Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

The CAR

“Hey sob, gue punya sesuatu nih…!” tiba-tiba Abdi datang. Ia menemui kedua sahabatnya, Chory dan Abdi yang berada di teras rumah Abdi. Lalu, ia membuka tasnya dan mengambil sesuatu.

“Apaan sih?” sahut Chory.

Dengan wajah sumringah, ia mengeluarkan 4 buah kalung dari tasnya.

“Wuah, keren banget! Yang R ini pasti kalung buat gue” kata Ramon yang langsung saja mengambil kalung di tangan Abdi.

“Iya bro, tau aja lo! Ini yang C buat lo Ry” Abdi memberikan kalung bergantungkan huruf C kepada Chory.

“Ok! Thanks ya sob! Btw, kok di tangan lo ada dua kalung sih, huruf A sama A, punya siapa sih?” tanya Chory sambil menunjuk kalung yang ada di tangan Abdi.

“Ya punya gue lah…”

“Dua-duanya elo pake?” tanya Ramon mencoba meyakinkan.

“Iyalah! Buat siapa lagi sih kalo bakalan buat gue”

“Jadi elo pake dua?”

Abdi mengangguk, “hehe…” Dan Abdi segera memakaikan kedua kalung di lehernya. Abdi tersenyum bangga dengan kedua kalungnya. Sedangkan, Chory dan Ramon hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang sedang beraksi nggak waras di depannya.

“Lama-lama elo kagak waras ya sob” kata Ramon.

“Hehe, tapi gini-gini gue kan sahabat elo juga” kata Abdi.

“Jadi maksud lo, kita bertiga nih sama nggak warasnya?” sahut Chory.

Abdi hanya tersenyum…

“Ih ogah, elo aja deh yang gila, gue nggak ikutan”

***


Di base camp, ada keributan! Abdi yang baru saja datang, langsung panik melihat kedua sahabatnya yang sedang bertengkar.

“Hei! Apa-apaan kalian! Ngapain pake bertengkar segala? Sebenarnya ada masalah apaan sih?!” Abdi mencoba melerai Chory dan Ramon.

“Tuh! Ramon duluan yang mulai!” kata Chory sambil menunjuk Ramon.

“Enggak! Elo tuh nggak mau mengakui kalo mobil gue bagus!” sahut Ramon.

“Eh, siapa bilang?! Ngapain juga elo ngerasa mobil lo yang paling keren! Mobil gue lebih bagus and keren daripada elo!”

Abdi yang dengan sekilas langsung mengerti inti permasalahannya, segera saja menasehati kedua sahabatnya, “Sob, ngapain sih urusan mobil dipermasalahkan? Mobil lo berdua tuh sama bagusnya and sama kerennya”

“Tapi Di, gue nggak terima! Asal lo tau aja ya, mobil gue tuh lebih keren daripada punya Chory!”

“Enak aja lo kalo ngomong! Jaga mulut lo! Gini deh, gue punya ide, gimana kalo kita balap mobil?” tantang Chory.

“Ok! Kapan?!”

“Malam senin, jam 10 malam dimulai dari base camp ini!”

“Ok! Gue terima tantangan lo!”

Abdi kebingungan, “Hey sob, ingat nggak sih kalo Senin tuh kita semua ada UN! Ujian Nasional yang menentukan kelulusan kita!” bentak Abdi.

“Bodo amat! Emang gue pikirin!” sahut Chory berlalu meninggalkan teman-temannya yang masih ada di base camp.

“Gue cabut!” Ramon juga pergi meninggalkan base camp. Sedangkan, Abdi hanya bisa membiarkan kedua sahabatnya berlalu dari hadapannya dengan egonya masing-masing, tak mungkin bisa ia menahan kedua sahabatnya untuk kembali untuknya.

Dengan kesalnya, Abdi menendang kursi yang ada di depannya. Teman-temannya Abdi yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran 2 anak orang kaya, hanya bisa terdiam, lagipula apa yang bisa mereka lakukan untuk  Abdi?

***


Abdi berdiri di tengah jalan. Tepatnya, jalan yang akan dilalui Chory dan Ramon untuk balap mobil. Ia nekat berdiri menunggu kedua mobil milik sahabatnya datang dan segera berhenti untuknya.

Tak berapa lama menunggu, dari kejauhan, 2 titik cahaya mulai terlihat. Pastinya titik tersebut adalah cahaya lampu mobil balap. Dan memang benar, semakin mendekat semakin jelas terlihat bahwa mobil tersebut adalah mobil milik Chory dan Ramon.

Sedangkan, di dalam mobil, Chory terlihat panik saat ia mengetahui bahawa Abdi berada di tengah jalan. Ia sempat bingung, bagaimana caranya agar Abdi pergi meninggalkan lokasi dan tidak ditabraknya?

Ramon sama paniknya dengan  Choey. Ia tak ingin Abdi berada di tengah jalan, tapi ia juga tak ingin ketinggalan jauh dari mobil Chory. Alhasil, dengan segala ketekadannya, ia menginjak gas sekuat-kuatnya dan ia harus menyalip Chory.

Di tengah jalan, Abdi merentangkan kedua tangannya. Ia berterika, “Chory…! Ramon…! Dengerin gue…! Elo beruda harus mengakhiri balapan ini…! Gue nggak mau masa depan lo berdua hancur gara-gara tindakan bodoh lo ini…! Chory…! Ramon…! Dengerin gue…!”

Tiba-tiba, mobil Ramon menabrak Abdi!

