Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mawar 04

“Nek, cepat sembuh ya?” ucapku. Nenek hanya tersenyum, lagipula apa lagi yang bisa ia lakukan selain tersenyum? Nenekku terbaring lemah di rumah sakit. Dia mengidap penyakit jantung kronis. Tapi, meskipun begitu nenek nggak pernah mengeluh atas sakit yang dideritanya. Aku bangga punya nenek yang tak pernah mengeluh, tak seperti aku yang sedikit-sedikit mengeluh.

Sudah dua bulan nenek dirawat di rumah sakit ini, cukup lama ya? Tapi aku tetap setia menemani nenek sepulang kuliah. Tak hanya sepulang kuliah saja, aku juga sering menemani nenek sambil belajar dan mengerjakan skripsi ku. Lagipula, aku kesepian di rumah, papa dan mama nggak ada yang memperhatikanku, mereka lebih menomor satukan bisnisnya daripada aku sebagai anak satu-satunya. Ah, tak apalah, toh masih ada nenek.

“Permisi, neneknya boleh diperiksa sebentar?” tiba-tiba datanglah seorang dokter. Lebih tepatnya, dokter pribadi keluargaku.

“Oh iya, silahkan masuk” aku mempersilahkan dokter muda itu masuk ke kamar inap nenek.

Dia melemparkan senyum padaku. Sungguh manis senyumnya. Jujur, aku terpesona dengannya. Dia memiliki tinggi dan berat badan yang ideal. Dia cukup tampan. Dia telah berjasa menjadi dokter pribadi keluargaku selama 1 tahun. Kini umurnya 25 tahun. Beda 3 tahun dengan usiaku saat ini. Keluargaku sudah kenal akrab dengan dokter kebanggaan rumah sakit ini.

Namanya adalah Ananta. Dia biasa dipanggil dokter Ananta. Nama yang cukup bagus. Kadangkala, kalau dia ada waktu senggang, dia berbincang-bincang denganku, menanyakan kabar nenek dan keluargaku. Kadang, tak jarang aku sering kelepasan curhat dengannya.

10 menit telah berlalu, rupanya dokter Ananta telah selesai memeriksa nenek.

“Jaga nenek dengan baik-baik ya?” ucapnya.

“Iya”

“Bagaimana dengan Papa dan Mama mu, apakah mereka sudah menjenguk nenek?”

Aku tertunduk lemas, “belum, selama 2 bulan ini mereka sama sekali belum menjenguk nenek. Mereka hanya tahu kabar nenek dan mereka hanya mengirimkan uang untuk aku dan nenek”

“Oh, memangnya kenapa Papa dan Mama mu tak bisa menjenguk nenek?”

“Mereka sibuk dengan urusan bisnisnya. Papa sedang mengurus proyek pendulangan intan dari Kalimantan ke Swiss, dan sekarang Papa sedang ada di Swiss. Sedangkan, Mama hari ini check out dari bandara Jepang dan dia akan pergi ke Paris untuk mengecek bisnis pakaiannya di sana”

“Sabar ya? Suatu saat mereka akan ke sini kok! Lagian masih ada nenek yang bisa menemani mu” ucapnya seraya tersenyum.

“Terima kasih kak Ananta” dia yang memintaku memanggilnya Kak Ananta.

***


Aku senang, akhirnya nenekku sembuh. Bahagianya aku. Akhirnya ada yang menemaniku di rumah.

Saat di rumah sakit, aku sempat heran, bagaimana bisa ya nenek masuk kamar mawar 04? Aku masih ingat, dulu sahabatku Friska dirawat di kamar mawar 04. dan sejak 3 bulan lalu, nenek dirawat di kamar yang sama. Kok bisa ya? Memang sih, ini semua hanyalah kebetulan. Tapi, rasanya aneh juga kok bisa dua orang yang dekat denganku dirawat di kamar yang sama dalam waktu yang berbeda?

Duh, kenapa kepalaku? Kok pusing gini? Ini bukan pusing seperti biasanya. Pusingnya lebih membuatku merasa sakit. Duh, kenapa ini? Dan kenapa tiba-tiba semuanya berubah warna jadi ungu? Kenapa? Dan kini aku seakan-akan mau jatuh… duh, aku kenapa…

***


Aku terbangun dari tidurku. Aku heran, mengapa aku ada di sini? Sepertinya aku tak asing dengan ruangan ini. Tapi, di mana aku sekarang? Kok aku bisa ada di sini.

