Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Odong, Jangan Menyerah

Buat apa aku hidup jika aku tak memiliki apa yang semua orang butuhkan? Untuk apa aku hidup jika aku tak sama dengan mereka? Untuk apa aku hidup jika aku selalu dihina dengan keadaanku yang seperti ini? Untuk apa aku ada di dunia ini jika aku harus meras terpuruk seperti ini? Untuk apa aku dilahirkan ke bumi ini jika aku dilahirkan cacat seperti ini? Untuk apa aku dilahirkan jika  aku berbeda dengan yang lainnya?

Lahir di muka bumi ini dengan keadaan yang tak normal, sungguh menyengsarakan hati. Aku tak sanggup bila selalu dihina, diejek, dicaci maki seperti ini dalam waktu yang harus kudengar setiap saat. Aku tak ingin mendengar kata-kata cemooh dari mereka. Aku tak menginginkannya. Sungguh-sungguh tak menginginkannya…

Kadang aku berfikir, mengapa Tuhan tak pernah adil padaku? Mengapa aku dilahirkan cacat seperti ini? Mengapa aku selalu menjadi bahan cemooh bagi mereka? Mengapa mereka selalu memandangku aneh dengan keadaanku yang seperti ini? Mengapa hanya ibu yang menyayangiku? Dan mengapa Tuhan tak menyayangiku seperti hamba-hamba-Mu yang lain?

Malam yang semakin larut, membuatku semakin gelisah. Tak ingin aku waktu berputar cepat. Biarkan menjadi malam selalu. Karena bila pagi datang menjelang, mereka akan mengejekku dan tak pernah ada habisnya.

“Odong… apa yang sedang kamu fikirkan malam-malam begini sih?”. Aku selalu menyadari, bahwa ada orang yang menyayangiku. Ia yang menyayangiku sejak dari buaian, ditimang-timang, hingga aku dewasa ini. Aku tau, aku tak pernah  membahagiakannya dan tak akan pernah bisa.

“Odong… kok ngelamun aja? pertanyaan Ibu kok nggak dijawab? Lagi mikirin apa sih?”

Aku tersadar dari lamunanku, “Eh, enggak kok Bu, Odong nggak mikirin apa-apa” aku hanya bisa berbohong. Karena aku tak ingin Ibu sedih saat melihatku yang hanya bisa pasrah dengan keadaan.

“Jangan berbohong, Ibu tau loh kalau anak ibu tersayang lagi mikirin sesuatu..” yach, Ibu masih tetap saja memaksa. Apa boleh buat?...

“Odong kangen ayah…” terpaksa deh aku harus bohong lagi.

“Ibu juga kangen sama ayahmu…”

Aku hanya bisa tersenyum melihat Ibu.

Kulihat, Ibu berhenti memotong-motong wortel. Ibu meletakkan pisaunya. Sepertinya, ibu ingin bercerita…

“Ibu kangen ayahmu. Dulu, ayahmu senang menyanyikan lagu-lagu cinta untuk Ibu. Gitar yang ada di pojok ruangan, adalah saksi bisu kasih sayang ibu dan ayahmu saat masa muda dulu. Ibu masih ingat, ketika kamu masih kecil, kamu selalu menari-nari jika ayahmu bermain gitar. Itulah yang membuat ayahmu semangat untuk menghidupi Ibu dan kamu. Gitar itu adalah kenangan manis dari ayahmu yang masih ada hingga sekarang. Dengan melihat gitar itu, Ibu bisa tersenyum sambil mengingat-ingat masa-masa indah itu. Itulah yang membuat Ibu tegar menghadapi kejamnya dunia ini”

***


Teriknya matahari membuatku kelelahan. Aku yang sudah sejam berjalan-jalan di emperan toko, kini aku mengistirahatkan kakiku. Aku duduk di depan toko VCD bajakan. Saat aku beristirahat, banyak orang yang melihatku. Lebih tepatnya mereka melihat keadaanku ini. Aku hanya dipandang sebelah mata. Ah, sungguh menyebalkan. Aku merasa hidup ini tak  adil untukku.

Aku teringat sesuatu. Aku teringat kata-kata itu. Sebuah kalimat yang menyudutkan hatiku, yang meluluhlantahkan harapanku, yang membuatku patah semangat dan yang membuatku menyerah.

“Odong, buat apa elo hidup jika elo terlahir cacat, nggak punya tangan sama sekali. Emangnya elo bisa ngehadepin dunia yang keras ini. Lagian, kalo elo hidup, elo bisanya cuma ngerepotin orang tua elo. Liat tuh, bokap lo meninggal gara-gara elo dan sejak itu nyokap lo kerja mati-matian buat anaknya yang seorang parasit. Bisanya cuma numpang, makan, dan tidur. Elo nggak punya hati kali ya nyampe-nyampe elo nggak pernah balas budi ke orang tua lo. Dasar! Si tangan buntung! Bisanya cuma nyusahin orang doang!” kata-kata yang selalu dilontarkan tetanggaku itu selalu menggema di dalam lubuk hatiku, membuatku semakin terpuruk.

Aku tau, tak ada yang menyayangiku selain Ibu. Ibu selalu memotivasiku untuk melakukan semua hal layaknya orang normal, tapi aku tetap saja menyerah pada keadaan.

