Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rasanya Nasi Liwet Solo

Assalammualaikum wr wb

Wuiiii, lama enggak nulis tentang Solo. Kali ini saya mau cerita tentang nasi liwet. Makanan khas Solo yang pengen saya cobain dari dulu. Sempat heran sih kenapa dikasih nama nasi liwet. Apanya yang diliwet gitu.

Dalam benak saya, diliwet itu serupa dengan dililit. Hahaha. Padahal bukan begitu ya maksudnya.


Malam sebelumnya, yaitu malam pertama di Solo, saya nyobain nasi liwet sama si Mas. Tapi nasi liwetnya kurang greget. Soalnya cuma sebatas nasi liwet biasa dengan lalapan ayam. Bukan nasi liwet yang pakai topping khas nasi liwet ndesoan. 

Namun pagi itu, pagi pertama di Solo, si Mas dengan semangat 45 mengajak saya sarapan nasi liwet. Katanya, nasi liwet yang ini dijamin enak. Soalnya dijual dan diracik oleh mbah-mbah. Biasanya terjamin khas tradisionalnya.


Jalanan Solo pagi itu cukup ramai. Tujuan kami adalah Stadion Manahan. Bukan... bukan untuk olahraga atau jogging. Melainkan berburu kuliner 😅

Katanya nasi liwet yang enak dan asli ada di sana. Lebih tepatnya di bagian pujasera atau tempat kulineran sekitar Stadion Manahan.

Lalu sampailah kami di sebuah pujasera yang bentuknya lesehan. Ada seorang ibu paruh baya, yang menyambut kami ramah. "Tumbas nopo mbak'e?" (Beli apa mbaknya?)

Disodorkannya daftar menu nasi liwet kepada kami. Mas yang memilih, saya ikut saja pesanannya. Sepertinya Mas pilih yang menu komplit, yang harganya 10ribu.


Di depan Ibu penjual nasi liwet tersebut, sudah berjejer bakul-bakul besar yang menjadi tempat menyimpan nasi liwet beserta lauk-lauknya. Unik ya. Uniknya karena beda, enggak pakai rombong 💁


Enggak sampai 5 menit, menu pesanan itu mendarat di hadapan kami. Sepiring nasi liwet yang disajikan di atas daun pisang. Inilah nasi liwet yang saya idam-idamkan dari dulu, yang khas Solo banget. Saya mencium aromanya, hmm... harum... bau santannya segar 😇


Dalam sepiring nasi liwet itu, sajian utamanya adalah nasi liwet. Nasi liwet adalah nasi yang dimasak dengan santan kelapa. Mirip dengan nasi gurih atau nasi uduk 🍚

Sajian pendampingnya adalah sayur labu siam, yang nanti disiram di atas nasi liwet. Kemudian lauknya ada telur dan suwiran ayam 🍗

Telurnya ini cukup unik ya, bukan telur dadar atau telur ceplok, atau yang lainnya. Sepertinya telur yang dikocok, diletakkan di wadah besar, kemudian direbus. Cara ngambilnya, diambil pake sesendok. Jadi, jatah telur yang saya dapatkan ya sesendok itu.

Suwiran ayamnya lumayan banyak. Enggak sedikit banget atau menyuwirnya enggak kecil-kecil banget. Ayam suwirannya bukan ayam goreng, sepertinya ayam yang dibumbu santan atau ayam yang diungkep. Oh ya, menyuwir ayamnya saat di situ juga loh. Biasanya kan sudah disiapin ya 😅

Nah, satu lagi topping yang menarik, warnanya putih, diletakkan di bagian paling atas. Saya towel-towel toppingnya, kok goyang-goyang, oo berarti lunak. Saya coba tebak: tahu putih.

Ternyata bukan. Kata ibu penjual, ini adalah areh. Areh adalah bubur gurih yang terbuat dari kelapa. Saya cobain, wuah enak. Unik rasanya. Beda gitu rasanya. Sepertinya puncak kenikmatan nasi liwet ada di arehnya ini 😆

Dalam sepiring nasi liwet tersebut, juga disajikan pemanis yang menggugah selera: cabe. Cabenya bukan cabe sambal, melainkan cabe kukus. Masing-masing dari kami, hanya mendapatkan satu buah cabe. Satu saja .

