Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mau Kemana Setelah Wisuda?

Assalammualaikum wr wb

Halo, apa kabar? Hmm nanti pagi kalian ada agend apa? Kalau saya sih Inshaa Allah nanti pagi akan diwisuda... Yeeey 💃💃

Kemarin sore, saya melaksanakan gladi resik wisuda di Gedung Soetardjo. Pada kesempatan itu, seperti biasa saya ngobrol dengan teman-teman.


Lalu pada suatu waktu, saya tiba-tiba termenung, memikirkan hal yang belum jelas dan nggak tahu harus bagaimana. Entah kenapa baru terpikirkannya ya kemarin sore itu, bukan kemarin saat jauh-jauh hari.

Tentang sebuah pertanyaan, "Mau kemana setelah wisuda?"

Pertanyaan berbobot itu menyiratkan banyak arti dan sejuta jawaban. Dari sejuta jawaban itu, tentulah akan ada jawaban nano-nano yang nggak tahu harus gimana. Duh lah saya aja bingung mau njelasinnya gimana 😅

Dulu, Cuek Banget
Dulu, ketika masih kuliah dan skripsian, beberapa dosen seringkali mengingatkan mahasiswanya bahwa seorang fresh graduate akan ditimpa pertanyaan macam itu dan kita harus memberikan jawaban. Karena hal itulah, maka pasca sidang skripsi banyak teman-teman yang berburu job dan melamar pekerjaan yang sekiranya cocok bagi mereka meski harus lintas bidang.

Saat itu, setelah sidang skripsi, saya masih santai-santai aja. Masih ngeblog dan masih nulis yang kesemuanya itu Alhamdulillah berbayar. Saya masih belum terpikirkan mau ngapain setelah wisuda. Yang jelas, Inshaa Allah saya akan lanjut kuliah, tapi pada tahun ajaran berikutnya.

Melamar pekerjaan ataupun melanjutkan studi, bukan perkara yang mudah untuk ditaklukkan. Para sarjana yang baru dikukuhkan itu juga akan melakukan hal yang sama, yaitu melamar pekerjaan atau melanjutkan studi.

Melanjutkan Studi
Saya berencana untuk melanjutkan studi. Saya sih pede aja, sarjana yang melanjutkan magister masih sedikit kok, begitu pikir saya waktu itu. Pada angkatan saya, yang melanjutkan studi hanya 5%, naun setelah dipikir-pikir, kalau digabungin sama sarjana pemimpi magister seluruh Indonesia ya jadi banyak toh. Belum lagi program pasca sarjana di universitas juga masih sedikit. Ya sama aja sih, kita akan berebut kursi. Apalagi saya maunya beasiswa LPDP. Duh lah. Saya bingung. Persaingan makin awesome 😱😱

Saya bingung akan dua hal. Pertama, saya dari dulu pengen banget dapet beasiswa. Yang dipengenin banget saat itu adalah beasiswa Beswan Djarum dan beasiswa PPA saat S1. Alhamdulillah saya sempat nyantol dapat beasiswa PPA. Yang Beswan Djarum, saya nggak dapat. Lalu rencananya saya pengen banget dapat beasiswa LPDP saat S2. Makanya saya aktif di organisasi dan menargetkan untuk summa cum laude, supaya gampang dapat beasiswa S2nya.

Lah kok ternyata saya melupakan satu hal. Seharusnya saya nggak hanya aktif di akademik dan masyarakat saja, melainkan juga penelitian. Saya daftar-daftar ikut penelitian yang PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), tapi nggak ada yang nyantol. Ya karena nggak saya seriusin sih, maksudnya saya nggak gabung dengan teman-teman yang sudah expert PKM. Saya lebih banyak gabung dan jalin relasi dengan teman-teman organisasi dan komunitas.

