Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Tentang Potret Cinta



 “Resty, apa kau yakin kita akan menang?”

“Ya harus yakin dong?!” ucapku. “Kita nggak boleh pesimis Dir, tenang aja, kita pasti akan mendapatkan tiket ke Singapore kok!”

“Amin…” Dirga mengamini. Dia adalah temanku, lebih tepatnya teman ekskulku. Kami sama-sama ikut ekskul mading. Dan untuk kali ini, kami diberi kesempatan untuk mewakili sekolah kami dalam mengikuti lomba mading tingkat nasional. Tak hanya aku dan Dirga yang mengikuti lomba mading ini, ada 3 kakak kelas yang turut bergabung dalam kelompok kami, mereka adalah Kak Catur, kak Tiwi dan kak Leny.

Hari ini akan diumumkan siapa yang akan menjadi pemenangnya. Jika kami menang, hadiah yang akan kami dapatkan cukup mengejutkan. Kita berlima akan mendapatkan 5 tiket berlibur ke Singapore selama 5 hari. Hmm, mau dong. Ya… semoga kami menang…

                      
cerpen-tentang-potret-cinta

                                             ***

          Singapore tak pernah tidur. Itulah kata kesekian kali untuk mengungkapkan betapa indahnya Singapore.

Pagi ini, aku ingin menghabiskan waktuku di Singapore, karena besok aku dan teman-teman harus transit ke bandara.

Aku sempat berfikir, apa yang harus aku lakukan di pagi buta begini? Ya… aku tahu, masih banyak tempat yang belum aku kunjungi di Singapore dan rasa-rasanya aku harus melewatinya seharian penuh deh! Ya… kapan lagi?

Tapi, dengan siapa aku akan pergi? Dengan kak Tiwi? Pasti kak Tiwi sibuk dengan kak Leny, mereka kan bersahabat? Atau dengan kak Catur? Ah, aku kan tak terlalu akrab dengannya? Hmm, bagaimana kalau dengan Dirga?

“Res … Resty …” Suara Dirga dari balik pintu kamar hotelku.

Akupun segera menuju pintu dan membukakan pintu untuk Dirga.

“Ada apa Dir?” tanyaku.

Pagi-pagi begini Dirga sudah berpakaian rapi seperti ini. Padahal ini masih jam 4 pagi loh…

“Loh Dir, kamu mau ke mana?” tanyaku keheranan.

“Aku suntuk nih, temenin aku jalan-jalan yuk” ajak Dirga.

Wow! Diajak Dirga? Mau dong? Ya… tak apalah meski aku harus mandi kedinginan. Yang penting, aku bisa jalan-jalan bareng Dirga.

“Oke deh! Tunggu ya? Aku mau mempersiapkan diri”

“Oke, sip lah…”

                                                                ***

Kau tau Dirga? Telah lama aku memendam perasaan kepadanya. Rasa cinta teramat dalam untuknya dari dasar hatiku. Entah sejak kapan rasa itu muncul. Bukan karena dari mata turun ke hati, melainkan yang kata pepatah jawa ‘witing tresno jalaran saka kulino’. Yup! Aku selalu bertemu dengannya saat ekskul mading. Belum lagi saat kami berpapasan di sekolah. Dan sejak 2 minggu lalu, aku merasa semakin akrab dengannya karena kita sering bekerja sama untuk menyelesaikan mading untuk lomba.

Jika kau bertanya, sejak kapan aku mulai menyukainya, pasti aku akan menjawab ‘sejak dulu’. Entah kapan itu, tak perlulah kau fikirkan.

Mungkin juga kau akan bertanya, bagaimana bisa aku menyukainya? Ah, entahlah, mungkin takdir.

