Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dinner Seru! - Baleriano Chapter 9

naskah-novel-baleriano


Malam ini adalah malam yang dinanti-nanti olehku sejak dua hari yang lalu. Ingin rasanya malam minggu itu tiba, dan sekarang telah tiba. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Sekujur tubuhku merasakan euforia yang luar biasa. Sebuah euforia untuk menyambut hati yang baru, hati yang mungkin bisa mengalahkan sebuah perasaan lama.

Memoriku terbang bersama kenangan 2 tahun yang lalu. Sebuah kenangan manis bersama Elang, mantan kekasihku. Salah satu hal yang paling kusukai darinya adalah ketika dinner bersamanya. Setiap hampir malam minggu kami melakukan dinner di kafe dan resto yang berbeda. Dinner yang paling istimewa adalah dinner terakhir. Benar-benar istimewa. Karena di sanalah semua kisah yang sangat manis berubah menjadi pahit. Terkuak tentang  kepalsuan kasihnya, membuatku merasa bahwa aku adalah wanita paling bodoh sedunia. Betapa bodohnya aku karena aku tidak menaruh curiga sedikitpun dengan tingkah laku mereka-mereka yang telah bermadu mesra selama hampir 3 bulan lamanya.

Malam yang lalu telah menjadi api olehmu
Pergilah kamu dengan segala sukamu, dengan segala tawamu
Kumohon jangan pernah kembali untuk bersimpuh di hadapanku
Yang lalu bawalah pergi bersamamu, tak usah pulang, kamu 
Biarlah aku dengan malam baruku, jangan kau usik lagi kisahku
Aku ingin bersiap dengan purnama yang baru, dengan seseorang yang baru
***


Di depan Faraday Cafe, aku telah berdiri dengan gaun yang dipilihkan Mama untukku. Davin, dengan kemeja merah marunnya yang senada dengan gaunku, berdiri dengan gagah di sampingku. Ia menggenggam tanganku. Genggaman ini beda rasanya. Aku merasa ada yang berbeda dengan Davin. Entah apa.

Kami pun melangkah masuk ke dalam Faraday Cafe. Namun, baru beberapa langkah, aku berhenti. Aku juga menarik tangan Davin yang membuatnya terpaksa turut berhenti melangkah.

“Ada apa, Ra?” tanya Davin dengan menyebut namaku untuk pertama kalinya.

“Seingatku di undangannya tertulis couple dinner free for four couple. Maksudnya apa kok ada 4 pasangan?” tanyaku.

“Ada sebuah meja besar untuk 4 pasangan yang akan melakukan dinner bersama.”

“Jadi, nggak hanya kita?”

Davin mengiyai kesimpulanku.

“Rame-rame?” tanyaku ragu.

“Bukan rame-rame, tapi seru-seruan,” ralat Davin.

“Dengan siapa saja? Aku kan nggak kenal dengan mereka yang akan dinner bersama kita dalam satu meja?” nada bicaraku mulai merendah.

Ingin rasanya untuk melangkah mundur dan meninggalkan Faraday Cafe. Aku tidak suka keramaian yang akan kujalani ketika dinner nanti, karena sudah jelas aku tidak mengenal mereka. Aku hanya mengenal Davin, dan dipastikan juga Davin akan bergabung dengan mereka kemudian mengabaikanku.

“Tenang, ada di antara mereka yang mengenalimu kok. Kamu juga kenal dengan mereka. Jadi kamu tidak akan bosan atau merasa terkucilkan dengan kehadiran mereka yang sama-sama membawa pasangan masing-masing,” jelas Davin padaku.

“Yakin?”

“Yakin sekali, wahai Putri Maura yang cantik jelita...” kata Davin yang tiba-tiba menambah embel-embel putri dan cantik jelita di belakang namaku.

Dengan mengumpulkan segenap energi untuk meyakinkan diri, aku pun melanjutkan langkahku untuk masuk ke dalam Faraday Cafe bersama Davin.

Baru selangkah berjalan, tiba-tiba ada yang memanggil nama Davin, “Vin,”. Davin lantas menoleh. Aku yang sedang bersama Davin juga turut menoleh.

