Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kebaikan Berbagi, Tak Melulu Soal Materi

Assalamualaikum wr wb

Paradigma mengenai uang, waktu, dan tenaga untuk masing-masing usia, ternyata benar adanya. Saya merasakannnya. Orang-orang bilang, anak muda mempunyai banyak waktu dan tenaga, namun tidak banyak uang yang dimiliki.

Sedangkan orang dewasa mempunyai banyak uang dan tenaga, namun tak banyak memiliki waktu karena terlalu sibuk. Sementara, orang yang sudah tua, memang sudah memiliki banyak uang dan waktu, namun tidak ada lagi tenaga yang tersisa.

Semua terasa begitu adil dalam kehendak semesta. Lalu kita hanya bisa memaksimalkan apapun yang dismiliki.

Mau Berbagi Apa di Kota Rantau?

Seperti saya, yang saat kuliah S1 enam tahun silam. Saya bingung banget, mau berkontribusi apa di kota rantau, Jember?

Kota ini terbilang cukup maju di Jawa Timur khususnya bagian timur. Pembangunan perkotaan di sini cukup cepat. Sayangnya, cepatnya pembangunan seolah tak berlaku di kawasan pedesaan. Baru keluar dari wilayah Kota Jember saja, bangunan dan kebiasaan masyarakat telah berbeda jauh, amat kontras.

Mirisnya saat saya menginjakkan kaki di kota ini, saat itu pula Jember dinyatakan sebagai kota dengan tingkat buta huruf tertinggi kedua di Jawa Timur. Sedih banget. Padahal, di sini ada universitas negeri, salah satu yang terbaik di Pulau Jawa, tempat saya menimba ilmu.

Dengan kenyataan seperih itu, saya tidak bisa diam saja tanpa melakukan apa-apa.

Namun, apa yang bisa saya berikan? Ingin menyumbang uang atau materi, tapi enggak mungkin. Saya enggak punya uang. Duit pas-pasan. Maklum, anak kosan. Otak bisnis juga belum muncul saat itu.

kebaikan-berbagi

Berbagi Waktu dan Tenaga yang Dimiliki

Lalu saya teringat sesuatu. Masih ada dua modal lainnya, yaitu waktu dan tenaga. Anak kuliahan itu enggak sibuk-sibuk banget kok sebenarnya, asalkan bisa mengelola waktu dengan baik.

Soal tenaga, tentu mahasiswa yang notabene anak muda, memiliki tenaga yang berlebih. Kalau soal semangat, jangan ditanya ya. Pasti semangat 45!

Lantas, muncul pertanyaan baru: Apa sarana yang bisa mewujudkan kontribusi saya untuk Jember dengan bermodalkan waktu dan tenaga?

Jawaban yang terbersit kala itu cuma satu, yaitu pengabdian.

Saya mencoba mencari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang bisa menyalurkan hasrat saya. UKM itu adalah Universitas Jember Mengajar (UJAR). Sebuah wadah mahasiswa untuk mengajar dan mengabdi di  berbagai SD pelosok Jember.

Alhamdulillah saya tergabung di UJAR dan menjadi Sobat Pengajar angkatan 3. Saya senang sekali karena bisa mendapatkan kawan-kawan baru yang sehati, sepemikiran, dan amat tulus.

Saya juga mendapatkan kesempatan untuk terjun ke berbagai SD di pelosok Jember, guna berbagi ilmu dan semangat kepada adik-adik. Jelas ini merupakan kesempatan emas buat saya. Amat berharga.
unej-mengajar

Keindahan Sejati dari Berbagi

Tidak gampang bertemu dengan adik-adik di pelosok. Kami harus melewati medan yang cukup ekstrem. Umumnya jalannya berupa tanah liat yang sulit diakses. Tak jarang, kami harus menuntun sepeda motor ke tempat aman, lalu berjalan sekitar 2-3 km untuk sampai lokasi.

Apalagi bila masuk musim penghujan, maka tak jarang kami jatuh terseok-seok karena jalanan terlalu licin. Seringnya, kami tiba di sekolah dengan keadaan celana dan sepatu yang penuh cipratan lumpur.
unej-mengajar

Memang lelah di perjalanan, tapi langsung terbayar tunai saat tiba di sekolah. Teriakan adik-adik begitu hangat, membuyarkan segala lelah.

