Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kehujanan di Candi Borobudur Magelang

Assalamualaikum wr wb

Mumpung kami masih di Magelang, dan enggak mau menyia-nyiakan perjalanan Solo-Magelang yang teramat lama, maka kami memutuskan untuk main ke Candi Borobudur.

Cuaca waktu itu biasa saja. Tidak terlalu terang, namun tidak mendung juga. Hanya saja, hawa masih tetap dingin. Kami menembus dinginnya Magelang untuk menikmati keagungan Candi Borobudur.

Dulu Pernah Ke Candi Borobudur

Ini kali kedua saya main ke Candi Borobudur. Pertama kali ke Candi Borobudur saat ada acara study tour ketika SMA. Namun entahlah fotonya dimana, hilang tak berbekas seiring dengan laptop yang entah bagaimana kabarnya.

Ternyata wujud sekitaran Candi Borobudur, antara pengguna bus dan pengguna sepeda motor benar-benar berbeda ya. Kalau naik sepeda motor, kami harus berjalan cukup jauh. Menyusuri jalanan sendiri dengan kaki sendiri. Beda dengan naik bus, yang kami terbatas untuk menjelajah sekitar.

Memasuki Kompleks Candi Borobudur

Ternyata luas banget eh kompleks Candi Borobudur. Kami memarkirkan sepeda motor di luar gerbang, lebih tepatnya di rumah warga. Lalu kami berjalan melewati gerbang luar. Mampir ke pintu masuk yang menyewakan payung.

Kami akhirnya sewa payung, sebab diprediksi akan turun hujan. Kami sewa 2 payung. Sebab, tidak ada payung besar yang cukup untuk menampung kami berdua.

Lalu kami berjalan beriringan menggunakan payung. Melewati para penjual di kanan kiri untuk menuju tempat pembelian tiket. Tapi ya gitu, karena payung ini, saya tidak bisa berjalan sambil menggandeng lengan si Mas. Sebab, payung kami akan saling bertabrakan.

Lalu, kata para penjual oleh-oleh di sekitar kami:

Saknoe ndak iso gandengan…

Yongalah diejek sama orang-orang, hahaha.

HTM Candi Borobudur

Tiba di tempat pembelian tiket, kami segera membeli tiket untuk masuk Candi Borobudur. HTM-nya 50.000 rupiah/orang. Iya, mahal banget cuy. Mungkin karena biaya perawatannya yang mahal. Juga, karena Candi Borobudur adalah salah 1 dari 7 keajaiban dunia yang harus benar-benar dilindungi.

Hujan Deras Mengguyur Candi Borobudur

Mulanya, saat memasuki pelataran Candi Borobudur, masih gerimis biasa saja. Hingga semakin lama, angin semakin kencang dan hujan semakin deras. Mau tidak mau, kami harus berteduh untuk menunggu hujan reda.

Kami berteduh di balik sebuah pondok. Pengennya sih di pondoknya ya, tapi udah penuh orang euy. Ya kami mampunya berteduh di belakang pondok, yang untungnya masih ada payon atau tempat yup-yupan.

Kami ngobrol di situ. Bercanda tawa. Sekaligus ngevlog. Kok saat memutar ulang video, wajah saya jadi terlihat lebih cerah ya. Lalu si Mas enggak terima dong. Katanya, muka saya cerah karena efek cahaya matahari. Lah matahari dari mana, lahwong hujan kok.

Nekat Main ke Candi Borobudur

Hujannya lama euy. Enggak terang-terang. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap main ke Candi Borobudur. Toh ada payung. Basah-basah sedikit enggak papa deh. Mubazir uangnya kalau kami enggak berangkat-berangkat. Belum tahu juga hujan maunya reda kapan.

Semakin kami mendekat ke Candi Borobudur, hujannya semakin deras euy. Petir menggelegar. Kami berteduh saja dulu di bawah pohon, supaya pakaian enggak terlalu ketampesan kena air hujan. Kalau agak terang sedikit, baru deh kami lanjut jalan.


