Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jumat Pagi di Keraton Kasunanan Surakarta - Solo

Assalamualaikum wr wb

Hari ketiga di Solo, saya sudah menyiapkan mental untuk travelling sendirian. Setidaknya sampai sore. Sebabnya hari itu adalah hari Jumat dan si Mas harus kerja. Jadinya ya… saya harus bisa sendiri. Kalau mau pindah-pindah ke tempat wisata lain, ya mengandalkan ojek online ๐Ÿ’ช

Itenarary untuk travelling hari itu adalah pergi ke Keraton Kasunanan Surakarta, Taman Balekambang, Taman Sriwedari dan toko loak. Setelahnya ikut Mas kemana aja deh ๐Ÿ˜„

keraton-solo-tampak-depan

Saya pengennya sih sudah ada di keraton jam 8 pagi. Namun apa daya, saya dapat tugas mendadak dari Ayah. Dimintai tolong untuk mengedit proposal tesisnya ๐Ÿ˜…

Mengerjakan Tugasnya Ayah Dulu

Jadilah pagi itu jam 7, saya beres-beres semuanya, lalu bersiap berangkat ke warnet naik ojek. Biar nanti si Mas jemput saya di warnet, supaya saya enggak capek bolak-balik ke penginapan ๐Ÿ’

Saya pikir, cek proposalnya Ayah itu hanya memerluka waktu sekitar 10 menit saja. Eh njilalah ternyata menghabiskan waktu hampir satu jam. Sebabnya, saya juga editing hal receh-receh seperti margin, font, pengaturan gambar, dan banyak hal lainnya yang semuanya dilakukan manual karena amat tidak teratur ๐Ÿ˜…

Nunggu si Mas Jemput

Saya selesai mengerjakan tugas-tugas tersebut sekitar pukul setengah 9. Sudah ngabarin si Mas untuk minta jemput dan lanjut sarapan. Ealah si Mas enggak datang-datang. Lama euy. Nyampe kepanasan di depan warnet ๐Ÿ˜…

Si Mas baru datang sekitar jam setengah 10-an. Fiuh. Tapi tetap Alhamdulillah ya, akhirnya dijemput. Soalnya sempat was-was enggak dijemput ๐Ÿ˜‚

Saya tanya tuh, alasan si Mas lama banget jemput saya. Saya lupa alasannya. Enggak jelas gitu. Sampai akhirnya saya pancing dengan pertanyaan yang berbeda, dia pun cerita kalau dia bawa bekal mie goreng untuk makan siang di kantornya. Oalah, berarti jemput terlambat tadi gara-gara masak mie goreng? Healah ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Menunggu Keraton Buka

Kami langsung cus menuju Keraton Kasunanan Surakarta. Penasaran banget sama wujud keratonnya. Soalnya sebelumnya cuma lihat-lihat kawasan keraton malam hari dan itu belum jelas sih. Belum tergambarkan secara jelas di memori mengenai wujud keraton Solo ๐Ÿ’

Pagi itu…. Saya takjub melihat wujud Keraton Solo. Takjub akan keindahannya yang terjaga sejak jaman dulu. Juga takjub terhadap diri sendiri karena bisa menjejakkan kaki di Keraton Solo ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Kami enggak langsung masuk ke keraton, soalnya belum ada tanda-tandanya keraton dibuka. Jadilah kami berkeliling kawasan keraton dengan mengendarai sepeda motor. Saya tuh, masih belum bisa mencerna di otak, mengenai pagar-pagar serupa dinding tebal tinggi yang ada di sekitar kawasan keraton ๐Ÿ˜…

Hmm ini… sudah masuk wilayah perkampungan warga, tapi kok dinding tebal yang kayak pagar itu masih ada ya. Berarti ini masih wilayah keraton?

Itu sih, yang belum terjawab sampai sekarang. Sudah saya tanyakan ke si Mas, pun sudah dijawab. Tetapi saya belum mampu mencernanya. Hmm, sepertinya saya harus ke sana lagi deh untuk memahaminya, haha ๐Ÿ˜†

Sarapan di Sekitar Keraton

Sambil menunggu keraton buka, saya dan si Mas mampir di warung sekitar keraton untuk sarapan. Wuah, menu makanannya beda ya dari warung-warung di Lumajang ๐Ÿ˜†

Saya memilih sego sambel tumpang beserta aneka sayurannya. Sambel tumpang ini mirip-mirip bumbu pecel, namun ternyata sangat berbeda ๐Ÿ˜†

sego-tumpang-keraton-solo

Sambel tumpang ini bukan sambel yang diolah dan disajikan di cobek, melainkan diolah menjadi sayur berkuah santan. Santan dimasak dengan tempe yang hampir busuk, yang agak kehitaman, dan baunya mirip terasi, tetapi masih layak konsumsi. Saya cobain tuh. Rasanya ya enak. Beda dari biasanya ๐Ÿ˜Š

Sambel tumpang ini berpasangan dengan daun bayam. Selain itu saya minta tambahan sayur tahu dan kentang yang diolah seperti semur. Kemudian lauknya cuma ambil bawan jagung yang menggoda selera ๐Ÿ’ƒ

Rasanya enak dan oke banget dah. Murah juga kok harganya. Cuma 5.000-an kayaknya๐Ÿ’ƒ

Sesaat selesai sarapan, ada mbok jamu mampir di warung. Jadilah saya pesan jamu. Saya lupa nama jamunya apa. Pokoknya jamu yang umum buat perempuan seperti saya dah. Rasa jamunya… sama persis dengan jamu langganan saya di Lumajang๐Ÿ’ƒ

