Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ya Allah... Gimana Aku?

Ya Allah, aku sedang bingung. Bingung menghadapi malam minggu besok. Bingung ngurusin pensi, lebih tepatnya drama kelas. 

Aku tahu, aku yang bikin idenya. Aku yang pertama kali mengusulkan keber dan aku pula yang mengusulkan penataan lighting. Dan kenapa malam ini, sebagai H-1 pensi, masalah terbesarnya adalah keber dan lighting?

Ya Allah... aku menghela nafas panjang.

Aku bingung. Aku gundah.

Tadi malam, lebih tepatnya barusan, sekitar jam 8, aku dan sebagian teman-teman standby di sekolah buat cek panggung perihal persiapan drama pensi. Memang, nggak semua teman bisa datang, maklum saja, banyak yang rumahnya jauh. Yaa cukup kondusif lah dengan hadirnya beberapa orang di sini buat mewakili cek panggung. Setidaknya, nggak akan ada beberapa teman yang merasa nganggur dan terkacang-kacang untuk menyelesaikan masalah ini.

Masalah dimulai dari keber yang sangat merepotkan. 

Hadirnya keber di sini, sebagai transisi antar scene, karena akan ada property pendukung yang wira-wiri di panggung. Sialnya, di sini, keber nggak cukup efektif dan malah menimbulkan masalah.

Darimana efektifnya? Keber hitam ini ukurannya kira-kira 8 x 4 meter. Sedangkan panjang panggungnya 12 meter. Kalo dipaksa pake keber, hasilnya nggak akan maksimal. Temen-temen yang pegang keber, mau cabut kemana? Kalaupun mereka cabut, mereka mau sembunyi dimana? Apalagi pergantian scene nggak cuma dilakukan sekali, malah berkali-kali.
Apalagi, keber hitam ini tergolong berat, soalnya tingginya (lebar) 5 meter. Tinggi manusia nggak sampai, walhasil dilipat jadi dua. Tentu saja, hal ini yang membuat berat dan membuat adanya lengkungan di tengah keber.

Tadi ada yang usul, pake keber merah, ukuran panjangnya cuma 5 meter. 
Ya ampuuuun... kalo dilihat dari sudut pandang orang berdiri, keber itu terlihat nggak ada seperlimanya. Ide itu nggak masuk akal.

Nuril ngasih usul, pake tali kayak anak kelas X yang jingle kemaren. Aku pikir sih, idenya bagus juga, tapi yaa nggak efektif. Kalo anak kelas X kemaren, cuma butuh 2 meter dan itu hasilnya juga nggak bagus-bagus amat karena faktor manusianya yang nggak bisa mengkondisikan keber.

Ada juga yang usul, pake kayu setinggi manusia, setengah dari tinggi keber sebagai penegak sisi samping kanan kiri. Bagiku sih masih nggak efektif. Nanti, kalo mau naruh gimana? Dijatuhkan? Apa itu menjamin? Belum lagi para aktor yang nggak sengaja menginjak keber yang dijatuhkan.

Tadi Erwin juga ngasih usul, tiangnya nggak usah tinggi, cukup sepanjang stick drum untuk mengencangkan keber dua sisi. Tapi, kalo dipikir-pikir, ide ini juga nggak akan menyelesaikan masalah. Memangnya anak yang pegang keber mau sembunyi dimana? 
Sembunyi di belakang sound?
Memangnya efektif?

Ideku lebih gila lagi. Memotong keber, jadi ukurannya 8 x 2 meter. Toh, di tengah keber juga ada jahitannya. Kalo rencanaku sih, kebernya dipotong sementara, lalu dijahit lagi. Toh, nggak akan ada bedanya sama keber awal yang pinjam ke anak teater. Ini untuk meringankan beban keber. Rencana yang belum tersalurkan adalah, aku juga mau menggabungkan ke idenya Erwin.

Tapi, belum apa-apa, ide gilaku udah ditolak mentah-mentah. Oh my God. Ternyata temen-temen nggak berani ambil resiko. Aku? Berani ambil resiko. Apapun itu.

Lalu, debat ini itu sampai jam 9 malam hanya karena masalah keber. Lalu, dijumpai titik temunya. Sebenarnya titik temu ini udah ada di jam 8, tapi yaa sangkingan saja belum tersambung ke semua pikiran anak. Bahwa, semaksimal apapun penggunaan keber, nggak akan didapatkan pencahayaan yang benar-benar gelap, pasti ada seberkas cahaya dan itu pasti jelas terlihat dari luar panggung.

Dan kesimpulannya.. nggak jadi pake keber. 

