Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Saat Pulang ke Lumajang

Assalamualaikum wr wb

Wuah akhirnya saya punya kesempatan untuk nulis curhat lagi. Bukan berarti saya nggak punya me time. Tapi terkadang, ketika kita sudah punya pasangan untuk berbagi cerita dan kita merasa puas, maka menulis curhatan tidak lagi menarik. Semua sudah tersampaikan.

Namun sepertinya cerita tentang seminggu ini, belum sepenuhnya saya ceritakan ke pasangan. Oke, mari kita simak rangkuman kisah saya selama sepekan terakhir.

cerita pulang ke lumajang

Rencana Pulang ke Lumajang

Saya ada rencana pulang ke Lumajang pekan ini. Hari Minggu ada acara slametan 1 tahun meninggalnya mbah uti. Kebetulan juga, Pakde Joko sakit, masuk rumah sakit. Ya sekalian lah saya balik ke Lumajang untuk 2 hal tersebut.

Eh njilalah ternyata Pakde Joko lekas sembuh sehingga bisa pulang ke rumah. Yang awalnya saya mau balik Selasa malam, jadinya saya tunda Rabu malam. Ternyata, udah ditungguin Pakde Joko karena saya menunda kepulangan.

Pakde Joko Sakit Apa?

Oh ya, sekalian saja saya cerita tentang Pakde Joko yang sakit. Awalnya nggak bisa tidur 2 hari 2 malam. Jam 3 dini hari, Bude Kis telpon Ibu. Minta tolong untuk antar Pakde ke rumah sakit. Telpon Mas Dian nggak diangkat. Jadinya Ayah dan Ibu yang ngantar Pakde ke rumah sakit.

Nginep di rumah sakit 2 malam. Ternyata nggak papa. Lalu pulang ke rumah lagi.

Eh selang 2 hari, minta ke rumah sakit lagi. Awalnya nggak papa. Tapi saat hari ke-3, gejalanya mulai terasa. Perut kembung, nggak bisa pup, perut sakit parah. Kuku kaki menguning.

Ternyata Pakde kena liver. Tapi Pakde nggak tahu kalau kena liver, biar beliau nggak panik. Beliau tahunya ada penyumbatan pembuluh darah di otak (ya seperti stroke ringan). Kemudian diabetes juga.

Setelah minum degan jamu dan tindakan suntik menyuntik oleh dokter, akhirnya segala fesesnya keluar banyak banget. Pakde lega karena dia bisa pup buanyak banget. Mungkin di situ racun-racunnya keluar.

Saat perutnya sakit, haduuuh kayak orang nggak punya harapan hidup. Nggak mau makan. Rewel. Marah-marah karena kesakitan, dll. Omongannya juga ngaco, mungkin karena sakit banget kali ya.

Mbak Angel nangis, Mas Dian sedih, Bude Kis juga. Ibu bantu nguat-nguatin Pakde supaya tetap berpikiran positif. Diajak ngobrol terus saat orangnya mulai membaik.

Ya Alhamdulillah sekarang Pakde Joko sudah mulai membaik. Tapi ya agak kurus sih. Sangat kurus.

Beliau pensiun tanggal 7 Maret. Untuk sementara, pulang pergi ngajar di sekolah, diantar jemput oleh Mas Dian. Jadi Mas Dian antar jemput bapaknya dan anaknya sekolah. Alhamdulillah barokah.

Selametan Mbah Uti

Saya nggak mungkin sih biarin Ibu ngurus selametannya Mbah Uti sendirian. Memang ada Bude Kis, Bude Mi, dan Bude Fik. Tapi yang nemenin Ibu ke Tempeh, siapa lagi kalau bukan saya?

Sabtu sore, saya ke Tempeh. Ngantar wadah berkatan dan aqua dus. Minggu pagi, tentu saja merabot mulai pagi. Yang merabot sedikit. Setidaknya, dengan adanya saya, ada bantuan tenaaga.

Kabar Bocil-Bocil

Oh ya, sekalian saja saya sharing tentang bocil-bocil.

Hari Kamis, saya tiba di Lumajang. Tapi nggak bisa kemana-mana karena sepeda motor revo dibawa Ayah. Jadinya saya nggak bisa nyambangi bocil-bocil kesayangan.

Saya baru bisa nengok bocil-bocil hari Jumat pagi. Ada Fatim, Shanum, dan Khalid yang lagi sarapan. Lalu semburat-lah mereka saat saya mengajak main di taman.

Yaa main di taman happy-happy bergembira. Senengnyaaa...

"Mbak Fatim kangen Te Ocha?"

"Enggak" jawab Fatim.

Baiklah.

"Adek Shanum kangen Te Ocha?"

"Kangen" jawab Shanum

"Kangennya sebesar apa?"

"Matahari" jawab Shanum

Uuuu gemashnyaaa

Lain cerita kalau Khalid. Terakhir kali, Khalid mbrangkang-nya itu kakinya kayak ngesot. Pas kemariiin, eh ternyata kaki satunya ngesot, kaki lainnya ditekuk kayak mbrangkang. Hahaha.

Nggak papa, nggak harus sempurna. Pelan-pelan. Inshaa Allah nanti bisa.

Kabar Ibu, Ayah, Adek

Hmm biasa aja sih. Ibu ngangenin. Kudu nempel terus rasanya kalau ke Ibu. Tapi ya gitu, mungkin Ibu punya masalah pencernaan, jadi rasanya males kalau usai makan malah pup.

Yang jemput saya di terminal adalah Ayah. Soalnya bus sudah sampai di terminal Wonorejo jam 3.15 dini hari. Pagi banget. Jadinya Ayah yang jemput.

Soal Adek, sebenarnya mau jemput Adek hari Selasa, sekalian nyambangi Yangti. Tapi Adek nggak mau. Soalnya kalau pulang ke Lumajang, nggak dapat sangu. Karena dia butuh uang saku untuk melunasi shopee pay laternya.

Kabar Suami

Sebelum balik ke Lumajang, si Mas ngajakin saya kulineran dulu. Tapi bingung mau kulineran apa, jadinya nyamil-nyamil di jembatan Tirtonadi. Beli jasuke dan cilok.

Mas Angga nih yaaa, kalau saya di Lumajang, pasti dia sakit. Adaaa aja dia sakitnya dah kalau saya di Lumajang.

Lalu dia bilang di telpon, "Opo sing mbok nggowo nganti aku lara?"

Hah? Aku ndak nggowo opo-opo. Wkwkwk

Kayak orang patah hati ditinggal pergi ya.

Kabar Blog

Oh ya, sepertinya saya harus berjuang lebih keras. Saya nggak bisa menjadi seorang blogger saja. Saya harus menjadi seorang content creator. 

Mulai pekan kemarin, saya termasuk cukup sibuk untuk menyelesaikan tugas-tugas saya. Saya mengusahakan agar 2 blog saya update tiap hari. Semakin semangat saat tahu bahwa 2 blog tersebut udah lolos google news.

Lalu mau merambah ke dunia Youtube. Wuah gilak sih, susah banget. Kudu konsisten.

Apalagi saat ini saya juga sedang mengelola media sosial. Pengen nambah 1 lagi, yakni KAUJE. Tapi masih belum ada rancangan dan konsepnya.

Jadinya, biasanya saya seharian ngerjain beberapa konten sekaligus supaya bisa ditayangkan setiap hari. Yaa bismillah. Inshaa Allah bisa dapat 10 juta/bulan dari Adsense.

Aamiin.

 

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Posting Komentar untuk "Cerita Saat Pulang ke Lumajang"