Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Peluk Erat Mbak Fitri

Assalammualaikum wr wb

Entah ada angin dari mana tiba-tiba saya dipasangkan dengannya. Dulu, saya hanya sebatas mengenalnya sebagai orang yang cukup aktif di program studi saya. Sering sekali melihat wajahnya di setiap sudut gedung kuliah saya. Dia wira-wiri dengan muka bingung namun selalu dibuatnya  enjoy.


Pepatah memang benar, "dunia hanya seluas daun kelor". Di kampus pada pagi hari, siang hari, sore hari, bahkan malam hari, selalu ada dia. Pun di organisasi yang saya ikuti, dia juga ada. Dimana-mana ada dia. Sempat heran, orang ini siapa ya, dan akankah saya akan mengenalnya lebih intim?


Ternyata iya. Visi yang sama, mempertemukan kita berdua dalam sebuah wadah organisasi kerelawanan. Sering kita bertemu, tapi hanya sebatas bertegur sapa. Saat itu, saya cukup senang karena ada kakak tingkat seperguruan yang juga terlibat dalam misi yang sama. Minimal, ada sosok yang bisa ditanyain perihal pembelajaran mata kuliah yang sedang saya jalani waktu itu.

Dipertemukan pada visi misi yang sama

 Setiap Sabtu pagi, kita menunggu di tempat yang sama, yaitu patung Trium Viraat. Saya melihat kehadiranmu, yang mampu menjadi sosok pencatat yang baik untuk tim Sobat Pengajar di SD Darsono 4. Cukup kagum dengan rekapan-rekapan kehadiran dan catatan yang dia buat. Sudah pasti saya menilai bahwa dia mampu menjadi sekretaris yang baik, di manapun itu.

Jaman masih kulu-kulu, ketika saya menyambangi SD Darsono 4
Sampai suatu hari, kita candu dengan kegiatan kerelawanan ini. Maka kita bergabung lagi di organisasi yang sama, namun pada posisi yang berbeda. Semula menjadi Sobat Pengajar, kini menjadi Pengurus.

Pengurus Unej Mengajar 2015

Pondok selatan Tanoker, menjadi tempat mengakrabkan diri bersama tim yang akan berjuang bersama setahun ke depan. Di sana kita bercanda tawa, bertukar cerita, berbagi pengalaman, dan melakukan hal seru lainnya.



Malam itu adalah malam penentuan. Perihal amanah yang akan kita jaga selama setahun ke depan. Direktur saat itu tidak menginginkan adanya wakil, melainkan langsung diisi oleh posisi sekretaris dan bendahara. Saya diberi amanah menjadi bendahara, sedangkan posisi sekretaris diisi olehnya.

 Saya pribadi, merasa langsung klop. Apalagi kita dibriefing langsung oleh senior yang juga berkuliah di atap gedung yang sama. Saat itu, saya mempercayakan diri saya bahwa saya bisa mengemban amanah menjadi bendahara, minimal tidak korupsi πŸ˜… Ohya, saya juga siap bahwa bersamanya, kami siap bekerjasama untuk mendampingi Direktur dalam suka maupun duka.

Bersama direktur dan sekretaris
Bermalam-malam kita lewati, tidak hanya berdua, melainkan berbanyak orang. Terkadang kita rapat di samcor, di rusunawa (tempatmu berada), di angkringan jawa 2, di cafe macapat, di rumah Albi, di Cangkir Klasik, bahkan juga lebih rela rapat di depan kosannya.

Rapat di rumah Albi

Semakin hari, kita semakin dekat dan tentu semakin solid. Pastinya juga harus semakin bahagia. Tidak musti kemana-mana harus bareng, melainkan perlu juga untuk berbagi tugas.

Ketika syukuran di panti jompo, kami berbagi tugas
Dia handle segala persiapan di dalam ruang, sedangkan saya di luar ruang

Saya kagum dan salut kepadanya. Dia, ketika menjabat sebagai sekretaris di organisasi kerelewanan ini, dia juga merangkap menjadi sekretaris di 3 organisasi lainnya dalam waktu yang bersamaan. Saya tidak mampu membayangkan bagaimana lelahnya ia dan semua tugas kesekretariatan telah beres semua dihandle olehnya. Sungguh, sekretaris yang keren. Nggak heran jika suatu saat nanti dia akan menjadi Menteri Sekretaris Negara.


