Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memang Harus Ada Pengorbanan

Ya, aku sangat mencermati kalimat itu. Pengorbanan itu perlu. Bagiku pengorbanan adalah sesuatu yang harus direlakan untuk mendapatkan apa yang kita dapatkan dibalik hal yang kita ikhlaskan. Memang, berkorban itu susah, apalagi yang dikorbankan adalah diri sendiri. Tapi mau gimana lagi? Toh, perngorbanan itu memang perlu.

Kemaren sore, aku ribet ngurusin robotika. Ya ngurusinnya bareng Demsy. Anak robotika kan mau ikut lomba Underwater Rbot Contest di ITS Surabaya, nah kita diundang oleh panitia... Kita udah dibookingkan 2 tim (@ 5 orang). Workshop tanggal 30 maret, lalu dilanjutkan lomba tanggal 3-4 Mei...

Tapi, saat di Surabaya, aku menawarkan temen-temen: siapa yang mau ikut URC, eh cuma ada 7 yang berminat. Walhasil, aku dan Demsy masuk untuk mengisi kekosongan tersebut. Tapi nggak mungkin kalo 9 orang. Ya sudah, akhirnya kita menawarkan temen-temen lagi. Dan hasilnya, Demsy ngajak Eko, sedangkan aku ngajak Rahmat. Lah berabe kan? Jumlah pesertanya jadi 11 orang? Lalu Demsy bilang gini, "aku nggak melu wes Ros..." Nah loh? Siapa yang ngatur di sana? Lah wong si Demsy ketuanya. Percuma aku ngurusin ini itu di sana sendirian kalo nggak ada yang ngasih keputusan. Aku nggak akan berani ngasih keputusan sepihak.

Dan nggak mungkin juga jika aku mengeluarkan 1 orang agar acara ini tetap berlangsung, aku nggak akan setega itu. 

 Kemaren sore, aku dapat ide. Bagaimana kalau nambah tim? Bukankah maksimal 3 tim??? Walhasil, aku dapet 2 orang lagi. Jadi kan ada 13 orang. Tapi nggak mungkin juga jika 1 tim cuma terdiri dari 3 orang atau 4 orang jika diratakan? Aku pun nyari lagi. Aku menawarkan Novi dan Nofita. Akhirnya pas 15 orang untuk 3 tim. Sialnya, tiba-tiba Valen sms dan bilang kalo Samsul mau ikut. Beuh, Demsy langsung cabut. Ya aku makin drop kalau nggak ada ketuanya. Lalu Valen sms aku lagi, ngabarin kalau Rizky pengen ikut.

Beuh, makin pusing aku! Ya sudah, aku dan Demsy mengalah untuk temen-temen yang lain.

Fiuh, 17 anak mendaftarkan diri ke aku dan pasti harus ada pengorbanan. Itu yang aku camkan semalam.

Dan tadi sepulang sekolah, anak-anak robotika berkumpul untuk memilih tim. Aku tanyain temen-temen satu persatu: mereka beneran ikut apa enggak. Eh, ada yang galau. Huh, benci aku!

Kevin juga. Dia bilang gini ke Demsy, "mas, aku nggak bakalan melu lek mas Demsy nggak melu."
Loh? Eh, yang bener aja!!! Kalo Demsy ikut, dia mau ditaruh dimana?????

Akhirnya aku bilang gini, "kalo kamu pengen Demsy ikut, kamu harus mengeluarkan satu orang teman kamu."

Samsul. Dia yang jadi korban permintaannya Kevin. Kevin pun telpon Samsul dan ternyata Samsul nggak niat alias ogah-ogahan ikut URC. Ya sudah, berarti Samsul keluar dan Demsy masuk.

Satu masalah sudah beres, ada lagi masalah lainnya. Rahmat bakalan ikut kalo Eko dan Bangkit ikut. Eko dan Bangkit bakalan ikut kalo Fafa ikut. Nah, keputusannya ada di Fafa. Tapi kenapa Fafa bilang 'masih galau'? Yang bener aja, kita butuh kepastian...!!!

Si Rizky sama Vita juga. Mereka awal Mei sibuk olimpiade. Mereka pengennya ikut workshop. Ada pula yang ragu mau ikut apa enggak.

Sampai-sampai Demsy bilang gini, "lek galau-galau tok ngene mending ndak usah melu rek! Urusen wes Ros. . .!" Demsy pun keluar kelas dan memasrahkan semuanya padaku.

Rek, Demsy marah. Baru kali ini aku tau Demsy marah. Padahal dia bukan tipe orang pemarah. Apalagi kata Kevin, Demsy meso alias mengeluarkan kata-kata mutiara yang haram hukumnya untuk diucapkan.

Aku berpikir dan terus berpikir. Sampai akhirnya aku tahu pemecahan masalahnya. Begini, kita tetap mengirimkan 3 tim untuk workshop dan 2 tim untuk lomba. Jadi, satu tim workshop itu bener-bener ikut workshop tok.

Dan akhirnya terbentuklah anggota baru untuk URC:

Workshop doang: Bangkit, Rahmat, Rizky, Vita, Novi

Workshop + lomba: Kevin, Demsy, Rere, Rina, Putri

Workshop + lomba: Fafa, Eko, Qiyan, Valen, Nofita

Alhamdulillah... masalahnya udah kelar.

Nggak berapa lama kemudian Demsy sms minta maaf. Iya nggak pa-pa. Sekalian juga aku laporan tentang hasil peserta URC. Lalu Demsy nanya gini: Pean gak melu?

Kalau aku ikut, aku mau ditaruh dimana Dem???

Ya sudahlah, biarlah aku yang berkorban. Aku memberikan kesempatan untuk temen-temen dan adhek kelasku agar mereka bisa bersenang-senang ikut URC.

Aku selalu memantapkan hatiku bahwa: Dimana-mana pengorbanan itu perlu, entah pengorbanan waktu, pengorbanan hati, pengorbanan materi ataupun pengorbanan yang mengharuskan kita untuk tidak melangkah bahagia bersama yang lain, karena aku yakin kebahagiaanku nggak hanya akan aku temukan disini, pasti di lain waktu dan di lain tempat dengan sesuatu yang indah... :-)

4 comments for "Memang Harus Ada Pengorbanan"

  1. sepakat. . . . . mudah mudahan disetiap pengorbanan mendapat hasil yang maksimal. . ..

    ReplyDelete
  2. semoga apa yg di harapkan bisa sukses kan bisa menebus semuah perjuangan dan pengorbanan walau melakukan itu semuah tidaklah mudah.. Ia kan.. .

    ReplyDelete
  3. gue ngerasa abis digampar setelah bca tulisan ini.

    kadang gue takut buat berkorban untuk masa depan. makasih ya tulisannya udah 'ngingetin gue' :)

    ReplyDelete