Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Edisi Kangen Ibu


Assalammualaikum wr wb

18 Juli, orang-orang kembali pada rutinitasnya masing-masing. Di rumah juga begitu. Adek berangkat sekolah. Tadi pagi bangun lebih awal, jam 4 subuh, lalu nonton tv >.< soalnya hari ini masih belum ada pelajaran. Biasanya jam 4 subuh itu waktunya adek belajar, pikiran lagi fresh. Jam 6 sudah berangkat cus. Tadi pagi sempat menyiapkan sarapan buat adek. Sayur sop buatan Ibu. Sarapan yang saya buat adalah udang goreng tepung. Eh ternyata adek nggak sarapan. Yaaa memang dia jarang sarapan sih. Kalaupun sarapan ya cuma makan sedikit, khawatir pup di sekolah mungkin, hehe.
 
Foto bahagia ala kadarnya

Bagaimana dengan Ayah? Ayah besok akan mengikuti ujian tulis seleksi calon kepala sekolah. Hmm, kurang paham juga sih maksudnya bagaimana. Entah memilih cakepsek terbaik atau kepsek terbaik (padahal belum jadi kepsek) atau hanya tes menjadi kepsek. Berkas-berkas sudah disiapkan beberapa hari yang lalu ketika saya di rumah. Untungnya malam itu saya belum tidur, lalu beliau meminta saya mengerjakan sesuatu yang saya sebut tugas negara. Sementara itu Ayah menyiapkan berkas-berkas yang buanyak banget, tentang hasil karya prestasinya, hasil penelitiannya dsb, yang sudah pernah disiapkan (ada hardcopy dan softcopynya) ketika dulu mengikuti lomba guru berprestasi. Alhamdulillah, saat itu ayah menjadi guru madrasah Aliyah terbaik se-Jawa Timur. Sayangnya nggak dapat penghargaan dari Depag atau pihak manapun. Hanya ucapan selamat. Padahal untuk print berkas-berkas dan melakukan penelitian, tentunya nggak butuh biaya sedikit. Ah, mungkin mereka kurang menghargai orang berprestasi di negeri ini. Tapi kami tetap bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan. Ucapan selamat dari mana-mana, membuat Ayah terus memacu kinerjanya dan meningkatkan prestasinya.

Ibu? Hampir 2 minggu Ibu menikmati liburan dengan tenang. Sejak seminggu sebelum lebaran, Ibu sudah tutup toko, maksudnya gak buka toko, soalnya anak sekolah pada libur, pelanggannya cuma sedikit. Capek nunggu pelanggan sedangkan para pelanggan sedang ibadah tidur nyenyak di rumahnya. Jadinya Ibu stay di rumah, bersih-bersih rumah yang nggak bersih-bersih.

Pasca lebaran, di hari Senin tanggal 11, saya kira Ibu mau buka toko, ternyata masih asyik leha-leha, menikmati masa liburnya sebelum anak sekolah menyerang tokonya. Saya kira seminggu pasca lebaran, Ibu mau buka toko, ternyata Ibu masih ingin istirahat tanpa gangguan dari manapun.

Ibu sedang melayani pembeli
Alhamdulillah, pagi ini, Ibu memulai aktivitasnya kembali, berdagang di tokonya sendiri. Ada salah satu hal yang membuat Ibu ketar-ketir, yaitu perihal karyawan. Sejak sebelum Ramadhan, nggak ada karyawan yang bekerja bareng Ibu. Jadinya Ibu capek, apalagi tokonya rame. Dulu, saat ada Mbak Mei (karyawannya Ibu), Ibu merasa senang, nggak begitu capek, toko bisa ditinggal sebentar untuk memasak, cuci baju, beli barang, dsb karena beliau adalah orang kepercayaan Ibu dan Ibu sangat sangat menyukainya. Pun di sini saya juga merasa amat tenang, karena ada yang menemani Ibu, nggak bikin Ibu repot-repot banget. Namun, setelah Mbak Mei resign, toko jadi acak-acakan, Ibu kecapekan, sementara saya di Jember harus kuliah. Pengeeeeen banget bantu Ibu di toko, stay di rumah. 

Jam 6 pagi, Ibu sudah buka toko. Bisa jadi, sebelum jam tersebut Ibu sudah siap buka toko. Jangan kaget, jam segitupun sudah ada pelanggan. Beragam pelanggannya. Banyak siswa yang jarang sarapan pagi, maka beli Sari Roti atau roti-roti di tokonya Ibu. Kadang beli permen buat mut-mutan di kelas. Kadang beli pensil, bolpen, isiannya karena hilang. Kalau lagi musim ujian, pensil 2B jadi primadona, biasanya Ibu akan stok lebih banyak lagi. Kalau hari Jumat, biasanya siswa-siswi keroyokan beli hasduk atau kolong hasduk yang sering hilang. Kalau hujan, Ibu mendadak jualan kresek besar, 500an. Ibu juga jual sandal jepit, untuk warga sekolah yang rutin sholat di masjid sebelah. Yang paling laris juga fotocopy. Nggak cuma warga sekolah depan toko yang fotocopy di sini, orang lewat ragam profesi seringkali fotocopy di sini, soalnya jarang ada fotocopyan di sekitar sini.

