Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerita Qurban Pertama

Assalammualaikum wr wb

Menunda-nunda nulis itu nggak enak banget. Kayak ini nih, menunda nulis postingan yang seharusnya ditulis dan dipublish H+1 lebaran idul adha. Jadinya kan hmm basi. Eh, tapi yang namanya kenangan, nggak akan ada basinya 💃

Cerita tentang persiapan berqurban, sudah saya ceritakan sebelumnya di sini: Bersiap Berqurban. Tulisan itu lahir sesaat sebelum saya berangkat ke rumah Mbah Uti untuk berqurban.

Setelah sholat idul adha, Ibu masih sempat-sempatnya buka toko. Ya Alhamdulillah rame, soalnya siswa-siswi MTs depan rumah diwajibkan sholat idul adha di masjid sebelah rumah. Hmmm, mata Ibu berbinar-binar lah kalau kayak gini.

Sekitar jam 9 pagi, saya mengajak Ibu untuk menutup toko, supaya kami segera berangkat ke rumah Mbah Uti. Tetapi sebelum itu, kami akan mampir ke rumah Fatim, untuk mengajak Fatim berangkat ke rumah Mbah Uti bersama kami. Bakalan seru banget kalau ada anak kecilnya... 👶

Sesampainya di rumah Fatim, ada Mas Dian dan Mbak Puja, mereka adalah orang tuanya Fatim. Mereka lagi santai. Fatim yang melihat kedatangan kami, langsung menyambut kami ramah dengan celotehannya. Tanpa babibu lagi, saya mengajaknya untuk ikut dengan saya. "Ikut Tante Oca yuk, naik mobil". Fatim langsung ngelungkan tangan (nyodorin tangan buat digendong).

Jadilah Fatim ikut saya dan Ibu setelah Mbak Puja mempersiapkan barang-barang keperluan Fatim. Kami berangkat ke rumah Mbah Uti naik mobil. Fatim duduk sendiri di sebelah saya. Dia anteng. Dia duduk tenang bersama balonnya. Iya, pagi setelah sholat idul adha, ada tukang balon lewat, ya saya beli deh, lagi pengen, sengaja membelikannya buat Fatim.

Fatim dan balonnya
Saat di perjalanan, tiba-tiba Fatim manggil-manggil, "Mbah... Mbah..." dia ngeliat ke arah Ayah, bukan ke Ibu, tapi Ayah nggak tahu kalau Mbah yang dimaksud itu Ayah. Lalu saya tegur Ayah, "Yah, dipanggil Fatim".

Walhasil, Ayah menoleh. Lalu Fatim bilang, "balon".

Yongalaaah... ternyata cuma mau ngasih tau tentang balonnya 😆

Nggak berapa lama kemudian, Fatim manggil lagi. "Mbah... Mbah..." Ayah menoleh. "Balon", kata Fatim lagi 😂

Begiiiitu seterusnya. Itupun Fatim nggak akan bilang "balon" kalau Ayah nggak noleh 😅 yongalaaaaah..

40 menit perjalanan kami untuk sampai di rumah Mbah Uti. Saya menurunkan Fatim turun dari mobil. Lekas saya ajak masuk ke rumah. Ealah, nggak mau. Maunya sama Ayah. Nungguin Ayah yang sedang memarkir mobil. 😅

Lalu saya ajak jalan untuk masuk ke rumah. Eh, nggak mau. Maunya jalan bareng sama Ayah. 😅 Ya udahlah yaaa...

Seperti biasa 💃 Saya masuk rumah Mbah Uti dengan riang gembira dan sapaan yang menggelegar sehingga seisi rumah tahu bahwa saya dan keluarga datang. Saya segera mencium tangan Mbah Uti yang Alhamdulillah sedang sehat dan mencium tangan bude-bude yang sedang ada di lokasi.

Kambing sudah disembelih. Pakde Joko dan Mbah Bas sedang menguliti kambing di halaman belakang. Uwaaaaw, saya takjub. Akhirnya salah satu anggota keluarga kami bisa berqurban, setelah sebelumnya ada drama-drama berqurban yang nggak berfaedah.
Prosesi penyembelihan hewan qurban di halaman belakang rumah Mbah Uti
Fatim, baru pertama kali lihat hewan qurban yang disembelih

Kambingnya cuma satu. Sebagian dimasak untuk keluarga kami, masaknya bareng-bareng. Sebagian lagi didistribusikan ke tetangga-tetangga sekitar rumah Mbah Uti.
Kambing yang tinggal tulangnya
Bude-bude sedang memasukkan daging dan printilannya ke dalam kresek untuk dibagikan ke tetangga sekitar

Sebagian bumbu-bumbu untuk gule
Semangka, penawarnya kalo mabuk gule atau daging
 Saat itu, Mbah Uti, Budi Mi, dan Bude Sukis hanya masak krengsengan dan gule. Satenya nggak ada. Padahal kan yang ditunggu satenya. Saya merajuk supaya diadakan kegiatan bikin sate, tapi mereka nggak mau repot acara bakar-bakaran, asap-asapan dan drama nyari arang.

Eh ternyata Bude Sukis punya solusinya. Pakai pemanas yang biasanya buat bikin sate. Nggak pakai arang. Praktis, bisa ditaruh di atas kompor. Seperti ini nih.
Yey, sate!
Ahaaaay, saya bahagia banget bisa bikin sate, membakarnya, lalu memakannya. Ohya, sate ini spesial banget karena diproduksi cuma 15 tusuk loooh. Grab it fast 😆

Senangnya saya hari itu, bisa riweh-riweh dengan kegiatan idul adha bersama keluarga. Ohya, nitip bantu doa yaa, semoga tahun depan kami bisa berqurban lagi, supaya orang-orang sekitar rumah bisa merasakan enaknya makan daging. Tentunya, memastikan bahwa kita semua harus bahagia bersama-sama.

