Review Jujur Novel Dilan Iqbaal Ramadan


Assalammualaikum wr wb

Baru saja saya selesai membaca novel Dilan yang kedua. Ada rasa lega yang menyelimuti, namun juga ada rasa penasaran yang menjangkiti. Pun juga ada pelajaran yang diambil. Tentunya juga mendapatkan oleh-oleh contoh candaan yang bisa dipraktekkan kapanpun dan dimanapun.
review buku dilan

Awal Mula Ketemu Dilan

Awal mula saya mengenal Dilan adalah ketika saya menemukannya berjajar rapi di rak toko buku yang paling rame se-Indonesia. Judulnya unik. Dilan. Taglinenya juga unik. Dia adalah Dilanku tahun 1990. No itu bercover anak muda berseragam SMA. Dari sekelebatan bayangan saja, sudah jelas akan menceritakan tentang kisah anak SMA pada tahun 1990.

Jauh beberapa waktu yang lalu, teman baik saya yang tingkah dan kesukaannya cukup unik: Vita, pernah memposting beberapa foto di facebooknya. Ia berfoto dengan Pidi Baiq. Tiba-tiba dahi saya mengernyit, siapa itu Pidi Baiq? Kok si Vita bahagia banget foto sama Pidi Baiq?

Vita bilang, "Vokalisnya The Panas Dalam". Hmmm... The Panas Dalam itu siapa lagi?

Vita nggak cerita, kalau Pidi Baiq itu seorang penulis buku. Vita hanya bilang, "Mbak, udah baca novel Dilan?" Ya saya jawab belom laaaah, dan rencananya berniat untuk pinjam. Lalu percakapan itu terlupakan dan tenggelam.
review buku dilan
Chat facebook dengan Vita, dua tahun lalu

Ngepoin Novel Dilan

Eh njilalah, di timeline instagram, orang-orang pada rame membahas Dilan. Iya, Dilan jadi viral. Terlebih lagi menjelang diluncurkannya film Dilan, yang diawali dengan launching pemeran tokoh-tokoh Dilan.

Bermodalkan wifi yang bisa dinikmati sambil selonjoran di kasur, saya kepoin akun-akun yang membahas Dilan. Diskrol mulai atas sampai bawah. Pun sampailah saya ke Pidi Baiq, penulisnya. Akhirnya saya mengenalinya, walau hanya lewat stalking instagram.

Di akun-akun yang menjadi fans garis keras Dilan, saya mendapati banyak komentar yang bertanya-tanya tentang hubungan antara Dilan dan Pidi Baiq. Apakah Dilan itu Pidi Baiq saat SMA? Mempertanyakan Dilan, pastinya pertanyaan tentang Milea akan membuntuti: Apakah Milea asli itu ada? Lalu bagaimana kabarnya sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi misteri sampai saat ini. Tentunya menjadi misteri bagi mereka-mereka para pengagum Dilan.

Pinjam Nove Dilan

Sejujurnya, saya ini jarang banget beli novel. Untuk bacaan hiburan, sepertinya saya hanya punya 2, yaitu buku karangan Ariel-Uki-Lukman-Reza-David yang berjudul Kisah Lainnya dan buku karya Hanum Salsabila Rais yang berjudul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Sudah, hanya itu saja yang saya miliki. Selebihnya saya diberi oleh kawan-kawan.

Memang, pada dasarnya, orang tua nggak mau membelikan saya buku bacaan hiburan. Pun saat SD, saya diberinya buku ensiklopedia lucu-lucu. Tapi semuanya berhenti sejak kelas 3 SD, saya nggak mendapati buku-buku baru. Kalau ke toko buku, saya memilih buku bacaan hiburan tersebut, pasti nggak dibolehin, justru disaranin buat beli buku yang berkaitan dengan pelajaran. Yaaaa... saya nurut.

Namun, untuk memuaskan hawa nafsu yang ingin membaca buku-buku hiburan, saya selalu mendapatkannya dari perpustakaan. Saat SD, saya pinjam ke perpustakaan sekolah. Saat SMP, saya pinjam ke TBM (Taman Baca Masyarakat) yang lokasinya nggak jauh dari rumah saya. Saat SMA, bacaan saya ganti, yaitu blog, hahaha.

Nah, kebetulan nih, kawan baik saya: Acil, yang punya blog damargumilar.com baru saja membeli novel Dilan. Dia menyelesaikan novel Dilan sampai khatam.

Wuah kesempatan emas nih, bolehlah saya pinjaaam... Akhirnya, melalui hujan badai dan segala dramanya, sampailah novel Dilan itu ke tangan saya. Alhamdulillah...

Review Novel Dilan

Saat hendak membaca Dilan, saya menyimpan sebuah pertanyaan teramat besar, yaitu: apa hal menarik pada Dilan yang membuat orang-orang menyukainya?

Wuaw, ternyata... latar belakang Dilan yang seorang pengendara geng motor berjuluk panglima tempur itulah yang menjadi daya tarik si Dilan. Seiring berjalannya waktu, kita akan mendapati bahwa hmm... cara-cara Dilan mengungkapkan isi hatinya itu antimainstream. Acara di TV yang berjudul "Katakan Cinta" (jaman dulu) dan "Melamar" kalah telak deh. Ide-idenya nggak semainstream Dilan.

