Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pada Sebuah Sore - Baleriano Chapter 29

naskah-novel-baleriano

Sore masih belum habis. Waktu masih menunjukkan pukul 5 sore. Aku juga masih menikmati tarianku, begitupun dengan Davin yang masih asyik memainkan tuts-tuts piano dengan sangat indah.

Aku mengenakan celana street hitam dan baju lengan panjang hitam, serta mengenakan rok balerina yang berwarna putih. Aku sangat menikmati tarianku. Sungguh asyik menari balet. Aku menari dengan bebas. Meliuk-liukkan badan serta tangan. Membentuk pola dalam tarian balet. Memadukan berbagai gerak dan mengkombinasikannya menjadi sebuah tarian yang kusebut tarian balet abstraksi.

Davin yang mengenakan celana jeans hitam dan kaos lengan pendek hitam milik Kak Nara, juga sangat menikmati pianonya. Ia merasakan denyut nadi setiap nada yang dihasilkan oleh jari-jemarinya. Ia berirama dalam pikirannya untuk menyajikan sebuah iringan musik yang pas guna mengiringi seorang penari balet abstraksi.

Tidak ada kesepakatan di awal bahwa kami akan memainkan lagu apa atau jenis musik apa. Davin bilang, “Menarilah sesukamu, tapi jangan lupakan iramamu.”

Dan apapun nada-nada yang dihasilkan oleh Davin, aku bisa mengikutinya dengan baik untuk mewujudkannya dalam bentuk tarian. Memang bukan hal mudah, tapi tentu saja hal ini sangat menyenangkan bagi kami.

Kami berdua sangat menikmati masa-masa indah ini.

Tanpa kami sadari, banyak orang yang mengelilingi kami. Mereka terpukau dengan penampilan kami berdua. Tak sedikit orang yang meminta foto dengan kami atau sekedar bertepuk tangan. Ada pula orang yang tiba-tiba menyatakan cintanya pada seseorangnya di hadapan kami, dan tentu saja kami mendukungnya. Tanpa diduga, Davin memainkan nada-nada cinta dan aku menari layaknya pantomim sebagai latar belakang kisah penjajakan asmara di antara mereka berdua. Dan hasilnya, sang wanita itu menerima pria tersebut dan pria tersebut sangat berterima kasih pada kami. Aku dan Davin turut senang melihatnya karena kami telah berpartisipasi untuk menyatukan dua insan yang sedang dilanda asmara.

Sesuai dengan tujuan utama kami, aku telah menyiapkan sebuah kaleng besar sebagai tempat partisipasi yang kuletakkan tak jauh dari tempatku dan Davin mengeksplorasi diri.

Ngamen adalah tujuan utama kami. Dan kami mengamen dengan sangat elegan. Menggunakan piano dan disajikan dengan penampilan seorang balerina. Di Indonesia, jarang ada pengamen yang mau mengamen dengan cara seperti ini. Kalau mereka mau berpikir lebih cerdas dan mau memanfaatkan keahlian mereka dalam bermusik, sebenarnya mereka bisa mendapatkan uang dengan cara menjajal kemampuan mereka yang diwujudkan dalam bentuk mengamen sementara, sekedar untuk menghibur diri dan menguji kemampuan diri, syukur-syukur kalau dapat duit.

Semakin lama kaleng yang berdiameter sekitar 30 cm dengan tinggi 30 cm mulai penuh terisi dengan tumpukan uang kertas. Tapi juga tak sedikit yang melemparkan uang koin di sekitarnya. Karena saking banyaknya, ada beberapa uang kertas yang jatuh dari kaleng karena kaleng partisipasi sudah dijejali dengan uang-uang kertas yang dilemparkan oleh para penonton kami.

Biarkan tumpukan uang itu menjadi milik Davin. Aku tak akan menghitungnya. Yang jelas, dengan hasil jerih payah kami menjadi pengamen elegan, secara tidak langsung aku telah membantu Davin untuk mengumpulkan uang yang lebih dari biasanya dan tentu saja membuat Davin kembali bahagia hari ini.

Dan bagiku, sore ini sungguh indah. Sore yang langka, karena menghabiskan waktu bersama Davin. Dan aku berharap, sore-sore berikutnya bukanlah sore yang langka, melainkan sore yang penuh dengan kebahagiaan tak terkira.
***

Cinta hanyalah kata yang mewakili perasaan luar biasa
– Dimas Dwi Wardhana -

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Post a Comment for "Pada Sebuah Sore - Baleriano Chapter 29"