Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surat Darimu - Baleriano Chapter 38

naskah-novel-baleriano


“Masuk.”

Salah satu karyawanku membuka pintu ruang kerjaku dan menghampiriku. Ia menyodorkan sebuah surat.

Aku heran, “Dari siapa?”

“Nggak tahu. Saya menemukannya di bawah pintu butik sebelah barat. Permisi, Bu...” katanya sambil berlalu meninggalkanku.

Tanpa babibu lagi, aku membaca isi dari surat yang telah berada dalam genggamanku.

Teruntuk:
Maurantia Nirwana
Putri Hati yang Cantik Jelita...

Wahai Putri Maurantia Nirwana yang cantik jelita, bagaimana kabarmu? 

Saya harap kamu baik-baik saja dan semoga butikmu semakin lancar...

Sebelumnya saya minta maaf karena saya telah menghilang 5 tahun darimu...

Dengan surat ini, saya ingin menyampaikan rasa rindu  yang teramat sangat padamu. Rindu ini sudah menumpuk setinggi gunung...

Saya teringat akan pertemuan pertama kita... 

Pertemuan pertama bagi saya adalah ketika saya melihatmu yang sedang asyik menari layaknya orang gila di jalanan. Padahal kala itu sedang gerimis. Memangnya kamu tidak takut sakit? Entahlah, ketika itu kamu menyadari atau tidak bahwa saya hampir menabrakmu karena saya terpukau dengan segalamu. Di dalam mobil, saya berkata pada diri saya sendiri bahwa saya telah jatuh hati padamu...

Tidakkah kamu merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika kita pertama kali bertemu di Balenesia? Sadarkah kamu bahwa saya memaksamu untuk ikut dengan saya? Karena saya punya alasan, saya ingin mengenal lebih jauh tentangmu... 

Dan pertemuan malam itu sangat menyenangkan bagi saya karena kamu meninggalkan sebuah bekas di jok mobil. Gambar smile yang kamu buat, selalu mengingatkan saya pada dirimu. Namun sayang, mobil tersebut tak bertahan lama berada di tangan saya...

Apakah kamu juga tidak menyadari bahwa saya sengaja meninggalkan sepeda kayuhmu di rumah saya? Itu sengaja, Ra. Biar kamu datang ke rumah untuk mengobrol lebih lama dengan saya. Dan ternyata kamu malah mengobrol akrab dengan keluarga saya. Terang saja, saya senang sekali dengan keluarga saya yang menerimamu dengan tangan terbuka. Mereka bilang pada saya, bahwa mereka menyukaimu, Ra...

Dinner di Faraday Café adalah hal yang paling seru bagi saya. Karena dari situ saya tahu bagaimana kamu, bagaimana tingkahmu dan bagaimana lakumu. Kamu bertemu dengan kawan dan kerabatmu, yang tentu saja semua perilaku keseharianmu akan terlihat dengan jelas tanpa merekayasa sifat buruk untuk menjadi baik. Karena saya melihat betapa baiknya kamu, saya semakin terpesona padamu....

Dan ketika dinner di Faraday Café, penampilanmu tetap sama, selalu cantik. Saya tak pernah lelah memandangmu...

Perihal kamu yang menjadi balerina di pernikahan Papa, itu murni permintaan saya, dan ternyata Anya sangat setuju dengan ide tersebut. Yang saya salutkan, ternyata Anya bisa tutup mulut untuk merahasiakan siapa pianisnya...

Sebulan lamanya kita habiskan waktu bersama. Alasan mengantarkan Anya berlatih balet di butikmu adalah alasan kuat bagi saya untuk bertemu denganmu. Karena saya tidak mau jauh-jauh darimu. Dan tentu saja, saya ingin mengenal lebih dekat siapa kamu dan bagaimana kamu... 

Hal yang paling saya suka adalah melihat ekspresimu ketika saya menjadi seorang pujangga dadakan. Raut wajahmu tak pernah bisa membohongi saya.

Pernikahan Papa kala itu membuat saya ingin menikah. Tentu saja menikah denganmu. Dan apakah kau tidak terkejut ketika seorang pianis tampan mengiringimu menari balet?

Jujur, saya sangat bahagia ketika kita bekerja sama kala itu. Saya bermain piano dan kamu menari balet. Meski kita tidak pernah berlatih yang sesungguhnya, ternyata chemistry kita berjalan dengan baik. Dan saat itu saya yakin, bahwa kamu adalah sebelah rusuk yang selama ini saya cari.

Saya sangat bahagia saat dinner berdua denganmu. Sungguh romantis, bukan? Hal yang paling membahagiakan bagi saya adalah ketika melihat wajahmu bersemu merah dengan kata-kata tulus yang meluncur dari bibir saya.

Oh ya, apakah kotak musik itu masih kamu jaga dengan baik? Perlu kau tahu, bahwa kotak musik itu adalah miniatur kisah saya denganmu. Saya adalah pianisnya dan kamu baleriananya. Kita menyatu, Ra.  

Maaf, Ra. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena saya tiba-tiba menghilang darimu. Keadaan yang memaksa saya untuk meninggalkanmu.

Kota Tua menjadi saksi reuni kita. Gairah bermusik saya bangkit kembali ketika kamu memaksa saya untuk mengamen elegan di Kota Tua. Saya menyukai kejutanmu, Ra.

Tapi maaf, Ra. Saya menghilang lagi darimu. Dan saya tidak bisa menjelaskan padamu apa sebabnya. 

5 tahun telah berlalu. Tapi sekali lagi maaf, Ra, saya masih belum bisa menemuimu. Saya masih sibuk dengan pekerjaan saya yang sama sekali tidak bisa ditinggalkan.

Saya merindukanmu, Ra. Merindukan masa-masa itu ketika kamu bersama saya, ketika kamu membahagiakan saya dan ketika kamu membuat saya nyaman berada di dekatmu.

Ra, sebentar lagi saya akan kembali padamu. Saya akan menemuimu, Ra.

Tunggulah saya. Saya akan kembali padamu. 

Saya mohon, jangan lelah menunggu.

Tertanda
Davin Chris Setiabudi
Pangeran Hatimu...
***

Cinta itu kemuliaan
- Vita Fauzia Putri Dianata Gita Rahmawati -



Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

2 komentar untuk "Surat Darimu - Baleriano Chapter 38"

  1. kak ros, aku baru tahu, lho kalau dirimu suka nulis fiksi. Kuereeeeeen ^^

    BalasHapus