Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Travelling 1 Day Trip ke Banyuwangi (Djawatan dan Pantai Boom)

Assalamualaikum wr wb

Ini adalah salah satu kisah travelling yang seru buat saya. Sebab, kami berkendara enggak naik sepeda motor. Melainkan naik kereta api. Wuiiih tentunya jadi lebih banyak kesempatan buat ngobrol sama si Mas. Bisa duduk ndussel-ndussel. Hahaha.


Berangkat Pagi Hari

Pagi itu, Minggu, kami harus siap di Stasiun Jember pukul 5 pagi. Pukul 4.45 si Mas udah jemput di kosan. Fiuh, pagi banget. Mata masih ngantuk berat. Sebab baru sampai Jember kota lagi pukul 23.00. Habis travelling seharian di wilayah Jember Selatan.

Sesampainya di Stasiun Jember, si Mas yang beli tiket. Go-show. Lucunya, si Mas keliru. Pesan tiket kereta api Ranggajati. Ya sudah terlambat lah, lahwong keretanya sudah akan berangkat ke Surabaya, haha.

Untungnya ditanyai sama petugas KA-nya, bahwa si Mas mau ke Banyuwangi. Ya naiknya Pandanwangi, yang harganya 8.000. Pemberangkatan pukul 05.15. Alhamdulillah masih ada seat. Kami duduk berdua~~~


Di Kereta Api

Perjalanan Jember Banyuwangi akan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Dalam waktu yang cukup senggang tersebut kami pasti menggunakannya untuk tidur. Hahaha.

Pemandangan kanan kiri keren sih. Umumnya perkebunan kopi dan tembakau. Lalu hutan heterogen. Sawah. Segeeer lihatnya.

Sepanjang perjalanan, kami ngobrol ngalor ngidul. Kalau bosen, ya sibuk dengan diri-sendiri. Si Mas sibuk nge-game, hahaha. Kalau bosennya bertambah dan mulai lelah, ya tidur.

Saya suka lihat si Mas tidur. Gemes lah. Oh tentu saya rekam juga. Tapi buat dokumentasi pribadi aja, hehe.

Tiba di Banyuwangi

Kami tiba di Banyuwangi pukul 8 pagi. Turun di Stasiun Karangasem. Baru kali ini saya turun di Stasiun Karangasem. Stasiun ini lokasinya dekat dengan kota. Biasanya sih saya turun di Stasiun Banyuwangi Baru yang dekat dengan Pelabuhan Ketapang, padahal jauh dari kota, hahaha.

Keluar dari stasiun, kami langsung ambil belok kanan, jalan. Kami berjalan menuju homestay yang enggak jauh dari situ. Tenang, kami enggak ada tujuan menginap meskipun dikasih gratis. Kami hanya ingin sewa sepeda motor sebagai kendaraan perjalanan kami…

Didu’s Homestay

Didu’s Homestay namanya. Kurang lebih membutuhkan 10 menit perjalanan dari stasiun Karangasem dengan berjalan kaki. Iya, jalanannya masih tanah, bukan aspal. Lumayan banget menikmati secuil perjalanan dengan berjalan beneran, hoho, meski tujuannya ngambil sepeda motor.


Homestay ini keren sih. Suasana Bali. Alami. Harum. Menyejukkan. Kamarnya menarik, bukan dikelilingi tembok, melainkan jendela kaca dengan tirai putih. Cocok banget buat honeymoon.


Kalau mau staycation bakalan enak juga. Tempat nongkrongnya enak soalnya. Bali banget. Natural banget. Juga, homestay ini artistik banget. Keren banget pokoknya. Semoga bisa staycation di Didu’s Homestay suatu hari nanti bareng si Mas. Aamiin…




Memilih Destinasi Wisata di Banyuwangi

Saya ngotot banget, pengennya ke Djawatan. Sepetak hutan yang dipenuhi rimbunnya pohon trambessi. Tapi saat tanya ke teman-teman, jauh eh lokasinya. Mereka sama sekali enggak menyarankan. Padahal ya si Mas oke-oke aja meski perjalanannya memakan waktu 1 jam.

Rekomendasi destinasi selanjutnya adalah Pantai Boom. Dulu pernah sih ke Pantai Boom. Ya gitu-gitu aja. Tapi kata teman-teman, ada spot foto baru di Pantai Boom. Ya udahlah yuk cus ke sana.

Pengennya sih nambah destinasi wisata ya. Tapi apalah daya. Kami harus kembali ke stasiun pukul 14.30. Iya, langsung pulang ke Jember.

Pengennya sih nginep. Nambah 1 hari. Tapi bahaya euy. Kalau terjadi hal-hal yang diinginkan, gimana? Hahaha.

Makan Sego Tempong

Kami hendak sarapan. Saya pengennya makan sego tempong. Cari-cari di google maps ealah diuter-uterno sampai saya malu sendiri sama si Mas gara-gara enggak ketemu-ketemu. Ya udahlah, makan seadanya aja selewatnya di jalanan.

