Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Konsinyasi dari Perspektif Bisnis, Akuntansi dan Perpajakan di Indonesia

Pernah mendengar iklan di TV bahwa produk x telah tertulis harganya Rp 2.000 saja dan di manapun kita membelinya harganya adalah sesuai pada kemasan. Pernahkah berpikir sejenak, bagaimana perjanjian tentang keuntungan yang didapat oleh masing-masing pihak, dari produsen, distributor hingga reseller ke sekian.

Rupanya itu salah satu trik bisnis, yaitu sistem konsinyasi, bahwa produsen sudah menentukan harga di awal kepada produsen. 

Baru dengar dan ingin tahu lebih lanjut? Langkah tepat bila kita lanjut membaca tulisan ini.



Apa Itu Konsinyasi?

Konsinyasi mungkin lebih sering didengar sebagai penjualan titipan dalam bahasa Indonesia. Konsinyasi atau praktik penjualan titipan ini umum digunakan baik secara global maupun di lingkungan kita, dan menjadi skema bisnis yang memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan beli putus. 

Apa Itu Skema Beli-Putus?

Beli putus yaitu skema penjualan biasa, di mana pembeli membeli barang dagangan dari penjual. Bisa juga seorang reseller yang membeli dari supplier.

Kemudian, seluruh resiko terkait barang pindah ke pembeli/reseller. 

Untuk pembayarannya, dilakukan dengan cash maupun kredit. Istilah lain untuk penjualan kredit adalah ‘on account’ atau hutang-piutang.

Bagaimana jurnal yang dibuat oleh akuntan atas penjualan beli-putus? 

Contoh Jurnal Penjualan Beli-Putus

Misalnya, Bapak Ali membeli baju sebanyak 20 unit dari PT Young Fashion Indonesia (PT YFI),  masing-masing baju dihargai sebesar Rp 100.000, sehingga total penjualan dari PT YFI ke Bapak Ali adalah sebesar Rp 2.000.000. 

Sedangkan untuk pembuatan baju tersebut, PT ABC mengeluarkan biaya sebesar Rp 750.000. 

Jurnal yang dibuat yaitu sebagai berikut:

  • Cash/Account Receivable Rp 2.000.000
  • Sales Rp 2.000.000
  • Cost of Good Sold Rp 1.500.000
  • Inventory Rp 1.500.000

Pengertian istilah tersebut dalam bahasa Indonesia :

  • Account receivable = Piutang
  • Sales = Penjualan
  • Cost of Good Sold = Harga Pokok Penjualan
  • Inventory = persediaan

Nah, sampai di sini semoga dapat kita pahami, sebagai gambaran umum, ada beberapa isu yang terjadi pada pembelian beli-putus, di antaranya yaitu ;

  1. Retur penjualan
  2. Garansi, seandainya barang yang dijual ada cacat, perusahaan wajib mengganti kembali barang tersebut
  3. Kewajiban kontinjensi (contingency), ketika ada kewajiban konstruktif yang terjadi atas sebuah kejadian yang mengharuskan perusahaan membayar sejumlah uang kepada konsumen.

Perspektif Bisnis dan Skema dari Konsinyasi (Penjualan Titipan)

Penjualan titipan atau konsinyasi mempunyai skema di mana distributor besar atau produsen dari sebuah produk bertindak sebagai penitip (consignor).

Sementara agen atau penjual eceran bertindak sebagai dititipi atau tertitip (consignee), tugas dari consignee yaitu menjual barang tersebut kepada konsumen akhir.

Bilamana barang tersebut tidak terjual (atau expire) maka barang tersebut akan kembali ke produsen (consignor), maka skema dari konsinyasi dapat digambarkan:

sumber : businessjargons.com/consignment.html

Keuntungan yang didapat dari consignor dalam skema konsinyasi adalah tidak perlu menyewa toko untuk menjual barang. 

Hal tersebut menjadikan skema konsinyasi menarik bagi produsen. Di sisi lain consignor bertanggung jawab terhadap kualitas produk, yang telah mereka publikasikan melalui sebuah iklan.

Consignee tidak memiliki tanggung jawab untuk memberikan jasa iklan atas produk tersebut. Karena memang bukan tanggung jawab consignee, apakah barang tersebut terjual atau tidak. Bagi consignee keuntungan yang didapatkan adalah margin yang keuntungan atau komisi penjualan. 

