Mengapa Takut Menikah, Ini 7 Alasan Orang Takut Menikah

Konten [Tampil]

Assalamualaikum wr wb

Menyambung tulisan saya sebelumnya, mengenai Apakah takut menikah itu wajar? Maka kali ini saya akan merangkum alasan orang-orang takut menikah. Iya, banyak yang takut menikah. Dan itu wajar kok. Asalkan kita bisa mengontrol perasaan takut itu.

Alasan Wanita dan Laki-Laki Takut Menikah

Ternyata banyak orang yang takut menikah. Alasan mereka bermacam-macam. Kali ini saya akan menguraikan alasan-alasan orang takut menikah berdasarkan pengalaman dan cerita teman. Iya, tulisan ini opini banget dari sudut pandang saya yang pernah takut menikah, hoho.

1. Takut Punya Pasangan yang Nggak Sepemikiran

Ketakutan ini biasanya dimiliki oleh orang-orang yang perfeksionis, yang sudah tertata rencana hidupnya. Sifat perfeksionis bagus sih, bila kita hidup sendiri dan tak bersosial. Namun bila sudah hidup berdua, kata perfeksionis ya lambat laun akan hilang. Akan ada banyak perbedaan yang timbul di antara 2 insan yang hidup bersama. Hal yang wajar dalam bersosial.

Apalagi soal pemikiran atau pandangan hidup. Duh, jangankan pandangan hidup, berbeda pandangan politik saja bisa menjadi soal. Kalaupun berbeda pandangan politik, ya silakan saja, tapi enggak perlu ngotot untuk membela jagoannya, cukup berbagi pandangan supaya sama-sama tercerahkan mengenai hal-hal baik si jagoan. 

Kalaupun pada akhirnya kita dan pasangan merasa enggak sepemikiran, maka bukan berarti hubungan langsung bubar jalan. Melainkan harus dicari solusinya. Diskusi di meja makan. Bicarakan dengan tenang. Saling mengalah. Untuk mendapatkan 1 solusi praktis yang saling mengenakkan.

Hal yang harus dipelajari adalah mari kita menurunkan ego. Menurunkannya secara perlahan, lalu pelan-pelan mulai mengalah. Boleh banget bila dilanjut dengan mengaku salah. Maka, akhirnya akan berdampak pada solusi yang saling membuat nyaman.

2. Takut Tidak Bisa Menerima Sifat Pasangan

Ini sih saya. Saya ceritakan secara gamblang di artikel Apakah takut menikah itu wajar? Iya, pikiran saya terlalu tinggi. Terlalu berharap dan berekspektasi lebih, padahal enggak seharusnya begitu. 

Menikah itu perihal 2 orang yang saling melengkapi dan memperbaiki kekurangan masing-masing. Enggak ada pasangan yang sempurna. Enggak ada pasangan yang sifat baiknya seterpuji Nabi. Pasangan kita pasti ada kurangnya. 

Maka hadirnya kita adalah penyelamat. Menyelamatkan dia dari hal-hal buruk yang pernah/akan dia lakukan. Makanya kita menikah. Untuk saling menerima kekurangan masing-masing, sekaligus memperbaiki semampu kita.

Tapi ya gitu, jangan sampai kita terlalu menuntut mengenai sikapnya. Sebab, mengubah karakter pasangan, bukan kehendak kita. Melainkan Allah Sang Pemberi Hidayah. Kita cukup melakukan hal-hal baik, menegurnya dengan senyuman serta melakukannya setiap hari sebagai teladan.

3. Takut Diselingkuhi

Ada beberapa orang yang takut menikah karena khawatir diselingkuhi, dengan latar belakang punya masa lalu suram mengenai broken home. Apalagi bila kasus broken home itu didasari kasus perselingkuhan yang terjadi oleh bapak atau ibunya. 

Pedih sih memang. Lukanya berbekas. tapi kita enggak bisa menyimpan luka itu terlalu lama.

Luka itu harus disembuhkan. Yang mampu menyembuhkan ya kita sendiri. Memupuk kepercayaan bahwa kita bisa kok setia. Pasangan kita juga bisa kok setia. Mari kita belajar bareng untuk menumbuhkan kesetiaan. 

Mempelajari bagaimana perselingkuhan itu ada, juga bagaimana setia itu dibangun dan dipertahankan. Mari saling menguatkan antar pasangan.

4. Takut Pasangan Berubah Sifatnya

Seringkali, ketika orang menikah, tiba-tiba menyesal karena sikapnya tidak sama seperti saat menikah dulu. Ya iyalah, lahwong saat pacaran dia jaim banget, kudu tampil baik dan sempurna banget. Lalu saat sudah menikah, hal yang terjadi adalah ia mulai menunjukkan sifat aslinya. Dan hal itu sungguh membuat geram.