Hingga akhirnya di tengah perjalanan, kami berhenti tatkala menemukan sebuah warung di pinggir jalan. Sepi. Baru buka. Tapi makanannya sudah siap.


Kami pesan sego tempong. Tapi enggak tempong-tempong banget sih. Masih lebih enak sego tempong di Banyuwangi yang terkenal-terkenal itu loh.

Sego tempong ini kan khasnya di sambalnya yang pedas ya. Tentu dong, si Mas kepedesan. Hahaha. Tapi ya kuat iii loooh makan sampai habis. Salut lah saya, hahaha.


Main di Djawatan Benculuk

Usai makan, kami langsung cus menuju Djawatan. Jalannya ya lurus-lurus aja. Jalanannya lebar. Hawanya sejuk-sejuk menyakitkan eh. Maksudnya ya angin semriwing enak banget, tapi terlalu dingin dan cenderung lembab. Yang rentan flu dan dingin ya akan mudah terkena dampaknya.

Mendekati Djawatan, saya mencoba mengingat-ingat lokasi persisnya. Hampir nyasar ketika melewati masjid. Saya meyakinkan si Mas bahwa Djawatan ini seperti masuk gang. Itu pohonnya udah kelihatan. Tapi si Mas enggak percaya. Ya gimana, masa’ hutannya deket banget sama area kecamatan kota?


Ternyata ya memang, lokasi hutannya agak masuk. Kayak masuk gang, haha. Kami langsung membayar HTM. 5.000/orang. 2.000 untuk parkir sepeda motor.

Uwiii, Djawatan tetap keren. Ini kali kedua saya main ke Djawatan. Kali pertama, dulu sama teman-teman. Kali kedua, harus sama si Mas.


Tampak depannya tetap keren. Bahkan lebih keren karena sudah disediakan arena panggung sederhana. Lengkap dengan meja kursi yang terbuat dari kayu dan tersedia cukup banyak.


Kami berjalan-jalan keliling area Djawatan. Djawatan ini ditumbuhi pohon trambessi. Namun sayangnya, kami datang saat musim kemarau. Dedaunannya kurang rimbun. Rerumputannya kering, enggak ijo kayak yang dulu. Kurang lebat aja sih. Kurang terasa atmosfer hutan hujan tropisnya. Tapi tetap keren dong.

Tentu saja, saya di sini foto-foto sama si Mas~~


Main di Pantai Boom

Kami enggak lama di Djawatan. Jam 11.30 harus keluar dari Djawatan. Supaya bisa main ke Pantai Boom juga, lalu segera pulang supaya tidak ketinggalan kereta.

Sesampainya di Pantai Boom, waw baru. Jalanan diperlebar. Sengaja dirancang sebagai area jalan sekaligus area parkir. Area Pantai Boom ini memang direncanakan sebagai kawasan pertunjukan kesenian Banyuwangi.

Mulanya saya salah menunjukkan arah tempat peristirahatan Pantai Boom. Maklum, pakai ingatan sekenanya dengan keadaan arena wisata yang berubah drastis. Hingga si Mas nekat cari jalan lain dengan mengikuti pengendara lain dan sampailah di area Pantai Boom yang sebenarnya.

Kami turun. Berjalan menuju pantai. Saya beli es tebu. Melepas dahaga. Buat si Mas juga.


Kami mendekat ke bibir pantai. Uwaw, si Mas terpukau melihat Pulau Bali. Dipotret banyak-banyak, sembari menyesal enggak bawa lensa tele, hoho.


Di sini, saya juga foto-foto sama si Mas. Tapi ya gitu, krudung dan rok sering tertiup angin euy, hahaha.





Kembali ke Stasiun 

Kami mengakhir acara main-main kami pukul 1 siang. Lalu lekas-lekas kembali ke homestay kemudian ke stasiun. Kami sholat di musola stasiun. Bergantian, sambil menjaga tas.


Kaget sih saat ngeliat lengannya Mas yang memerah kepanasan. Gara-gara saat perjalanan ke Djawatan tadi enggak pakai jaket, cuma pakai lengan pendek. Ya elah, palingan juga besok kulitnya kembali putih lagi. Ya kalau saya ya, kembali putihnya lamaaa banget.


Kereta api datang. Kami naik kereta api Logawa. 29.000 rupiah. Duduknya tentu bareng dong~

Kami capek. Tidur. Saya bersandar ke si Mas. Tapi euy, saya bersandarnya enggak sempurna. Kepala langsung taruh di pundaknya si Mas tanpa pundak menempel. Harusnya kan pundaknya menempel, biar sama-sama enak. Enggak dong ini, si Mas merasa keberatan karena tertimpa kepala saya, hahaha.

Makan Chicken Katsu

Pengennya sih makan Mie Ayam Wonogiri. Tapi entah kenapa si Mas lagi ngidam makanan ala-ala Korea yang ada di depan stasiun. Huraru nama restonya. Pesan Chicken Katsu.


