Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gangguan Ekosistem di B29 Lumajang dan Solusinya

Assalamualaikum wr wb

Pada mulanya, B29 merupakan kawasan pertanian dan perkebunan yang membudidayakan beragam sayuran seperti kembang kol, bawang daun, wortel, tomat, cabai, straberry, dll.  

Seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai mengetahui bahwa di sudut atas bukit yang berdekatan dengan dusun Gedok terdapat pemandangan yang sangat indah, yaitu dapat melihat Gunung Bromo dari sisi atas dan dapat melihat Gunung Semeru lebih dekat.

Semenjak itu, kawasan tertinggi di desa Argosari tersebut mendapat perhatian masyarakat luar dan dijadikan obyek wisata baru di Lumajang yang bernama B29.

ekosistem-di-b29-lumajang


Pembangunan di B29 Lumajang

Kehadiran obyek wisata baru di Lumajang, membuat adanya pembangunan-pembangunan baru untuk memudahkan wisatawan datang ke B29 tersebut. 

Dibuatlah jalanan beraspal yang mulus sampai rest area 1. Namun pada pertengahan jalan menuju rest area 2, jalanan masih alami dan belum diaspal sehingga licin dan cenderung susah untuk dilewati.

Gangguan di B29 Lumajang

Pembangunan Jalan di B29 Lumajang

Pembangunan jalan akses merupakan salah satu gangguan yang terjadi pada ekosistem di B29 Lumajang. Jalan buatan tersebut menutupi jalan alami. Tujuannya adalah untuk mempermudah akses wisatawan menuju puncak B29. 

Sayangnya hal ini dapat dikatakan mengganggu karena material pembuatan aspal menutupi tanah yang merupakan komponen abiotik alami. Namun ekosistem masih berlangsung stabil karena wilayah yang digunakan untuk jalan aspal masih sedikit, yaitu mengambil lahan selebar 1 meter. 

Apabila terjadi hujan, maka air hujan masih dapat masuk ke tanah-tanah pertanian dan perkebunan yang cenderung sangat luas.

Pembangunan Rest Area 2 B29 Lumajang

Selain pembangunan jalan akses, ada juga pembangunan rest area 2 yang berada 0,5 km menuju puncak B29. Pembangunan rest area berupa rumah, tempat berteduh dan tempat parkir. 

Lahan tersebut mulanya juga merupakan lahan pertanian. Namun lahan dialihfungsikan sebagai lahan pembangunan rest area. 

Adanya pengalihfungsian lahan dari yang alami menjadi buatan, merupakan salah satu gangguan ekosistem pada B29 Lumajang. Namun hal ini cenderung tidak begitu merugikan karena manfaatnya lebih terasa. 

Sampah Berserakan di B29 Lumajang

Sementara itu, gangguan yang sangat terasa adalah sampah-sampah yang berserakan di area B29. Umumnya wisatawan membawa makanan atau minuman berupa kemasan plastik yang setelahnya dibuang sembarangan, padahal sudah ada tempat sampah di setiap titik. 

Namun kesadaran wisatawan untuk mengurangi bawaan sampah plastik instan masih kurang, apalagi ditambah dengan ketidakmauan wisatawan untuk membuang sampah di tempatnya. 

Alhasil, sampah mengotori tanah dan lama-lama mengendap di tanah. Akibatnya, tanah menjadi kering dan keras, serta tidak subur lagi. 

Solusi Pencemaran Tanah di B29 Lumajang

Solusi untuk mengatasi pencemaran tanah ini dapat dilakukan oleh dua pihak, yaitu wisatawan dan warga selaku pengelola wisata. 

Untuk wisatawan, dapat dikenakan denda apabila membuang sampah sembarangan. 

Untuk pengelola wisata, dapat mengambil sampah plastik pada tempat sampah yang sudah dibeda-bedakan, untuk selanjutnya didaur ulang sesuai fungsinya masing-masing. 

Hasil daur ulang tersebut dapat dijual sebagai produk daur ulang bercita rasa tinggi

Itulah gangguan di ekosistem B29 Lumajang beserta solusinya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Wassalamualaikum wr wb

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Post a Comment for "Gangguan Ekosistem di B29 Lumajang dan Solusinya"