Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menjadi Perempuan Indonesia Masa Kini

menjadi-perempuan-indonesia


Perempuan merupakan salah satu tonggak kekuatan negeri ini. Sunggingan senyum dan untaian doa bermakna mendalam, menjadi nutrisi ampuh bagi orang-orang di sekitarnya untuk selalu optimis dan yakin dalam menjalani setiap aktivitasnya. Firasat dan kepekaannya yang luar biasa, mampu mendobrak ruang-ruang sempit dan senyap untuk lekas dibebaskan.

Dulu, ketika nenek moyang kita masih dijajah oleh negara asing, kita tahu bahwa perempuan Indonesia merupakan bagian yang diterakhirkan dalam mengurus rumah tangga negara. Cukuplah para perempuan untuk mengurus dan merawat suami dengan baik. Selebihnya tak perlu dipusingkan karena suami akan mengatur semuanya dengan semaunya yang ia anggap baik.

Namun semakin disadari, bahwa ada perbedaan yang mencolok antara kaum laki-laki dan perempuan. Laki-laki bebas untuk beraktivitas melakukan hobinya, memilih dan menentukan karirnya, juga memperjuangkan cintanya. Berbeda dengan kaum perempuan yang harus terduduk lesu di rumah tanpa bisa melakukan aktivitas yang ia kehendaki. Belajarpun, masih tidak diijinkan karena masih kuatnya stereotip bahwa percuma perempuan sekolah tinggi jikalau akhirnya akan kembali ke dapur juga. Perempuanpun juga harus rela berbelas hati dan berbagi kasih dengan perempuan lain yang menjadi teman serumahnya. Sesulit itu hak untuk mendapatkan kebebasan bagi para perempuan jaman dulu.

Hingga akhirnya di akhir abad 19, terdapat titik balik yang sangat ekstrim. Kartini bergegas memperjuangkan hak-hak wanita melalui tulisannya yang sangat fenomenal. Tak hanya Kartini, banyak perempuan gagah nan berprestasi yang juga turut meramaikan atmosfer kesetaraan gender saat itu.

perempuan-hebat


Dewi Sartika, Hj. Rangkayo Rasuna Said, Siti Mangopoh, Maria Walanda Maramis, dan masih banyak lainnya yang namanya tak tercatat di buku sejarah, mereka berjuang untuk menegakkan hak-hak kaum wanita dalam bidang pendidikan, kebudayaan, dan perekonomian. Mereka bergerak maju melawan tirani tanpa tahu resiko diri. Visi mereka hanya satu, yaitu mewujudkan adanya kebebasan kepada kaum perempuan sesudahnya. Mereka tidak meminta agar para perempuan lebih tinggi derajatnya, cukup diberi kebebasan untuk melakukan hal-hal yang baik di luar zona nyamannya supaya bisa berkembang dan lebih bermanfaat.

Syukurlah, lambat laun orang-orang semakin menyadari bahwa memang perlu adanya kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan hak ini bukan berarti menggeser peran lelaki, hanya saja memberikan peluang kebebasan para perempuan untuk mengaktualisasi dan mengembangkan potensi dirinya. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa wanita memiliki kemampuan spesial yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu permasalahan, misalnya ketelatenan, kepekaan, keuletan, dan masih banyak lainnya.

Pada awal abad 20, secara perlahan mulai muncul perempuan-perempuan yang kehadirannya mampu membuat takjub dan heboh jagat raya. Yeni Rosa Damayanti hadir dengan teriakannya yang lantang untuk menentang ketimpangan kebijakan Soeharto. Butet Manurung telah turun lapangan secara diam-diam untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak pedalaman. Utami Roesli, seorang dokter, giat memperjuangkan pentingnya ASI (Air Susu Ibu) yang baik bagi bayi. Ida Faqriah, kapten pilot pertama salah satu penerbangan di Indonesia. Dian Pelangi, seorang fashion designer yang berani tampil beda merancang baju muslim hingga tembus ke pasar internasional. Okky Madasari, seorang novelis yang menyuarakan kritik sosial pada bidang literasi. Juwita Niza Wasni, seorang atlit wushu yang mengharumkan nama Indonesia lewat olimpiade wushu yang diikutinya. Susi Pudjiastuti, menteri perikanan dan kelautan yang berani pukul mundur nelayan pencuri ikan di perairan Indonesia.  Dan tentu masih banyak perempuan Indonesia dengan kehebatannya yang dapat dengan mudah kita ketahui kiprahnya via internet.