Ya gimana ya. Wajar banget kalau seseorang tampil baik dan sempurna saat berhadapan dengan pacarnya. Lah wong mau dipinang untuk diajak hidup bersama. Ya masa’ menunjukkan kelakukan aslinya yang buruk, si pasangan bakalan ilfil (hilang feeling).

Sebenarnya hal ini masih wajar kok. Asalkan, ketika proses mengenal, tidak ada hal yang disembunyikan, terutama mengenai kebiasaan sehari-hari. 

Juga, ketika sudah menikah, kita juga harus bisa menerima bagaimana sikap pasangan kita. Mereka enggak sempurna. Mereka butuh kita untuk mengubah kebiasaan buruknya menjadi kebiasaan baik.

Jadi, jangan takut soal ini. Sebab, sifat si pasangan pasti akan berubah. Hahaha. Tapi enggak berubah sepenuhnya loh, Inshaa Allah hanya dalam beberapa hal saja kok.

5. Takut Enggak Mampu Menafkahi

Ini sih agak wajar ya. Terkadang beberapa orang takut menikah karena khawatir enggak mampu menafkahi istri. Padahal, ketika sudah menikah, maka pintu rezeki akan terbuka lebar. Apapun dimudahkan. Bahkan, sebenarnya pengeluaran bisa lebih irit loh, karena ada yang memanajemen keuangan.

Sebenarnya takut enggak mampu menafkahi ini enggak pa-pa. Asalkan diberi batas waktu atau usia. Misal, mau menikah bila sudah diangkat jadi PNS. Mau menikah bila sudah jadi karyawan tetap, kira-kira 2 tahun lalu. Mau menikah bila pendapatan Google Adsense 3 juta per bulan. 

Kayak gitu… boleh. Jadi, kita enggak semena-mena takut menikah karena khawatir enggak mampu menafkahi. Tinggal kita yakinin aja. Selama kita menikah untuk kebaikan bersama, maka selalu ada kemudahan untuk menjalaninya.

6. Takut Melahirkan

Ada nih teman saya yang kayak gini. Takut menikah karena takut melahirkan. Iya cuy, melahirkan sesusah itu, sesakit itu. 

Tapi kawan, sejatinya melahirkan itu nikmat. Nikmat yang hanya dirasakan oleh kaum perempuan. Memang sakit, tapi di situlah seni nikmatnya. Kita tinggal belajar bersyukur saja, juga melatih rasa sakit untuk ditransfer ke energi yang lebih santai.

Maksudnya, teman-teman bisa ikut kelas hamil atau melahirkan. Biasanya diajari relaksasi supaya saat melahirkan enggak merasa kesakitan. Belajar melatih emosi diri sendiri supaya lebih santai dalam menghadapi apapun termasuk melahirkan.

Yakinlah, sakitnya melahirkan itu cuma 1-2 hari. Saat si bayi lahir, maka kamu akan sumringah dan langsung melupakan rasa sakitmu itu.

7. Takut Enggak Bisa Bebas Menikmati Hobi

Ini nih, pacar saya, haha. Dikiranya saat menikah enggak bisa naik gunung. Padahal ya bisa-bisa aja loh. Asalkan syarat dan ketentuan berlaku, haha. Misal, enggak boleh naik gunung saat saya hamil. Oh tentu saja, kalau mau naik gunung, harus memberikan sesajen kepada saya, hahaha.

Saya rasa, takut menikah karena khawatir enggak bisa bebas menikmati hobi ini banyak banget dialami orang-orang ya. Hmm, mungkin edukasinya kurang. Padahal, dengan menjalani hobi dapat merelease stres karena persoalan rumah tangga yang tak kunjung usai.

Sebenarnya solusinya gampang kok. Kamu dan pasangan harus sama-sama belajar dan mengerti, bahwa hobi itu perlu dilakukan oleh kedua belah pihak. Tentu syarat dan ketentuan berlaku.

Misal, si istri boleh nonton drakor asalkan urusan domestik di rumah telah selesai dikerjakan. Hal ini merupakan bentuk apresiasi bagi si istri karena sudah berjuang keras membuat seisi rumah menjadi beres, bersih dan nyaman.

Misal, si suami pengen pergi mancing. Ya tawarkan saja syarat: boleh pergi saat hari Minggu saja, sudah harus menyapu halaman dan mencuci mobil sebelum berangkat, dll. Diskusikan saja syarat yang saling menguntungkan.

Kalau begini kan, lumayan banget, pasangan suami istri menjadi lebih fresh karena release stresnya tersalurkan dengan baik.

Kesimpulan

Nah, itulah 7 alasan orang takut menikah. Banyak dan beragam ya alasannya, hoho.

Sepertinya, untuk artikel selanjutnya saya akan membreakdown alasan orang takut menikah, tapi dari sudut pandang masing-masing gender. Biar kita bisa sama-sama saling mengerti gitu loh, hehe.

Jadi, gimana? Kamu masih takut menikah? Jangan dong ah.

Wassalamualaikum wr wb

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Related Posts

Posting Komentar