Harusnya kan saya seimbang antara tiga hal itu: akademik, masyarakat/pengabdian/organisasi, dan penelitian. Ketiga itu yang menjadi dasar Tri Dharma Perguruan Tinggi. Duh laaaah, kok malah saya lupakan yang satunya 😅

Jadinya saya ada target baru saat kuliah S2 nanti. Pokoknya harus ikut penelitian dosen dan nanti akan bikin penelitian sendiri. Harus masuk jurnal juga. Kalau bisa dan beruntung, semoga dapat ikutan international conference yang dibayarin kampus. Hmm... Aamiin...

Hal kedua yang saya bingungkan adalah: saya nggak dibolehin Ibu untuk kuliah di luar Jember. Duuh sedihlah eta 😔. Ibu nggak mau jauh-jauh dari saya katanya 😅 Padahal kan suatu hari nanti saya bakalan ikut suami dan bisa jadi meninggalkan rumah, yang mau nggak mau saya dan Ibu harus LDR-an.

Tapi kalau yang ini Ibu udah ngasih solusi sih. Ibu dan Ayah siap membiayai kuliah S2 saya di Jember. Ya memang enak sih, tapi kan ada rasa kurang puas apabila target saya untuk mendapatkan beasiswa LPDP saat S2 tidak terpenuhi.

Puncak Kebingungan
Kemarin mikiiiir... mikiiir... binguuung... sampe binguuuuung banget.

Yang menjadi puncak perbingungan adalah saya nggak tahu harus jawab apa saat saya di rumah dan orang-orang ngelihat saya lagi santai. Begini, sebentar lagi, kira-kira seminggu lagi saya akan pulang ke Lumajang dan Inshaa Allah stay dulu di Lumajang. Biasanya saya akan bantu Ibu jaga toko, mulai pagi sampai sore, sambil laptopan. Orang-orang yang sering mampir ke toko, pastilah lihat saya dan akan tanya bagaimana kabar saya. Pun mereka akan bertanya mengapa saya ada di toko. Nggak kerja?

Mau jawab kalau kerjaan saya ngeblog dan nulis di media online, kayaknya nggak mungkin deh saya sampaikan jawaban itu. Orang-orang belum banyak yang tahu. Apalagi yang nanyain belum paham dengan enaknya dunia tulis menulis di era digital seperti saat ini. Mau njelasin ke mereka, kok ya ribet banget. Nggak akan bisa ringkes jawabnya. Sungguh saya bingung mau ngeladenin orang-orang macam itu.

Akan tetapi semua pertanyaan dan kegalaugundahan itu terjawab satu persatu. Sekalinya mulai terjawab, eh ada lagi godaan yang makin bikin kalut. Duh laaaah... nanti saya ceritakan juga di postingan ini.

Meyakini Untuk Lanjut S2
Dua hari yang lalu, saya mengikuti yudisium. Ada pidato dari Prof Dafik selaku dekan FKIP. Ya seperti biasa, karena beliau petingginya FKIP maka beliau pun harus menggembor-gemborkan dan mengajak lulusannya untuk lanjut studi di FKIP UNEJ.

Yaa di FKIP sudah ada 3 program pascasarjana, antara lain: Pendidikan Matematika, Pendidikan IPA, dan Pendidikan IPS. Alhamdulillah semuanya sudah terakreditasi.

Kalaupun takdir saya adalah melanjutkan program pascasarjana di Universitas Jember, yaa Inshaa Allah saya akan mengambil Pendidikan IPA. Kalau Pendidikan Fisika yang linier dengan saya, di Jember nggak ada, adanya di Malang dan Surabaya untuk provinsi Jawa Timur.

Di UNEJ sih ada juga program pascasarjana untuk Fisika di Fakultas MIPA. Tapi saya nggak kuat euy kalau Fisikanya murni banget 😅 Saya nggak ahli-ahli banget di Fisika murninya, melainkan saya lebih mampu di  Fisika pendidikannya.

Nah, Prof Dafik bilang bahwa mulai tahun ajaran ini sudah ada beasiswa unggulan untuk mahasiswa yang berprestasi pada program pasca sarjana. Dapatnya baru tahun ini karena baru diakreditasi sih.

