Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sebuah Kisah Menciutkan Nyali di Piketnol


 Assalammualaikum wr wb..

Hmmm… saya terngiang-ngiang kisah seru saat lebaran beberapa bulan lalu. Seperti biasanya, saya dan keluarga tidak menjalani mudik ketika lebaran karena hanya terpisah 3 kecamatan dari kampung halaman. 

Tapi ya hambar gitu ya kalau nggak mudik, akhirnya kami sok-sok mudik dan bersilaturahmi ke rumah saudara yang beda kota. Kami di Lumajang, sedangkan saudara saya di Blitar. Namun sayangnya, kami mudik setelah beberapa bulan lebaran berakhir, yaitu bulan September, hahaha… Ya sudahlah yaaa, anggap saja nuansa mudik. Soalnya masih dalam tema bersilaturahmi ke rumah saudara.
Saya bersama Ibu, dalam perjalanan menuju Blitar

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kami menuju Blitar dengan mengendarai mobil. Dikarenakan ada 3 keluarga yang ingin berkunjung ke Blitar, maka kami membawa 2 mobil yaitu mobilnya Ayah dan mobilnya Pakde. Merk dan warna mobilnya pun sama, hanya berbeda tahun keluarannya saja. Mobil milik Ayah lebih baru. Tapi mobil saya tentu lebih baruuu, hmmm keluaran beberapa tahun kemudian, hehehe…

Untuk menuju Blitar, kami harus melewati kabupaten Malang. Ada salah satu sudut Malang yang harus kami lalui karena jarak tempuhnya lebih pendek, yaitu Piketnol. Piketnol adalah kawasan di kaki gunung yang muter-muter nggak karuan. Seringkali saya mabuk darat di situ. Setiap pulang pergi, saya selalu menyempatkan diri untuk mabuk, sengaja kok, hehe..

Namun lebaran kemarin, Alhamdulillah saya nggak mabuk, yeeeees… Namun ada satu kejadian yang membuat nyali menciut. Apa itu?

Di tengah-tengah perjalanan, masih di kawasan piketnol, tiba-tiba mesin mobil mati mendadak. Saya, Ibu, bude-bude, ponakan, dan adek kaget. Ayah juga terdiam, tapi ayah langsung cekatan. Saya nggak begitu paham Ayah melakukan tindakan medis apa untuk mesin mobil yang mati mendadak di kemiringan 15°, kayaknya Ayah langsung pegang handrem kali yaaa, supaya nggak mundur ke belakang, soalnya di belakang ada mobilnya Pakde.

Kemudian kami semua turun dari mobil dan menghela nafas lega. Minimal tidak ada kejadian yang fatal, misalnya seperti mundur ke belakang yang otomatis akan menimbulkan korban jiwa. Hmmm ternyata terbukti yaaa, memang asli sim-A nya Ayah, hahaha…

Kemudian Pakde dan saudara-saudara yang menumpang di mobilnya Pakde juga turun. Pakde membantu Ayah mengecek permasalahan di mobilnya Ayah. Hmm… ternyata… si mobil harus donor jantung. Jantung yang dimaksud adalah aki, hehehe…

Tapi, di manakah ada orang jualan aki di tengah-tengah kawasan Piketnol yang lintasannya berkelok-kelok dan curam??? Adakah??? Rencananya Pakde mau turun atau balik untuk mencari orang jualan aki, tapi sepertinya butuh waktu yang lama dan juga akan menguras tenaga dan pikiran. Bikin capek.

Kemudian tiba-tiba adek mengusulkan untuk telpon GS Astra. Lalu Ayah bertanya balik, “Memangnya bisa GS Astra bawa aki ke sini?”

“Ayah jadul niiih… Jaman sekarang sudah serba canggih yah. Ayah cukup telpon GS Astra, sampaikan permasalahannya, lalu mereka akan datang melayani kita…” jawab adek. Adek memang lebih up to date daripada saya.

“Oh gitu ya… Hmm… tapi kan nggak tahu nomor teleponnya…” sahut Ayah

“Yaelaaah… Gampang yah, ntar tanya ke mbah google, dijamin ada kok!” kata Adek mantap.

Ibu bersama adek, yang jago mengusulkan solusi
 Saya manggut-manggut mendengar percakapan tersebut. Kemudian saya membantu untuk mencarikan nomor telepon GS Astra terdekat melalui internet. Alhamdulillah, masih ada sinyal di kawasan hutan-hutanan seperti ini.

Ternyata perkataan adek benar. Kini telah ada GS AstraDelivery, yaitu layanan antar aki dari Shop&Drive yang siap membantu apabila mobil mogok atau mengalami kendala lain yang disebabkan oleh aki. Pihak Shop&Drive akan mengantarkan aki yang sesuai dan langsung dapat dipasang ke mobil.

Menghubungi outlet Shop&Drive juga cukup mudah, yaitu langsung telpon ke 15-000-15. Iyes, nomornya cuma satu. Nggak perlu kode area dan hanya dikenakan tarif lokal. Nomornya gampang diingat pula.

Atas saran kami, maka Ayah menelepon Shop&Drive. Sementara itu, sambil menunggu kami melaksanakan ibadah sholat dhuhur dan menunaikan hajat manusia yaitu makan siang. Pokoknya, selama di piketnol, wajib makan bontotan (makanan bawaan rumah) minimal sekali dalam perjalanan.

Sekitar satu jam kemudian, ada mas-mas mekanik datang sambil bawa aki. Sekalian pula dipasangkan akinya. Sembari itu, Ayah juga diberitahu tentang tips-tips merawat aki, dsb. Pakde juga ikut menyimak. Setelah lama berbincang, kemudian Ayah membayar aki dengan uang cash.

Alhamdulillah, sah. Akhirnya kita berangkat lagi menuju Blitar dengan perasaan gembira. Yeeee…. Kita lanjut mudiiiik… hehehehe….

By the way, kini sedang ada lomba blog loooh... Total hadiahnya 21 juta meeeen.... Kamu cukup bercerita tentang pengalamanmu ketika menggunakan layanan calling Shop&Drive untuk mendapatkan jasa pesan antar aki. Kompetisi blogging ini diadakan oleh GS Astra. Teman-teman dapat mengakses informasi tersebut dengan cara klik di siini.

Wassalammualaikum wr wb

4 comments for "Sebuah Kisah Menciutkan Nyali di Piketnol"

  1. saya kalau lagi mudik ke jember, dan ingin jalan2 ke malang, dari jember seneng lewat jalur selatan lumajang - malang ini. dan tentu saja melewati piket nol. walau jalurnya berkelok kelok, tapi tertebus dengan indahnya pemandangan di kiri kanan jalan.

    kalau boleh tahu, saat di piket nol itu, dilayani oleh shop and drive yang dimana ya? secara kalau dari lumajang sudah lumayan jauh, apalagi dari malang, jauh bettt

    ReplyDelete
  2. Selamat berjuang kak,, semoga menang ,, aamiin.

    Numpang promo ya kak:
    yang mau mencoba cari samping dengan jualan Kuota Murah, jangan ragu berkunjung ke www.maxsi.id ya kak :-)

    ReplyDelete
  3. Saya sudah ngerasain mogok di tempat sepi. Untung masih terjangkau layanan #GSAstraDelivery. Menolong banget

    ReplyDelete