Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pernikahan Rewangnya Ibu

Assalammualaikum wr wb

Pernikahan itu, seiring berjalannya waktu, akan terasa semakin dekat. Entah dengan siapa saya menikah, yang jelas waktu dipertemukan dengannya akan semakin cepat pula. Hmm, semoga ya, disegerakan. Disegerakan untuk menikmati anugerah-Nya yang luar biasa, tatkala bisa menggenapi tiang agama yang sebelumnya masih separuh, hehe.


Awal tahun lalu, rewangnya Ibu di toko menikah. Namanya Mbak Ina, usianya terpaut 3-4 tahun lebih muda daripada saya. Dia sudah menikah siri beberapa bulan sebelumnya, lalu dilanjut nikah resmi, kemudian merayakan pernikahannya dengan mengadakan resepsi dan mengundang sanak saudara beserta kerabatnya.

Untuk momen resepsi, hal yang tak kalah penting dipersiapkan adalah souvenir. Ibu membantu Mbak Ina untuk menyiapkan souvenir. Mulai dari memilih souvenir apa yang cocok, memilih mika pembungkusnya, pun dicarikan jejaring (link) untuk mendapatkan barang yang harganya terjangkau namun kualitasnya bagus.

--Baca juga: Minta Nikah

Saya juga turut membantu dalam membuat souvenir pernikahannya. Untuk mika pembungkusnya, kami membuatnya sendiri. Kalau pesan jadi, biayanya cukup menguras kantong. Jadilah kami bikin desain mika sendiri, membentuknya sendiri, memotongnya sendiri, serta menghiasnya sendiri. Secara enggak langsung, kegiatan sederhana macam itu mampu mengisi waktu senggang kami saat menjaga toko.

Ada kurang lebih 130-an souvenir yang sudah siap. Souvenirnya handuk kecil, lalu dibungkus mika plastik tebal, yang di atasnya diberi pita bunga supaya souvenirnya terlihat semakin cantik.

Menjelang hari pernikahan, Mbak Ina izin untuk tidak masuk. Ya kami memaklumi, karena persiapan pernikahannya ada banyak. Pun setelahnya, manten akan diboyong ke sana ke sini oleh keluarganya.

Hari pernikahan pun tiba, tertanggal 3 Januari 2018. Saya datang bersama Ibu dan saudara saya, Mas Dian. Rencananya mau datang siang hari, tapi keluarga dari pihak pria akan datang beramai-ramai. Mau datang malam, eee malam adalah waktu yang tepat untuk beristirahat. Maka kami berangkat ke rumah Mbak Ina sore hari, setelah hujan turun dengan derasnya.

Sesampainya di kediaman, terlihat Mbak Ina sudah berdandan cantik dengan gaun pengantinnya yang berwarna ungu. Alhamdulillah, akhirnya menjadi ratu ya... ratu di mata suami.

Ini bukan kali pertama, saya dan Ibu datang ke rewangnya Ibu di toko. Ada beberapa karyawati yang ikut Ibu jaga toko sampai ia menikah. Namun ada pula yang lepas duluan karena berbagai alasan, untuk hal yang seperti ini kami selalu bisa memakluminya. Kalau ada karyawati yang menikah saat masih bersama kami, biasanya kami akan ikut membantu perihal pernikahannya, entah dari segi mana. Yang jelas, kami bersedia membantu.

Seperti halnya Mbak Ulil, karyawatinya Ibu yang dulu. Saya lupa, orang tua membantu apa untuknya, hehe. Yang saya ingat hanyalah, saya datang ke rumahnya Mbak Ulil saat resepsi.

Bagi kami berdua, menemani rewangnya Ibu dalam proses menanti kedatangan jodoh itu hmm... ya begitulah. Ibu, seringkali dijadikan sebagai tempat curhat oleh karyawatinya. Iya, kalau toko sedang sepi pelanggan, maka berbincang adalah salah satu cara yang paling ampuh  untuk membunuh waktu. Dari perbincangan itu, Ibu tahu kehidupan karyawatinya, begitupun soal asmaranya.

Maka Ibu juga sangat bahagia apabila karyawatinya menikah dan Ibu menjadi bagian dari yang melancarkan pernikahannya.  Ah, saya juga bahagia saat Ibu bahagia.

--Baca juga: Ibu dan Dengar Kisahnya

Wassalammualaikum wr wb

5 komentar untuk "Pernikahan Rewangnya Ibu"

  1. Oh rewang itu asistennya ibu di toko ya. Dengan banyak membantu, moga menjadi keberkahan juga untuk kalian berdua. Begitupun kalau nanti anaknya ibu nikah, akan lebih banyak lagi orang yang berbahagia.

    BalasHapus
  2. REWANGNYA IBU itu artinya anaknya ibu ? binggung dah anak muda mengartikannya. :)

    YANG jadi Misteri Adalah kalimat " usianya terpaut 3-4 tahun lebih muda daripada saya " emangnya usia Mbak Berapa ? sepertinya Mbak memberikan soal matematika nich ? :)

    kenapa tidak langsung tulis usianya 16 tahun saja, itu artinya usia Mbak sekitar 19 -20 tahun.:)

    sori Mbak agak protes bawaan suka debat kecil2an....hehehe.

    BalasHapus
  3. Minta tolong didoain juga Kak Ros, biar cepet nusul.. heheh.. Aamiin

    BalasHapus
  4. Awal baca judul aku bingung ._.
    Kupikir ibu nya kak Ros punya EO gitu, trus bantuin orang nikah.

    Oh ternyata pramuniaga/yang nolong ditokonya >.< aduh bahasa Jawa akuuu.

    Omong2 soal nikah......kak, ntar aku diundang ya. Trus jajanannya cilok, somay, sama cilur aja. Gausah nasi2an, ntar banyak karbo sama kalorinya ._. /dikeplak/ wkwkwk xD

    BalasHapus