Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tahun Penantian - Baleriano Chapter 32

naskah-novel-baleriano


Satu tahun telah berlalu. Aku telah memasuki tahun kedua sejak sepeninggalnya Davin di Kota Tua, tempat yang menjadi saksi kebahagiaan kita dalam menuangkan rindu ketika ia sempat menghilang dariku.

Dan kini ia masih menghilang. Aku tidak tahu harus kemana lagi untuk mencarinya.

Pencarianku yang terakhir adalah di daerah Tebet. Tempat aku bertemu Davin yang sedang menjadi loper koran. Ketika aku mendatangi lokasi tersebut, aku tidak menemukan batang hidung Davin. Aku mencari di tempat yang sama selama seminggu, namun tidak ada hasil. Aku pulang dengan air mata yang tak berhenti mengalir di kedua pipiku.

Aku bertanya lagi pada Kak Nara dan Miss Wenda, mereka tetap tidak tahu.

Aku bertanya pada Radit, namun ia hanya berkata, “Bersabarlah, Tuhan mengujimu. Yakinlah bahwa Davin pasti akan kembali.”

Klise.

Jawaban Radit tidak mengenakkan hati. Ketika aku bertanya dimana Davin, ia hanya menggelengkan kepala. Ketika aku bertanya untuk kedua kalinya, lagi-lagi Radit menggelengkan kepala. Dan ketika aku bertanya untuk ketiga kalinya, ia langsung pergi meninggalkanku. Ia bilang padaku bahwa ia ada urusan mendadak dan tidak bisa melanjutkan obrolan denganku.

Nana sempat memberiku saran untuk mencari Davin melalui polisi. Dan tentu saja aku tidak akan melakukan hal bodoh tersebut. Memangnya untuk apa? Ini urusan cinta, bukan kriminal.

Ah, aku capek. Aku lelah dengan semua ini. Tidak ada yang bisa membantuku. Tidak ada yang mau menolongku.
***

“Bu Maura, ada amplop yang tergeletak di depan butik,” kata salah satu karyawanku saat menemuiku di ruang kerja.

“Amplop? Dari siapa?” tanyaku keheranan karena tidak biasanya ada amplop yang sengaja ditinggalkan di depan butik.

“No name, Bu...”

“Hah?” Aku terkejut, sekaligus heran.

Karyawanku hanya tersenyum sungkan, karena tidak tahu menahu.

“Ya sudah. Amplopnya bawa sini, biar saya baca.”

Karyawanku pun memberikan amplop putih kepadaku lalu pergi meninggalkan ruang kerjaku.

Tanpa babibu lagi, segera kubuka amplop putih yang sedang aku pegang. Aku menemukan surat di dalam amplop putih yang berbau khas rose parfume, lalu kubaca isinya:

Kepada Sang Putri Hati...
Maurantia Nirwana...
Kumohon bacalah, inilah pengakuanku:

1. Kala sang mentari mulai menampakkan cahayanya
2. Burung-burung berkicauan dendangkan lagu cinta
3. Benih-benih asmara turut serta menampakkan dirinya
4. Tapi mengapa aku tak merasakan cinta darimu?
5. Aku tahu bahwa cinta yang kumiliki
6. Seharusnya menjadi sesuatu yang terindah
7. Adalah cinta sejati
8. Kau tentu tahu, cinta merupakan sebuah anugerah
9. Yang mampu memberikan kesejukan di dalamnya
10. Yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman di dalamnya
11. Dan yang mampu memberikan kasih tulus seutuhnya
12. Tapi mengapa kau tak memberi cintamu padaku?
13. Aku bertanya padamu, apakah kau memberiku cinta yang tulus?
14. Kurasa tidak
15. Apakah kau selalu menyempatkan waktumu untukku?
16. Tetapi kau malah tak pernah peduli padaku
17. Dan apakah kau benar-benar menyayangiku?
18. Kurasa kau tidak akan pernah mampu untuk menyayangiku
19. Ya, karena aku merasa bahwa kau hadir di hidupku untuk...
20. Menghancurkanku dan kau hadir tanpa...
21. Memberiku sebuah arti
22. Kau pernah meminta padaku bahwa aku harus menyayangimu
23. Jujur, aku menyayangimu
24. Kau juga memintaku agar aku setia padamu
25. Aku pun setia padamu
26. Dan kau meminta agar aku harus memahami perasaanmu
27. Aku pun dengan tulus mengerti perasaanmu
28. Tapi mengapa kau menjadi seorang munafik?
29. Perlu kau tahu bahwa kau adalah orang yang sangat kupercaya
30. Tapi mengapa kau menipuku dengan semua lagakmu?
31. Aku percaya akan kata cintamu, rindumu dan sayangmu
32. Yang ternyata semua itu hanyalah gombal belaka
33. Dan kini aku menyadari bahwa kau adalah...
34. Seorang pengkhianat yang mempermainkanku dan berpura-pura untuk menjadi...
35. Kekasih yang kudambakan

Wahai Putri Hati yang cantik jelita... Jangan menangis dulu... Ada satu hal penting yang kuminta padamu dan kau harus melakukannya... 

