Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Catatan Anak Bangsa


Assalammualaikum wr wb

Selamat pagi, merdeka!

17 Agustus merupakan hari yang sakral bagi masyarakat Indonesia. Setiap tahunnya kita memperingati momentum kemerdekaan Indonesia untuk mengingat heroiknya para pejuang mempertahankan tanah air kita. Namun sepertinya Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Di umur yang ke-70 ini, Indonesia masih belum menjadi negeri yang aman untuk sebagian besar anak-anak.

source: blogs.icrc.org





Anak-anak masih dijajah oleh orang-orang dan benda-benda yang ada di sekitar mereka. Hal ini jelas terlihat bahwa masih maraknya kasus kekerasan pada anak, demam internet untuk mengakses hal-hal yang berbau porno dan masih banyak lainnya. Kitapun turut iba, ibu pertiwi dirundung duka.

Dengan menutup matapun, kita tahu bahwa kekerasan marak terjadi dimana-mana. Karena menutup mata itu, Angeline meninggal dengan tragis, terabaikan oleh tetangga dan guru yang belum sepenuhnya peduli. Dan rupanya, kini kasusnya hanya sebatas pasir debu yang tertiup angin, terlupakan.

source: bali.tribunnews.com


 Mirisnya, kasus kekerasan yang terjadi kepada anak terkadang bukan kesalahan anak semata. Anak tidak akan tahu apa-apa jika tidak ada contoh nyatanya. Mari kita melirik orang tua, yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu sebagai gurunya dan ayah sebagai kepala sekolahnya. Namun masih saja banyak orang tua yang bertindak sewenang-wenang karena merasa dirinya telah merasakan pahit getirnya hidup.  Lalu mau menyalahkan siapa?

Menjadi orang tua bukanlah perkara mudah, karena tidak ada sekolahnya.  Menjadi orang tua, juga harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Anak sekarang lebih pandai menggunakan internet dan paham fungsi delete history. Ketika mendengar kata youtube, mungkin para orang tua mengira nama makanan. Padahal youtube adalah akses termudah jika ingin menggali lebih dalam tentang pornografi. Lalu mau menyalahkan siapa?

Memang berat jadi orang tua. Ketika anak merajuk minta fasilitas internet, smartphone, laptop dan sebagainya, orang tua bingung  dan memeras keringat untuk memenuhi kebutuhan si anak agar tidak tergerus zaman. Namun pada akhirnya, ketika anak dibekali teknologi yang semakin canggih, para orang tua cenderung lupa untuk mengawasi anak-anak yang semakin asyik dengan gadgetnya. Lalu mau menyalahkan siapa?

source: www.tribunnews.com

Ah, sepertinya kasus tersebut hanya terjadi pada orang-orang kaya saja. Mengingat bahwa Indonesia juga masih memiliki banyak rakyat dengan ekonomi berkecukupan yang lebih terkenal dengan sebutan miskin.  Mereka-mereka yang kita sebut miskin, jelas tidak tahu menahu tentang perkembangan OS windows. Yang mereka tahu hanyalah: pendapatan hari ini cukup untuk beli beras yang untuk hari ini juga. Paling tidak, anak-anak mereka tidak kelaparan. Lapar yang dimaksud di sini adalah lapar makan, bukan lapar kuota internet.

Masalah tentang anak-anak memang penuh retorika. Belum sepenuhnya terselesaikan apabila para biadab bangsa masih merajalela di muka bumi ini. Sulit untuk menyalahkan siapa yang pantas bersalah, karena yang menutup matapun sebenarnya juga bersalah.

Pedih memang melihat Indonesia sedang terpuruk seperti ini. Negeri kita, tanah yang kita pijak, memang sedang menjadi negara remaja atau negara berkembang dengan segala kelabilan yang ada. Tidak bisa hanya segelintir orang yang menggerakkan Indonesia. Tentu butuh banyak orang untuk berjajar rapi menjadi tameng solusi dari segala tetek bengek permasalahan. 

Ah, sudahlah. Lupakan untuk saling menyalahkan.  Penyakit rasa bersalah, hanya bisa diobati dengan gerak. Gerak badan, gerak hati dan gerak jiwa menuju arah positif.

source: fb SOS Children's Village Indonesia

Marilah kita bangkit, di umur yang masih produktif ini, yuk kita bergerak bersama-sama untuk melindungi calon pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia 30 tahun mendatang yang kini masih berseragam merah putih. Harapannya, di umur Indonesia yang genap 1 abad, Ibu pertiwi menyudahi tangisannya dan para pejuang kemerdekaanpun tersenyum bangga.

source: fb SOS children's Village Indonesia

***

nb: tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog: Catatan Anak Bangsa yang diselenggarakan oleh SOS Children's Village.

source: www.sos.or.id

Saya berharap, semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca dan tentunya mendapatkan keberkahan di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Salam merdeka!!

Wassalammualaikum wr wb

1 komentar untuk "Catatan Anak Bangsa"

  1. Bagus tulisannya, template blognya juga keren, Enak ngeliatnya..

    BalasHapus