“Kak Rosa… Kak Rosa… Kak Rosa sudah datang…” teriak adik-adik yang bagai menemukan sebongkah emas.

Teriakan rindu mereka seolah membuat saya seketika melupakan sulitnya perjuangan menerjang hujan barusan. Saya peluk mereka, bagai memeluk impian di depan mata. Merekalah yang akan menjadi penerus bangsa ini 10-20 tahun ke depan. Di pelupuk mata mereka, terpancar masa depan Indonesia.
unej-mengajar
Bel sekolah berbunyi, saya ajak adik-adik masuk ke kelas. Kami saling sapa, mengenal, dan bertukar cerita. Saya berbagi cerita tentang pengalaman yang tentu di dalamnya terselip materi pelajaran sekolah.

Sementara, adik-adik berbagi cerita mengenai kesehariannya di rumah. Cerita kesehariannya memang sederhana. Namun, cara pembawaan mereka membuat saya tertawa dan sangat menghibur.

Tak jarang, mereka juga berbagi makanan dengan kami. Memang sederhana, tetapi berarti buat kami karena mampu menambah energi untuk tetap semangat mengajar. Enggak munafik juga, makanan yang mereka tawarkan menjadi sesuatu yang dirindu untuk kembali hadir pekan depan.

Kami terus datang ke berbagai SD dengan memberikan apa pun yang kami punya. Tak hanya pelajaran, melainkan hal-hal lain, seperti keterampilan komputer, kelas pramuka, kelas teater, bahkan Penyuluhan Hidup Bersih Sehat (PHBS). Apapun yang kami bisa, akan kami beri.
unej-mengajar

Selain itu, kami juga mengadakan pentas seni setiap akhir tahun. Tujuannya untuk mengasah bakat adik-adik, sekaligus memberi kesempatan mereka untuk tampil di atas panggung. Tak disangka, mereka mampu memberikan penampilan terbaiknya.

Sungguh menakjubkan. Mata kami berkaca-kaca menyaksikan penampilan mereka. Ternyata anak desa bisa sehebat ini ya.
unej-mengajar

Ajak Kawan Baru, Sebarkan kebaikan

Saya pun tak rela kebahagiaan ini hanya dinikmati seorang diri. Teman-teman saya harus merasakan bagaimana nikmatnya berbagi apa pun yang kita miliki. Menebar kebaikan dengan mereka yang mengharap kedatangan kakak-kakak mahasiswa.

Praktis, saya langsung mengajak Lely dan Siti, teman sekelas kala kuliah. Mereka amat antusias saat bertemu adik-adik. Bisa ngobrol, bermain, seru-seruan, juga bercanda tawa.

“Ternyata asyik ya, Kak Ros, main sama adik-adik. Adik-adiknya lucu. Bisa ngilangin stres,” kata Siti sesaat bertemu adik-adik.

Betul yang dia katakan. Bagi saya, adik-adik ini adalah pelepas lelah dari setumpuk problematika perkuliahan. Satu hari bersama mereka adalah obat pereda stres usai 5 hari berjibaku dengan tugas kampus.
unej-mengajar
Hal yang lebih membahagiakan adalah, kedua kawan saya ini merasa candu untuk bertemu adik-adik di SD. Mereka menceritakannya kepada teman-teman sekelas. Wuah, teman-teman sekelas juga pada antusias, dong.

Mereka pun menyatakan ingin bergabung dengan UJAR. Sayang, mereka tidak bisa mewujudkan keinginan itu. Untuk bergabung dengan UJAR, ada syarat tertentu yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah maksimal studi semester 4. Sementara, kami waktu itu sudah memasuki jenjang semester 5.

Teman-teman sedih, tetapi tidak berlangsung lama. Saya menawarkan mereka untuk bergabung dengan komunitas lain, yaitu Mahasiswa Penyayang Kanak-kanak (Swayanaka) yang fokusnya juga di bidang pengabdian dan pengajaran. Tidak ada batas usia di sana dan persyaratannya lebih mudah.

Saya pikir cuma 3-5 orang saja yang tertarik bergabung ke komunitas tersebut. Ternyata ada 14 dari 28 mahasiswa di kelas yang tertarik gabung ke komunitas Swayanaka. Uwaaaa, keren banget. Jadi, di kelas ada 15 relawan.