Yawes Alhamdulillah... minimal saya mendapatkan angin segar perihal beasiswa apabila saya jadi lanjut studi di Universitas Jember.

Obrolan dengan Ibu
Tadi malam, Ibu telpon, menanyakan bagaimanakah kehadirannya saat wisuda? Pokoknya ribet lah mau datang jam berapa. Bebas deh Buuu... yang jelas gerbang dibuka saat jam 7 sama jam 10. Pokoknya Ibu sama Ayah bawa kartu undangan wisuda. Mau datang jam 10 nggak papa, biar nggak kepanasan di lokasi. Toh Ibu masih jaga toko kan paginya? 😅

Selesai membicarakan tentang persiapan wisuda, Ibu tiba-tiba bertanya, "Rhosha sido yo opo kuliahe?"

Duh, saya bingung.

"Pengen ndek Malang, ta?"

Duh, saya bingung lagi.

Hmm... sebenarnya saya bukan pengen kuliah di Malangnya, tetapi maksud saya adalah saya kuliah S2 yang dapat LPDP. Jember belum terima LPDP. Pun untuk memilih universitas lain, hmm saya belum membidik sampai saat ini. Belum membidik pun, Ibu sudah harap-harap cemas pengen saya di Jember aja. Ibu gampang kangen soalnya 😅

Lah ya gimana ya. Saya kan makin bingung.

Saya sampaikan kegalaugundahan saya kepada Ibu. Meski setiap kali kita telpon dan ngobrol, topik saya akan lanjut studi di mana memang jadi pembicaraan utama dan nggak akan bisa diselesaikan dalam satu kali obrolan. Perlu diskusi cukup lama untuk menentukan yang pas. Apalagi ini menyangkut masa depan. Tentulah harus dipikirkan matang-matang.

Setiap kali Ibu telpon, seringkali saya sharing tentang kegiatan saya, tentang obrolan saya dengan teman-teman, dan lainnya. Iya, saya juga update perkembangan teman-teman saya kepada Ibu. Tentunya untuk mengukur diri dan menjadikan cerita mereka sebagai pembelajaran sebelum saya melangkah lebih lanjut.
 
Saya cerita ke Ibu, ada beberapa teman yang melanjutkan studi. Yang sudah menempuh magister, ada 3 orang. Sedangkan yang akan menempuh magister, yang sama wisudanya bareng saya, Inshaa Allah ada dua, salah satunya adalah saya. Nah, rekan saya yang satu ini, rencananya akan memilih lanjut studi di UGM. Lah kok saya di Jember-Jember aja sih 😅

Kemudian saya juga cerita ke Ibu, tentang seorang kawan blogger yang belum pernah saya tahu sebelumnya, mengajak kenalan dan kita ngobrol dikit perihal apa-apa tentang masing-masing diri kita. Dia lulusan S1 Fisika UNAIR dan S2 Elektro ITB. S2nya itu dia dapatkan dari LPDP. Huaaau, nggak nyangka dichat sama awardee LPDP 😍

Dia sempat tanya perihal saya yang akan mau ngapain setelah ini. Saya bilang lanjut studi. Saya bilang maunya juga dapat LPDP. Saya juga bilang bahwa saya nggak boleh keluar dari Jember 😕

Kawan saya itu prihatin lalu sederhananya bilang gini, "lawan aja orang tuamu".

Hah? Ngelawan?

Saya mana berani 😫😫

Lalu dia bercerita bahwa dulunya dia juga melawan orang tua. Mamanya pengen dia masuk ke Fakultas Kedokteran. Tapi dia kekeuh dengan pilihannya sendiri. Alhamdulillah dia sekarang sukses karena berhasil mempertahankan keinginannya yang sejalan dengan kemampuannya.

Lalu saya membatin, lah samean pinter mas, lah aku? 😷

Batin saya saat itu, serupa dengan yang diomongkan Ibu. Ibu menanggapi begini, "Yo koncomu pinter... De'e wes ngerti kemampuane, terus de'e ngalawan wong tuo, gak popo. Lah, Rhosha, enake piye? Ngeroso pinter opo ora? Oleh IPK cum laude ae iku wes untung-untungan".