perempuan-hebat

Mereka adalah Kartini kekinian yang telah berhasil menggaungkan kesetaraan gender dan mampu menunjukkan bahwa perempuan bisa berkontribusi banyak kepada negeri. Berprestasi adalah syarat mutlak yang dimiliki kaum perempuan untuk bisa menunjukkan kepada dunia tentang eksistensi dan potensi diri yang dimilikinya. Memang tidak mudah menjadi perempuan yang berprestasi. Namun apabila para perempuan saling mendukung dan bergotong royong untuk bergerak mengatasi permasalahan bersama-sama, maka tidak heran apabila suatu hari nanti akan muncul Kartini-Kartini muda yang kontribusinya dapat membawa negeri ini menjadi makmur dan benar-benar gemah ripah loh jinawi.

13 comments for "Menjadi Perempuan Indonesia Masa Kini"

  1. Sesama perempuan memang harus saling dukung ya kak, semangat utk jd kartini kekinian kakros :)

    ReplyDelete
  2. Aku proud sekali dengan bu susi dan dian pelangi. Sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
  3. Penggiat ASI, dr. Utami Roesli.
    Betapa susahnya saat ini seorang ibu berjuang memberikan ASI. Tidak seperti jaman dulu.

    Semakin banyak wanita terpelajar, sebenarnya malah memburamkan ajaran Rasulullah.

    Mari kita kembalikan lagi segala sesuatu pada tempatnya, seperti pendidikan dari keluarga seperti yang diajarkan Rasulullah Sholallahu `alaihi wassalam.

    ReplyDelete
  4. Kadang gender equality bisa bikin bias juga loh mbak. Ya bukan bermaksud skeptis sih. Tapi kadangkala menggunakan istilah 'emansipasi' untuk maksud dan tujuan lain dibaliknya.

    Ya walaupun begitu enggak dipungkiri juga kalau lingkup yang menyebabkan ini semua mungkin adalah budaya patriarki yang mendalam.

    ReplyDelete
  5. Di tengah kemudahan zaman sekarang (iya mungkin kemudahan ini belum merata se-indonesia ya) sangat membantu perempuan untuk makin cerdas spt Ibu Kartini dan pejuang perempuan lainnya.

    Kalau ada yang bilang, perempuan cerdas nanti malah lupa kodrat, jauh dari ajaran agama, dsb... mbok ya cerdasnya menyeluruh, termasuk cerdas berakhlak baik juga. Jangan dipersempit kalau kecerdasan itu cuma sebatas sekolah tinggi dan karier bagus aja.

    ReplyDelete
  6. Kartini mengajarkan semua wanita harus setara dengan laki laki.

    Dia selalu semangat dan kuat dalam menghadapi cobaan yang ada.

    Menurut saya kartini kekinian bukan hanya di foto saja akan tetapi, untuk semua wanita yang ada diIndonesia adalah kartini masa kini yabg terus berjuang.

    ReplyDelete
  7. Smoga kita bs mengikuti kebaikan2 Kartini2 masa lalu maupun masa kini.

    kalau sdh disetarakan, jgn lupa hak dan kewajiban dg laki2 jg

    ReplyDelete
  8. Aku sedih cerita Kartini & perempuan jaman dulu tuh bagian dipaksa nikah. Gimana rasanya seumur hidup menikah dengan orang yang ga dicintai. Banyak istri lagi. Bersyukur hidup di jaman sekarang.

    ReplyDelete
  9. Yeni Rosa, nama yang asing bagiku. Atau mungkin saya yang kurang membaca sejarah.

    ReplyDelete
  10. semoga kita juga mampu berkontribusi positif y mba meneruskan semangat kartini dan menjadi kartini kekinian dengan cara kita tnp menyakiti siapapun

    ReplyDelete
  11. Salut ama perempuan kekinian yang masih menyimpan rasa "kartini" didalam dirinya. tuntutan perempuan zaman sekarang banyak banget dan mesti dipenuhi. luar biasa susahnya. klo sampe eksis emang hebat deh! apalagi itu ada Bu Menteri Susi! keren

    ReplyDelete
  12. 1. aku baru tau klo Blog nya pindahan
    2. selamat hari kartini meski telat, semoga mbak juga bisa dapet spirit kartini dan perempuan hebat lain
    3. masih gagal ke Jember, insha Allah direncanakan kembali
    wassalam

    ReplyDelete
  13. Iyah mbak, semoga banyak generasi Kartini kedepannya. Semoga tetap stay di Jember yaaa 😂

    ReplyDelete