Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ambil Uang Pensiun Hingga ke Pernikahan Teman

Assalamualaikum wr wb

Pekan ini sebenarnya saya kurang produktif. Kegiatan produktif saya hanyalah ngantar Mbah Uti ambil uang pensiunan dan datang ke pernikahan teman. Sudah, selebihnya biasa aja, goler-goler di rumah, enggak ngerjain apa-apa di rumah. Hadeeeh… useless banget sepekan saya.

Enggak Produktif di Rumah

Saya akui sih, ini kesalahan saya. Enggak ngapa-ngapain selama seminggu. Bangun tidur, sholat subuh, leyeh-leyeh hapean. Bantu Ibu mengurus mbah uti, biasanya saya bantu memakaikan popok. Hmm untuk urusan dapur, sepertinya pekan kemarin saya enggak terlalu proaktif. Jarang bantu Ibu masak, sebab saya bolak-balik mual.

Entah mual karena bau kari yang bolak-balik dihangatkan. Atau mual karena tubuh dan otak menolak gorengan. Jadinya badan pengennya makan sedikit. Enggak ada gairah nafsu makan. Apalagi waktu itu masih krisis keuangan, enggak ada duit untuk dibelanjakan. Jadinya makan seadanya. Ya itu dia masalahnya, enggak bisa minta makanan macam-macam ke Ibu, ya seadanya yang penting makan.

Sering pusing sendiri. Otot-otot di otak butuh pelemasan. Sering mual sendiri. Ya penawarnya ada: sebotol Adem Sari Chink-Qu. Atau saya terlalu jenuh ya dengan keadaan di dalam rumah. Pengen keluar, tapi mau kemana? Biasanya kan keluar sambil belanja atau beli makanan. Lah ini, krisis cuy?

Mau laptopan juga ogah banget waktu itu. Enggak ada gairah untuk ngeblog maupun tesis. Ya Allah maafkan hamba… Seharusnya kan bisa tesis dicicil per hari. Minimal tiap hari memberikan hasil. Kalau dicicil tiap hari, lama-lama akan menjadi bukit dan lekas selesai.

Iyaaa, hari ini saya memulai nulis lagi. Ngeblog lagi. Bikin mind mapping untuk rencana tulisan ngeblog ke depannya. Nyicil beberapa tulisan untuk stok. Sekaligus belajar SEO. Pengen banget pageview harian bisa tembus 4.000/hari. Maka usahanya harus 400x lipat daripada sekarang. Dicicil Inshaa Allah bisaaa.

Juga ini mau nyicil tesis lagi. Bab 1 udah beres. Ini lanjut revisi bab 2. Perlahan… Inshaa Allah bisa… Inshaa Allah selesai…

Ngantar Mbah Uti Ambil Uang Pensiunan

Tanggal 1, waktunya Mbah Uti ambil uang pensiun. Hampir 1 bulan Mbah Uti tinggal di rumah. Apapun keadaan dan kehendak Mbah Uti, kami sekeluargalah yang akan mengurusnya, termasuk mengantar Mbah Uti untuk mengambil uang pensiun.

di dalam kantor pos


Kami ngambil uangnya di kantor pos kecamatan Tempeh, tempat Mbah Uti biasa mengambil. Kami antarkan naik mobil. Bersama Ayah, Ibu dan saya. Tapi mampir dulu ke rumah Mbah Uti di Tempeh, untuk ngambil beberapa barang yang pengen dibawa Mbah Uti. Ya di sana ketemu Bude Mi, Pakde Jarot, Bude Kis, Pakde Joko dan Mbak Angel.

mbah uti lumajang

Seusai itu, kami menuju kantor pos kecamatan Tempeh. Kami pikir tutup ya, karena masih masa social distancing. Ternyata buka. Hanya saja disediakan sabun dan air bersih di depan kantor. Juga enggak ramai.