Kalau saya sedang di Lumajang, maka pagi-pagi Ibu stay toko, sedangkan saya bersih-bersih rumah. Ya cuci piring, cuci baju, masak. Hmm, nyapu jarang sih, hehe. Tapi beres-beres sering dilakukan. Setelah itu, saya jaga toko, sedangkan Ibu akan masak menunya Ayah. Lalu, kami bergantian menjaga toko. Kadang saya, malah lari untuk nonton tv, hehe. Kalau di jam-jam sibuk, Inshaa Allah saya standby untuk Ibu, meski kadang harus dipanggil dulu. Kalau lagi genting dan butuh banget, terkadang saya disuruh untuk kulakan, seperti kertas 5 rim, roti berapa puluh biji, 2 dus air mineral, materai, dsb. Kalau untuk yang ribet-ribet dan cukup banyak, Ibu akan menanganinya sendiri.

Kemarin sore, ada orang bertamu, perempuan, big size, dia datang bersama Ibunya, rupanya ingin mendaftar menjadi karyawati, masih tetangganya Mbak Mei. Ibu menerimanya. Pagi tadi dia datang. Hmm, saya sih cukup trauma dengan karyawati gendut, hehe, tapi Inshaa Allah yang ini baik kok, sangat baik. 

Sepertinya Ibu akan menerapkan sistem baru di Toko. Begini, toko dibuka mulai jam 6 pagi sampai jam 16.30 sore, dengan Ibu sebagai kasir dan pelayannya, lalu karyawati sebagai pelayannya. Dulu, awal-awal banget, karyawannya cuma 1, lalu bertambah jadi 2. Saat Mbak Mei jadi karyawati, Ibu nggak menambah karyawati, karena tenaga Mbak Mei cukup super. Setelah Mbak Mei resign, ada karyawati yang masuk hanya 3 hari. Buset dah. 2 kali dapet karyawati kayak gini, hehe. Nah, sekarang, Ibu maunya 2 karyawati, tapi jobnya nggak penuh. Sistem barunya yaitu pemberlakukan shift pagi dan siang. Shift pagi mulai jam 6 pagi sampai jam 12 siang, sedangkan shift siang mulai jam 12 siang sampai tutup toko sekitar jam 16.30 sore. 

Mengapa diberlakukan seperti ini? Supaya hemat tenaga si karyawati. Ibu nggak tegaan soalnya. Dulu juga sempat ada insiden, dua karyawan yang harusnya masuk setiap hari secara bersamaan, malah masuknya gantian, bahkan seringkali nggak ada yang masuk buat kerja. Lah kan yang capek ya Ibu. Karena hal itu pula, Ibu langsung mengganti sistem pembayaran. Yang awalnya pembayaran dilakukan perbulan, kini diganti menjadi per-30 hari. 

Semoga sistem barunya Ibu di Toko bisa berjalan lagi dengan baik. Ibu nggak capek-capekan lagi. Ibu tetap semangat menjaga rumah. Semoga, karyawatinya Ibu bekerja dengan baik, maksimal, dan memuaskan, serta bisa jadi teman ngobrol Ibu. Nggak papa kok kalau saya yang jadi bahan obrolannya, hehehe.

Sedihnya, liburan semester ini saya ada di Jember. Mengapa saya di Jember? Saya ingin skripsi saya segera selesai. Skripsi kan yaa begitulah, tau sendirilah. Saya pun juga nyambi ikut semester pendek, ngambil matkul gelombang, supaya nggak gabut-gabut banget di Jember. Pengen juga nyari tambahan penghasilan lewat menulis. Inshaa Allah ya. Hmm, ohya rasa sedihnya adalah saya ada di Jember, bukan di Lumajang. Ketika saya di Jember, maka saya nggak bisa bantu-bantu Ibu beresin rumah atau bantu-bantu Ibu di Toko. Duuuh, tapi mau gimana lagi. Pendidikan lebih penting kan ya bu? Inshaa Allah akan segera saya selesaikan supaya lekas bisa membantu Ibu di Toko.

Ibu, adalah orang tua yang merangkap jadi sahabat dan saudara kembar
Saya lagi kangen Ibu, padahal 5 jam yang lalu saya bertemu beliau, memberikan kecup basah sebelum saya berangkat ke Jember. Duuuh, kangen senyumannya. ^,^

Kawan, ada yang juga lagi kangen Ibu???

Wassalammualaikum wr wb

1 comment for "Edisi Kangen Ibu"

  1. Aku insya Allah minggu depan berangkat S2 ke jakarta
    Ninggalin padang tercinta

    Nggak kebayang deh nanti bakal kangen ibu separah apa
    Soalnya dari TK sampai Wisuda tinggal sama orangtua terus gapernah nge-kos :(

    #First time hiks

    ReplyDelete