Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Gravitasi Seperti Kartini yang Membumi

menjadi-seperti-kartini

Assalammualaikum wr wb

Bulan April, identik dengan kelahiran seorang tokoh perempuan yang menginspirasi. Kehadirannya semenjak 21 April 1879 membawa aura positif dan keyakinan untuk berevolusi, khususnya tentang perempuan, pendidikan, dan jati diri. Ia tumbuh mendewasa bersama bacaan-bacaannya yang mampu menenggelamkannya dalam pemikiran baru dan paradigma terkini.

 Kartini, yang Menjadi Gravitasi Kebangkitan Perempuan Pribumi 

Sempat terbersit rasa iri ketika melihat kemajuan berpikir para perempuan di tanah Eropa yang sangat berbeda jauh dengan kondisi perempuan pribumi. Perlahan ia mempelajarinya lewat surat kabar, buku, dan majalah yang berasal dari negeri orang dan juga negeri sendiri. Selain itu, ia juga bertukar surat dengan teman-teman sekorespondensi. Ia pun beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di beberapa media massa internasional, salah satunya di majalah De Hollandsche Lelie. Pemikirannya yang sarat makna, tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, melainkan juga permasalahan sosial yang dialami para pejuang berbendera merah putih.

Tulisan-tulisannya yang berani dan penuh kritik, seringkali dilirik dan disinisi oleh para birokrat asing yang tidak menyukai kemajuan negeri ini. Namun kegigihan dan semangat keberaniannya yang tinggi, semakin menjadikannya sebagai sumber ketertarikan terbesar dan terkuat sepanjang abad yang bisa kita istilahkan dengan sebutan gravitasi. Ialah Kartini, perempuan asal Jepara yang kekuatan berjuangnya telah masuk ke relung hati para perempuan di pelosok negeri.

kartini-gif

Ya, Kartini telah menjadi gravitasi di seluruh penjuru dunia. Pemikirannya tentang emansipasi wanita, tak lekang oleh zaman. Banyak orang yang mengapresiasi pemikirannya dalam beberapa bukunya yang baru diterbitkan setelah ia wafat. Tak hanya itu, namanya terabadikan di beberapa jalan sudut kota luar negeri, antara lain di Utrecht, Venlo, Harlem, dan Amsterdam. Pemikiran dan perjuangannya begitu melekat di hati masing-masing pengagumnya.

Begitupun dengan saya, yang turut mengaguminya. Setiap memasuki bulan April, hawa-hawa perjuangan Kartini selalu terasa. Alunan lagu Ibu Kita Kartini karangan WR Supratman, seringkali menghiasi layar kaca dan dikumandangkan di setiap sekolah kala upacara bendera. Hati terenyuh kala mendengarnya. Menandakan bahwa diri ini juga harus turut bergerak bersama.

 Turun Tangan dan Bergerak Menjadi Sobat Pengajar 

2014, jiwa ini terpanggil. Terbersit rasa ingin mengabdi di tanah perantauan yang telah menyediakan tempat tinggal dan tempat berguru selama ini. Dibukanya pendaftaran Sobat Pengajar angkatan 3 di Universitas Jember Mengajar menjadi kabar baik bagi saya yang haus akan aktivitas kemanusiaan agar bisa terus berbagi. Alhamdulillah, saya diterima menjadi Sobat Pengajar dan ditempatkan di SDN Bintoro 5, kecamatan Patrang, Jember.

Lokasi sekolah tersebut tak jauh dari pusat kota, hanya berjarak 15 km dari sebuah universitas negeri, namun kondisinya jauh dari kata layak. Anak-anak datang tak bersepatu, berseragam lusuh warisan kakaknya, bertaskan kantong kresek, dan hal-hal lain yang membuat hati ini teriris-iris. Tak banyak yang bisa saya dan teman-teman lakukan, hanyalah datang setiap akhir pekan lalu menemaninya bermain dan belajar. Tak hanya materi akademik yang kami berikan, melainkan materi non akademik yang jarang sekali mereka dapatkan, seperti pelatihan komputer, pramuka, PBB (Peraturan Baris Berbaris), pengenalan apotek hidup, PHBS (Pengenalan Hidup Bersih dan Sehat), sekolah alam, dll.

unej-mengajar-jember

Salah satu hal yang paling menyenangkan bersama mereka adalah ketika mereka mendatangi kami lalu dikepoin oleh mereka, hehehe. Ketika mereka sudah kepo atau penasaran dengan saya dan teman-teman, menandakan bahwa suatu hari mereka juga ingin seperti kami yang bisa menempuh pendidikan sampai tingkat sarjana. Ibaratnya, kedatangan kami bagaikan gravitasi untuk lebih kuat dan bersemangat dalam meraih cita-cita.