Contoh Jual Beli Consignee

Pernah mendengar iklan di TV bahwa Produk X harga Rp 2.000 saja? atau di kemasan produk sudah tertulis, roti X Rp 3.500? 

Maka dapat dipastikan bahwa penjualan dilakukan dengan konsinyasi karena produsen sudah menentukan harga di awal kepada produsen. 

Sebagai contoh untuk produk dengan harga jual yang dipatok Rp 2.000 kemungkinan Consignor memberikan harga jual contohnya Rp 1.500, karena kan resiko atas barang tersebut belum pindah ke consignee.

Semakin baik brand atau image dari sebuah produk, para consignee umumnya akan memberikan ruang lebih besar untuk produk tsb. di gerainya.

Contohnya saja, produk makanan (consumer goods) dari Indofood, ketika produk masih baru diperkenalkan, maka hanya sebagian kecil saja rak atau space dari supermarket yang mau menjajakan barang Indofood. 

Namun semakin bagus brand dari produk Indofood maka akan semakin banyak space yang akan disediakan oleh supermarket untuk menjual barang Indofood.

Skema konsinyasi ini masih umum berlaku dalam bisnis, beberapa bisnis yang biasanya menggunakan skema konsinyasi sebagai berikut:

  1. Produk makanan menitip jualkan di supermarket
  2. Produk makanan menitip jualkan di warung-warung (contohnya roti dan kue basah)
  3. Majalah harian/mingguan dan koran di agen koran atau loper
  4. Buku-buku oleh penerbit di toko buku atau gerai
  5. Obat-obatan di apotek

Dapatkah kita menarik kesamaan dari semua barang yang dikonsinyasikan? 

Contoh Masalah Umum Konsinyasi

Berdasarkan penjelasan di atas, barang yang dikonsinyasikan memiliki masa pakai yang singkat, sebagai contoh, roti biasanya hanya bisa dimakan 3 atau 4 hari, koran hanya berlaku 1 hari, majalah paling lama bertahan 1 bulan. 

Begitupun dengan produk buku, biasanya untuk 1 textbook perkuliahan penerbit bisa menerbitkan edisi baru setiap tahunnya walaupun isinya mungkin hanya berbeda sedikit saja.

Ketika roti sudah memasuki hari ke 3, apakah ada konsumen mau membeli? Ketika sore hari, apakah ada orang yang mau membeli koran tersebut? 

Ketika sudah mendekati akhir pekan, apakah ada orang yang mau membeli majalah tersebut? 

Dan ketika sudah mendekati tahun ajaran baru, apakah ada orang yang mau membeli buku pelajaran tersebut? 

Semakin mendekati masa expired maka nilai barang-barang tersebut akan semakin menurun. 

Hal ini yang menyebabkan untuk barang-barang  tersebut dilakukan skema konsinyasi, agar consignee tidak menanggung resiko penurunan nilai persediaan barang.

Akuntansi Untuk Skema Konsinyasi

Terdapat beberapa isu akuntansi yang berkaitan dengan penjualan dengan konsinyasi, yaitu:

  1. Pengakuan pendapatan (kapan pendapatan diakui)
  2. Pengakuan persediaan (pencatatan seperti apa yang harus dipegang oleh consignee)
  3. Pengakuan Cost of Good Sold (COGS)
  4. Pengakuan komisi penjualan untuk consignee
  5. Permasalahan pengakuan PPN

Contoh Konsinyasi

Dalam hal ini, kami akan menggunakan contoh seperti ini:

PT Kue Enak Renyah (PT KER) menjual Roti Basah dengan harga produksi sebesar Rp 1.000 rupiah. 

PT KER menjual barang tersebut secara konsinyasi ke 10 minimarket di sekitar jakarta. Masing-masing Minimarket mendapat jatah 50 unit roti per 3 hari. 

Sehingga untuk 3 hari sekali PT KER akan mengirim 500 unit roti, roti-roti yang tidak laku akan ditarik kembali oleh PT KER. 

Roti dijual ke Agen dengan harga Rp 1.500, PT KER sudah menuliskan di kemasan roti bahwa harga roti adalah Rp 2.000.

Cara Membuat Jurnal Konsinyasi

PT KER mengirimkan barang ke  50 Minimarket pada tanggal 1 Maret 2017, maka jurnal yang dibuat oleh PT KER adalah;

  • Persediaan Konsinyasi Rp 500.000
  • Persediaan Barang Jadi Rp 500.000

Kenapa jurnal dibuat demikian? Harga Rp 500.000 didapat dari 500 unit Roti yang memiliki biaya perolehan sebesar Rp 1.500. 

