Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Reog Untuk Kelud

Hmm... sore ini saya sedang menghirup sesuatu yang berbau hujan. Bau hujan itu khas banget, dan saya suka. Sekarang, saya sedang berada di Sampoerna Corner untuk menikmati free wifi dan sedang bersama Nayla serta seorang kawannya yang lagi sibuk ngobrol nggak jelas di telinga saya.

Ngomong-ngomong tentang judul postingan ini, hmm... cukup mainstream ya. Reog untuk Kelud. Bukaaaaaan... Bukan mempersembahkan reog untuk gunung Kelud agar menghentikan amarahnya yang berupa abu vulkanik. Melainkan, ada sebuah acara penggalangan dana dengan menampilkan sebuah pertunjukan kecil berupa Reog Ponorogo yang segala donasi dari donatur jalanan akan disumbangkan kepada para korban gunung Kelud.

Kebetulan, kemarin sore saya lewat gerbang depan kampus dan menemui pertunjukan ini. Pertujukan reog untuk penggalangan dana korban gunung Kelud. Cukup banyak yang menonton dan cukup banyak yang memberikan dana, alhamdulillah...

Alhamdulillah juga, abu vulkanik dari gunung Kelud tidak sampai ke Lumajang. Padahal Lumajang cukup dekat dengan gunung Kelud dibandingkan Yogyakarta. Lumajang, lebih tepatnya berada di sebelah timur kota Blitar dan Malang. Sedangkan kota Blitar dan Malang sangat dekat dengan gunung Kelud dan abunya sudah cukup tebal.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Tidak lain karena kuasa Allah. Yah, kalau begini jawabannya yaa nggak usah dibahas lah. Begini, kalo ditinjau dari sisi ilmiah yang sedikit ngawur, hal ini terjadi karena anginnya bertiup dari timur ke barat. Kalo si angin berhembus dari barat ke timur, yaa Lumajang runyam sudah.

Gunung-gunung juga udah pada aktif. Gunung Semeru dikabarkan waspada. Gunung Bromo berstatus siaga. Beuh, Lumajang tetap berdoa saja....

Beberapa hari yang lalu, saat Gunung Kelud meletus, keesokan paginya ayah saya bilang:
"Kalo ada gunung meletus atau gempa bumi, nggak usah lari, nggak usah panik, nggak usah keluar rumah, nggak usah teriak-teriak."
"Lah, terus ngapain, Yah?"
"Berdoa"

Oke. Itu jawaban yang sangat membuat saya nggondok setengah mati. Menyesal karena terlalu serius mendengarkan petuah dari ayah.

Salam. Ayah. Kangen.

4 komentar untuk "Reog Untuk Kelud"

  1. kunjungan perdana dan mendapatkan pertamax pula
    hehehe
    asyik gak tu...


    nyimak dulu mbak
    baru perdana

    BalasHapus
  2. Kreatif

    di padang mah orang bener2 hanya minta sumbangan. pake kardus. nggak pake reog-reogan. kurang kreatif kan..
    hihihi

    BalasHapus
  3. hehehe UKM reog ponorogo masih lestari y mbak ? saya merindukan tulisan Universitas Jember depan rektorat itu mbak. hehehe
    Sering-sering update tentang jember mbak, saya tongkrongi blognya.
    hehehehehe

    BalasHapus