sabun di kantor pos

Saya dan Ibu yang mengurus pengambilan uang pensiunan. Sementara Mbah Uti stay di mobil. Kalau butuh ttd, baru ke mobil untuk minta ttd-nya Mbah Uti. Udah, beres. Ternyata enggak seribet dan seramai yang kami bayangkan. Alhamdulillah…


mobil di kantor pos

Pernikahan Teman

Satu-satunya kegiatan produktif saya selama sepekan ini adalah datang ke pernikahan teman. Kebetulan, yang menikah adalah sohib saya sejak SMP, lanjut SMA. Ya nakalnya sih, sebatas bolos taraweh sama pacarnya dia, hahaha. Menariknya, dia bolak-balik ganti pacar, hahaha. Bukan karena playgirl ya, hanya saja keadaannya seperti itu. Banyak cowok yang datang kepadanya. Ya saat itu dia terima-terima aja sih.

Makanya, momen pernikahan sohib saya ini adalah sakral. Akhir dari sebuah pencarian. Pelabuhan terakhir. Pas masih sekolah pacarannya sama anak lokalan aja, lalu saat kuliah dapat pacar orang Batam, eh taunya ternyata jodohnya orang Semarang. Dan pacarnya yang ini serius, ngajak ke pelaminan. Ya buat apa sih enggak serius, lah wong udah cukup umur juga.

Seharusnya, ia menggelar acara akad, resepsi dan unduh mantu secara berkelanjutan pada akhir pekan kemarin. Namun apa daya corona masih mewabah. Maka acara resepsi dan unduh mantu ditunda entah kapan. Acara akadnya tetap Sabtu siang, di rumahnya.

Saya sih ragu ya mau datang ke akadnya atau enggak. Pengennya datang ke resepsi, biar bisa datang sama Ibu. Kalau datang ke akadnya, bisa aja sih, tapi saya akan datang sendirian. Belum tahu siapa teman lain yang akan datang. Dan berhubung acara resepsinya ditunda entah sampai kapan, maka saya memutuskan untuk datang saat akad.

Acaranya jam 13.00. Saya datangnya ya jam segitu, haha. Dia sudah selesai dandan, sudah foto-foto dengan hasil make up nya. Uwuw cantik dong. Sekalian lah saya tanya-tanya dia pake MUA siapa, vendor mana, dsb. Persiapan juga buat pernikahan saya nanti, hehe.

pernikahan sahabat


Usai keluar dari kamar rias, ia disuruh duduk di kursi pelaminan. Acara akadnya belum dilangsungkan. Rencananya mau lamar nikah dulu. Enggak berapa lama kemudian, pengantin prianya datang. Sohib saya itu langsung masuk ke kamar pengantin, bersama saya, haha. Kan enggak tega kalau dia ada di kamar sendirian. Ya saya temani lah. Sementara itu, di dalam ruangan sedang dilangsungkan acara lamar nikah.

Enggak berapa lama kemudian, dia dipanggil untuk menjawab pertanyaan ‘bersediakah menerima lamaran nikah tersebut?’. Sementara, saya masih terjebak di dalam ruangan. Buset daaah.

Acara lamar nikah pun usai, saya keluar kamar. Akan dilangsungkan akad nikah. Rencananya sih akadnya di rumah aja. Tapi mendadak Jumat kemarin ada himbauan bahwa akad wajib dilangsungkan di KUA. Ya Mama dan sohib saya ini sedih, pengennya akad di rumah aja, tapi ya gimana, masa’ enggak jadi nikah.

nikah darurat di kua

Si pengantin perempuan pengennya stay di rumah aja ya, biar pengantin prianya yang ke KUA, tapi tandatangannya nanti gimana? Ya sudah, mereka berdua cus ke KUA naik elf. Jumlah orang yang menemani dibatasi hanya 6 orang. Saya enggak ikut deh, mengalah saja.

Lah kok mendadak mau hujan. Akhirnya saya menyusul naik sepeda motor untuk mengantarkan payung. Dekat sini kok KUA-nya. Kan kasihan kalau pengantinnya kebasahan kena hujan.