Baca Papan Petunjuk dan Sejarahnya Dulu

Ternyata Borobudur sekeren ini ya. Saya mencoba mengenali Borobudur lebih dekat. Juga ingin menjadi wisatawan yang baik. Dimulai dari membaca papan petunjuk. Juga papan sejarahnya.

Dari papan petunjuk, kami baru tahu bahwa kami dianjurkan berkeliling Candi Borobudur dengan berjalan ke arah kiri. Jalannya ke kiri terus. Lalu, kalau mau masuk atau naik, masuknya lewat pintu utara. Pintu lainnya hanya untuk jalan keluar. Dan kami benar-benar melakukannya.

Sementara, dari papan sejarahnya, kami jadi tahu bahwa patung-patung dewa di Borobudur berbeda-beda posisi tangannya. Ada yang telapak tangannya dibuka, telapak tangan tertutup, mengaitkan jempol dan telunjuk, dan lain-lainnya yang saya enggak hafal. Pemaknaannya juga berbeda-beda. Waktu itu saya hafalkan sambil menggerakkan tangan. Tapi sekarang lupa, hehe.

Mencoba Membaca Relief Candi Borobudur

Saya dulu tuh sama teman-teman, sok-sokan baca relief Candi Borobudur. Tapi ngawur eee. Buat seneng-senengan doang soalnya.

Tapi saya tahu, bahwa setiap relief itu punya cerita. Ada sebab dan asal muasal dari setiap ukiran relief. Ya memang, yang bisa membaca hanyalah sejarawan. Namun, enggak ada salahnya saya untuk mencoba. Apalagi ketika saya mendapati bahwa ternyata reliefnya sederhana dan bisa saya baca.

Yang di teras 1, saya sok-sokan membaca relief seperti aktivitas kehidupan manusia biasanya. Seperti memasak, mengasuh anak, pergi bekerja, pergi berlayar, dsb. Juga, saya mendapati ada sederetan relief yang menggambarkan beragam jenis hewan. Mungkin mereka hendak menceritakan keberagaman hewan di zamannya.

Naik ke teras 2, saya lupa membaca relief seperti apa di sana. Sepertinya tentang kepemimpinan. Atau menggambarkan raja-raja jaman dulu. Misalnya, seorang raja yang diangkat menggunakan tandu, dsb. Lupa dah saya.

Hingga naik ke teras 3 dan 4, kami merasa semakin sulit membaca relief. Reliefnya renggang-renggang. Kami coba baca, sepertinya tentang ketuhanan atau pendewaan.

Sampai akhirnya kami menyimpulkan, bahwa semakin tinggi teras maka menggambarkan sifat keduniawian hingga kerohanian, atau semakin mendekat ke Tuhan.

Wuiiii ternyata kami pandai juga ya menafsirkan relief, hahaha. Ya semoga penafsiran kami benar adanya. Ah saya jadi penasaran untuk mempelajari lebih dalam tentang relief-relief Candi Borobudur.

Patung Stupa Cukup Dipandang Saja

Tibalah kami di teras ke-5. Hanya ada patung stupa di sana. Dan dari sana, kami bisa melihat dataran Magelang dari sisi yang lebih tinggi. Andaikan waktu itu tidak hujan, tentu kami bisa melihat pemandangan dengan lebih jelas dan terang.

Ada kejadian nih di teras ini. Kan sering banget ya kejadian, saya sudah jalan, eh si Mas masih ambil video. Nah, kalau yang di teras 5 ini kejadiannya cukup lama dan jarak kami terlampau jauh.

Saya pikir si Mas sudah sampai di teras 5 ya, maka saya ikut naik. Ternyata si Mas enggak ada di teras 5. Saya coba cari-cari, enggak ketemu-ketemu eh.

Hingga akhirnya saya mencoba menengok ke bawah (teras 4), eh ada si Mas. Ternyata di situlah dia berada. Dia sedang mencari-cari sesuatu (saya maksudnya). Ya saya lihatin aja tuh dari atas. Hingga dia menemukan saya, sambil menertawakan kami masing-masing yang ternyata sama-sama mencari satu sama lain.