Kenapa di jurnal Persediaan Konsinyasi di debit dan persediaan barang jadi di kredit? Jurnal ini disebut dengan jurnal reklasifikasi, yaitu memindahkan akun dalam satu sisi (sama-sama memiliki saldo normal di debit atau sama-sama memiliki saldo normal di kredit) ke akun yang lain.

Tujuan jurnal ini untuk mengindikasikan bahwa sebagian dari barang jadi sudah dipindahkan dari persediaan barang jadi (yang notabene ada di gudang perusahaan) menjadi sudah dikonsinyasikan ke consignee (dititipkan ke agen).

Nah pada Tanggal 4 Maret 2017, 3 hari kemudian, PT KER kembali ke agen-agen untuk mengisi roti-roti tersebut. 

Didapati bahwa 400 roti terjual dan 100 roti tidak terjual, atas dasar itulah, maka PT KER menambah lagi 400 roti ke Agen.

Maka PT KER mencatat sebagai berikut, untuk menambah 500 roti ke agen tersebut dan menarik 100 roti yang kadaluarsa

  • Persediaan Konsinyasi Rp 500.000
  • Persediaan Barang jadi Rp 500.000
  • Persediaan barang jadi Rp 100.000
  • Persediaan Konsinyasi Rp 500.000

Untuk mencatat penjualan yang sudah dilakukan atas 400 roti yang sudah terjual, maka PT KER membuat jurnal sebagai berikut:

  • Kas Rp 600.000
  • Penjualan Rp 600.000
  • Cost of Good Sold Rp 400.000
  • Persediaan Konsinyasi Rp 400.000

Mengapa jurnalnya dibuat demikian? 

Mengapa penjualan (atau pendapatan)  baru diakui sekarang, tanggal 4 Maret, bukan pada saat delivery barang pada 1 Maret? 

Hal ini karena pada tanggal 4 Maret lah penjualan baru terjadi ke konsumen akhir melalui penjualan agen ke konsumen. 

Jurnal yang dibuatpun atas dasar penjualan 400 roti tersebut, bukan atas 500 roti yang sudah terjual. 

Harga Rp 600.000 didapat dari harga jual per roti yaitu Rp 1.500 x 400 roti.

Dengan skema seperti ini, maka saldo persediaan PT KER akan tampak sebagai berikut;

  • Persediaan Konsinyasi               Rp 500.000 (awal 1 Maret)
            • (Rp 100.000) (menarik 100 roti kadaluarsa tanggal 1 maret)
            • (Rp 500.000 (menambah roti di tanggal 4 maret)
            • (Rp 400.000) (masuk sebagai COGS di laba rugi)
  • Saldo Akhir                                Rp 500.000

Sehingga saldo akhir dari persediaan konsinyasi adalah Rp 500.000 ini sesuai dengan keadaan lapangan dimana ada 500 unit roti berada di agen. 

Dengan demikian, maka laporan laba rugi dari PT KER sampai 4 Maret adalah sebagai berikut (mengabaikan biaya-biaya lainnya)

  • Penjualan                                     Rp 600.000 (atas 400 roti terjual @ 1.500)
  • COGS                                          (Rp 400.000) (atas 400 roti terjual @ 1.000)
  • Laba kotor                                    Rp 200.000

Ini tercermin dari penjualan yang diakui atas 400 unit roti tersebut saja.

Perlakuan Terhadap Barang Sisa atau Tidak Terjual (Kadaluarsa) dari Konsinyasi

Biasanya pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan 100 unit roti yang kadaluarsa? 

Akankah diakui kerugian seluruhnya? 

Ini tergantung dari manajemen, apakah manajemen memiliki opsi lain untuk menjual roti tersebut? Baik dibawah harga pasar atau malah sesuai harga pasar.

Skenario 1

Skenario 1, misalkan manajemen ternyata menemukan seorang pembeli atas 100 roti tersebut dengan harga Rp 700 padahal biaya membuat roti saja Rp 1.000. 