Akad nikah dilangsungkan di aula yang berada di lantai 2. Saya turut menyaksikan. Saksi nikahnya adalah adik kandungnya. Ayahnya memang masih ada, tapi sedang di Jakarta, mengirimkan surat kuasa, yang dikuasakan kepada adiknya.

Alhamdulillah acaranya berlangsung lancar. Yeeeey, sudah sah jadi istriiii.

seserahan nikah

Kami semua kembali ke rumah. Foto-foto. Salam-salaman. Yang datang hanya saudara kerabat dekat. Tidak mengundang banyak orang untuk menghindari kerumunan massa. Saya sih, meski datang sendirian, tapi kan akrab sama adik dan Mamanya. Jadinya enjoy-enjoy aja dan betah stay di sana sampai jam setengah 4 sore.

Pulangnya, saya dibawain sekotak kue dan nasi kuning yang enak banget. Alhamdulillah

Buat sohib aku…. Selamat berbahagia ya sudah menjadi istri. Akhirnya menemukan pelabuhan terakhir yang akan bisa banget membimbingmu menjadi istri yang baik. Juga, semoga kamu dan suami dimampukan untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Aamiin..

Wassalamualaikum wr wb
Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

9 komentar untuk "Ambil Uang Pensiun Hingga ke Pernikahan Teman"

  1. wah kak.... keluar rumah yah. Ya wes... kalau memang dibutuhkan harus tetap melaksanakan anjuran pemerintah kak.
    Kulihat ada beberapa yang harus dilakukan lho kak supaya tetap sehat dan terhindar dari corona
    1. Physical distancing, ngga boleh deket deket ama temennya hehehehe
    3, kudu pake masker kemanapun sekarang.
    jangan lupa ganti baju dan mandi ya kak, biar ngga jadi carier
    tetep sehat dan semangat

    BalasHapus
  2. Aku selama masa physical distancing gak ke mana-mana samsek. Di rumah terus sudah setengah bulanan ini. Hahaha. Suami yang keluar beli ini-itu atau urusan lain.
    Btw selamat yaa buat temennya Kak Ros. Semoga kak Ros juga lekas menyusul dalam sikon yang lebih baik. Aamiin :)

    BalasHapus
  3. Sehat-sehat semuanya meski kondisi kaya gini. Banyak yang akhirnya menunda nikah dan kemarin yang mau daftar juga enggak diizinkan dulu. Jadi selamat yang sudah menikah

    BalasHapus
  4. sedih juga yaa nikah di zaman covid-19 ini nggak bisa sesuai keinginan, tapi yang penting udah nikah. btw aku ingin juga punya pageview 4000 sehari dan belajar seo ajarin dong

    BalasHapus
  5. setidaknya jadi punya waktu lebih buat sama keluarga ya, kaya aku yang jarang banget di rumah. Wabah ini kaca tamparan huhuhu

    BalasHapus
  6. Lihat di TV ada beberapa acara nikahan yang dipaksa untuk dibubarkan karena pandemi virus ini gak memperbolehkan kerumunana masa.
    BTW selamat atas pernikahan temannya ya, Mbak

    BalasHapus
  7. Semangat lagi kaaaak ayooo hihihi, ternyata proses ambil uangnya nggak ribet juga yaa. Good luck juga untuk tesisnya jangan lupa dicicil hayuuuk :D

    BalasHapus
  8. Seneng banget baca cerita produktifmu, Rhoos...
    Dan seneng yaah...masih bisa berkumpul bersama orang-orang terkasih.
    Aku di sini, ketemunya anak-anak dan suami, sama tetangga depan rumah. Itupun lewat jendela.
    Heuuheuu~

    Kangen halan-halan.

    BalasHapus
  9. Ini namanya sekali dayung dua pulau terlewati. Nemenin Uthi plus ke pernikahan teman. Semangat banget ya mba.

    BalasHapus