Kalau makan yang selain lalapan, saya enggak ambil cabe atau sambal, soalnya saya enggak terlalu suka sambal. Tapi ya kalau sudah disajikan di atas piring begini, ya terpaksa mau deh 😶.

Eh njilalah, si Mas yang enggak doyan pedas, tiba-tiba melempar cabe ke atas piring saya. Saya kaget dong. Mendadak ada dua cabe di piring saya. Saya lihat piring si Mas, cabenya enggak ada.

Masio ndak seneng lombok, mbok yo lomboke ojok diuncalno pisan (Kalaupun enggak suka cabe, ya jangan cabenya sampai dilempar segala) 😂

Saya meringis tahu tingkahnya yang sereceh ini soal cabe. Saking enggak maunya ada cabe di piringnya, sampai dilempar ke piring saya. Mbok yo jangan dilempar, tapi ditaruh baik-baik di piring saya. Begitu kan sudah cukup... 😅

Cerita receh ini, yang tentang si Mas nguncalno lombok, saya ceritakan ke Ibu. Ibu tertawa terpingkal-pingkal dan selalu diingat sampai sekarang. Jadi, kalau saya dan Ibu sedang masak pedas dan kepedesan, Ibu langsung bilang, "Wuh cek pedese. Nek Angga sing mangan paling wes diuncalno sak piring-piringe" (Wuh, pedas banget. Kalau Angga yang makan paling sudah dilempar sama piringnya) 😆

Alhamdulillah, terwujud sudah impian sederhana untuk makan nasi liwet. Soalnya saya sering dengar nasi liwet pas nonton acara makan-makan atau kulineran di tv. Jadi pengen banget mencicipi nasi liwet. Eh enggak tahunya, terwujud beneran dalam waktu yang enggak disangka-sangka. Alhamdulillah... 😇

Nasi liwet di pinggiran Stadion Manahan ini: recommended. Benar-benar enak, unik dan khas banget. Pemandangan saat kita makan juga enak kok. Enggak harus melulu menghadap si penjual nasi liwet. Boleh juga membelakanginya, lalu duduk lesehan menghadap jalanan. Jalanan di depan kami sejuk. Pohonnya rindang. Sedap dipandang 🌳

Saya suka nasi liwet Solo dan segala ceritanya. Pengen ke sana lagi. Demi makan nasi liwet. Hehehe.

Lalu, kamu? Sudah pernah nyobain nasi liwet Solo?

Wassalammualaikum wr wb 💕





Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

10 comments for "Rasanya Nasi Liwet Solo"

  1. Ooo, jadi dimasak dengan ada santannya gitu ya, kebayang enaknya ini nasi liwet. Saya pikir dimasak liwet biasa. Boleh juga nih suatu saat kalau ke Solo.

    ReplyDelete
  2. Oh, si mas jenenge Angga to..?
    Kok jenenge podo koyo aku.. haha

    ReplyDelete
  3. Kalau yang di Manahan belum pernah nyoba. Yang nggak kalah populer itu di kawasan Ngarsopuro, mbak. Disini rasanya juga lumayan dan porsinya juga cukup banyak. Bener! Lidah saya juga menilai, bahwa puncak keniqmatan dari nasi liwet itu ada di Arehnya :D

    ReplyDelete
  4. UDAH SAMPE SOLO KENAPA NGGAK KE JOGJA SEKALIAN? OH... IYA, KAN SI MAS DI SOLO. WKWKWK... *CAPSLOCK JEBOL

    Nanti aku kondangannya ke Solo aja lebih dekat, naik Prameks cuma 8ribu. Hihii

    ReplyDelete
  5. Aku ya jadi ketawa, Teh. Tapi emang bener sih kan ada cara baik2, simpen aja kan aman. Tapi dengan begitu jadi ada bahan cerita ke ibu dan yang jelas para pembaca disini jadi tahu. Mungkin maksud yang nguncal biar bisa di ceritakan di blog..ahaha

    Aku belum nyobain nasi liwet solo, jadi pengen penasaran..he

    ReplyDelete