Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memeluk Ibu, Erat.

Assalammualaikum wr wb

Seharusnya catatan ini ditulis pada 3 hari yang lalu, tepat 15 September, ketika usia saya genap 24 tahun. Tapi hari itu, saya ingin tenang.

Saya ingin pulang. Menemui Ibu. Memeluk Ibu. Memeluknya erat. Lama. Sampai Ibu marah-marah 😅

Selang satu jam kemudian, saat Ibu duduk di kursi, sementara saya mengambil dingklik (kursi kecil tanpa sandaran). Lagi, saya memeluk Ibu erat, sambil duduk.

Sambil memeluk, saya memandangi wajah Ibu. Lamaaa banget. Posenya persis seperti bayi yang ada di gendongan, yang bisa senyum-senyum sendiri saat memandang wajah sang penggendong.

Alhamdulillah.. 
Ibu, terima kasih telah memperjuangkan saya sampai sejauh ini..
Terima kasih telah mengobrak-abrik perasaan saya, hingga saya sekuat ini.

Allah, saya enggak pernah tahu, dan mohon jangan diberi tahu lebih dulu, tentang rasa kehilangan seorang Ibu. Saya belum sanggup membayangkan bila kehilangan sebuah sandaran yang bisa dipeluk sepuasnya.


Ibu, adalah manusia yang selalu enak dijadikan tempat mengadu. Berkali-kali saya menangis di pelukannya. Menangis duluan karena takut dimarahin. Menangis duluan karena khawatir enggak dikasih izin. Juga menangis karena sebab yang tak perlu diingat-ingat.

Sementara, terhitung hanya dua kali saya menangis via telpon. Pertama, saat enggak dibolehin ikut praktikum oleh Pak Djoko karena dianggap datang terlambat (padahal masih kurang 5 menit). Kedua, setelah dimarahin Bu Dewi karena duit cair tapi belum ada konfirmasi dari penyelenggara.

Saat curhat ke Ibu sambil nangis-nangis, ealah, enggak dielem-elem atau dipuk-puk, malah makin dimarahin. Hadeeeeh. Ya saya makin nangis lah sejadi-jadinya 😅



Ibu, sebagaimana Ibu-Ibu lainnya yang punya anak perempuan, selalu heboh saat menjelang lebaran. Lapar mata saat ditawari ada baju baru atau gamis baru. Ibu pilih-pilih baju. Dilihatnya cantik-cantik lucu-lucu. Tapi bukan buat dirinya, melainkan buat anaknya.

Lebaran kemarin, jadinya Ibu punya 2 gamis baru, sementara anaknya punya 6 gamis baru. Itu pun, 1 gamisnya diberikan ke anaknya. Wuah, mantap jiwaaa.

Si anak, dikirimin gambar gamis oleh owner gamis langganan, "Ros, mau pilih gamis yang mana?"

Jawabannya sederhana, "Opo jare Ibu". Antara jawaban yang simple atau malas menjawab.

Hmmm no no no. Bukan simple atau malas menjawab. Melainkan: percaya



Ada hal yang sampai saat ini, masih membuat saya terheran-heran. Tentang kekuatan Ibu. Bangun pagi buta, menyiapkan sarapan pagi dan beres-beres rumah sebentar. Lalu jam 5.50 sudah buka toko. Sanggup berada di toko seharian sampai jam setengah 5 sore.

Kalau toko kadung ramai, Ibu akan jarang duduk dan beristirahat. Sementara kalau tokonya sedang sepi, ya Ibu terkantuk-kantuk di kursi.

Toko, enggak pernah ditinggalkan olehnya, hanya untuk melipir istirahat sebentar ke kamar. Kalau ada yang melipir istirahat sebentara ke kamar, berarti itu saya, yang sok lemah.

Saya tuh bingung membayangkan bagaimana kuatnya Ibu. Bertahan di toko mulai pagi sampai sore melayani pembeli. Juga masih disempat-sempatkan untuk melayani Ayah (menyiapkan sarapan, pakaian, menemani makan siang, mencarikan barangnya yang hilang, dll).

Praktis, setelah salat Magrib, Ibu pasti leyeh-leyeh di kasur sambil nonton tv. Setelah salat Isya, beliau langsung amblas tidur. Capek.