“Tak ada manusia yang terlahir sempurna…

 Jangan kau sesali segala yang telah terjadi…

 Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat…

 Seakan hidup ini tak ada artinya lagi…

 Syukuri apa yang ada…Hidup adalah anugerah…

 Tetap jalani hidup ini…Melakukan yang terbaik…

 Tak ada manusia yang terlahir sempurna…

 Jangan kau sesali segala yang telah terjadi…

 Syukuri apa yang ada …Hidup adalah anugerah…

 Tetap jalani hidup ini…Melakukan yang terbaik…

 Tuhan pasti kan menunjukkan…Kebesaran dan kuasa-Nya…

 Bagi hambanya yang sabar…Dan tak kenal putus asa…

 Jangan menyerah… jangan menyerah…”

Lagu ini? Lagu ini menginspirasiku… lagu ini memberiku semangat… lagu ini membuatku bangkit… kalau boleh aku bertanya, lagu ini milik siapa? Milik siapa? Apa judulnya? Siapa penciptanya? Aku terinspirasi darinya… aku menjadi semangat karena lagu ini….

***


Aku masih mendengar cacian itu. Aku masih mendengar ejekan para tetanggaku itu. Sebenarnya, aku muak dengan caci maki mereka. Aku ingin mereka diam dan membiarkan aku berjuang menjadi layaknya orang normal. Aku ingin mereka mengerti bahwa aku adalah orang yang butuh dukungan dan motivasi dari banyak orang. Tapi mengapa mereka tak pernah mengerti aku? Apa salahku terhadap mereka?

Aku tak ingin cemoohan ini berlanjut dan membuatku patah semangat. Aku ingin mengakhiri ini semua dan membuat mereka diam tanpa mengeluarkan kata-kata untuk mengejekku lagi.

Tapi, apa aku bisa? Aku harus bisa! Aku ingin membuktikan kepada dunia bahwa orang cacat sepertiku bisa melakukan apapun layaknya orang normal. Aku harus bisa!

***


Prok.. prok.. prok… suara tepukan tangan yang cukup meriah bagiku. Sebagian orang melakukan standing applause, mungkinkah untukku?

Aku melihat ibu yang duduk di bangku depan untuk menyaksikan pertunjukanku. Aku melihatnya menangis. Baru kali ini kudapati ibu menangis di hadapanku. Ibu, seka air matamu….

“Nah, baru saja kita menyaksikan pertunjukkan yang penuh dramatis. Seseorang yang terlahir dengan cacat fisik, seseorang yang harus kehilangan kedua tangannya sejak lahir, tapi beliau mencoba bangkit dari keterpurukannya dan berusaha mencoba melakukan semua aktivitas layaknya orang lain. Beliau adalah Odong. Odong, bagaimana bisa Anda melakukan ini semua?” kata MC-nya yang sesekali menyeka air matanya.

“Saya adalah orang cacat, yang tidak mempunyai tangan sejak lahir. Pada awalnya, saya merasa iri, mengapa saya terlahir tidak seperti orang normal lainnya? Tak ada satupun tetangga saya yang menyimpan belas kasihnya kepada saya, sehingga saya merasa dikucilkan. Pada suatu hari, saya berjalan-jalan di emperan toko, dan saya duduk di depan toko yang menjual kaset bajakan. Tiba-tiba, ada sebuah lagu yang menarik perhatianku. Lagu itu adalah lagu yang baru saja saya mainkan. Lagu itu memberi saya inspirasi dan membangkitkan semangat saya yang sudah lama terpendam.”

“Odong, adalah seorang laki-laki yang berumur 24 tahun. Kita tau bahwa dengan keterbatasan yang beliau miliki, beliau memanfaatkan apa yang ada padanya. Gitar yang bisa dimainkan dengan jari jemari tangan, beliau mainkan dengan jari-jemari kakinya. Beliau bisa memanfaatkan anugerah yang diberi Yang Maha Kuasa. Jarang, ada orang yang setangguh beliau. Saya bangga menyaksikan pertunjukan sederhana yang ditampilkan oleh beliau. Beliau dapat membuka hati saya untuk mensyukuri apa yang ada dengan keterbatasan yang saya miliki.”

Aku hanya bisa tersenyum

“Kalau boleh tau, siapa yang mendukung Anda untuk menunjukkan talenta yang Anda miliki?”

“Ibu.”

“Seberapa besar dukungan ibu Anda terhadap Anda?”

“Bagi saya, ibu adalah segalanya. Ibu adalah orang yang selalu memberikan saya semangat untuk menjalani hidup saya yang penuh liku. Dulu, ibu saya harus bekerja untuk menghidupi saya yang hanya pengangguran. Tapi kini, saya yang akan membiayai hidup ibu karena saya bisa melakukan apapun layaknya orang kebanyakan. Saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa saya bisa menjadi orang normal.”

“Kata-kata apa yang selalu diucapkan ibu Anda untuk membangkitkan Anda semangat selalu?”

“Odong, jangan menyerah…” ucapku sambil tersenyum.

Kulihat ibu, lagi-lagi ia menetaskan air matanya….
cerpen-odong-jangan-menyerah

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Posting Komentar untuk "Odong, Jangan Menyerah"