Apalagi si Mas, ketika kehilangan jejak saya, mengira bahwa saya masuk ke dimensi lain alias ke jaman dulu. Apa-apaan. Mentang-mentang candi, sok-sokan terseret ke masa lampau. Hadeeeh…

Pengen Foto Cantik di Candi Borobudur

Huuuh, saya tuh sebel-sebel gimana gitu ya. Enggak bisa menyalahkan hujan sih, karena hujan itu anugerah. Hanya saja saya… enggak bisa foto-foto cantik di Candi Borobudur.

Si Mas enggak berani ngeluarin hapenya untuk ambil foto seperti biasanya. Hanya bisa mengeluarkan go-pronya untuk vlog. Fotonya nanti diambil dari screen capture video di go-pro. Ah elah… kurang greget fotonya…

Padahal kami membayar cukup mahal untuk bisa menikmati Candi Borobudur sekaligus mengabadikannya. Ya udahlah, berarti ini pertanda bahwa kami harus ke sini lagi. Hahaha.

Jalan Pulang dari Candi Borobudur

Sekitar jam 3 sore, kami memutuskan untuk turun dari candi. Hujan memang enggak terlalu deras. Namun gerimis masih terasa. Kami hampir basah kuyup, ya semoga enggak masuk angin.

Perjalanan pulang dari candi ini ya cukup jauh. Melewati taman-taman, hingga masuk ke pasar pusat oleh-oleh. Kami berjalan berkelok-kelok mengelilingi pasar yang jalannya cuma 1 arah. Ah elah disengajain nih biar para pengunjung berbelanja di sini.

Namun kami tidak berbelanja. Enggak ada cukup uang untuk membelinya. Juga enggak butuh-butuh banget sih mengenai barang-barang yang ditawarkan. Kami hanya bisa bergumam untuk berdoa: semoga laris… semoga laris…

Kami pikir, payung bisa kami pinjam hingga mengantarkan saya ke tempat parkir ya. Eh ternyata enggak. Payungnya udah dicegat di tempat persewaann payung. Payungnya sampai sini aja ya mas… mbak…

Yah… akhirnya kami berjalan ke tempat parkir dengan tidak mengenakan payung. Untungnya cuma gerimis saja.

Tiba di tempat parkir, tas kami Alhamdulillah aman. Untungnya tas dititipkan di tempat parkir, jadinya barang-barang kami aman. Si Mas ngacir sebentar ke toilet untuk ganti baju. Iya, sebelumnya si Mas pakai baju batik. Iya, ke Candi Borobudur pakai batik cuy. Tapi tenang saja, enggak pakai vantovel kok. Si Mas sudah ganti sandal gunung.

Saya sih masih tetap pakai baju yang ke kondangan sebelumnya, soalnya bajunya tetap enak bila digunakan untuk travelling. Nah, maunya sih pake wedgess ya, soalnya saya cuma punya sandal jepit. Tapi kan enggak mungkin ya saya pakai hak tinggi saat naik-naik ke candi. Hadeeh. Ya sudah, pakai sandal jepit saja. Itupun saya sering terseok-seok hampir jatuh karena bagian bawah sandal saya sudah aus.

Perjalanan Pulang ke Jogja

Alhamdulillah… kami pulang… Kali ini kami pulang ke Solo lewat jalur Selatan. Melewati Jogja dulu. Sebab, kami akan mampir ke UGM sekaligus ke Malioboro. Nah, cerita perjalanan ini bisa disimak pekan depan yaa… hohooo..

Wassalamualaikum wr wb 💕
Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

24 komentar untuk "Kehujanan di Candi Borobudur Magelang"

  1. Untungnya bawa payung yaaa mba. Kesannya romantis gitu payungan ama suami berdua. Hehehe. Saya juga katro nih, sampai sekarang belum pernah ke Borobudur. Hahaha. Padahal udah sering ke Semarang, tapi emang gak lanjut ke Magelang mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, kapan-kapan lanjutin ke borobudurnya mbak