Datanglah Chicken Katsunya. Nasi ala Indonesia yang sulit disumpit. Selembar chicken katsu. Irisan sayur wortel dan kubis mentah. Juga saos tomat dan mayonaise. Bingung makannya euy. Enggak bisa nih nasi Indonesia disumpit. Ya udahlah, muluk aja. Terus si Mas ikutan muluk dong makannya, hahaha.

Pamit ke Yangti

Pukul 5 sore, kami ke rumah Yangti. Si Mas balik sebentar ke kosannya untuk membayar uang kos hariannya. Sementara saya beres-beres dulu di kosan. Enggak berapa lama kemudian, si Mas datang. Ada Yangti. Ngobrol sama Yangti. Sholat magrib juga.

Rencananya saya balik ke Lumajang sama si Mas. Motoran. Lalu si Mas naik bis dari terminal Wonorejo di Lumajang. Tapi ban sepeda motor yang mblendung tadi malam, membuat kami ragu-ragu. Apalagi jalanan di Jatiroto gelap. Khawatir.

Akhirnya kami memutuskan untuk pulang naik bis dari Terminal Tawang Alun Jember. Saya turun di Lumajang, lalu si Mas ya lanjut ke Solo. Kami ke terminal naik Gojek.

Bercengkerama di Terminal

Kami duduk-duduk si terminal, sambil nunggu bis. Bisnya diperkirakan datang jam 7 malam.

Momen-momen di terminal ini salah satu momen yang menyakitkan bagi saya. Iya, saya harus berpisah sama si Mas, untuk kembali ke peraduannya masing-masing. Sedih. Nyesek. Tapi ya gimana ya. Ya udahlah, dinikmati aja waktu yang ada ini sebaik mungkin.

Tiba-tiba si Mas perlu ngomong serius. Bilang, bahwa dia akan pindah tugas ke Jakarta. Saya... ya kaget sih. Enggak percaya. Tapi ya Inshaa Allah bisa menerima keadaan. Soalnya udah diterapi sama si Mas. Udah diajak ngobrol dan diskusi untuk membahas masalah seperti ini sebelumnya.

Belum usai kami bercengkerama, tiba-tiba ada kabar bahwa Klakah macet. Bis-bis arah Jogja, putar balik lewat Bondowoso. Bis yang mau ke Jogja dan sudah di Lumajang, memutuskan untuk balik ke Jember guna lanjut lewat Bondowoso. Otomatis, si Mas pulang ke Solo lewat Bondowoso. Enggak lewat Lumajang. Yah, berarti kita enggak bisa nge-bis bareng dong.

Bisnya si Mas hendak datang. Si Mas disuruh siap-siap. Pada saat yang bersamaan, bis saya datang. Lalu saya disuruh naik bis itu. Pulang sendiri, huhuuu.

Sebelum pulang, saya disangoni oleh si Mas. Buat bayar bis dan servis sepeda motor, heh. Makasih ya Mas

Saya pun naik bis. Duduk bagian depan. Terlihat dari kaca depan, ada si Mas yang lagi nungguin bis di seberang jalan. Katanya, tasnya sempet ketinggalan gara-gara panik rute bisnya berubah. Untung ditemukan oleh pak-pak kernet yang baik hati.

Di Lumajang

Sepanjang perjalanan, kami share location lewat Whats App. Biar tahu kabar masing-masing. Biar tahu lokasi masing-masing.

Saya gemas ketika si Mas khawatir karena share loct saya enggak jalan-jalan. Ya gimana, sinyal ngadat. Pas di terminal, nunggu ojek agak lama.

Fiuh, Alhamdulillah sampai Lumajang pukul 20.30 dengan keadaan selamat. Ada Ibu di rumah. Sendirian. Makanya saya sengaja pulang malam itu untuk menemani Ibu di rumah.


Alhamdulillah... travelling kali ini adalah salah satu yang menyenangkan. Experiencenya beda. Keseruannya beda. Bisa ngobrol lebih puas.

Btw makasih ya Mas udah nyempetin main ke Jember. Berarti ini giliran saya yang harus main ke tempat Mas. Semoga waktu, cuaca dan cuan mendukung. Aamiin. Hahaa.

Wassalamualaikum wr wb 💕

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

3 komentar untuk "Travelling 1 Day Trip ke Banyuwangi (Djawatan dan Pantai Boom)"

  1. Saya akhir-akhir sering sekali baca wisata Banyuwangi, Mbak Rhosha. Termasuk nonton youtube juga. Dan wisata Banyuwangi sangat memikat ya. Jadi mupeng saya. itu yang foto pepohonannha keren sekali, seperti di film-film. Asyik dan seru wisatanya. Apalagi perginya bareng Mamas, bisa duduknya ndussel-ndussel di kereta hahaha.

    BalasHapus
  2. Aduh, belum kesampaian deh ke Banyuwangi. Pengan kulineran di sana (akibat hasutan tetangga, haha)

    Makasih infonya kak Ros ;D

    BalasHapus