Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bersamamu - Baleriano Chapter 30

 naskah-novel-baleriano

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dan aku masih bersama Davin di depan Museum Fatahillah. Tak sedikit orang yang masih stand by di Kota Tua. Sebagian besar dari mereka menghabiskan waktu dengan bercengkerama bersama seseorang yang berada di dekatnya.

Begitupun juga denganku, yang sedang asyik bercanda tawa dengan Davin, mencoba menghabiskan malam.

Kami bersandar di dinding sisi depan Museum Fatahillah. Aku menyandarkan kepalaku di bahu kiri Davin. Davin membelai rambutku yang kini sudah mulai panjang.

Aku menikmati suasana ini.


Langit tak sekedar gelap, ada bintang yang meneranginya
Fatahillah tak sekedar sepi, ada anak muda yang bergembira untuknya
Bangku taman tak sekedar sendiri, ada seseorang yang menggitarkannya
Aku tak sekedar bahagia, ada dia yang membuatku semakin sempurna

Davin masih membelai rambutku. Aku merasakan kelembutan dalam dekapannya yang terbuka. Aku merasakan kedamaian dari sisi hatinya. Dan aku juga merasakan bahwa aku telah menemukan pasangan tulang rusukku.

“Vin...” panggilku. “Kalau aku boleh tahu, memangnya kamu kerja apa selama ini?”

Davin menghela nafas panjang.

“Pagi hari saya menjadi tukang loper koran sampai jam 9 pagi. Kemudian saya bekerja serabutan di Pasar Senen sampai jam 1 siang. Lalu saya menjadi sopir untuk menarik angkot sampai jam 5 sore. Kemudian pulang untuk sekedar melepas penat. Jam 7 malam, saya menjaga rumah kedua Aryo yang berlantai 3. Saya menjaga rumahnya sampai pagi hari.”

“Aryo? Teman ngeband kamu saat SMA?”

Davin mengangguk. “Dia memberikan saya pekerjaan untuk menjaga rumahnya sampai pagi hari tiba.”

“Mengapa kamu melepas job kamu sebagai pemusik di hotel-hotel dan restonya Radit?” tanyaku yang mengingat obrolan dengan Radit.

“Saya jenuh, Ra. Ada kalanya seseorang jenuh dengan hal rutin yang ia jalankan selama ini. Dan touch saya hilang. Makanya saya meninggalkan semua hal yang berbau musik. Lagipula saya juga ingin mendapatkan uang secepat mungkin, karena pembayaran hutang wajib dilakukan sehari sekali, seperti wajib lapor bagi para pendatang. Tetapi, sejak kamu menarik saya untuk bermain piano lagi, tiba-tiba naluri bermusik saya muncul lagi. Akhirnya saya bisa menemukan kembali jiwa saya yang selama ini mati suri. Terima kasih banyak ya, Ra, karena kamu berhasil membangkitkan gairah saya untuk kembali bermusik.”

Aku tersenyum, “Sama-sama, Vin. Kalau boleh jujur, saya juga baru kali ini menari balet sejak kejadian terakhir di taman kala itu.”

“Ah, masa’?” tanya Davin tak percaya.

“Iya. Kamu sih nggak ada di sisiku. Aku menjadi tidak bersemangat untuk berlatih balet.”

Davin hanya tersenyum geli menanggapi kejujuranku.

“Vin...” panggilku lagi.

“Ya?”

“Jangan pergi lagi. Aku lelah mencarimu.”

“Jika kamu lelah mencari, berhentilah mencari.”

Aku menganggap perkataan Davin sebagai angin lalu. Karena aku sudah tidak kuat menahan kantukku. Tetapi aku tidak ingin menghabiskan malam terang ini dengan tidur. Aku masih ingin bercanda tawa dan bercengkerama dengan Davin lebih lama lagi. Namun sayang, kedua mata ini tidak bisa diajak kompromi. Mataku sudah sangat berat untuk menyangga rasa kantuk ini. Aku pun tertidur pada sandaran Davin.
***

Cinta adalah saling menguatkan dan menghebatkan
- Siti Nailatul Farkhah -

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Post a Comment for "Bersamamu - Baleriano Chapter 30"