Mungkin saja kau juga akan bertanya, bagaimana sih rupa si Dirga kok sampai-sampai aku menyukainya? Biar kujawab dengan jujur, Dirga itu tipikal orang sederhana, baik hati, ramah dan nggak sombong. Kalau dilihat dari segi fisik, dia tinggi, kurus dan kulitnya item dan aku sadar bahwa dia sama sekali nggak cakep. Ya, aku tau itu, dia memang nggak ada cakepnya, tapi asal kau tau kalo dia tuh manis dipandang mata. Dirga itu, ah, segalanya deh tentang Dirga. 

Saat ini, aku sedang berjalan berdampingan dengannya. Ya… menikmati bagaimana indahnya Singapore lah… Kami berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Jika kami menemukan ada makanan yang enak, sesekali kami singgah untuk menikmatinya.

Jujur, untuk saat ini aku jarang ngobrol dengannya. Hanya sesekali dia bertanya tentang ini itu, tapi nggak sampai keasyikan ngobrol. Karena Dirga sendiri asyik dengan kesibukannya untuk memotret Singapore dari segala sisi. Ya… tak apalah, biarkan dia asyik sendiri, yang penting jangan sampai dia lupa bahwa aku sedang berjalan dengannya.

“Resty, coba deh kamu berdiri di sana, biar ku foto” pinta Dirga.

Hmm, difoto Dirga? Mau dong?! Tapi…aku kan pengennya foto bareng Dirga…Nggak jadi deh!

“Nggak  deh Dir”

“Loh, kenapa?” raut mukanya menunjukkan ekspresi kecewa. Jujur, nggak tega juga ngeliat wajah Dirga kusut kecewa kayak gini.

“Aku nggak enak ama kamu” yah, terpaksa bohong deh!

Alis si Dirga bertautan, menandakan bahwa ia bingung dengan jawabanku. Dan rasa-rasanya aku harus menjelaskan panjang lebar nih! Ya.. tak apalah….

“Gini loh Dir, aku nggak enak ama kamu. Kan kamu yang punya kamera dan seharusnya kamu juga yang jadi objek dari kameramu”

“Lah terus? Kalo aku yang difoto, yang motoin aku siapa dong?”

“Aku bisa kok!”

“Nggak deh, gini aja, gimana kalo kita foto bareng? Mumpung pemandangannya keren nih!” ajak Dirga.

Wow! Foto bareng Dirga? Mau dong?

“Ide bagus tuh! Tapi yang motoin kita siapa dong?!”

Tanpa banyak komentar, Dirga langsung mencari orang yang bersedia untuk motret aku ama Dirga.

Baru beberapa detik, tiba–tiba kak Tiwi, kak Leny dan kak Catur datang.

“Res, si Dirga mana?” tanya kak Tiwi tiba–tiba.

“Itu.” jawabku seraya menunjuk Dirga.

Kak Catur memanggil Dirga, “Dir, Dirga…” kak Catur memanggilnya sambil melambaikan tangan.

 “Emangnya ada apa sih kak? Kok kayaknya penting banget?” tanyaku penasaran.

“Ada deh! Tunggu aja tanggal mainnya.” jawab kak Leny. Ah, apaan sih maksudnya, emangnya bioskop pake tanggal main segala?

Dirga masih belum menoleh. Rupanya dia sama sekali tak mendengar teriakan kak Catur. Maklum, di sini rame banget, banyak orang yang berlalu lalang di sini. Aku juga sempat nggak habis fikir, ngapain sih Dirga susah-susah nyari sukarelawan yang jauh dari sini? Toh, di sekitar sini juga banyak orang yang mungkin di antara mereka ada yang bersedia jadi sukarelawan dadakan.

“Ah, lama banget sih Dirga, dipanggil dari tadi nggak noleh-noleh. Ngapain sih dia?” Kak Catur mulai sewot

“Nyariin sukarelawan buat motoin dia” jawabku…

“Lah, kan ada kamu, Res?” sahut kak Tiwi.

“Iya, tapi yang mau difoto tuh aku ama Dirga. Terus, yang motoin kita siapa dong? Jadi, Dirga nyari sukarelawan deh!” jelasku.

