Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kembali Menulis

Kembali Menulis

Assalammualaikum wr wb

“One Day One Letter”.  Slogan yang sering saya dengungkan, tapi tak kunjung terlaksana. Pun jika kita punya impian, namun  kita tak kunjung bergerak, tak kunjung berupaya.

Sudah lama juga saya tidak menulis lagi. Entah apa ya yang saya lakukan selama di kosan ini. Padahal cerita yang ada di otak saya itu banyak. Tentang pengalaman tes beswan djarum, pendampingan unej mengajar, kelas inspirasi, keluarga di rumah, cerita kuliah dan masih banyak lainnya. Saya juga ingin share beberapa ilmu yang saya dapat via online.

Sebenarnya saya lebih suka membaca daripada menulis. Karena membaca, saya bisa dapat ilmu banyak. Tapi entah kenapa kebiasaan membaca jadi berkurang daripada saat saya SMP dulu. Mungkin karena teknologi sudah mulai merajalela kali ya.

Saya tuh dulu ingin bekerja di sebuah majalah. Nulis cerita, wawancara ke orang beken, share konsep, nyumbang ide desain dan sebagainya. Tetapi hal favorit yang saya lakukan saat SMP tersebut tidak kunjung terbantu. Ah, mungkin memang saya yang cenderung pemalas.

Seharusnya, waktu luang saya lebih banyak ketika saya kuliah. Tapi apa daya, waktu luang diisi dengan tidur, tidur dan tidur. Merasa nggak ada yang bisa dihasilkan.

Kembali menulis pun, sudah terbayang-bayang ketika ada seseorang yang secara tak sengaja menegur saya. Namanya Damian Damara. Saya memanggilnya mas Demi. Dia videographer tim saya di SD Bandaran Kelas Inspirasi Lumajang. Cukup banyak hal yang kami perbincangkan. Sampai akhirnya saya tahu bahwa dia masih semester 7 jurusan Teknik Sipil universitas swasta di Bandung dan menekuni sebagai jurnalis kampus.

Mas Demi, yang pake baju putih

Cukup aneh ya? Masih kuliah teknik sipil, tapi sangat bangga dengan kejurnalisannya. Saya pun bertanya kepada mas Demi, kok tidak masuk jurusan Ilmu Komunikasi saja untuk dapat banyak ilmu jurnalistik? Alasannya, karena menulis adalah hobinya. Kemudian ia ingin logikanya tetap jalan agar otak kanan kiri seimbang, makanya dia masuk teknik sipil.

Lah kok ya teknik sipil, itu kan riweh banget??!

Jawaban tersirat tersebut seakan-akan menampar saya, mengingatkan saya dengan keadaan saya saat ini. Kuliah di jurusan pendidikan fisika, yang cukup menyimpang dari mimpi saya sebagai jurnalis.
Semakin lama, jawaban dari segala pertanyaan 3 tahun lalu, sedikit demi sedikit terkuak sudah.

Pendidikan. Fisika.

Pendidikan. Banyak hal saya dapatkan. Belajar mendidik diri sendiri dan orang lain. Belajar mengatur perencanaan untuk diri sendiri dan orang lain. Belajar untuk tampil show up dan tampil prima karena kita akan berhadapan dengan banyak orang. Tentunya, belajar untuk lebih peduli terhadap pendidikan di Indonesia, khususnya di lingkungan sekitar.

Fisika. Memainkan banyak peran di kehidupan saya. Ilmu sains yang tidak hanya sekedar matematis dan teori, tetapi memainkan peran keduanya. Tentu, dalam mempelajarinya dibutuhkan logika yang kuat, kerja keras yang tahan banting dan doa yang berkelanjutan.

Jurnalis. Entah kenapa saya berpikiran amat pendek saat itu. Padahal kesempatan saya sangaaaaaaaaat banyak.  Saya bisa menulis dimanapun, kapanpun dan apapun. Dan ingin saya kembalikan lagi sekarang.

Tampilan blog sudah saya perbarui. Banyak pengalaman yang ingin saya bagi. Lalu mau tunggu apalagi?

Tidak menunggu apa-apa. Melainkan hanya perlu memulai.

Teman-teman blogger yang tulisannya lebih kece badai, boleh kok berkomentar positif negative tentang tulisan saya, dari segi penyajian, tata bahasa, kualitas isi dan sebagainya. Saya terima dengan lapang dada.

Sekian tulisan saya hari ini.

Wassalammualaikum wr wb.                   
 

Post a Comment for "Kembali Menulis"