Wajar sih, soalnya jamu langganan tersebut asalnya dari Solo juga. Jadi maklum kalau rasa jamu dan sentuhan cita rasanya sama๐Ÿ˜

Foto-Foto di Depan Keraton Kasunanan Surakarta

Iseng ngobrol sama ibu penjaga warung, lalu bertanya mengenai jam buka keraton, ealah ternyata setiap hari Jumat keraton tutup alias libur. Yongalaaaaah… sedihnya. Tapi yawes, enggak papalah. Seadanya saja. Mampir ke keraton buat lihat-lihat meski dari luar๐Ÿ˜Œ

Usai makan, kami langsung berangkat menuju keraton. Meski tutup, ternyata cukup banyak pengunjung yang datang untuk sekadar berfoto di depan keraton. Banyak juga para penjual yang menjajakan makanan atau mainannya di sekitar keraton ๐Ÿ’

Tanpa basa-basi, saya langsung ngacir menuju pelataran keraton untuk berfoto. Ternyata setiap hari Jumat, keraton memang libur. Tapi para wisatawan masih diijinkan berfoto di pelataran keraton๐Ÿ’

Tidak ada tarif yang dikenakan bila ingin berfoto di pelataran keraton. Namun kalau mau difoto oleh fotografer handal, ya tentu ada jasanya dong๐Ÿ’

Oh ya, ada atribut khas abdi dalem keraton yang bisa kita sewa untuk dikenakan. Ada blangkon untuk pria, dan ada samir untuk perempuan. Jasa sewanya cuma 5.000 rupiah. Samir ini selendang yang merah kuning yang saya pakai ini loh…๐Ÿ’ƒ

kalung-keraton-solo
Perlu diingat dan diperhatikan, bahwa bila masuk keraton, harus bersepatu. Kalaupun tidak bersepatu atau sedang mengenakan sendal, maka sendalnya wajib dilepas๐Ÿ’

Kala itu si Mas pake sepatu, sementara saya pake sendal. Jadilah saya melepas sepatu alias nyeker. Huhu, rasanya adem-adem gimana gitu. Dan saya merasa sah telah menginjakkan kaki di keraton. Haha ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

bagian-depan-keraton-solo

Hohooo… foto sama si Mas. Sukak banget๐Ÿ’•๐Ÿ’•

Nyobain Dawet di Depan Keraton

Cuaca hari itu cukup terik. Dawet yang dijajakan di dekat gerbang keraton cukup menarik perhatian. Melambai-lambai untuk segera dinikmati kesegarannya๐ŸŒฟ

Puas berfoto-foto di depan keratan, maka saya ngajak si Mas untuk nyobain dawet. Uniknya, wadah dawetnya pakai batok kelapa. Terus isi dawetnya yaaa agak-agak mirip sedikit lah dengan yang di Lumajang. Hanya saja, es batunya berbeda๐Ÿ˜‚

cemilan-keraton-solo

Kalau di Lumajang, es batunya bentuk kotak-kotak atau pecahan es balok. Kalau di Solo, es batunya lonjong-lonjong, terus ada bolong di tengahnya. Unik sih. Saya gagal fokus terus sama es batunya๐Ÿ˜Œ

Usai mencoba dawet, saya meminta si Mas untuk segera berangkat kerja. Sudah jam 11 siang loh, tapi si Mas masih santai nemenin saya main. Ya si Mas enggak ada teguran sih untuk datang jam berapapun, asalkan kerjaannya beres๐Ÿ’ƒ

Alhamdulillah, saya merasa puas bisa main ke keraton. Yaa meski enggak bisa eksplore bagian dalamnya, tapi cukuplah bisa foto-foto di keraton sama si Mas. Puas juga kok bisa ngerasain suasana di sekitar kawasan Keraton๐Ÿ’ƒ

Selanjutnya, saya meminta si Mas untuk mengantarkan saya ke Taman Balekambang. Main sendirian di sana, seadanya saja nanti mau bagaimana. Sementara si Mas langsung cus berangkat kerja๐Ÿ’ƒ

Cerita selengkapnya, tunggu pekan depan ya… Inshaa Allah akan dikonsistenkan tayang tiap Sabtu malam๐Ÿ’ƒ

Begitu sih cerita saya di keraton. Belum sepenuhnya bisa eksplore keraton, memberikan arti bahwa next trip saya harus mampir ke keraton lagi. Hohoo…๐Ÿ˜€

Lalu, kamu? Kapan mau mampir ke Keraton Kasunanan Surakarta di Solo?

Wassalamualaikum wr wb๐Ÿ’•
Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

6 komentar untuk "Jumat Pagi di Keraton Kasunanan Surakarta - Solo"

  1. Aduh, adem, kayak ada bahagianya gitu.......permisi kak numpang lewat dulu................................

    BalasHapus
  2. Dadi kapan mrene meneh ben isa mlebu keraton..? haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm kapan yo
      aku pengen rame2 ambek keluarga seh,
      ben seru
      haaha
      ๐Ÿ’•

      Hapus
  3. wah aku malah belum ke sini
    ke mangkunegaran dulu malahan
    duh dawetnya enak banget ituuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku belum ke mangkunegaran kayaknya

      dawetnya makin enak kalau dimakan siang hari
      ๐Ÿ’•

      Hapus