“Rupanya cucu nenek sudah bangun” kulihat ada nenek berdiri sambil mengelus rambutku. Tapi, aku masih heran, aku ada di mana ini? Dan mengapa aku ada di sini?

Loh? Kok ada Friska? Mamanya Friska juga ada. Loh, kok ada Kak Ananta juga? Sebenarnya aku dimana ini?

“Nek, ini di mana? Sepertinya aku tak asing dengan tempat ini. Dan mengapa aku bisa ada di sini?”

“Erdia, 3 hari yang lalu kamu pingsan, dan ternyata kamu menigdap suatu penyakit. Sekarang kamu dirawat di rumah sakit, di kamar nenek dirawat dulu” kata nenek.

Oh, gitu ya? Tapi, aku sakit apa? “Tapi nek, kalau aku boleh tau, aku sakit apa?”

Tak ada yang mau menjawab. Mereka semua saling berpandangan. Loh, aku sakit apa? Separah itu ya penyakitku hingga tak ada yang mau menyampaikannya padaku?

“Nek, aku sakit apa?” nenek membisu, raut muka nenek cemas, sama seperti Friska dan mamanya. Kak Ananta pun yang seorang dokter juga tak mau mengatakannya padaku.

“Erdia, sebaiknya kamu mium air putih dulu, lalu makan” kata nenek mengalihkan pembicaraan.

“Tap, tapi nek”

“Sudah, minum dulu” kata nenek memaksaku minum.

Tapi nek, aku sakit apa? Katakan padaku apa yang telah terjadi padaku… kumohon…

***


Ternyata aku terserang tumor otak.

Ya Allah, mengapa kau memberiku cobaan seperti ini? Akankah aku sanggup menjalani ini semua? Ya Allah, tolong hentikan penyakitku ini. Aku tak ingin banyak orang merasa iba denganku. Aku tak ingin mereka semua merasa kasihan padaku. Aku ingin selalu memberikan mereka senyumanku lagi tanpa kondisi ini. Ya Allah, jauhkan aku dari penyakitku ini…

“Erdia, kok ngelamun aja” suara Kak Ananta mengagetkanku. Aku hanya bisa tersenyum.

“Cek lagi ya kak?” kataku.

Kak Ananta mengangguk sambil tersenyum.

“Bosen kak” ucapku.

“Loh kok bosen?”

“Ya bosen kak, nggak ada sesuatu yang special dan berharga buatku”

“Erdia, jangan mengeluh begitu, nggak baik, kondisi mu masih belum stabil, seharusnya kamu banyak istirahat dan kamu harus bisa tersenyum menghadapi hari-harimu meski Cuma di rumah sakit”

“Mama sama Papa kok nggak ke sini ya kak?”

“Kata nenekmu, Papa dan Mama mu pasti menyempatkan datang untuk menjengukmu. Jadi, kamu sabar aja ya dan berdoa agar mama dan papa mu lekas menjengukmu. Pastinya kamu sudah kangen berat kan?”

“Ya pasti kak, sudah delapan bulan aku tak bertemu dengan papa dan mama”

“Kurang satu bulan lagi, melahirkan deh!” haha! Kak Ananta melemparkan guyonan untuk menghindari rasa bosan.

“Kak” tiba-tiba aku menggenggam erat tangan kak Ananta. Dengan sadarnya, kak Ananta juga menyentuh tanganku yang mendekap tangannya.

“Semalam aku bermimpi”

“Mimpi apa?”

“Aku dijemput sama mobil mercy. Dan aku pergi meninggalkan papa, mama, nenek, Friska, mamanya Friska sama kak Ananta”

“Wuah senangnya, ada mama sama papa” kata kak Ananta seraya tersenyum padaku.

“Iya! Ada mama sama papa” aku tersenyum senang.

“Tapi, mobil yang ada di mimpi kamu warnanya apa?” kak Ananta bertanya padaku dengan rasa ragu.

“Hitam” …

***


Kematianku telah datang, 15 menit lebih 14 detik adalah sisa waktuku. Entah bagaimana aku tahu sisa umurku, mungkin ilham dari sang kuasa.

“Kak, mama sama papa mana? Aku mau minta izin pergi…”

“Hus, jangan bilang kayak gitu, nanti bisa pamali loh” ya emang pamali kak!

