Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Balet + Ngebor - Baleriano Chapter 12

naskah-novel-baleriano


15.10

Dua puluh menit lagi mereka berdua akan hadir. Aku masih sibuk membuat sketsa sepatu baru yang baru saja dipesan pelangganku. Dia meminta dibuatkan high heels seperti rancangan Manolo Blahnik yang disukai oleh Diana Vreeland. High heels tersebut terlihat sexy karena telapaknya dibuat tipis dengan punggung kaki yang minim, sehingga sangat cocok bagi mereka yang berpenampilan sexy dan sedikit vulgar.

“Bu Maura, ada klien,” kata karyawanku yang tiba-tiba membuka pintu ruang kerjaku tanpa mengetuk pintu dulu. Aku pun meletakkan bolpoin dan sketsaku lalu berjalan keluar dari ruang kerjaku.

Ada Davin dan Anya yang sedang berdiri tak jauh dari ruang kerjaku sambil memamerkan gigi-giginya yang putih. Melihat mereka yang tersenyum berlebihan membuatku hampir tertawa.

“Ayo masuk...” ucapku mempersilahkan Davin dan Anya untuk masuk ke ruang butikku.

“Sebentar, Ra,” kata Davin tiba-tiba.

“Ada apa?” tanyaku polos.

Tiba-tiba Davin menghampiriku dan menyerahkan setangkai bunga mawar merah untukku.

Aku bingung, apa-apaan ini?

“Bunga mawar untukmu, si Putri Hati,” kata Davin yang membuatku terpana.

Aku sungguh terkejut. Terpukau. Terkesima. Tak bisa berkata-kata. Adakah kata lain yang bisa menyimpulkan betapa bahagianya aku saat ini?

“Mawar tak seindah dirimu. Karena mawar hanya bunga, yang bisa kukasihi tanpa terbalas. Berbeda dengan dirimu. Karena kau adalah manusia terindah layaknya bunga yang menyejukkan hati, yang bisa kukasihi dengan sepenuh hati.”

Sungguh, aku terpukau dengan puisi Davin. Bukan tentang puisinya, tapi tentang Davin. Jarang ada pria yang bisa berpuisi ria bak pujangga kelas kakap.

Bicara tentang puisinya, sungguh indah. Belum tentu aku bisa membuat puisi seperti yang Davin buat.
***

Kebiasaan baru Davin ketika ia datang ke butikku sambil mengantarkan Anya berlatih bersamaku adalah ia selalu membawa setangkai bunga mawar merah yang diberikannya untukku. Ia melakukannya setiap hari dan hal itu memaksaku untuk menyiapkan beberapa vas bunga guna menyimpan mawar merah pemberian Davin.

Dan ketika Davin menyodorkan setangkai mawar merah padaku, ia selalu menyertakan kalimat-kalimat indah berupa puisi. Terkadang satu kalimat atau bahkan beberapa kalimat. Dan hebatnya, puisi-puisinya selalu membuatku berdecak kagum. Dan tentu saja aku tersanjung dibuainya.

Anya dan dua karyawanku selalu bersorak sorai ketika melihat Davin melantunkan sebuah puisi padaku. Sedangkan aku? Pipiku selalu merah merona dibuatnya.

Sungguh aku heran, sekaligus terpesona pada Davin. Heran karena, untuk apa Davin memberiku bunga mawar setiap hari?

Namun aku selalu terpesona dengan hebatnya Davin merangkai kata-kata indah untukku dan dia tidak malu mengungkapkannya di depan Anya dan dua karyawan butikku.

Aku mengingat salah satu dari sekian banyak puisi Davin. Puisinya sungguh mengesankan. Kalau tidak salah, bunyinya begini:

Aku mencintai busurku
Ketika aku melengkungkannya di tanganku, itu tanda kasih dariku
Ketika aku membidik sasaran untuknya, itu tanda sayang dariku
Ketika aku meluncurkannya, akan hadir sebuah rindu
Dan sesungguhnya, rinduku hadir karena aku rela melepasnya
Namun kau bukan busurku, karena aku tak ingin melepasmu
***

“Kak... bosen...” kata Anya tiba-tiba berhenti berlatih balet dan langsung duduk bersandar dekat Davin. Aku sebagai orang yang dipercaya untuk menari balet bersama Anya, merasa tak enak diri karena Anya bosan dengan balet yang kami tarikan hampir seminggu lamanya.

Aku pun menghampiri Anya yang sedang duduk di dekat Davin, “kalau kamu bosan, dilanjutkan besok lusa saja, gimana?” tawarku.

Anya tak menjawab. Menggelengpun juga tidak.

Tiba-tiba Davin keluar dari ruang kerjaku dan hal tersebut cukup mengagetkanku. Ah, aku jadi semakin tak enak diri kepada Davin.

