dalam pengoperasian kereta api.

Anek stempel dan reglemen

Dongkrak. Berat banget.



Karcis edmonson. Pink unyu-unyuuuu. Harga tiketnya cukup mahal ya. Jaman segitu 24ribu

Untuk mencertak tanggal pada karcis edmonson

Aneka stempel

Ini tempat buat meletakkan karcis edmonson. 


Juga ada miniatur loko kereta api
Mari menutup mata sejenak, mencoba mengingat bayang-bayang sejarah yang tercatat di buku sejarah atau media sejarah Indonesia yang kelam, salah satunya adalah peristiwa gerbong maut.

Pada 69 tahun silam, tepatnya hari ini, 23 November 1947 terdapat kisah memilukan menyayat hati. 
Pada pukul tiga dini hari, sebanyak 100 tawanan orang-orang Indonesia dipindahkan secara rahasia dari penjara menuju stasiun Bondowoso. Di stasiun, para tawanan digiring ke dalam tiga gerbong barang yang telah menunggu. 

Gerbong pertama seri GR 10152 berisi 38 tawanan, gerbong kedua seri GR 4416 berisi 29 tawanan, gerbong ketiga seri GR 5769 berisi 38 orang. Gerbong tanpa ventilasi udara itu ditutup rapat, bahkan lubang-lubang kecil pada sudut dan pintu gerbong disumpal oleh seorang mata-mata Belanda.

Monumen gerbong maut (diambil dari berbagai sumber)
Setelah menunggu empat jam, baru sekitar pukul 7 pagi kereta api diberangkatkan dari Bondowoso menuju Wonokromo. Di stasiun Kalisat, kereta api berhenti untuk menunggu rangkaian dari Banyuwangi untuk digandengkan. Posisi gerbong berada di emplasemen luar di bawah terik matahari. Udara dalam gerbong semakin pengap. Para tawanan mulai gelisah dan kepanasan. Sepanjang perjalanan Kalisat-Jember, para tawanan mulai berteriak panik. Beberapa mulai jatuh pingsan. 

Pukul 10.30 wib, kereta api diberangkatkan dari Jember. Perjalanan Jember-Pasuruan merupakan puncak penderitaan para tawanan di dalam gerbong. Di dalam ruangan sempit dan penuh sesak, para tawanan sangat kehausan. Beberapa nekat meminum air kencing teman sendiri. Yang lain mencoba membuat lubang angin sebisanya. Ada pula yang histeris sampai mencakar-cakar lantai dengan ujung jaringan sampai berdarah.

Antara Pasuruan-Bangil, turun hujan deras mengguyur gerbong-gerbong tersebut. Hujan menyebabkan udara di dalam gerbong menjadi lebih sejuk. Nasib nahas menimpa tawanan di GR 101152 karena gerbongnya masih baru, udara dan air hujan di luar tidak dapat masuk. Antara Bangil-Sidoarjo, suara tawanan sudah tidak terdengar lagi.

Pukul 19.30 rangkaian gerbong tiba di Wonokromo. Ketika pintu-pintu gerbong dibuka, didapati 90 orang dalam keadaan pingsan dan meninggal dunia. Hanya 10 orang yang masih bergerak.  Pada gerbong baru, semua orang meninggal dunia, yatiu 38 orang. Pada GR 4416, terdapat 2 orang meninggal dari 29 orang. Sedangkan pada gerbong lama berisi 33 orang yang selamat semua.

Sangat mengerikan. Untuk apa sok-sokan dibawa ke Wonokromo naik kereta api kalau ujung-ujungnya dibunuh secara sadis. 

Budayakan Membaca
Kini kenangan tinggalah kenangan. Biarkan setiap inci perjalanannya menjadi saksi bisu dari teriakan-teriakan parau nan pedih menyayat hati.  Biarkan setiap benda di sudut stasiun menjadi saksi sejarah yang tidak akan pernah berhenti mengingat lara nestapa para pahlawan tanpa nama.


Kini kita telah merdeka. Semoga para pahlawan merasa telah lega bahwa tanah airnya telah ditempati oleh anak cucunya. Kami sampaikan terima kasih dan salam hormat kepada para pahlawan yang telah gugur dan menunjukkan rasa cintanya kepada Indonesia. Kini giliran kami, para generasi muda untuk membawa obor api menyala guna bergotong royong dalam melunasi janji-janji kemerdekaan yang tertuang pada pembukaan UUD 1945.

Saya merasa sangat senang dapat berkunjung ke museum kereta api Indonesia untuk memaknai perjuangan para pahlawan.

Teman-teman silahkan mampir dan berkunjung juga ke museum kereta api Indonesia yang terletak di Bondowoso, hanya sekitar 1 km dari terminal Bondowoso dan alun-alun kota Bondowoso.

Terima kasih

Wassalammualaikum wr wb







8 comments for "Napak Tilas Gerbong Maut"

  1. Huwoooww

    Mirip lho ca sama museum kereta api di sumatera barat
    Tapi isi nya agak beda sih hehehehe
    Soalnya yang di sumbar kereta api nya buat ngangkut batubaraa

    ReplyDelete
  2. Ya ampun, baca kisahnya jadi sedih. Jadi muncul sebel sama belanda.. tapi itu kan udah jaman dulu banget yah.. ah...ga kebayang ada di dalam gerbong minim oksigen. Gilaaaak.....

    ReplyDelete
  3. Baru diresmikan Agustus kemarin? Woalah, masih baru toh. Duh, kalau mengenang sejarah itu sedih amat, ya. Teganya. :(

    ReplyDelete
  4. Ngeri ya kalo baca bagian para tawanan yg meninggal dalam kereta api. Sejarah yg kelam.

    Postingannya menarik mbak Ocha :)

    ReplyDelete
  5. Ada sejarah yg sangat menyedihkan ya dibalik museum ini

    ReplyDelete
  6. Kalau main ke museum gitu berasa dibawa ke masa lampau ya gan..

    ReplyDelete
  7. Kok horo banget yah suasana apalagi denger gerbong maut

    ReplyDelete
  8. Pertama baca judulnya tak kira ke peninggalan gerbong" yg horor gtu mbak. Wkwkwkw asiikk juga explore museum kereta api jd belajar sejarah 😁 tfs mbak, salam kenaal. ..

    ReplyDelete