      Hapus
  2. Baca cerita Mbak Rhos, jadi kangen pengin ke candi Borobudur lagi, Mbak. Saya ke sana sekitar Mei 2018. Tapi cuaca pas panas. Tapi masih mending, daripada pas hujan hehehe.
    Itu jalan pulangnya, memang sengaja dibuat melalui pasar seni. Tapi kasihan juga para orang tua yang sepuh, ya. Dan pas itu, saya tergoda beli cobek magelang hahaha. Saya juga ke sana naik motor dari Gombong Kebumen ke Magelang sekitar 3 jam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih, pasar seninya rutenya juauh
      muter2 terus gak selesai2

      Hapus
  3. Auto pengen ke Borobudur lagi. Aku dulu pernah ke sana usia 11 tahun loh mbak.UCma belum sempet naik sampe atasnya maklum anak kecil ini dulu kecapean.

    BalasHapus
  4. Wah senengnya yang udah pernah ke candi borobudur. Soalnya aku belum pernah soalnya mba hihihi 😂. Malu-maluin ya. Orang lain udah ke luar negeri aku ke candi borobudur aka belum pernah hihihi. Tapi kalau ke candi prambanan aku pernah. Semoga nanti bisa jalan-jalan ke candi borobudur ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...
      semoga diberi kesempatan mampir ke borobudur

      Hapus
  5. Saya menemukan kelezatan membaca tulisan ini dan jadi kenyang pikiran saya mbak..
    Pinter baca relief keren ka Ros. Momen yang akan selalu inget ya mbak saat hujan pula..Borobudur selalu memberi nilai sejarah tersendiri.

    BalasHapus
  6. Bahaya lho sista berteduh di bawah pohon. Untung saja beberapa kali ke Borobudur cuaca selalu bagus

    BalasHapus
  7. Mbak..ke Borobudur pulangnya memnag mesti dilewatin yang jualan...dan akhirnya belanja karena anak-anakku minta hahaa
    Ku sudah berapa kali ke sana lupa. Ini pengin ke sana lagi karena anakku yang kecil bilang belum pernag ke sana, padahal sudah pas dia umur 4 tahun...
    Gapapa, kalau bukan kita yang datang ke sana lagi dan lagi siapa lagi

    BalasHapus
  8. Jadi ada moment indah ya mba, walaupun kehujanan di candi borobudur tapi tetap bersama suami semakin romantis suasananya. semoga saya bisa berkunjung ke candi borobudur yang merupakan salah satu situs keajaiban di dunia.

    BalasHapus
  9. Wa'alaikumsalam.. dah lama aku gak main kesini nih, Teh. Disiguhin apa ya kali ini..haha

    Gimana kabarnya, Teh?

    Memang nanggung sih kalau sudah di Candi Borobudur tapi gak jalan-jalan, meskipun hujan, payung solusinya..hehe

    Aku sering juga teh kesana, ya anter tamu sih..hehe
    Tapi sekalian ikut masuk, lah dibayarin masa gak masuk sekalian cari bahan tulisan :D

    Coba berkabar teh kalau ke Malioboro, bisa lah silaturahmi sebentar mah..hehe
    Musim hujan itu bikin males kemana-mana, tapi kalau sudah ada ditempat main tapi gak sekalian explore, duh sayang sekali..

    BalasHapus
    Balasan
    1. okey, berarti kalau ke jogja aku udah tahu mau main sama siapa, haha

      Hapus
  10. Dan segede ini aku blm pernah ke sana hahaha, rencana mau ke sana eh ada wabah.
    Dulu zaman SDku mau liburan ke sana gak jd wkwkwk melas.
    Seneng ya bisa ke sana apalagi sama pasangan main hujan2an jd makin romantis donk mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi, semoga lekas-lekas ke sana ya mbak
      iya nih, co cwit lah jadinya haha

      Hapus
  11. Saya pas ke Borobudur malah puanas bangett ya Allah, sampe ga kuat hihihi ga bisa lama foto2nya, panasnya menyengat. Sampe kepikiran, ke Borobudur mungkin baiknya pagi atau sore aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. pagi banget aja kak, pakai topi
      terhindar dari cahaya matahari dan oke banget buat properti foto

      Hapus