9 Cara Mendirikan Bank Sampah di Sekolah

Konten [Tampil]
Assalamualaikum wr wb

Inisiatif mendirikan bank sampah di sekolah itu boleh juga ya. Bisa dilakukan secara gotong royong bersama guru dan siswa. Bisa dilakukan secara rutin untuk pengelolaannya. Apalagi, cara mendirikan bank sampah itu mudah banget. Mau tahu caranya? Simak 9 cara berikut ini.
  1. Membentuk pengurus bank sampah
  2. Menentukan nama bank sampah
  3. Menentukan tempat administrasi bank sampah
  4. Siapkan perlengkapan dan alat operasional bank sampah 
  5. Mengajak siswa berpartisipasi aktif mengumpulkan sampah
  6. Bekerjasama dengan pembeli sampah
  7. Merapikan sistem administrasi bank sampah
  8. Menentukan jadwal kegiatan
  9. Sosialisasi kepada seluruh warga sekolah
cara mendirikan bank sampah di sekolah


Membentuk Pengurus Bank Sampah

Bank sampah pada dasarnya merupakan sebuah organisasi atau perkumpulan yang mempunyai tujuan pengelolaan sampah secara bersama-sama. Sebagaimana sebuah organisasi, maka harus ada pengurusnya.

Pengurus bank sampah di sekolah bisa dilakukan oleh siswa OSIS yang didampingi guru. Alangkah baiknya mereka diberi pembekalan tentang pengelolaan bank sampah.

Secara umum, pengurus bank sampah terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, koordinator divisi dan anggota. Para pengurus inilah yang nantinya menjalankan pengoperasian bank sampah.

Menentukan Nama Bank Sampah

Pemberina nama bank sampah itu penting, karena nama tersebut menjadi identitas yang mampu membedakan antara bank sampah kita dengan bank sampah lainnya.

Dikarenakan bank sampah ini dilakukan oleh warga sekolah, maka boleh banget bila nama bank sampah didasarkan pada nama sekolah. Hal ini juga akan menjadi ciri khas bank sampah tersebut dan dapat diketahui dari mana bank sampah itu berasal dan dikelola.

Menentukan Tempat Administrasi Bank Sampah

Tempat yang dimaksud adalah kantor atau tempat untuk mengurusi administrasi bank sampah. Juga menjadi tempat penimbangan sampah yang akan ditabung, serta tempat penimbunan sementara.

Sebaiknya sekolah menyediakan lahan minimal 5x5 m untuk dijadikan tempat bank sampah. Tidak harus bangunan permanen. Tapi minimal ada payonan atau atap sebagai peneduh. Boleh juga kalau lokasinya disekat dengan dinding.

Siapkan Perlengkapan dan Alat Operasional Bank Sampah

Sediakan 1 meja dan kursi untuk proses administrasi. Juga sediakan timbangan untuk menimbang sampah yang didapat. 

Perlu juga menyiapkan karung-karung besar untuk menyimpan sampah menurut jenisnya. Karung-karung tersebut diberi label masing-masing sesuai peruntukannya.

Misalnya, label besi untuk menyimpan sampah yang terbuat dari besi. Label plastik untuk sampah plastik, labek kertas untuk sampah kertas, dan seterusnya.

Mengajak Siswa Berpartisipasi Aktif Mengumpulkan Sampah

Untuk wilayah sekolah, siswa diharapkan berpartisipasi secara aktif dengan cara mengumpulkan sampah yang ia dapat di sekolah. Boleh juga bila ia menyetorkan sampah yang berasal dari rumahnya.

Bisa juga, apabila setiap kelas bergiliran untuk mengumpulkan sampah yang ada di sekolah. Lalu disetorkan setiap jam pulang sekolah. Secara tidak langsung, hal ini membuat siswa lebih peduli terhadap kesehatan lingkungan.

Bekerjasama dengan Pembeli Sampah

Setelah sampah terkumpul, maka pengurus bisa menjual sampah tersebut kepada pembeli sampah. Pembeli sampah bisa berupa pengepul rosok atau perusahaan pengelola kertas/besi/plastik di wilayah sekitar. 

Alangkah lebih baik bila kegiatan menjual sampah kepada pembeli dilakukan secara rutin, atau diagendakan setiap akhir pekan/bulan. Kemudian, melakukan transaparansi hasil penjualan melalui website atau media sosial bank sampah sekolah.

Merapikan Sistem Administrasi Bank Sampah

Pengelolaan bank sampah, sebaiknya dilakukan secara rapi dan teratur. Perlu ada pembukuan atau administrasi yang baik.

Pembukuan yang harus ada antara lain buku tabungan, buku induk nasabah, buku rekap penimbangan, buku kas, buku tamu dan lainnya.

Di dalam buku tabungan, dimuat nama dan nomor rekening nasabah. Di dalamnya tertera sejumlah nilai rupiah dari sampah yang sudah disetorkan.

Untuk siswa, apabila ia menyetorkan secara pribadi maka perlu ada tabungan bank sampah pribadi. Namun bila menjadi agenda kelas, maka buku tabungan bisa atas nama kelas. Lalu uang tabungan yang terkumpul bisa dikeluarkan sewaktu-waktu bila hendak dibutuhkan untuk kegiatan tertentu.

Menentukan Jadwal Kegiatan

Dikarenakan bank sampah sekolah ini merupakan kegiatan sekunder untuk siswa, maka diharapkan tidak menyita banyak waktu. Maka dari itu, perlu ada penjadwalan yang rapi untuk memudahkan siswa.

Perlu adanya pembatasan operasional jam setor sampah. Misalnya, apabila pulang sekolah biasanya jam 2 siang, maka bank sampah dibuka mulai jam 2-4 sore. Atau bisa juga pengumpulan dilakukan setiap hari Sabtu jam 8-11 siang. 

Diharapkan program bank sampah sekolah ini tidak membebankan siswa. Karena tugas utama siswa adalah belajar hal-hal akademik. Untuk kegiatan non akademik, bisa dilakukan sepulang sekolah tanpa membebani mereka.

Sosialisasi Kepada Seluruh Warga Sekolah

Hal selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan sosialisasi kepada seluruh warga sekolah. Tujuannya, supaya seluruh siswa beserta guru dapat berpartisipasi aktif untuk pengelolaan bank sampah.

Setiap kali upacara, pembina upacara dapat mensosialisasikan kegiatan ini. Bahkan program bank sampah di sekolah bisa menjadi kegiatan unggulan. 

Karena dengan kegiatan ini, secara tidak langsung siswa telah belajar menabung, mengelola sampah dan mencintai alam.

Kesimpulan


Nah, itulah 9 cara mengelola bank sampah yang bisa kita lakukan. Jadi, bagaimana? Sekolahmu sudah siapkah untuk mendirikan bank sampah?

Kalau ada hal yang ingin ditanyakan, silakan berkabar di kolom komentar yaa…

Wassalamualaikum wr wb
Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Related Posts

Posting Komentar