Bagaimana Indonesia enggak optimis kalau mahasiswanya sepeduli ini untuk mengabdi di pelosok-pelosok desa sejak dini?
unej-mengajar

Kebaikan Berbagi Itu Banyak Wujudnya

Saya pikir, pengalaman mengajar dan mengabbdi itu hanya akan jadi cerita untuk diri sendiri. Namun, ternyata tidak. Banyak orang yang ternyata tertarik dengan kisah semacam itu. Mereka ingin tahu bagaimana indahnya mengabdi, serunya mengajar, dan bahagianya berbagi kebaikan.

Terakhir kali, saya diminta membawakan materi mengenai istiqomah dalam mengajar dan mengabdi. Materinya cukup berat, saya harus mengulik lebih dalam mengenai alasan saya mampu istiqomah mengabdi hingga kini.

Alasan saya mampu istiqomah selama ini adalah motivasi dan niat yang kuat. Saya ingin berkontribusi kepada negeri ini. Apabila suatu hari kejenuhan datang, saya pun kembali mengingat niat awal. Betapa saya harus memberi sumbangsih untuk negeri melalui apa pun yang saya miliki.

Juga mengingat mata berbinar anak-anak yang penuh harap akan kedatangan kami. Dengan mengingatnya, saya bisa langsung bangkit dari tempat tidur untuk bersiap datang menemui mereka.

Kesempatan untuk berbagi cerita itu pun menjadi sarana ampuh bagi saya untuk menebar kebaikan sekaligus. Hanya dengan berbagi cerita, akan banyak orang yang terinspirasi. Belum lagi, bila seseorang meneruskan langkah pengabdian kami. Sejatinya, efek domino akan terjadi.
unej-mengajar

Mari Berbagi Apapun Yang Dimiliki

Menebar kebaikan yang dilakukan secara berantai hingga mampu menyejahterakan umat, ini nyata adanya. Di Indonesia, ada wadah besar yang mampu mengumpulkan seluruh kebaikan rakyat Indonesia, yang dikelola secara masif, komprehensif, dan amanah.

Kita pasti mengenalnya, yaitu Dompet Dhuafa. Mereka telah menebar kebaikan dan membentangkan harapan kepada lebih dari 21 juta penerima manfaat selama 27 tahun terakhir.

Dompet Dhuafa adalah lembaga filantropi dan kemanusiaan untuk pemberdayaan umat (empowering people) dan kemanusiaan (humanity) melalui dana ZISWAF dan dana sosial lainnya yang dikelola secara modern dan amanah. Mereka berikhtiar untuk mengangkat harkat sosial kaum dhuafa melalui penyaluran ziswaf dan dana lainnya secara halal dan legal.

program-dompet-dhuafa


Hebatnya, Dompet Dhuafa tidak sekadar memberi kepada kaum dhuafa, melainkan memberdayakan. Mereka mengajak kaum dhuafa untuk mampu memberdayakan dirinya sendiri dengan dibantu dan dibimbing oleh Dompet Dhuafa.

Istilahnya, tidak hanya memberi ikan, tetapi juga memberi kail. Mereka melatih para mustahik (penerima zakat) agar mampu bertahan, bahkan berpindah menjadi muzakki (pemberi zakat).

Dompet Dhuafa, sebagai perpanjangan tangan kita untuk menyampaikan ziswaf, akan berusaha sebaik-baiknya untuk mempermudah kita dalam berbagi. Seiring kemajuan teknologi, maka penyaluran zakat akan dipermudah.

Kita bisa melakukannya secara online kapan saja dan di mana saja, sehingga kita tidak akan melewatkan kewajiban memberi zakat fitrah saat Ramadhan. Selain itu, kita juga dibantu untuk menentukan jumlah zakat mal yang wajib kita tunaikan dengan fitur Kalkulator Zakat.

cara-menggunakan-dompet-dhuafa

Kita bisa berbagi kebaikan dengan cara apa saja, bisa dengan materi, tenaga dan waktu. Apapun yang kita miliki, mari dimaksimalkan. Sebab, suatu saat nanti akan diminta pertanggungjawabannya mengenai segala yang kita miliki.

Jika yang dipunya materi, ya silakan disalurkan ke kaum dhuafa di sekitar rumah, atau bisa juga langsung disalurkan melalui Dompet Dhuafa. Kalau hanya memiliki tenaga dan waktu, ya bisa dengan cara melakukan pengabdian seperti yang saya lakukan sejak beberapa tahun silam.