“Oh gitu? Sebaiknya aku samperin aja deh si Dirga, daripada manggil-manggil Dirga yang nggak noleh sejak tadi” kata Kak Catur.

Walhasil, kak Catur menghampiri Dirga. Dari kejauhan, terlihat kak Catur membujuk Dirga. Entahlah apa yang dibujuk. Ya…mungkin urusan lelaki…

Beberapa detik kemudian, kembalilah Dirga dan kak Catur, mereka menghampiriku dan kedua kakak kelasku.

“Ayo Dir, ngomong sekarang,” perintah kak Catur setibanya.

“Hah? Ngomong apaan?” tanya Dirga.

“Ah, jangan pura-pura bego deh!” kata kak Catur yang membuat Dirga gagu. Entahlah, rasa-rasanya dia makin gagu.

“Gimana Dir? Udah dapet?” tanyaku.

“Enggak. Kak Catur aja yang motoin kita” jawab Dirga.

Hah? Ya ampun! Yang bener aja?! Malu dong kalo foto bareng si pujaan hati diliatin kakak kelas?

“Kenapa Res? Kok kamu diem? Udahlah, foto bareng ama Dirga sana gih! Sekalian kenang-kenangan di Singapore” kak Leny mencoba membujukku.

Iya deh…

Tiba-tiba Dirga meraih tanganku, “Ayo foto.”

Hah? Tumben banget nih anak jadi semangat kalo foto? Menurut sepengetahuanku, dia nggak punya bakat narsis. Tapi, kok sekarang tiba–tiba mendadak narsis gini sih?


Kak Catur siap dengan kamera milik Dirga. Kak Leny dan kak Tiwi sibuk mengatur posisi kami. Aku berdiri di samping Dirga. Di belakang kami, terlihat patung singa yang menjadi kebanggan warga Singapore. Ah, aku kok risih banget sih! Rasa-rasanya kayak foto pre-wedding gini sih! Haha! Amin…

“Kak Catur, jangan difoto dulu, aku mau ngucapin sesuatu, rekam ya?” kata Dirga tiba-tiba.

“Oke bos!” jawab kak Catur.

Dirga mau ngomong apa sih? Kok kayaknya penting banget?

Tiba-tiba Dirga meraih tanganku, dan dia berkata, “Resty Zalianty Adiningrum, aku mencintaimu. Asal kamu tau, aku telah memendam lama perasaan ini kepadamu, tetapi aku membutuhkan saat yang tepat untuk mengatakannya. Dan bagiku, saat ini, hari kamis tanggal 16 Oktober 2010, di Singapore, tepatnya di depan patung singa, aku akan menyatakan cinta kepadamu. Resty, aku mencintaimu, maukah kau menjadi kekasihku?”

Hah? Hah? Hah? Yang bener aja? Dirga menyatakan cinta kepadaku?

Tatapan mata Dirga yang sayu membuatku tak berkutik. Sungguh, Dirga teramat berkesan bagiku. Telah lama aku memendam perasaan ini padanya. Tapi, aku malu untuk membalas cintanya. Akankah aku harus menolaknya untuk menutupi rasa maluku? Ah, rasanya itu hal bodoh. Bagaimanapun juga, aku tak boleh menyia-nyiakannya.

“Terima…! Terima…!” teriak kak Tiwi dan kak Leny menyoraki kami berdua. Duh, rasa-rasanya aku semakin malu untuk mengatakannya.

Tapi, aku harus mengatakannya. Ya, harus!

“Dirga, aku juga mencintaimu,” ucapku tersipu malu. Rasa-rasanya mukaku merah nih…

Sontak, Dirga langsung memelukku.

Klik!

Au! Kilatan foto!

Ah, sialan! Kok difoto sih? Aku kan jadi malu…

                                                        ***

Posting Komentar untuk "Cerpen Tentang Potret Cinta"