Tolong baca lagi surat ini mulai dari awal, tapi yang kau baca hanya angka ganjil saja. Lalu kau akan memahami perasaanku... Bukankah cinta harus saling memahami?

Dari Pangeran Hatimu...
Davin
***

Aku telah memasuki tahun ketiga. Bukan anniversary atau ulang tahun, tetapi tahun penantian. Aku telah menanti Davin selama itu dan kini aku masuk pada tahun yang masih tidak mengenakkan. Aku masih belum menemukan Davin. Tidak ada perkembangan dari pencarianku. Dia benar-benar menghilang dari peredaran.

Dan selama penantian itu, aku tetap menjalani aktivitasku sehari-hari. Butikku masih berjalan lancar. Bahkan sekarang aku telah memiliki dua butik. Butik lamaku masih tetap kujadikan sebagai tempat membeli sepatu dan memesan sepatu dengan desain khusus. Sedangkan butikku yang baru hanya untuk membeli sepatu. Jika ingin pesan sepatu, mereka bisa langsung datang ke butikku yang lama. Aku selalu stand by di butikku yang lama pada jam kerja.

Kini aku memiliki 5 karyawan. Dua karyawan untuk butik lama dan sisanya di butik baru. Rencananya, dua bulan lagi aku akan mendirikan sebuah butik lagi di daerah Depok. Memang jauh, tapi tak apalah, namanya juga usaha, harus ada pengorbanan. Lagipula ini hanya rencana. Entah berjalan atau tidak, itu urusan Sang Kuasa. Aku menjalani hidup sesuai rencana Tuhan.

Tok tok tok... Karyawanku mengetuk pintu ruang kerjaku.

“Masuk...” seruku.

Pintu terbuka. Salah satu karyawanku berdiri di depan pintu sambil membawa seikat mawar putih. Lalu ia mendatangi mejaku, kemudian menyerahkan mawar putih itu padaku.

“Mawar Putih ini buat Ibu Maura,” katanya.

“Dari siapa?”

“Dari Bapak Davin.”

Aku yang mendengar kata Davin, langsung tersentak kaget. Aku terkejut bukan main. Davin ada di sini?

Tanpa mempedulikan karyawanku yang menyodorkan mawar putih padaku, aku segera berdiri dari kursiku dan bergegas keluar dari butik. Aku mencari Davin. Karena aku yakin bahwa Davin pasti masih ada di sekitar butikku.

Aku keluar dari butik, tapi aku tidak melihat Davin. Aku pun berlari lagi menuju trotoar yang ada di depan butikku. Tapi tetap tidak menemukannya.

Aku mencari ke jalan raya, namun aku tidak melihat batang hidung Davin. Cepat sekali ia pergi, gumamku.

Aku menghela nafas panjang. Pencarian singkatku berakhir untuk hari ini. Aku tidak menemukan Davin meski aku telah turun ke jalan raya. Aku berjalan dengan langkah gontai menuju ruang kerjaku.

Sesampainya di ruang kerja, aku duduk di kursiku dan merebahkan tubuh pada sandaran kursiku. Aku lelah. Lelah bekerja seharian dan tentu saja lelah mencari Davin meski pencarian hari ini hanya berlangsung sesaat.

Tiba-tiba mataku tertuju pada seikat mawar putih yang tergeletak di mejaku. Pasti karyawanku meletakkan kiriman mawar putih di mejaku ketika aku sedang berlari mencari Davin.

Kuambil bunga mawar putih itu dan kucium aromanya. Sungguh, aku merindukan Davin. Entah mengapa dia pergi secepat itu.

Aku memperhatikan mawar putih pemberian Davin dengan seksama. Kemudian aku menemukan secarik kertas yang menyertai seikat mawar putih pemberian Davin. Aku baca isinya.

Maafkan aku karena meninggalkanmu tanpa kata
Bila kau lelah, berhentilah mencari, berpasrahlah
Aku sedang melanjutkan kehidupanku, meneruskan sisa perjalanan
***

Cinta itu rela berkorban
– Maya Andini Putri -

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Post a Comment for "Tahun Penantian - Baleriano Chapter 32"