Ternyata ada seorang pria yang mengenakan kemeja berwarna putih. Pria tersebut pernah kulihat sebelumnya, yaitu pria yang mengobrol sebentar dengan Davin ketika kami berada di resto Nada-Nada kepiting beberapa hari yang lalu. Aku mengingat jelas wajah pria ini.

“Eh, kamu Dit, mana tunanganmu?” tanya Davin tanpa basa-basi.

“Dia masih pesan makanan untuk kita. Sebentar lagi dia juga ke sini, kok,” jawabnya. “By the way, lo bareng sama siapa?”

“Sama sebelah saya,” jawab Davin sambil menyenggol lenganku untuk memintaku bersalaman dengan teman Davin.

Aku yang diingatkan Davin untuk berkenalan dengan temannya, segera mengulurkan tangan, “Maura...”

“Radit...” jawabnya sambil membalas uluran tanganku.

Oo... ternyata namanya Radit..

“Maura...!!!” Ada sebuah teriakan yang memanggil namaku. Teriakan khas wanita dengan suara sedikit cempreng yang kegirangan karena ada sesuatu yang membuatnya senang. Siapa ya? pikirku.

Aku, Davin dan Radit pun menoleh ke sumber suara. Ada seorang wanita cantik yang ternyata adalah Nana, temanku yang sering datang ke butikku.

Aku pun berteriak histeris ketika aku mengetahui bahwa Nana juga ada di Faraday Cafe. Lantas Nana berlari mendekatiku lalu memelukku. Aku pun juga memeluknya.

Setelah berpelukan dengan waktu yang cukup lama, Nana berceletuk, “Lo ke sini juga, Ra? Dinner juga? Yey, akhirnya gue punya temen ngobrol ketika dinner. Yang di samping lo, cowok lo ya? Sejak kapan jadian? Lebih cakep yang ini loh daripada yang dulu? Traktiran dong, Ra...” cerocos Nana tanpa henti.

Radit dan Davin tertawa kecil melihat tingkah laku Nana yang seperti anak TK yang sangat cerewet, nyerocos tanpa spasi.

“Ah, kamu ngomong apa sih, Na. Oh ya, Radit ini tunanganmu ya, Na?” tanyaku pada Nana.

Nana mengangguk senang. Memoriku mengantarkanku untuk mengingat-ingat pria yang datang ke butikku bersama Nana, yang ternyata masih temannya Davin.

Aku tersenyum. Aku juga turut senang melihat Nana dengan wajahnya yang tampak ceria. Malam ini Nana sungguh cantik. Ia mengenakan gaun putih yang menjuntai sampai ke lantai seperti gaun pengantin. Aku jadi teringat pilihan gaun dari Mama yang aku coba tadi sore.

“Yuk, kita semua masuk ke dalam. Teman-teman lain sudah menunggu di dalam,” ajak Radit.

Kami semua setuju lalu bergegas menuju bagian dalam Faraday Cafe.

Radit pun menggandeng lengan Nana dan berjalan menuju meja yang telah disiapkan. Aku dan Davin pun juga melakukan hal yang sama, yang biasa dilakukan sepasang kekasih.

Sesampainya di meja besar yang berisikan 8 kursi, aku melihat wajah-wajah yang tak asing olehku. Ada Kak Nara dengan Kak Deswita, istrinya yang juga kakak iparku. Dan juga ada Miss Wenda dengan kekasihnya yang bernama Rayen, seorang bule asal Jerman.

Aku benar-benar terkejut ketika aku bertemu dengan teman-teman dan kerabatku yang sangat akrab denganku. Sungguh ini di luar dugaan. Aku kira aku tidak akan mengenali mereka satupun. Ternyata oh ternyata, aku mengenali mereka semua. Pasti dinner malam ini sangat menyenangkan dan tentu saja sangat seru.

Kemudian aku menyapa semua orang yang satu meja denganku satu-persatu. “Hei, kalian ada di sini semua rupanya. Berarti kita semua bakalan dinner rame-rame dong?!” seruku memeriahkan suasana.

Kak Nara, Kak Deswita, Miss Wenda dan Mr. Rayen mengalihkan pandangannya padaku. Dan mereka semua tersenyum sumringah ketika aku hadir di tengah-tengah mereka.