“Erdia, kamu adalah sahabatku dan tak akan pernah tergantikan, bagiku kamu adalah teman yang paling mengerti aku. Aku bangga punya teman sepertimu” Friska adalah sahabatku, yang selama ini rela menemaniku di saat aku suntuk di rumah sakit.

“Iya, terima kasih ya atas sumbangan canda tawamu selama ini. Aku jadi nggak suntuk selama ada kamu di sini”

“Erdia, terima kasih juga ya, dua tahun lalu, saat anak Tante kecelekaan, kamu selalu menemaninya dan membantunya mengerjakan tugasnya hingga Friska benar-benar pulih.” Ucap mamanya Friska.

“Iya, sama-sama tante, itu semua nggak sebanding dengan keikhlasan Friska menemani saya” ucapku. Kulihat mamanya Friska tersenyum padaku.

“Erdia, ada sesuatu yang ingin saya katakan…” rupanya Kak Ananta ingin memberi tahu sesuatu.

“Katakan saja kak…”

“Selama ini, saya memendam perasaan yang teramat dalam untuk seseorang. Untuk kali ini, saya tak bisa menutupinya, saya harus jujur tentang ini semua. Bahwa, selama ini saya mencintaimu”

Aku terenyuh mendengar kata-katanya. Aku segera meraih tangannya dan menggenggamnya. “Kak Ananta, perlu kak Ananta tahu, selama aku di sini, aku merasakan perhatian kak Ananta tak ada duanya. Perhatian kak Ananta berbuah kasih sayang untukku dan aku juga merasakan perasaan yang sama dengan Kak Ananta. Sebuah perasaan mutlak yang dirasakan seorang remaja. Yaitu, perasaan cinta… rasa sayangku nggak akan pernah luntur untuk Kak Ananta”

Kulihat, kak Ananta tersenyum padaku, dan aku membalasnya dengan senyuman tulusku…

“Erdia, nenek juga minta maaf ya atas kesalahan nenek selama merawat kamu”

“Nggak papa kok nek, amarah nenek adalah pesan buat Erdia agar Erdia bisa menjadi manusia yang lebih baik”

“Kamu memang cucu nenek yang paling nenek banggakan”

Aku tersenyum saat mendapat pujian dari nenek. “Nek, mama sama papa mana ya? Kok belum datang juga ya?”

Tak ada yang menjawab pertanyaanku. Kenapa mereka tak mau menjawab pertanyaanku? Salah ya bila aku ingin bertemu orang tuaku? Selama hampir 3 tahun, aku tak pernah bertemu mereka sekalipun, sibuk apa sih mereka di sana sampai-sampai mereka tak pernah datang menemuiku?

Tak terasa, air di pelupuk mataku mengalir. Dan sekarang air mata ini semakin mengalir dengan derasnya. Air mata yang kupendam selama 3 tahun bukti ketabahanku. Mama, papa, datanglah…

“Erdia anakku” tiba-tiba ada sesosok wanita cantik muncul dari pintu kamar mawar 04, itu mama.

“mama?”

Tiba-tiba, sesosok pria dewasa hadir di samping mama, itulah papa, semakin gemuk!

“papa?”

Mama dan Papa menghampiriku. Mereka berdua langsung memelukku. Aku bahagia. Aku merindukan saat-saat yang seperti ini. 3 tahun tak pernah ku dapatkan pelukan hangat seperti ini. Sebuah pelukan yang amat aku rindukan…

“Maaf ya Erdia sayang, mama sama papa baru bisa datang sekarang setelah 3 tahun terakhir” mama minta maaf padaku.

“Nggak pa-pa kok Ma, Pa. yang penting mama sama papa hadir saat ini. Ma, Pa, Erdia sayang mama dan papa”

“Iya, mama juga sayang sama kamu”

“Papa juga sayang sama kamu…”

Aku memeluk papa dan mama dengan erat. Aku menangis, menangis bahagia… kulihat, mama, papa, Friska, mamanya Friska, nenek dan kak Ananta juga mengeluarkan air mata. Aku tahu, mereka pasti sangat menyayangiku, begitupun juga dengan ku, aku sayang mereka…

Waktuku habis. Aku harus pergi. Aku harus pergi. Ajal menjemputku…

Mama, Papa, Nenek, Friska, Tante, Kak Ananta, aku pergi dulu ya, aku yakin kita semua akan bertemu kembali di surga, di alam yang abadi dan kita tak akan terpisahkan lagi… selamat tinggal…


TAMAT
cerpen-tentang-mawar-04

Posting Komentar untuk "Mawar 04"