Heyyaelah buu... jujur banget sih 😅

Kemudian saya lanjutkan lagi cerita ke Ibu, tentang kawan saya itu. Kawan yang baru mengenal saya itu, tanya tentang saudara saya ada berapa dan lagi kuliah atau bagaimana. Ya saya jawab bahwa saya hanya memiliki seorang Adek yang sedang belajar di MAN Insan Cendekia Serpong, Tangerang.

Lalu dia merespon, "kok adekmu boleh sekolah jauh?"

Saya mau jawab, lah adek pinter eee... lah aku? 😥

Mungkin Adek dan kawan saya itu pinternya hampir sama dan tipis-tipis lah yaaaa. Sama-sama suka Fisika. Intinya, mereka pinter banget. Sekali baca, langsung nyantol. Keduanya juga sama-sama jatuh hati dengan Sains. Lah saya? Boro-boro jatuh hati ke Sains, lahwong saat baca buku Fisika SMA yang ada rumusnya, rumusnya langsung tak lewatin, alias nggak dibaca. Duh laaaah.. beda banget.

Butuh Banyak Suara
Saya tuh masih bingung, harus bagaimanakah saya. Kalau dilihat-lihat, saya seperti orang yang pesimis, yang nggak mau memperjuangkan mimpi-mimpi saya. Tetapi secara sadar, saya tahu bagaimana kemampuan saya. Saya paham bidang apa yang cocok bagi saya. Namun dari semuanya itu, pastlah ada rintangan dan tantangan yang entahlah harus dilaluinya bagaimana.

Saya butuh banyak masukan. Saya butuh jawaban-jawaban untuk memantapkan hati saya. Sudah banyak jawaban yang saya terima, namun saya belum puas.

Saat mengobrol dengan Ibu melalui telpon, tiba-tiba Ibu mengingatkan saya tentang kisah Pak Bambang, dosen saya yang juga menjadi owner sebuah LBB. Saya memang seringkali cerita apapun ke Ibu, termasuk orang-orang inspiratif, salah satunya Pak Bambang.

Singkat cerita, Pak Bambang saat sekolah itu pinter banget. Namun beliau tidak memilih sekolah yang bagus-bagus banget, supaya bisa tetap jadi juara dan diinget oleh sekolahnya. Pun dengan kuliah, beliau tidak memilih kampus yang bagus banget, melainkan memilih kampus yang biasa-biasa saja.

Dari pilihannya itu, dia menjadi orang yang menonjol, menjadi orang yang diingat oleh dosen-dosen kawannya. Label "pinter" benar-benar tersematkan di namanya. Dia bisa menjadi yang terbaik di lingkungannya. Kalau dia memilih kampus yang bagus, wuah perjuangannya cukup berat dan belum tentu dia akan menonjol seperti saat dia di kampus pilihannya.

Nah, maksud Ibu, saya juga bisa mencontoh pilihan Pak Bambang. Pandai mengatur strategi untuk masa depan.

Wuah, iya juga ya. Mata saya langsung berbinar-binar 😍 Akhirnya saya menemukan setitik pencerahan. Nggak nyangka bahwa cerita-cerita saya ke Ibu, masih diingat oleh Ibu dan menjadi tameng untuk menginpirasi kehidupan saya.

Kami bersama Pak Bambang


Digalaukan oleh Sebuah Pendapat Teman
Kira-kira keesokan harinya, atau lebih tepatnya kemarin sore, saat saya dan teman-teman menjalankan gladi resik, iseng saya ngobrol dengan seorang kawan yang akan duduk di samping saya saat wisuda. Dia salah satu kawan baik saya selama kuliah, Inshaa Allah sampai nanti.

Sederhananya, saya bercerita singkat tentang pilihan dan masukan orang-orang perihal studi saya. Saya juga bercerita tentang saran Ibu untuk mencontoh pilihan Pak Bambang yang memilih kampus biasa untuk menonjolkan dirinya.