Wassalammualaikum wr wb

17 comments for "Cerita Qurban Pertama"

  1. Aaamiinnnn

    Ini hari raya qurban kedua aku di pulau jawa dan masih surprised bahwa disini hampir semua bikin dagingnya jadi sate

    meanwhile di padang hampir semua bikin rendang wkwkkwkwkwk

    ReplyDelete
  2. bukan Dian saya kan ya? haha..

    btw, seneng bgt bisa kumpul pas lebaran bareng keluarga, saya cuma bisa elus dada gak bisa kumpul lebaran di kampung. *nasib anak rantau.

    Fatim lucu 😅

    ReplyDelete
  3. semoga terwujud mbak
    btw tulangnya asyik
    ditaruh di museum laku tuh heuheu

    ReplyDelete
  4. Senengnya mbaaaakk, tahun ini aku gak makan kambing #melas
    Apalagi makan2 sama keluarga besar #curcol
    Saat Idul Qurban emang enaknya kalau sama keluarga ya, bisa masak dan makan bersama :D

    ReplyDelete
  5. Wah komplit banget ceritanya. Jadi makin syedih idul adha kali ini aku g pulang. Huhu. Semoga kita selalu diberi kemudahan untuk memberi ya mbak

    ReplyDelete
  6. Wah, rumah Mbah Utinya dekat aja ya. Enak ya bisa ngumpul tanpa perlu drama mudik jauh. Aamiin semoga bisa berkurban lagi tahun depank kak Rhos dan keluarga.

    ReplyDelete
  7. Beneerr..
    Aku juga favorit banget makan daging. Kalo gak kurban, gak pernah beli daging, karena anak-anak dan suami gak begitu suka daging.

    Syeddiih~~

    Tapi kalo lagi Idul Adha kan.. Jadi makan daging bersama.
    Masha Allah...berkahnya terasa.


    Semoga tahun depan bisa berkurban dan berbagi bersama lagi yaa, Roos..
    Aamiin.

    ReplyDelete
  8. Fatim gemesin banget sih. Aku ngebayangin aja gitu tiap noleh dia ngomong balon. Duhhh aku pinjem dong.
    Senang deh iduladha bisa berkumpul dengan keluarga begini. Idul Adha kemarin aku mencar-mencar. Mama di Bandung, ade masih pacaran sama kangguru, papa ku shalat di lapangan komplek. Karena suami mendadak sakit, akhirnya aku shalat ied di masjid yang dekat rumah, enggak jadi ke lapangan.
    Sempat ditanya sama mama, ada menu apa di rumah, aku menjawab: nasi goreng!!!
    Insya Allah idulfitri berikutnya aku bisa kumpul komplit karena adeku pulang nanti malam! Yeaaay!!!

    ReplyDelete
  9. Seru banget ya bisa berqurban sekaligus merayakan kehangatan hari Raya bersama sanak keluarga besar 😊
    Sebenernya yang bikin seru tuh kumpul-kumpul keluarganya sih kalo aku haha kalo perihal masak2, bakar2an sate, dan makan-makan bareng jadi pelengkap kebahagiaan aja.

    Yaampun fatim gemasssss 💚


    Aamiin ya, Kak Ros. Aku juga pengin euy bisa berkurban. Semoga taun depan ada rejekinya juga. Aamiin

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah, senang sekalo tahun ini Mbak Ros dan keluarga bisa berbahagia karena berqurban. Semoga tahun depan dan depannya lagi selalu bisa dimudahkan dan bisa berqurban. Ibadah yang satu ini butuh keikhlasan yan tinggi krn dasarnya manusia selalu merasa kurang

    Dede Fatim cantik dan pinter banget ya. Aduh senangnya....

    ReplyDelete
  11. Aku malah fokus ke kambingnya. pasti sedap sekali menikmati daging kambing yang uda dan segar, disate dengan sedikit bumbu lalu dinikmati bersama keluarga. duh! membayangkannya otomatis lapar

    ReplyDelete
  12. Idul Adha kemarin saya juga berkurban di kampung suami, karena dirasa lebih memberi manfaat di sana. Mirip kayak ceritanya kak Ros ini, dibagiin ke saudara-saudara dan para tetangga. Tapi nyatenya dalam jumlah besar. Hihihi. Alhamdulillah yaa bisa berbagi seperti itu :)
    Btw itu si Fatim pinter, ya. Ayah ibunya gak ikut tapi dia gak nangis. Hehe.

    ReplyDelete
  13. wih asik banget ya kak Qurban pertama untuk Fatim. btw, kayanya Fatim anak yang pemberani ya ngelihat hewan disembelih tidak nangis dan tidak takutan lucu banget

    ReplyDelete
  14. Fatim lucu banget bolak balik manggil mbah dan bahas balon
    Fatim juga hebat ya berani liat pemotongan hewan. Klo Prema malah takut dia

    ReplyDelete
  15. hahhh ??? kambing ? Wah aku anti mbak, sama yang namanya kambing, #DuniaFaisol

    ReplyDelete
  16. Wa'alaikumsalam..
    Seru banget ya, aku jg pengen bisa berqurban sendiri, semoga kesampaian.
    Terkadang suka kangen suasan nyate bareng keluarga..

    ReplyDelete
  17. Kamu naik berapa kilooo

    Aku dua

    Hahahaha

    ReplyDelete