Pake keber, hasilnya jelek. Dipaksa pake keber, hasilnya juga jelek. 
Kalo nggak pake keber, hasilnya tetep jelek. Penonton itu menunggu surprisenya, nggak nunggu gaduhnya di urusan property dan aktor yang ruwet.

Walhasil, karena nggak pake keber, akhirnya memenfaatkan lighting. Dan yang ngurus lighting ini aku. Ini WOW banget... bikin orang nyesek.

Aku sih, pengennya pake keber dan pake lighting. Tapi kalo keber sudah ditiadakan begini, yang kena beban yaa aku. Aku yang ngurusin lighting. Dan mengurus lighting itu nggak mudah.

Pikiranku melayang ke masa itu, ketika menguru drama, ketika semua ide tertuang. Awalnya, memang aku yang mengusulkan keber dan lighting, tapi itu hanya untuk satu scene dan scene penting saja.

Lalu, ketika ide keber itu masuk ke telinga beberapa temanku, akhirnya keber dimanfaatkan di setiap transisi scene. Hal ini dilakukan saat seleksi dan gladi kotor. Cara ini lumayan sukses. Tapi dari dulu, aku selalu berpikir, nggak ada yang bisa  menjamin keluar masuknya keber ini ketika di panggung.

Dan sebelum pulang, sekitar jam 10, ditetapkan tidak menggunakan keber dan memanfaatkan pengaturan lighting secara total. Ya Allah... aku merasa ada dua besi satu ton yang nangkring di pundakku. 

Ya Allah... kenapa kali ini aku harus menanggung beban seberat ini? Kalo aku nggak becus ngurus lighting, tampilan kelas bakalan hancur, karena lighting itu pendukung utama setelah ditiadakannya keber. 

Ya Allah... bantu aku esok hari... tenangkan aku malam ini... buatlah aku tertidur malam ini...

Ya Allah... ringankanlah bebanku... jagalah aku selalu...

20 comments for "Ya Allah... Gimana Aku?"

  1. nyantai aja Mbak Ocha. rileks.
    Insya Allah, Tuhan nggak bakalan tinggal diam kalo kita selalu berdoa.
    sekarang istirahat dulu, besok biarlah menjadi urusan sang esok. kita siapkan lagi dengan perasaan yang indah dan pikiran yang tenang. sukses untuk pentas seninya.

    ReplyDelete
  2. pasti bisa, kan sudah berusaha. tinggal diiringi doa pasti hasilnya baik :) good luck, ya :)

    ReplyDelete
  3. Tenang itu kuncinya Cha, udah kepalangbasah kebernya ditiadakan . Gut lak

    ReplyDelete
  4. ocha...keep spirit ya :)
    dlu ak juga prnh ngalamin hampir mirip ma kamu pas kelompokku mau pentas drama..hmmm jaman aku masih sekolah sih.

    ReplyDelete
  5. keber itu apa? Beneran ga tau... -_-

    ReplyDelete
  6. Ya ampunn, wah aku gak bisa lihat pensimu besok ocha, aku masih bertarung dengan ujian kuliah nih! Ocha, aku doain semoga pensi smada sukses ya! Ocha, jangan lupa posting semua foto2 pas pensi ya? Pengen banget lihat sheila on 7!!!

    ReplyDelete
  7. Sama, aku juga ga tahu apa itu keber. Tenang cha, jangan panik, selalu ada solusi dalam setiap masalah, dan masalah besar itu akan membesarkanmu juga, semoga pensinya sukses yaa, Aamiin

    ReplyDelete
  8. eh ini hari H~nya lho, smg sukses ya,,, dan pertanyaan yg sama dgn para k0mentator senior diatas, keber itu apa ya? :-D

    ReplyDelete
  9. semoga lancara ya acaranya Ocha, ikut mendoakan

    ReplyDelete
  10. Nah lho jadi gimana cerita selanjutnya Cha?? sukses kan??

    ReplyDelete
  11. gmn acaranya,, udh sukses kn?

    maaf nh baru sempat mampir :)

    ReplyDelete
  12. aku aja, selalu senang kalau dapat cobaan, mungkin pertanda Tuhan sayang & ingat dengan kita, maka'a selalu dikasih cobaan, entah itu kecil, sedang ataupun besar

    ReplyDelete
  13. tetep semangat dan gak boleh ngeluh yosh...

    Mampir kesini ya, salam kenal Peta Indonesia Karya Anak Negeri

    ReplyDelete
  14. dibalik kesukaran pasti ada kemudahan ^^

    ReplyDelete