“Aaaaaaaaaaa………….!!!!!!!!”

Tubuh Abdi terpental dan terlempar tepat di kaca moblnya. Tak berhenti sampai di ditu, tubuh Abdi melewati mobil Ramon yang semakin berlalu dan kini menghantam kaca depan mobil Chory.

Chory dan Ramon segera menghentikan mobilnya. Mereka kaget dan baru menyadari bahwa yang ditabraknya tadi adalah Abdi, sahabatnya sendiri.

Chory dan Ramon segera turun dari mobil. Tubuh Abdi berada tepat di belakang mobil Ramon dan di depan mobil Chory.

Dilihatnya, tubuh Abdi berdarah-darah. Chory langsung mengangkat kepala Abdi di atas pahanya. Ramon mengenggam tangan Abdi.

“Di… elo jangan pergi dulu. Elo jangan pergi ninggalin kita berdua. Di… gue mohon…” pinta Ramon memelas. Ramon tau bahwa Abdi masih hidup, karena Abdi masih mengenggam erat tangannya.

“Di… maafin gue, gue janji nggak akan ngelakuin hal yang ceroboh kayak gini lagi! Di… gue mohon, elo bertahan ya, jangan sampai elo pergi ninggalin kita…” kata Chory. Mereka berdua merasa bersalah terhadap Abdi.

Abdi mencoba untuk berbicara, meski ia berbicara dengan terbata-bata. “Cho-chory, dan Ra-ramon, sebelumnya gu-gue minta maaf sa-sa-sama elo berdua. Ta-ta-ta-ta-tapi untuk kali ini gu-gue nggak bi-bisa bertahan. Gu-gue harus pergi ninggalin e-elo berdua. Gue harap, elo se-selalu ingat a-ama gu-gue”

“Tapi Di… elo nggak boleh pergi niggalin kita” kata Chory.

“Iya! Kita berdua masih butuh elo…” sahut Ramon.

“Ki-ki-kita a-a-adalah best friend forever and ever”

Dan… Abdi meninggal…

“Abdiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii……..!!!” Chory dan Ramon masih tidak terima atas kematian sahabatnya yang ada di depan matanya.

***


“Semua udah terlanjur Mon. Abdi udah meninggal, nggak ada yang bisa kita lakukan untuknya” kata Chory.

“Iya Ry, gue nggak nyangka Abdi bakalan ninggalin kita secepat itu. Gue nyesel Ry..”

“Gue juga nyesel Mon…”

“Apa yang harus kalian sesalkan” tiba-tiba bundanya Abdi datang, ia datang dengan senyum yang mengembang di bibirnya, meski Chory dan Ramon tau bahwa mata bundanya Abdi yang biasa dipanggil Tante Rima, terlihat sembab. “Apa yang perlu kalian sesalkan untuk Abdi? Semua sudah berlalu..”

Chory membantah, “Tapi Tante, ini semua kesalahan saya, andai daja saya nggak mengajak Ramon untuk balap mobil, semua nggak akan terjadi”

“Bukan, ini semua salah gue. Seandainya gue nggak memulai pertengkaran itu, semua ini nggak akan terjadi” Ramon menyalahkan dirinya.

“Sudah, sudah, buat apa sih kalian menyalahkan diri kalian masing-masing? Sebenarnya, ini semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Nggak ada yang perlu disesalkan. Kalo kita menyesali semuanya, yang ada malah kita berjalan mundur ke masa lampau” Tante Rima memberi nasehat.

“Chory terdiam sejenak, “Lalu, apa yang harus kami lakukan?”

“Kalian harus tetap memandang lurus yang ada di depan kalian. Masa lampau cukup ditengok saja” kata-kata Tante Rima merupakan nadehat yang bijak. “Oh iya!” Tante Rima teringat sesuatu, segera diambilnya barang yang ada di tasnya. Dan ternyata ia mengeluarkan dua kalung berinisial A. pasti milik Abdi!

Ramon keheranan saat mengetahui bahwa kalung milik Abdi ada di tangan Tante Rima, “Loh, bukannya kalung itu milik Abdi?”

Tante Rima mengangguk, “Iya, ini memang milik Abdi. Tapi, sekarang kalung ini milik kalian berdua” Chory bertanya, “Kok kalung ini menjadi milik kami?”

“Iya… sehari sebelum kematian Abdi…” Tante Rima mulai bercerita. “Tante melihat Abdi memakai 2 kalung berinisial A. Tante heran, dan bertanya kepada Abdi. Abdi menjawab dengan cukup simple, kalung ini untuk Chory dan Ramon, Abdi akan memberikannya saat Abdi pergi dan meninggalkan mereka…”

Tante Rima pun memberikan kedua kalung milik Abdi kepada Chory dan Ramon yang berada di sampingnya. Chory dan Ramon menerimanya dan memakainya.

“Tante, kami sebagai sahabatnya Abdi, akan berjanji di depan Tante Rima, bahwa…” kata Chory yang langsung disambung ole Ramon, “kita sebagai anggota THE CAR, Chory – Abdi – Ramon akan menjadi bestfriend forever and ever…”

Tante Rima, Chory dan Ramon tersenyum simpul. Arwah Abdi yang sedari tadi mendengarkan, juga tersenyum akan kedua sahabatnya dan bundanya…

cerpen-tentang-mobil

Rhoshandhayani KT
Rhoshandhayani KT Rhoshandhayani, seorang lifestyle blogger yang semangat bercerita tentang keluarga, relationship, travel and kuliner~

Post a Comment for "The CAR"