“Kamu ada di sini juga, Ra?!” teriak Kak Nara yang terkejut karena aku juga datang ke tempat yang sama dengannya.

Aku tersenyum simpul. “Wuah, pasti dinnernya asyik nih!”

“Iya dong. Dinner kali ini bukan dinner yang romantis, tapi dinner yang seru,” sahut Kak Nara.

“Yang jelas, paling berkesan,” lanjut Miss Winda.

Aku pun duduk di antara Davin dan Nana. Teman-teman lainnya sudah datang terlebih dahulu daripada aku dan Davin. Sedangkan Radit sedang pergi ke resepsionis untuk memastikan makanan yang akan dihidangkan.

“Kak Nara sama Kak Deswita kok ikutan juga? Kalian kan bukan orang pacaran, tapi kan kalian sudah menjadi orang tua, kenapa ikutan juga di sini?” celetukku yang memulai bahan pembicaraan untuk sekedar meriuhkan suasana makan malam.

“Kita kan pacarannya setelah menikah,” jawab Kak Nara ngasal.

Oo... aku hanya membulatkan mulut. Teman-teman lainnya malah tertawa karena mendengar jawaban asal Kak Nara.

“Si Denna kok nggak dibawa, Kak Des?” tanyaku pada Kak Deswita.

“Denna lagi bobok di rumah. Kalau Denna ikutan ke sini, yang ada malah ribut di sini,” jawab Kak Deswita.

Denna adalah buah cinta Kak Nara dengan Kak Deswita. Umurnya masih 2 tahun. Kak Nara pernah bercerita mengenai asal-asul mengapa diberi nama Denna. Ternyata oh ternyata, Denna merupakan singkatan dari Deswita and Nara. Kreatif banget ya kalau bikin nama anak. Ah, Kak Nara ada-ada saja.

“Miss Wenda,” panggilku pada Miss Wenda yang tengah asyik berbincang dengan kekasihnya menggunakan bahasa Jerman.

“Ya?” Miss Wenda menoleh padaku.

“Miss, aku boleh jujur nggak?” pintaku pada Miss Wenda.

“Yes, of course...” jawab Miss Wenda dengan sedikit keraguan.

“Dari dulu aku mau bilang ke Miss Wenda kalau Mr. Rayen mirip sekali dengan artis blasteran Indo-Jerman yang bernama Mike Levis,” kataku pada Miss Wenda yang mencoba menghangatkan suasana.

Miss Wenda tersipu malu karena mendapat pujian bahwa kekasihnya mirip dengan Mike Levis yang tampan sekali. Sedangkan Mr. Rayen hanya bisa bengong karena tidak paham dengan bahasa yang kami gunakan dan tentu saja ia tidak akan nyambung dengan obrolan kami.

Teman-teman dinner lainnya malah tertawa melihat tingkah Mr. Rayen yang melongo karena ketika namanya disinggung-singgung, ia malah tidak merasa sama sekali. Maklum, beda bahasa...

“Ada-ada aja kamu, Ra,” kata Davin padaku sambil geleng-geleng kepala.

Aku hanya tersenyum manis pada Davin.

Radit pun datang dan duduk di antara Nana dan Mr. Rayen.

Tiba-tiba Nana bertanya padaku sambil berbisik, “lo kok kenal semua sih sama temen-temen dinner lainnya?”

“Aku udah kenal mereka sejak dulu. Miss Wenda adalah guru les baletku. Sedangkan Kak Nara dan Kak Deswita masih keluargaku yang sekarang tidak satu rumah denganku. Yang terakhir aku kenal ya tunangan kamu,” jawabku dengan nada bicara yang mengimbangi Nana.

“Oo... gue aja cuma kenal lo sama Radit,” sahut Nana kemudian.

Aku pun meneguk lemon tea yang telah disediakan sebelum aku datang.

“Dit, ternyata Maura kenal semua loh sama temen-temen yang dinner di sini...” seru Davin pada Radit.

“Oh ya? Wuah, dinner kali ini pasti bakalan seru nih soalnya udah pada akrab,” jawab Radit.