Aku masih keukeh membujuk Anya untuk mau berlatih balet. Setidaknya dia mau tampil maksimal saat pernikahan Papanya. Tapi bagaimana caranya untuk membujuk Anya?

“Nya... Kok pertanyaanku nggak dijawab sih? Anya ngambek ya? Aku minta maaf ya...” kataku sambil memasang wajah melas agar Anya mau kembali berlatih balet.

“Anya kenapa? Bilang aja maunya Anya apa. Kalo kamu diam begini terus, aku nggak tahu kamu kenapa dan aku juga nggak tahu harus berbuat apa untuk Anya...”

Tapi tetap saja Anya tak bergeming.

Tiba-tiba aku mendengar sebuah lagu dangdut yang bervolume keras sekali. Aku dan Anya menoleh ke sumber suara, yaitu radio tape yang tak jauh dari meja kerjaku. Ada Davin di dekatnya, dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

“Ayo Kak, menari balet campur dangdut,” seru Anya melonjak kegirangan. Ia menarik paksa tanganku, membuatku harus berdiri dan sepertinya akan disuruh berjoget dangdut.

“Ayo Kak. Kak Maura kan jago goyang ngebor...” celoteh Anya yang masih tak peduli dengan keterkejutanku.

“Nari aja, Ra,” timpal Davin.

Aku yang masih terkejut bercampur heran, akhirnya menangguhkan rasa heranku lalu mengasyikkan diri untuk berjoget dengan diiringi irama musik dangdut.

Anya melakukan goyang ngebor tanpa kontrol, maksudnya tanpa malu. Sedangkan aku? Masih jaga image karena ada Davin. Malu dilihatin Davin.

“Nari aja, Ra, nggak usah malu-malu,” seru Davin yang sepertinya dapat membaca pikiranku.

Dengan segenap rasa malu yang dibuang jauh-jauh dari wajahku, aku pun bergoyang ngebor tanpa henti. Anya juga begitu, malah Anya sangat antusias mengikuti irama musik dangdut yang diputar oleh Davin.

Davin hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah konyol kami berdua.
***

Berbicara mengenai puisi Davin,  ada salah satu puisi Davin yang menjadi puisi favoritku.

Kala itu, sebuah sayembara telah sampai ke seluruh pelosok negeri
Tersentuh laraku untuk mendapatkan sebelah rusukku
Aku mencari dirimu, rumahmu, kerabatmu dan kawanmu
Aku juga mencari seseorang yang pernah menyinggahi hatimu
Aku bertarung dengannya untuk mencari darah hidupmu
Ketika gerimis datang, aku bersimpuh, aku berlutut
Sungguh aku lelah, aku letih, aku ingin mengakhiri pencarianku
Namun purnama membisikkan sesuatu padaku
Seketika itu jiwaku kembali bangkit, lalu berlari untuk menemukanmu
Mencari-cari di persimpangan, hingga sampai ke peraduan
Ketika pagi datang, ia menyibakkan secercah harapan padaku
Ia mengubah semua emosi  menjadi tampak indah
Dan segalanya menjadi lebih istimewa, sungguh berbeda dari yang kuduga
Aku telah menemukanmu wahai Putri...
Dengan segala keindahanmu, aku juga telah menemukan hatimu
Semua yang terjauhkan, pasti akan kembali
Aku yang kala itu jauh darimu, akhirnya kembali pada sebelah hatiku
Karena aku tahu dan aku sadar diri
Bahwa aku adalah Pangeran Hatimu...

Sebuah puisi yang luar biasa. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa kata-kata pada puisi Davin hampir sama persis dengan beberapa puisi yang pernah aku buat di buku harianku. Masa’ iya Davin pernah membaca buku harianku? Atau ini semua hanyalah permainan insting dan telepati belaka?

Ah, kata-kata kan banyak dan sangat luas, orang-orang luar pun juga sering menggunakannya, lagipula tidak ada hak paten tentang kepemilikan kata-kata bukan?

Ketika aku mencermati setiap puisi yang dibuat oleh Davin, aku menangkap adanya sebuah keganjilan. Yaitu adanya perbedaan antara puisi yang dibuat oleh Davin dengan Davin sebagai pencipta puisi tersebut. Dalam puisi-puisinya, terkatakan dengan jelas ‘aku’ sebagai subjek utamanya. Tetapi dalam keseharian? Kata ‘saya’ tetap tidak pernah berpindah dan selalu stand by di lidah Davin.
***

Cinta itu abstrak “membingungkan”
– Sania Vista Dianti -

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Posting Komentar untuk "Balet + Ngebor - Baleriano Chapter 12"