Lalu kawan saya itu menanggapi seperti ini kira-kira. "Tapi ya Kak Ros, alangkah lebih baik kalau kita berkumpul sama orang-orang yang luar biasa. Kalau samean kuliah di tempat yang biasa, maka samean akan jadi orang yang biasa. Gitu sih".

Ehh. Kok nyebelin ya. Malah bertentangan. Hahahaha. Ya maklum sih, namanya saja pendapat. Pendapat kawan saya itu, telah menggoyahkan keyakinan saya yang berencana akan kuliah di kampus yang biasa aja.

Duh laaaah.... terjadilah lagi pertentangan batin yang hanya bisa dipendam sendiri.

Namun tiba-tiba, saya teringat sebuah quote menarik yang masih jelas terekam oleh memori saya.

Yang namanya emas, mau dilempar ke dalam kotoranpun tetap emas (kutipan Ariel Noah, dalam buku Kisah Lainnya)
Kira-kira begitulah quote penguat hati saya yang mulai goyah akan keyakinan saya.

Target Saya Adalah Dapat Beasiswa
Tapi sejujurnya saya belum puas siih. Target saya kan dapat beasiswa. Maunya beasiswa 😤😤😤

Perlahan, Allah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, menjawab keraguan-keraguan saya, dan Inshaa Allah akan mengajaibkan mimpi-mimpi saya.

Saya baru teringat, bahwa dalam rentang waktu saya menanti S2, banyak bertebaran beasiswa kursus bahasa inggris. Lumayan banget kalau saya mendapatkan beasiswa kursus walau hanya satu bulan ataupun beberapa bulan. Saya apply beasiswa kursus IELTS di Kampung Inggris Pare Kediri selama satu bulan. Doakan saya ya untuk mendapatkan beasiswa itu.

Boleh kali yaaa kalau saya mengharap dapat beasiswa kursus apa gitu di luar negeri. Huuuu saya masih pengen banget dapat beasiswa ke luar negeri...

Hmmm untuk sementara ini, saya mengumpulkan banyak doa supaya mimpi-mimpi saya lekas disegerakan. Baik dari doa dari diri sendiri, doa dari Ayah Ibu, doa dari keluarga, doa dari teman-teman, juga doa dari teman-teman yang meng-aamiin-i mimpi-mimpi saya.

Sebelum mimpi-mimpi itu terwujud, saya sampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman yang telah membantu meng-aamiin-kan mimpi-mimpi saya. Saya doakan juga, semoga mimpi dan harapan teman-teman lekas terwujud dan menjadi salah satu kebahagiaan yang dinanti-nanti keberadaannyaa... Aamiin...


Sudah dulu yaa... saya mau mandi... terus mau ke rumah teman untuk dandan. Kemudian lanjut wisuda...

Wassalammualaikum wr wb



Sebenarnya




13 komentar untuk "Mau Kemana Setelah Wisuda?"

  1. sepertinya untuk mendapatkan beasiswa LPDP itu berat sangat yaa ???

    BalasHapus
  2. Selamaaat wisuda!
    Istikharah kak.. Sertakan Allah di setiap keputusanmu ya. Btw malang atau sby ga jauh2 amat kok dari lumajang. Seminggu sekali pulang masih bisa. Hehehe

    BalasHapus
  3. Wah.. udah wisuda ya berarti. Selamat ya, Kak Rhos. Semoga apapun keputusan setelah ini, selalu dalam doa restu orang tua. Sehingga apapun yang dijalani insya Allah akan berkah.
    Semoga dapet beasiswa LPDP nya, semoga lancar kuliah S2 nya nanti, semoga dan semoga cita dan cintanya tercapai satu per satu. aamiin..

    BalasHapus
  4. Aamiin...in syaa Allah Rhoos bisa.
    Sebenarnya masalah pintar dan tidak itu bukan rujukan. Karena selama ini yang aku tau, modal untuk sukses bukan dari pintar, tapi dari keseriusan.

