Mobil Itu... - Baleriano Chapter 36

Konten [Tampil]
naskah-novel-baleriano


Aku sedang asyik menonton televisi. Mumpung hari Minggu, jadi aku ingin menghabiskan waktuku untuk stand by di rumah. Mama juga stand by di rumah. Capek kerja melulu. Aku dan Mama perlu refreshing untuk menyegarkan pikiran yang selalu dikejar pekerjaan.

“Ra,” panggil Kak Nara yang tiba-tiba datang ke rumah.

“Apa?” sahutku sambil meliriknya sekilas.

“Nggak pengen ganti mobil?” tawar Kak Nara.

Wow, aku tergiur dengan tawaran Kak Nara. Memang sudah lama aku tidak berganti mobil. Mobil putihku ini hampir 10 tahun kupakai sejak meninggalnya Papa. Dan sepertinya aku sedang menginginkan suasana baru.
***

Kami berdua telah tiba di showroom mobil sejak setengah jam yang lalu. Berhubung selera kami beda, aku dan Kak Narapun berpencar untuk mencari mobil idaman lalu membelinya jika ada yang cocok di hati.

Ada banyak mobil yang ada di showroom mobil ini. Mulai dari era 70-an sampai sekarang.

Tiba-tiba mataku menangkap sebuah mobil sedan hitam mengkilap yang membuatku terpikat akan warna hitamnya yang elegan. Aku mendatanginya karena aku melihat dari kejauhan terdapat sebuah aksen pada sisi belakang mobil hitam itu.

Aku pun mendekatinya dan betapa terkejutnya aku ketika aku tahu bahwa mobil sedan hitam ini memiliki sebuah aksen yang pernah kulihat beberapa tahun yang lalu. Sebuah piano klasik dengan beberapa not balok yang menjadi pemanisnya, membuat mobil sedan hitam ini semakin elegan.

Memoriku terbang dengan sepenggal kisah beberapa tahun silam. Ketika aku sedang menari gila di bawah gerimis dan mobil bergambar piano ini hampir menabrakku.

Dan kini aku tertarik untuk membelinya.

Aku pun bertanya pada karyawan yang mendampingiku ketika melihat-lihat mobil yang dijual. “Mas, boleh saya lihat bagian dalam mobil ini?”

“Boleh, Mbak. Silahkan,” kata karyawan tersebut sambil membukakan pintu mobil untukku. Ia membuka pintu mobil bagian depan pada sisi kiri. Kemudian aku duduk di dalamnya.

Aku melihat-lihat isinya dan bagian dalam mobil sedan hitam yang sangat menarik hatiku. Aku kepincut dengan mobil ini. Aku benar-benar ingin membelinya.

Aku melihat-lihat kemudinya, kemudian melihat jok belakang, atap mobil dan lantai mobil. Cukup bagus. Aku juga merasakan tekstur jok yang sedang aku duduki. Dan tiba-tiba mataku menangkap sebuah gambar pada jok yang sedang aku tempati.

Ada sebuah gambar emoticon smile di jok.

Ini smile milikku! jeritku dalam hati.

Tiba-tiba aku teringat dengan sebuah memori pada beberapa tahun lalu.

Ini pasti mobilnya Davin! seruku yang tidak tahu harus menunjukkan ekspresi senang atau sedih. Senang karena aku akan tahu bahwa ternyata mobil ini adalah mobil Davin. Sedih karena Davin masih belum juga kembali selama 4 tahun ia menghilang dariku.

Jelas ini mobilnya Davin. Ada gambar smile yang sengaja aku gambar ketika aku sedang bersama Davin yang mengantarkanku pulang ke rumah pada malam membahagiakan itu. Dan bukti tersirat lainnya mendukung bahwa mobil sedan hitam ini milik Davin. Sebuah aksen bergambar piano klasik dan not balok adalah ciri khas kepribadian Davin sebagai seorang pianis.

Ah, aku tak menyangka bahwa aku telah menemukan sesuatu yang pernah menjadi milik Davin.

Memoriku melayang pada masa-masa beberapa tahun silam. Ketika aku sedang asyik menari gila di bawah gerimis dan tiba-tiba ada sebuah mobil yang hampir menabrakku. Dan aku ingat mobil itu. Mobil itu adalah mobil sedan hitam yang akan pernah kududuki. Dan ternyata mobil itu adalah mobilnya Davin. Herannya, mengapa aku tidak pernah menyadari perihal aksen unik di mobil Davin?

Aku pun keluar dari mobil dan bertanya pada karyawan yang mengenakan baju hijau, “Mas, berapa harga mobil ini?”

“Sebentar, Mbak. Saya ambilkan catatan harganya terlebih dahulu,” katanya kemudian bergegas meninggalkanku.

Aku kembali melihat-lihat body luar mobil sedan hitam ini. Aku menyentuh body sisi kiri mobil bagian belakang. Sebuah gambar piano klasik yang mengingatkanku pada Davin.

Mungkin, dengan memiliki mobil ini, aku bisa lebih lega karena sebagian kecil dari Davin sudah kupegang. Atau justru... mungkinkah aku akan semakin tenggelam dalam kerinduanku?

“Ra,” panggil Kak Nara yang tiba-tiba berdiri di sampingku. “Ini kan mobilnya Davin.”

Aku tersentak kaget. Ternyata Kak Nara sebagai sahabat Davin juga masih mengingat tentang mobilnya Davin.

“Iya, Kak,” jawabku asal. Aku masih sibuk memandangi gambar piano klasik pada mobil sedan hitam yang berada di depanku.

“Kamu masih menunggu Davin?”
***

Cinta membuat kita tangguh dan bertahan
– Nailul Muna-

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Related Posts

Posting Komentar