Dia tipe orang yang cukup vokal, berani mengemukakan pendapat dan berargumentasi karena sudah terbiasa. Pemikirannya tajam, bahkan mampu membuat diam lawannya untuk mendengarkan pendapatnya walau sejenak. Tak jarang, dia debat dengan Direktur. Bukan berdebat sih maksudnya, melainkan tukar pemikiran. Ketika mereka berdiskusi sangat alot, saya hanya berpangku tangan sambil menontonnya macam drama korea yang episodenya nggak habis-habisπŸ˜…

Tadi malam

Hal itu terjadi lagi tadi malam. Kami bertiga yang telah menjadi demisioner, diajak berkumpul dengan para sesepuh lainnya dan penerus organisasi kerelawanan ini. Malam kian larut, obrolan makin menghangat, topik pun kian memanas. Tema pembahasan malam itu adalah gratifikasi yang marak terjadi di kampus dan seakan-akan telah menjadi budaya. Dia berargumen berdasarkan asas dan norma yang seharusnya diterapkan. Sedangkan mantan direkturnya yang menjadi lawan bicaranya, berargumen tentang realita yang terjadi di lapangan. Sedangkan saya? Saya hanya menyaksikan keduanya adu mulut pikiran sambil flashback kejadian yang sama di masa laluπŸ˜†

Banyak momen yang telah kita lalui bersama. Sama-sama bingung, sama-sama pusing, dan sama-sama harus bergerak banyak apabila keadaan organisasi sedang tidak baik. Saya belajar banyak darinya. Apabila saya menghandle sebuah kegiatan atau mendapatkan posisi apapun, beliau selalu memberikan evaluasi dan masukan untuk saya.

Mendampingi saya ketika menjadi koordinator acara talkshow Indonesia Mengajar
 
Menghadiri kegiatan pentas seni di SDN Bintoro 5

Secara tidak langsung, arahan dan masukan yang ia berikan menjadi bekal bagi saya untuk mengemban amanah berikutnya yang lebih besar. Awalnya, saya tidak sanggup mengemban amanah itu. Selalu terbayang kehadirannya dan ingin selalu mengadu kepadanya, "kenapa harus saya?". Mungkin berulang kali saya mengeluh seperti itu, tetapi selalu ia menguatkan saya. Sampai tiba waktunya, saya siap mengemban amanah yang luar biasa pertanggungjawabannya.

Hari ini, dia telah kembali ke kota asalnya, Gresik. Tanpa tahu kapan dia akan datang lagi ke Jember untuk menjenguk sosok-sosok yang ia rindukan. Selama mencari ilmu di kota perantauan, telah banyak hal yang ia berikan. Kehadirannya, peluh keringatnya, tenaganya, pemikirannya, dan ketulusannya yang telah ia berikan tanpa berharap balas. Sepenuhnya ia berikan untuk masyarakat Jember dan juga almamaternya. Dia adalah orang spesial yang pernah dimiliki oleh Universitas Jember.

Ia adalah Hidayatul Fitriya. Saya memanggilnya "Mbak Fit"


Mbak Fit, terima kasih telah membersamai saya selama ini. Terima kasih telah mendampingi dan menumbuhkan hal-hal baik untuk saya, utamanya semangat dalam menjalani setiap tugas maupun kegiatan dan menyelesaikannya sampai tuntas. Terima kasih telah bersedia menjadi bahu sandaran saya dan memotivasi diri ini yang hampir tumbang sebelum panah melesat. Terima kasih telah menguatkan saya bahwa saya juga bisa melaksanakan seminar proposal di bulan maret dan semoga lekas sidang di akhir Mei.

Mbak Fit, ingin rasanya saya memanggil namamu terus menerus πŸ˜… Tetapi panggilan itu rupanya harus berhenti untuk sementara waktu sampai kita dipertemukan lagi.

Sekali lagi, terima kasih atas pemberianmu yang.... yang... yang... yang bahkan saya tak tahu lagi harus menyebutnya bagaimana.

Semoga, esok hari kamu akan selalu bersinar. Sama bersinarnya seperti kala kamu di sini, di kota ini.

Saya sempat berpikir, kapan lagikah kita bertemu? Di mana? Sedang sama-sama menjadi apa atau berkontribusi sebagai apa?

See you on the top πŸ™‹πŸ™‹

Peluk cium dari jauh 😘

Wassalammualaikum wr wb



*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Perempuan yang Menginspirasi dalam rangka peringatan Women International Day yang diadakan oleh Zia Giveawayy

3 komentar untuk "Peluk Erat Mbak Fitri"

  1. waw...kisah indah bersama cem-cem an yang klop tentunya mengasikkan...ya udah kalau gitu giliran saya yang dipeluk setelah memeluk mba fitri yah

    BalasHapus
  2. wah menyenangkan sekali aktivitasnya mbak
    Kegiatan kerelawanan, apapun itu selalu saja memberi nilai lebih pada tiap pribadi
    Salut

    BalasHapus
  3. Ah jadi inget masa-masa ikutan organisasi dan UKM pas S1 dulu
    wkwkwk

    #Ciehh YangUdahNgerasaTua

    Salam buat mbak fitri ya cha

    BalasHapus