Ya gimana si Milea nggak luluh hatinya ya kalau cara-cara Dilan memperlakukannya selalu istimewa. Istimewanya dalam bentuk perilaku dan kata-kata. Aiiiih, pokoknya gombalannya beda. Saya pun pengen punya Dilan juga 😆

review buku dilan
Gombalan Dilan yang nggak recehan (sumber gambar)

Tokoh yang saya suka dari Dilan adalah bundanya Dilan. Bukan berarti saya pengen punya Ibu seperti Dilan, bukaaaaan. Justru sifat-sifat Bunda Dilan dalam menyikapi anak-anaknya yang banyak itulah yang menjadi salah satu panutan saya. Cara-cara Bunda Dilan dalam menghadapi anaknya, menjadi bekal buat saya apabila saya menghadapi anak-anak nanti, siapapun itu.

review buku dilan
Yang tengah itu berperan sebagai Bunda Dilan (sumber gambar)

Yang saya nggak suka dari novel Dilan pertama adalah terlalu banyak adegan percakapan. Kayak gimana gitu kalau didominasi oleh percakapan. Namun ternyata, ketidaksukaan saya itu terjawab di novel Dilan kedua, bahwa Milea memang suka banget mencecar Dilan untuk bicara dan nyeletuk terus. Okey, saya paham.

Membaca novel Dilan kedua... banyak hal-hal yang mengagetkan saya. Utamanya tentang Dilan yang seserius itu dengan geng motornya. Sumpah, serius banget. Bahkan, ia lebih menomorsatukan geng motornya daripada Milea, pacarnya yang ia taklukkan dengan susah payah.
review buku dilan

Entahlah. Dilan pun sampai bela-belain masuk penjara. Eh, lah kok ternyata masuk penjara lagi. Pun rela keluar dari sekolah. Subhanallah... segitunya ya...

Ya tentu Dilan punya alasan kuat untuk itu. Ia akan menjaga harkat, martabat dan kerhormatan keluarganya sampai mati. Tak hanya keluarganya Dilan saja, melainkan keluarga para anggota geng motornya. Wuaw, salut deh kalau alasannya ini.

Yang saya nggak suka dari novel Dilan kedua adalah kisah Akew yang tiba-tiba meninggal. Maksud saya, mbok yo diceritain dulu gitu sekilas tentang Akew. Atau hmm sayanya aja ya yang bacanya terlewat, mungkin.

Sejak awal membaca novel, saya sudah menata hati terhadap kisah akhir novel ini. Saya berharap bahwa Milea akan sama Dilan terus. Namun saya juga sudah bersiap-siap menata hati bahwa Milea belum tentu sama Dilan. Saya sudah ikhlas, hahaha...

Sebenarnya, saya sih menyesal baca novel Dilan kedua, hahaha. Seharusnya saya cukup membaca novel Dilan yang pertama saja, karena happy ending, hehehe...

Namun dari kesemuanya itu, saya suka banget novel Dilan. Saya merekomendasikan Dilan untuk dibaca oleh kaum pria. Mengapa? Karena jurus-jurus menaklukkan wanita ada di situ. Juga hmm... perasaan dag dig dug ser atau hal-hal yang bikin perempuan kesel, sudah tergambar jelas di situ. Jadi, novel Dilan juga bisa menjadi sarana memahami wanita yang penuh drama.

Film Dilan

Kabar istimewa lain yang udah menjadi rahasia umum adalah bahwa Dilan akan difilmkan. Yey 💃 Apalagi yang memerankan adalah Iqbaal Dihafakri. Duh laaaaah, keren banget. Kece parah. Aktor lainnya juga keren-keren, cakep-cakep, hmmm... brondong....

Misteri Dilan

Hal seru lainnya tentang Dilan adalah apakah Pidi Baiq adalah Dilan yang sebenarnya? Banyak fakta-fakta yang beredar di akun gosip spesial Dilan, yang menyama-nyamakan Dilan dengan Pidi Baiq jaman baheula. Fakta-fakta itu memang serupa nyata sih, tapi yaaa masa lalu tetaplah yang punya adalah Pidi Baiq. Kita mah apa, cuma tukang kepo pengagum Dilan.

Eh nggak hanya Dilannya yang dikepoin loooh. Teman-teman gengsternya Dilan, juga pada dicariin tuh. Dicariin instagram aslinya, dicariin foto jadulnya, yang ternyata hmm... sedikit-sedikit mirip dan ada kesamaan lah yaaa...

review buku dilan
Anhar dan Akew yang cakep paraah 😆 (sumber gambar)

iiiih membahas Dilan dan misteri tentang keaslian kisah Dilan itu memang seru dan menyenangkan. Bikin greget parah. Hahahaha

Wassalammualaikum wr wb 

2 Comments

  1. Wah, fotone..
    Dadi kelingan biyen pas stalking ng IG sedurunge kenal.. hohoho

    BalasHapus