Yang jelas, berbagi itu bisa dengan apa saja dan cara apa saja. Perlahan, kita pasti akan menerima kebaikannya. Sebab, kebaikan berbagi itu nyata adanya. Dan mari kita mulai berbagi dari diri sendiri.

Wassalamualaikum wr wb


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”
lomba-blog



Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

28 comments for "Kebaikan Berbagi, Tak Melulu Soal Materi"

  1. benar sekali, saya juga sering mengkampayekan itu, salah satu berbagi tak melulu materi, yang saya contohkan adalah dengan donor darah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuah iya, bisa melalui donor darah juga
      sumbangan darahnya menyelematkan orang lain,
      juga secara langsung menyehatkan kita

      Delete
  2. perjuangan luar biasa demi sesama, banyak banget sodara sodara kita yang selama ini agak kita asingkan karena lokasi yang jauh dan untuk bantuan kadang masih dilewatkan begitu saja karena minimnya informasi yang mereka terima juga.

    ngikut kegiatan seperti ini seru, kalau temen temen posting kegiatan mengajar di jember jadi pengen ikutan juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak mbak di Jember. Seperti Tanoker, Kampoeng Batja, Swayanaka, Berbagi Happy, dll
      Samean mah tinggal milih aja komunitas yang cocok yang mana
      ayo mbaaak ikuuut

      Delete
  3. btul, aku juga kalau uang, sangat paspasan, seadanya, cuma kalau lain2 hayuuk ajaa siaaap!

    ReplyDelete
  4. Seru banget sih kak program dr UJAR nya, jadi pengen ngajar2 gt juga. Menarikkkkk

    ReplyDelete
  5. Dompet Dhuafa ini keren sekali ya. Kegiatannya sangat membantu masyarakat yang membutuhkan. Semoga berkah dan semakin banyak org yg tersentuh untuk berdonasi.

    ReplyDelete
  6. aku setuju banget sih kak, ngga cuman melulu materi sih, bisa juga lewat ide dan tenaga. Menjadi guru dan pengajar adalah salah satu pekerjaan mulia ya kak.
    Jika emang ada materi lebih bisa melalui zakat. Menebar kebaikan bisa bisa lewat apa saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuah iya, bisa ide juga
      bisa menyampaikan ide gagasan yang disalurkan lewat media apapun, bisa juga melalui rapat atau musyawarah desa ya

      Delete
  7. Berbagi yang bukan materi itu pas banget untuk mahasiswa. Waktu dan kreativitas bisa disumbangkan untuk masa depan anak, terutama yang jauh dari kesempatan yang terbuka luas ya Mbak.

    ReplyDelete
  8. aku suka sekali sama konsepnya Dompet Dhuafa. Beberapa kali dundang ke event nya dan masih selalu amazed. Berbagi memang tak selalu soal materi ya. apa pun kemampuan yang kita miliki, insya Allah akan bermanfaat untuk kebaikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, DD ini gak cuma memberi, tapi memberdayakan juga

      Delete
  9. Kak Ros keren 🥰 bisa jadi motivasi Eny nanti biar lebih memanfaatkan apa yg kita punya bahkan apa yg bisa kita beri tak hanya materi untuk orang banyak .

    ReplyDelete
  10. Wah keren mbak, baru tau Universitas Jember ada relawan2nya buat ngajar gtu. Dulu kyknya gk ada apa ya, hehe. Justru dengan jd relawan gtu tambah pengalaman dan tahu bagaimana terjun ke masyarakat atau kondisi sebenarnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang di tiap2 univ udah ada kok
      Alhamdulillah makin banyak

      Delete
  11. Dulu komunitasku pernah kolaborasi sama DD ini, untuk galang dana. Dan memang semua tim DD mengelolanya dengan sangat baik ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuah asiknyaaaaaa
      pengen deh kerjasama dengan DD

      Delete
  12. Asyik bgt ka Ros, sekali kalau berbagi kebaikan dengan apapun yang kita bisa memang jadi menjadi candu yah dan hidup bukan tentang diri sendiri saja. Kebaikan menular itu menang benar adanya :3

    ReplyDelete
  13. Menarik, Kak Ros. Memang banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk menebar kebaikan ya. Salah satunya mengajar, apa lagi dengan anak-anak, pastinya seru. Semoga kita semua senantiasa diberikan semangat, kesehatan, dan rezeki untuk menebar kebaikan. Aamiin.

    ReplyDelete