Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengalaman Lebaran di Tengah Pandemi

Assalamualaikum wr wb

Lebaran kali ini amat berbeda. Sebab, kita harus merasakan berlebaran di tengah pandemi. Merayakan hari raya idulfitri dalam keheningan, tanpa ada petasan atau riuh ramai seperti biasanya.

Enggak pa-pa... Sepertinya kita perlu sesekali merasakan berlebaran dengan hikmat, tentram dan penuh ketenangan. Alhamdulillah...

lebaran-di-tengah-pandemi


Sholat Idul Fitri di Masjid Dekat Rumah

Ibu pengen banget ngerasain sholat id di masjid atau lapangan terbuka. Biasanya kan sholat id di lapangan terbuka, yaitu Stadion Semeru. Tapi kayaknya enggak ada deh tahun ini. Jadinya kami cari alternatif lain.

Ternyata Ibu dapat informasi bahwa ada masjid yang tak jauh dari rumah, mengumumkan bahwa mereka menyelenggarakan sholat id. Wuah, boleh juga nih.

Kami sempatkan untuk cek ke lokasi. Karena kami enggak pernah ke sana. Juga, masjidnya agak masuk ke gang.

Hmm, masjidnya recommended. Seru. Di wilayah tebu-tebuan. Milik SMK swasta.

Pagi itu, cuaca amat cerah. Sepi, Juga terasa banget, bahwa angin tak berhembus. Suasana pagi itu tenang sekali.

Kami naik motor saja untuk sampai lokasi. Saya bersama Ibu. Adek bersama Ayah. Sementara, Mbah Uti di rumah aja. Baik-baik di rumah.

Setibanya di masjid, Alhamdulillah tidak terlalu ramai jamaah. Tapi padat juga isinya. Namun tidak sampai meluber ke teras masjid atau ke jalan. Semuanya cukup berada di dalam 1 ruangan yang berukuran 15x15 m.

Imam meminta kami untuk merapatkan shaf. Oke, berarti beliau tidak mengikuti anjuran pemerintah untuk physical distancing.

Ternyata benar saja. Saat memberikan khotbah, beliau sempat bilang bahwa "kata orang pinter..." yang selanjutnya menjurus kepada ketidakpatuhan mengenai anjuran pemerintah untuk physiscal distancing,

Katanya, kita tuh tetap sehat karena rajin berwudu. Berjabat tangan itu enggak papa karena badan kita sehat, apalagi bersalaman dapat menggugurkan dosa-dosa.

Jadi, yaa... begitulah. 

Pulang-pulang, Adek ngomel-ngomel. Enggak mau sholat id di sana lagi. Hahaha.

Sungkeman ke Ayah Ibu dan Mbah Uti

Seperti biasanya, tradisi maaf-maafan. Harus urut. Dari Ibu ke Ayah. Lalu saya ke Ayah, ke Ibu. Lalu Adek ke Ayah, ke Ibu, lalu ke saya.

Maaf-maafannya dilakukan saat Ayah memasuki rumah, hohoo... 

Usai itu, kami langsung menuju ke Mbah Uti. Sungkem. 

Saya sudah menyiapkan kata-kata permintaan maaf pakai Bahasa Jawa. Tapi pas ngomongnya, salah karena enggak hafal. Hahaha. Diketawain Ibu dan Mbah Uti.

Selanjutnya Adek sungkem ke Mbah Uti. Minta maafnya pake Bahasa Inggris. Halah, Mbah Uti kan enggak ngerti. Akhirnya pake bahasa jawa ngoko kayak biasanya.

Makan Ketupat, Lontong dan Opor

Selanjutnya, kami makan ketupat, lontong dan opor. Ketupat dan lontongnya dikasih orang-orang, tetangga dan saudara-saudara. Kalau opornya, Ibu bikin sendiri.

Tapi pagi itu, saya makan sarden, haha. Bosen makan ayam-ayam melulu. Tapi beberapa jam kemudian, saya makan opor sih, nyobain, hehe.

ketupat opor lontong

Saudara dari Tempeh Datang

Saya pikir, Bude Kis dan saudara dari Tempeh tuh datangnya agak siangan, sekitar jam 10-an. Eh ternyata jam setengah 8 udah pada datang.

Ada Bude Kis, Pakde Joko, Mbak Angel, Pakde Jarot, Mas Yudis dan Mbak Angel. Enggak ada Fatim dan Shanum yang ikut karena ternyata mereka menginap di Pasrujambe.

Ini kali pertama Pakde Jarot, Bude Mi dan Mas Yudis datang ke rumah, setelah sekian lama, semenjak Mbah Uti ada di rumah kami. Enggak tahu sih perasaan mereka bagaimana. Hmm ya begitu lah.

Kami ngobrol-ngobrol asyik di kasurnya Mbah Uti. Ngeramein di sana. Sesekali, kami juga video call saudara-saudara, untuk sambung silaturahim. Silaturahimnya virtual aja.

saudara datang saat lebaran

saudara datang saat lebaran

Sesi Foto Bareng

Seperti biasa, kami juga foto-foto bareng. Yang paling mendominasi, tentu saya dan Mbak Angel.

lebaran saat corona

lebaran saat corona

lebaran saat corona


Sekitar jam 10, mereka pulang. Soalnya ada Fatim dan Shanum datang ke Tempeh.

Saudara-Saudara Datang ke Rumah
Baru leyeh-leyeh sebentar, datanglah Pakde Agus, Bude Fik dan Mas Roy. Ini kali pertama Pakde Agus menjenguk Mbah Uti semenjak ada di rumah. 

Lama juga Pakde Agus enggak datang ke rumah. Agak pangling gitu pas ke rumah. Ngitung jumlah sepeda yang ada di rumah, hahaha.

Selanjutnya, datang rombongan keluarganya Om Eko. Rame yang datang. Alhamdulillah. Saya bingung dong, kerepotan sedikit bikin minuman. Cuacanya panas, jadinya bikin es aja biar seger.

Saudara-saudara pada datang ke rumah, karena mau jenguk sesepuh. Ya memang ada covid 19 sih, tapi kami Inshaa Allah saling menjaga dengan menerapkan protokol kesehatan semampu kami.

Foto Penutup Sebelum Tidur Siang
Siang itu, Ibu ganti pakaian yang nyaman. Kami juga menyempatkan foto. Foto ala kadarnya. Seadanya. Yang penting foto bareng.

foto keluarga lebaran

foto keluarga lebaran

Setelah itu, kami tidur siang pulas banget. Alhamdulillah...

Mohon Maaf Lahir Batin

Btw, selamat merayakan lebaran ya teman-teman... Maaf lahir batin. Maafin saya karena sering salah dalam menulis atau karena hal-hal yang menyinggung teman-teman.

Semoga kita bisa saling memaafkan dan sama-sama mendapatkan berkahnya yaa... Aamiin...

Wassalamualaikum wr wb

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

4 comments for "Pengalaman Lebaran di Tengah Pandemi"