Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

First Journey to Bintoro 5

Assalammualaikum wr wb

(source)

Saya mau cerita nih, tentang perjalanan pertama saya menuju SDN Bintoro 5, sebuah SD binaan untuk saya dan ke-13 teman saya mengabdi.

22 Maret 2014, jam 6.45 saya bersama Umay, mas Sandy dan mbak Galuh langsung capcuss menuju tujuan utama kita. Sebenarnya anggota SP3 yang ditempatkan di SDN Bintoro 5 ada 13 orang, tapi berhubung mereka semua pada sibuk, ya sudah, saya dan Umay yang ngajar ke Bintoro; sedangkan mbak Galuh dan mas Sandy adalah SP2 yang menemani kami untuk masa percobaan saat mengajar.

Umay nebeng saya pake revo dx, sedangkan mbak Galuh bareng mas Sandy pake byson. Saya dan Umay sebagai Sobat Pengajar newbie, masih belum akrab-akrab banget dengan mas Sandy dan mbak Galuh yang sejak setengah tahun lalu mengabdi di Bintoro.

Hampir tiga puluh menit berlalu, jalan yang kita lalui aman-aman saja, beraspal dan cukup lebar. Tapi lama-lama kok aspalnya habis? Haduuuuh, cilaka, jalanan rusak! Dan jalanan yang kita lalui adalah jalanan berbatu dan bertanah liat (lempung). Jalannya sempit pula. Ini sama halnya menaklukkan alam dengan menggunakan mesin yang bernama motor. Kalau menaklukkan medan berat dengan berjalan kan lebih enak, tapi capek banget sih. Lah, kalo sambil mengendarai motor? Bheee, sulit men. Dua kali lipat sulitnya.

Seminggu sebelumnya saat happy camp, mas Awan bilang, kalo jalanan ke Bintoro itu enak, sudah beraspal.

Lah buktinya? Masih tanah liat yang nggak disentuh apa-apa.

Yang membuat saya nggak habis pusing adalah kita melakukan perjalanan mengelilingi bukit ke bukit. Dan yang namanya bukit, pasti bersebelahan dengan jurang. Nah, ini dia! Jalannya sempit, bagian kiri adalah dinding bukit dan bagian kanan adalah jurang. Saya nggak tahu gimana nasibnya kalo ada motor yang salipan.

Sejenak saya berpikir, pantas saja nggak ada (red: sedikit banget) guru yang mau ditempatkan di pelosok desa, lahwong akses jalannya saja susah.

By the way, pemandangan menuju SDN Bintoro 5 sangatlah indah. Indaaaaaaaaaah banget. Selama perjalanan, saya fokus dengan jalanan. Tapi, kadang kan saya suntuk juga ngeliatin jalanan mulu.

Hingga akhirnya tibalah ketika saya benar-benar menikmati pemandangan Bintoro yang sundduh indah tanpa memedulikan jalanan becek yang akan menjadi tempat saya terjatuh.

Ya, saya terjatuh. Hal ini terjadi karena saya asyik sekali mengarahkan wajah ke kiri untuk melihat pemandangan yang sungguh luar biasa indahnya. Motor menimpa tubuh saya, tapi terganjal dengan sesuatu yang saya nggak tahu. Jaket dan baju saya nggak basah, hanya saja celana bagian depan betis kiri kena lumpur dan lumpurnya lengket banget ke celana saya.

Alhamdulillah, saya nggak ndredeg. Alhamdulillah, ketika saya jatuh, gigi motor saya adalah 0, entah bagaimana bisa. Alhamdulillah, saya jatuhnya ke tanah liat, jadi empuk. Dan Alhamdulillah banget, saya langsung terjatuh bersama motor saya di tempat dan tidak nyasar atau amblas kemana-mana, karena sebelah kiri saya adalah jurang. Wuah, saya nggak habis pikir kalau gigi motor saya masih nyala 1, lalu saya masih pegang setir dan masuk ke jurang.

Ya Allah Ya Rabbi Ya Tuhan.... terima kasih....

Wassalammualaikum wr wb





4 komentar untuk "First Journey to Bintoro 5"

  1. saya ikut deg-degan bacanya.
    tuh kan Mbak, gunanya kita saling mendoakan. bahkain soal gig nol pun sudah diatur sama Allah. alhamdulillaah saya ikut bersyukur

    BalasHapus
  2. daerahnya terisolir banget yah mba. moga kuat melakukan pengabdian di sana... pengalaman jatuh dari motornya juga berkesan banget pastinya ini... alhamdulillah masih diberi umur panjang... ^_^

    BalasHapus
  3. moga pahlawan tanpa tanda jasa yang disandangnya jadi jembatan dan memuluskan jalannya kelak menuju surga...dengan mengendarai kendaraan yang sangat bagus dan indah...aaaamiiiin

    BalasHapus