Saya pernah tahu rasanya. Membersamai Ibu jaga di toko. Full seharian di toko, melayani pembeli. Alhamdulillah, cukup ramai. Tapi ya begitu, kaki langsung njarem cenat-cenut. Pantas saja Ibu selalu minta pijat ke saya. Sementara saya bukan memijat kakinya, melainkan cuma me-hmek-hmek kaki Ibu 😅


Ibu, kalau ngasih target ke anaknya: suka kelewatan. Tapi, di balik target-targetnya yang aduhai, selalu terselip doa dan harapan, yang tentunya akan menjadi kabar baik untuk masa depan saya.

Saya, hanya perlu menuruti titahnya.
--

Catatan ini ditulis karena... saya bingung mau menulis apa. Yang terpikir hanyalah Ibu.

Wassalammualaikum wr wb 💕


Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

27 komentar untuk "Memeluk Ibu, Erat."

  1. Saya bacanya jadi sedih tapi bahagia juga. Istilahnya apa ya? Terharu?

    Apalagi di bagian belum siap diceritakan rasanya kehilangan Ibu. Huhu.

    It so deep, Kak Ros.

    Ibu Kak Ros gaul juga ya, diajak selfie jago bergaya. :D

    BalasHapus
  2. sedih bacanya, ibu saya udah ga ada 9 tahun lalu. Saya juga kalau apa2 cerita dengan ibu malahan skrg ini meski sudah menikah saya masih tetap butuh sosok ibu yang ga saya temukan dari sosok mertua :( sehat2 buat ibunya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. uwaaa, so deep

      aamiin, semoga ibunya mbah Herva juga sehat2 yaa

      Hapus
  3. Wogh.. Perubahanne drastis yo seka foto"ne.. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. lah karepe piye?
      njaluk aku koyok arek cilik teruuuus???
      hahaha

      Hapus
  4. Makin bertambah usia kita, rasa khawatir kehilangan kedua orang tua itu makin "muncak", nggak sih? Aku kok merasa gitu, ya? Apalagi usia bapak sama ibuk juga udah terbilang cukup sepuh. Sedih :(

    Itu foto pas jaga toko, terus hapenya raib secara misterius itu bukan, mbak? Wkwkwk
    *Masih inget aja aku yang kasus ilangnya hape pas jaga toko*

    BalasHapus
  5. Saya juga sayang banget sama ibuk, bener kata mbak ros, ibu punya kekuatan luar biasa. Bisa ngelakuin apa aja buat anak-anaknya..

    BalasHapus
  6. Selamat ulang tahun, semoga semakin sukes dan semakin berkah. Itulah hebatnya itu, jarang mengelu dan tampak kuat. Semua demi kebahagiaan anaknya.

    BalasHapus
  7. Ternyata semua ibu dimana saja sama-sama kuatnya demi sang anak. Jadi kangen alm. Ibu... Dududu
    Btw, HBD kak Rhos. Salam kenal saya Anis dari Tulungagung

    BalasHapus
  8. umur kita sebenarnya hampir sama kok bisa ya? he he. sayangilah ibu selama beliau masih ada di dekat kita. he eh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya kan enggak masalah kalau umurnya hampir sama, hehee

      Hapus
  9. Anak gadis yang baik...���� Yang pasti, segalak apapun ibu...porsi terbesar otaknya itu untuk mikir anaknya mba...
    *Aku galak soalnya...ha...ha

    BalasHapus
  10. Jadi kangen ibuku huhu

    Nggak sabar pengen pulang ke Padang sebulan lagi huhu :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuuuu selamat berpulang ke pelukan Ibu Bang AUl

      Hapus
  11. Moga ibu sehat2 selalu ya, biar bisa temani dirimu terus dan menjadi mendengar semua curhat anak2. Selamat ulang tahun juga ya mba, moga dimudahkan segala yang menjadi doa2 terbaik :D

    BalasHapus
  12. Gimana ya ros.. baca ini tuh terharu tapi ga pengen nangis. Malah pengen ketawa baca tingkahmu. Haha.. sehat buat ibumu. Ibumu kuat, anaknya strong.
    Eh sama aja ya wkwkw..

    Sukses untukmu!

    BalasHapus
  13. Selamat ulang tahun, kak Ros dan salam buat ibunya kak Ros.
    Semoga semuanya selalu baik dan sehat, ikut mendoakan.

    BalasHapus