Dan memang benar, dinner malam ini berjalan tanpa ada halangan. Semua berjalan lancar, bahkan terkesan menyenangkan. Keakraban terjalin di meja makan. Sungguh dinner malam ini adalah dinner yang paling seru.

Sekitar satu jam kemudian, aku minta ijin ke Davin untuk pergi ke toilet. Ada hal yang ingin kulakukan.

“Vin, aku ke toilet sebentar ya?”

“Mau saya antarkan?” tawar Davin.

“Untuk apa?”

“Agar kamu tidak takut. Saya akan menjagamu di luar toilet,” lanjut Davin.

“Nggak deh. Nggak perlu, aku cukup berani untuk pergi ke toilet di kafe yang terang benderang kayak gini,” jawabku pada Davin. Aku tidak ingin merepotkan Davin yang hanya untuk menemaniku pergi ke toilet.

Aku pun meninggalkan kursiku dan beranjak menuju toilet wanita. Sesampainya di toilet, aku mengeluarkan sebuah tisu dan mengeluarkan sebuah bolpoin yang sengaja aku bawa dari rumah. Aku menulis sesuatu di atas tisu karena tidak ada kertas yang bisa aku gunakan.

Aku menulis...

Terima kasih untuk malam ini, dinnernya seru...

Kemudian aku memasukkan bolpoinku ke dalam tas dan segera keluar dari toilet.

Aku pun kembali ke teman-teman dinner dan duduk di kursiku semula. Davin tengah asyik mengobrol dengan Kak Nara dan Kak Deswita.

“Vin,” panggilku setelah Davin mengakhiri obrolannya dengan Kak Nara dan Kak Deswita yang kini mengalihkan pembicaraan untuk mengobrol dengan Miss Wenda.

“Ya?”

“Ada sesuatu buat kamu,” jawabku sambil memasukkan tisu ke dalam saku kemeja Davin.

Davin heran, “Apa ini?”

“Bacalah ketika kamu sampai rumah, ya?” terangku sambil tersenyum.
***

Malam ini benar-benar seru. Dinner yang aku kira mengharuskanku untuk menghabiskan makan malam bersama orang tak dikenal, ternyata berbalik 100%. Aku mengenali mereka semua. Dan mereka sangat akrab denganku. Meskipun tanganku hanya seukuran tangan manusia pada umumnya, tapi aku merasa bahwa aku memiliki tangan yang sangat panjang untuk menjangkau dan  memeluk mereka semua yang berada dalam satu meja besar untuk berbagi kehangatan dalam keseruan sebuah kekerabatan.

Ingin rasanya menghabiskan waktu lebih lama lagi. Tapi apa daya, tak baik jika wanita pulang larut malam meski ada seseorang yang menjaganya.

“Ra,” panggil Davin yang berada di belakang kemudi.

“Ya?”

“Terima kasih banyak ya..”

“Untuk?”

“Untuk malam ini. Kamu membuat malam ini menjadi istimewa. Malam ini sungguh berbeda. Dan kamu yang membuatnya berbeda. Terima kasih banyak ya,” kata Davin.

Aku hanya tersenyum.

“Saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang jelas, malam ini saya sangat bahagia,” kata Davin lagi.

“Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih ke kamu, karena kamu telah mengajakku dinner. Dan seperti katamu tadi, dinner malam ini sungguh istimewa. Banyak hal istimewa yang terjadi di luar perkiraanku.”
***

Kau membuatku tak terduga, kau mengubah segalanya
Aku kira aku yang akan tenggelam, ternyata aku yang menyelamatkan
Aku kira aku yang akan jatuh, ternyata aku yang mengobati
Aku kira aku yang akan menjauh, ternyata aku yang merangkul
Sungguh aku terkesan dengan kehadiranmu di hidupku
Kau membuat segalanya lebih indah
Kau mampu mematahkan semua emosi malamku
Kau memang hebat dan selalu terhebat wahai Pangeran Hati...
***

Cinta hanyalah perasaan menyayangi sesuatu atau seseorang lebih dari apapun
– Qiyan Khoirunnisa -

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Posting Komentar untuk "Dinner Seru! - Baleriano Chapter 9"