Maka disimpulkan bahwa PT KER mengalami kerugian sebesar Rp 300/roti. Jurnal yang dibuat oleh PT KER adalah

  • Kas Rp 70.000
  • Penjualan Rp 70.000
  • Cost of Good Sold Rp 100.000
  • Persediaan Konsinyasi Rp 100.000

Dengan skenario ini, maka laporan keuangan PT KER menjadi sebagai berikut:

  • Penjualan                               Rp 670.000 (atas 400 roti terjual @ 1.500, 100 roti @700)
  • COGS                                    (Rp 500.000) (atas 500 roti terjual @ 1.000)
  • Laba kotor                              Rp 170.000

Dengan skenario ini, maka penjualan naik tidak hanya 400 roti saja namun 500 roti dengan harga yang berbeda. 

Sementara COGS tetap sebesar Rp 1.000 per roti. 

Akibatnya laba turun sebanyak Rp 30.000 akibat dari selisih harga jual Rp 700 dengan biaya perolehan roti sebesar Rp 1.000 untuk 100 roti.

Skenario 2

Skenario 2, Manajemen tidak menemukan orang yang mau membeli roti tersebut, akibatnya roti sudah terlanjur basi dan tidak bisa dijual. 

PT KER mengakui kerugian atas roti tersebut dengan cara menjurnal sebagai berikut

  • Kerugian penghapusan persediaan Rp 100.000
  • Persediaan barang jadi Rp 100.000

Dengan skenario ini maka laporan laba rugi dari PT KER adalah sebagai berikut

  • Penjualan                                       Rp 600.000 (atas 400 roti terjual @ 1.500)
  • COGS                                            (Rp 400.000) (atas 400 roti terjual @ 1.000)
  • Laba kotor                                      Rp 200.000
  • Rugi penghapusan persediaan      (Rp 100.000) (penghapusan 100 roti @1.000)
  • Laba Bersih                                    Rp 100.000

Dengan skenario ini maka sisa 100 roti tadi menjadi beban di perusahaan dan menggerus laba bersih perusahaan.

Konsinyasi dengan Skema Komisi Penjualan

Bila contoh tadi menggunakan skema pembayaran Margin kepada consignee maka kita akan membahas apabila consignor menerapkan skema komisi penjualan dengan consignee. 

Untuk contoh ini, kita masih menggunakan contoh PT KER dengan menjual 500 unit roti, biaya perolehan roti adalah Rp 1.000 dan dijual ke konsumen dengan harga Rp 2.000. 

Agen (consignee) mendapat komisi 25% dari harga jual. Pada 1 maret PT KER membawa 500 unit roti ke agen-agen. Jurnal yang dibuat oleh PT KER sama dengan skema margin:

  • Persediaan Konsinyasi Rp 500.000
  • Persediaan barang jadi Rp 500.000

Perbedaan akan timbul ketika Agen melaporkan bahwa terjual 400 roti saja dan mengembalikan sisa 100 roti. Jika hal ini terjadi, maka PT KER menjurnal sebagai berikut:

  • Kas Rp 800.000
  • Penjualan Rp 800.000
  • COGS Rp 400.000
  • Persediaan konsinyasi Rp 400.000

Jurnal ini dibuat untuk mencatat penjualan barang tersebut, hampir sama dengan penjualan dengan skema margin untuk consignee. 

Untuk mencatat komisi penjualan, maka PT KER akan membuat 1 jurnal lagi sebagai berikut;

  • Beban komisi konsinyasi Rp 200.000
  • Kas Rp 200.000

Atau bisa juga kedua jurnal digabungkan sebagai berikut, karena pada saat Agen melaporkan penjualan 400 roti, agen dibayar pada hari itu juga.

  • Kas Rp 600.000
  • Beban Komisi konsinyasi Rp 200.000
  • Penjualan Rp 800.000
  • COGS Rp 400.000
  • Persediaan konsinyasi Rp 400.000

Bagaimana dengan laporan Laba Rugi PT KER, apakah sama dengan skema margin? 

Laporan keuangan PT KER sedikit berbeda dengan skema komisi, namun menghasilkan laba bersih yang sama yaitu sebesar Rp 200.000 (efek 100 roti basi kita abaikan, karena efeknya akan sama sama seperti skema margin).

  • Penjualan                                      Rp 800.000 (atas 400 roti terjual @ 2.000)
  • COGS                                           (Rp 400.000) (atas 400 roti terjual @ 1.000)
  • Laba kotor                                     Rp 400.000
  • Beban Komisi Konsinyasi             (Rp 200.000) (25% dari penjualan Rp 800.000)
  • Laba Bersih                                   Rp 200.000

Biaya Timbul Terkait Konsinyasi

Bagaimana jika timbul biaya biaya terkait dengan penjualan konsinyasi? 