    Telaten.
    Ulet.

    Ibu hanya memberi pertimbangan untuk Rhoos. Tetap yang memutuskan adalah Rhoos sendiri.
    Mau LPDP atau tidak, semoga ilmu yang didapat berkah - bermanfaat untuk ummat.

    Laaff yuuu...

    BalasHapus
  5. semoga targetnya tercapai ya
    moga beasiswa bisa didapat
    selagi masih muda, masih semangat ayo kejar target hidupnya
    tentu restu ortu ttp penting
    namun jika ada yg benturan mungkin pola komunikasinya aja
    berikan penjelasan dan pengertian, sehingga ortu bisa menerima

    BalasHapus
  6. Wa'alaikumsalam Wr. Wb..

    Aamiin, semoga bisa ya, Teh. Yang penting mau berusaha dan berdoa. Minta restu dari ortu juga..
    Good luck ya, Teh..

    BalasHapus
  7. sukses terus untuk Kak Ros, apapun pilihan kak Ros ke depan semoga berkah ya mbak dan semakin bermanfaat untuk semua. saya juga pernah mengalami posisi seperti kak Ros sekarang, jadi nikmati aja saat2 sekarang

    BalasHapus
  8. dulu aku pernah juga berjuang dapet beasiswa. gimana berdarah darahnya dan setelah dapet bahagianya luar biasa. berasa semua yang udah dikorbankan ada hasilnya. tak ada hasil yang mengkhianati usaha. semoga lancar semua ya kak. ayo melangkah, jangan ragu!

    BalasHapus
  9. Eh, berarti udah wisuda ya sekarang? Selamat!!! Bener bener bingung tampaknya ya.
    Heheh tidak ada salahnya kok sekolah di 'tempat biasa' kalau kita bisa jadi luar biasa. Ya kaya yang saya tulis di buku kisah lainnua itu.

    Sekali lagi, selamat. Doakan saya segera nyusul

    BalasHapus
  10. ochaa mumpung belum mepet mendingan mulai istikharah saja
    karena jalan orang itu beda2 dan waktu orang untuk sukses itu beda2
    no bukan berarti gk pinter atau kurang kerja keras
    namun Allah paling tahu waktu tertepat buat kita, gk pernah lebih cepat atau lebih lambat
    hahahaa memang pekerja rumahan content creator itu gk keliatan kayak orang yang kerja
    aku tau banget ini sih.
    tp jadi content creator itu gk gampang karena nulis berarti butuh banyak mikir dan observasi. thats why menurutku scr pribadi kita juga butuh pekerjaan lain meskipun sampingan2 aja menurut kita biar gak bosan menulis dan biar lbh banyak draft ide yg muncul. nah itu jaga toko bantu ibu menurutku adalah juga bekerja loh :D hal paling mudah ocha bisa mengamati perilaku pelanggan, barang2 yg diminati dan strategi mungkin bikin toko lebih maju. gk perlu bingung mau ngapain setelah lulus, asal kita mau usaha banyak banget ladang rezeki yg bakal terbuka meskipun di pintu2 yg gk kita kira ;)

    gt deh sori blibet. smg paham ya.
    haha
    selamat kelulusannya

    BalasHapus
  11. Ikut aminin ya
    Kalau ada kemauan pasti ada jalannya. Ibunya dirayu dulu, yakinin. Pendidikan tinggi itu bagus buat perempuan

    BalasHapus
  12. Jadi inget waktu zaman kuliah dulu, mengajukan persyaratan untuk mendapatkan beasiswa. Dan alhamdulillah saya bisa dapat beasiswa dari Djarum. Lumayan, bisa buat jajan he he he..
    Selamat ya, Kak Ros. udah mau diwisuda.

    BalasHapus
  13. Selamat mbak,,, sudah jadi sarjana. Judulnya bikin aku teringat status mahasiswaku yang sampe sekarang masih melekat di tubuhku, hehe.

    Salam dari mahasiswa pekerja. 😊

    BalasHapus