Misal saja ada biaya pengiriman yang dapat diatribusi langsung kepada setiap pengiriman. 

Sebagai contoh melanjutkan dari soal diatas, saat PT KER mengirimkan barang ke agen dengan skema komisi terdapat biaya pengiriman barang sebesar Rp 100.000 untuk 500 unit roti.

Maka saat mengirimkan barang PT KER mencatat jurnal sebagai berikut

  • Persediaan Konsinyasi Rp 500.000
  • Persediaan barang jadi Rp 500.000
  • Biaya pengiriman konsinyasi Rp 100.000
  • Kas Rp 100.000

Biaya pengiriman dicatat di sebelah debit karena dianggap biaya. Biaya adalah kas keluar perusahaan yang manfaatnya belum dinikmati perusahaan.

Ketika perusahaan memeriksa kembali ke Agen dan mendapati hanya 400 roti terjual, dalam hal ini perusahaan menggunakan skema komisi penjualan, maka perusahaan menjurnal sebagai berikut

  • Kas Rp 600.000
  • Beban Komisi konsinyasi Rp 200.000
  • Penjualan Rp 800.000
  • COGS Rp 400.000
  • Persediaan konsinyasi Rp 400.000

Ditambah dengan jurnal untuk mengurangi biaya pengiriman barang, karena sebagian biaya sudah dinikmati manfaatnya yaitu sebesar 400 roti sudah terjual. Jurnal yang dibuat adalah:

  • Beban Pengiriman Konsinyasi Rp 80.000
  • Biaya Pengiriman Konsinyasi Rp 80.000
  • Angka ini didapat dari 400 roti/500 roti x Rp 100.000

Sehingga laporan Laba Rugi PT KER menjadi sebagai berikut:

  • Penjualan                                      Rp 800.000 (atas 400 roti terjual @ 2.000)
  • COGS                                           (Rp 400.000) (atas 400 roti terjual @ 1.000)
  • Laba kotor                                     Rp 400.000
  • Beban Komisi Konsinyasi             (Rp 200.000) (25% dari penjualan Rp 800.000)
  • Beban Pengiriman konsinyasi      (Rp 80.000)
  • Laba Bersih                                   Rp 120.000

Konsinyasi Dari Sudut Pandang Perpajakan

Bagaimana bila Konsinyasi dipandang dari sisi perpajakan? 

Apakah ada perbedaan mendasar antara pajak dan akuntansi dalam memandang konsinyasi? 

Faktanya adalah ada perbedaan antara pajak dan akuntansi, terutama PPN

  • Pajak mengakui PPN terutang ketika terjadi penyerahan, yaitu ketika consignor menyerahkan barang ke consignee, dan
  • Akuntansi mengakui pendapatan ketika terjadi penjualan dari consignee ke penjual akhir

Apakah akibatnya? 

PPN terutang (pajak keluar) akan dibayar diawal sementara, pada kasus PT KER adalah 1 Maret, padahal kas baru didapat di tanggal 4 Maret ketika PT KER ke Agen dan menerima pembayaran. 

Ini tidak seberapa karena perbedaan antara PT KER dan Agen hanya 3 hari, bayangkan bila penjualan titipan memakan waktu berbulan-bulan.

Maka ada beberapa cara yang bisa dilakukan diantaranya adalah:

  1. Membuat surat jalan (pengiriman) barang belakangan, ketika barang sudah terjual. Namun cara ini cukup berbahaya ketika terjadi pemeriksaan pajak.
  2. Membuat perjanjian antara consignee dan consignor untuk menjelaskan bahwa kontrak kerjasama antara PT KER dan Agen bahwa selama barang ada di toko agen 100% masih merupakan tanggung jawab PT KER.

Jadi, itulah penjelasan mengenai pengertian dan cara membuat jurnal konsinyasi. Semoga mudah dipahami ya. Kalau ada yang hendak ditanyakan, boleh tinggalkan pertanyaan di kolom komentar.


Guest Post: Admin taukan.com

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

1 komentar untuk "Konsinyasi dari Perspektif Bisnis, Akuntansi dan Perpajakan di Indonesia"