Alhamdulillah, setahun kemudian (setelah masa pengabdian selesai), saya diundang oleh Sobat Pengajar angkatan 4 untuk datang lagi ke SD Bintoro 5, menengok kemajuan anak-anak binaan kami. Senaaaaang rasanya mereka sudah mengalami kemajuan yang sungguh di luar dugaan, yaitu berani tampil di pentas seni sekolah. Meski kegiatannya didesain sederhana, namun itu bermakna mewah bagi mereka. Anak-anak juga percaya diri dalam menampilkan pertunjukannya. Terbersit rasa bangga dan berkesannya pengalaman yang akan mereka ceritakan dengan berapi-api kepada keluarga dan sanak saudaranya di rumah. Harapannya, semoga mereka dapat selalu ceria dan bahagia dalam menjalani setiap proses perjuangannya.

unej-mengajar-jember


3 bulan tak bertemu dengan anak-anak seusia mereka, rasanya ada yang hilang. Hidup terasa hampa, entah apa yang kurang. Saya merasa bahwa saya butuh asupan senyuman dari para penggerak bangsa di masa depan. Rupanya saya telah candu untuk selalu dekat dengan mereka. Selalu, ketika menatap mata mereka, saya yakin bahwa saya telah melihat masa depan Indonesia.

Tahun kedua perkuliahan, saya dipinang menjadi bendahara pada organisasi yang sama. Posisi saya sebagai pengurus inti, mengharuskan saya menjalani setiap candu saya, yaitu berkeliling ke sekolah-sekolah guna menemani Sobat Pengajar yang akan mengajak anak-anak untuk selalu bergembira dalam setiap aktivitas. Senaaaaang sekali rasanya terjun langsung dan menemani mereka tertawa bahagia.

 Mengemban Amanah yang Tak Mudah 

Rupanya, amanah untuk tetap mengabdi di Universitas Jember Mengajar masih terus berlanjut. Teman-teman mempercayakan saya untuk mengemban sebuah amanah besar yang tak pernah saya duga sebelumnya, yaitu menjadi Direktur. Bukan hal yang mudah bagi saya, namun saya sadar bahwa ini bukan semata-mata untuk saya, melainkan untuk kemajuan gerakan mulia ini yang telah didirikan 4 tahun lalu.

Saya tidak tahu alasan apa yang membuat teman-teman memercayakan amanah ini kepada saya. Namun kini ketika saya sadari, ternyata ada sebersit kekuatan yang mampu menarik banyak kalangan untuk tetap membersamai saya dalam mengasuh Universitas Jember Mengajar. Kekuatan itu seakan-akan mirip dengan kekuatan gravitasi yang dimiliki Kartini, yang dengannya maka kami akan mampu membawa visi misi ini untuk menarik banyak orang supaya bersedia turun tangan bersama.

unej-mengajar

Memang tidak mudah, namun saya selalu didukung oleh tim yang setia membantu saya. Mereka menemani saya sejak awal terbentuknya tim, mengagendakan program kerja, melaksanakan program kerja yang sangat banyak, begadang bareng, rapat di kafe yang harganya terjangkau, susahnya mengatur kegiatan supaya berjalan tepat waktu, dan segala kegiatan yang berlangsung sampai akhir kepengurusan. Alhamdulillah... pada Desember 2016, amanah ini telah usai dan teman-teman mengapresiasi kekuatan saya yang telah mampu menarik banyak orang untuk terus berkontribusi kepada negeri.

 Aktif di Organisasi Ekstra Kampus 

Menjadi anak kuliahan itu tidak seperti yang diceritakan di sinetron maupun ftv yang didominasi oleh kisah cinta yang rumit dan bikin greget. Justru, anak kuliahan di dunia nyata itu lebih seru, apabila mampu melakukan hal-hal yang menyenangkan dan bermanfaat bagi orang lain. Misalnya ikut komunitas atau organisasi di dalam kampus maupun di luar kampus. Di luar kampus, saya mengikuti komunitas Kelas Inspirasi, yaitu Kelas Inspirasi Jember dan Kelas Inspirasi Lumajang.

Senaaaang sekali bisa tergabung di Kelas Inspirasi. Saya tahu bahwa saya tidak bisa menjadi relawan  pengajar karena masih belum bekerja secara profesional. Saya juga tahu bahwa saya tidak bisa menjadi relawan dokumentator karena belum punya alat dokumentasi yang mumpuni. Namun saya masih bisa dan bersedia menjadi relawan panitia dan fasilitator.

kelas-inspirasi-lumajang

Menjadi relawan panitia itu seru banget. Berhadapan dengan banyak orang yang berbeda umur dan lintas profesi dengan keberagaman karakter masing-masing, membuat diri ini memiliki mental yang jauh lebih kuat karena telah terbiasa berinteraksi dengan orang baru. Menjadi relawan fasilitator itu juga seru, karena kita harus bisa menyiapkan seluruh rangkaian acara di sekolah dengan baik dan menyiapkan kebutuhan mental dan fisik para relawan pengajar. Dari sana, saya belajar banyak hal secara real, yaitu belajar untuk selalu siap, berpikir cerdas dan cepat, berlatih public speaking, dan lainnya. Hal-hal tersebut tidak saya dapatkan di bangku perkuliahan, melainkan di lapangan seperti ini. Pengalaman itulah yang menjadi bekal saya untuk bisa berprestasi sampai saat ini.

 Menjalankan Misi Penting 

Kini saya sedang berada dalam sebuah misi untuk menyelesaikan visi yang telah saya buat, yang ingin saya pertanggungjawabkan kepada orangtua saya. Visi saya adalah menjadi mahasiswa berprestasi yang dapat menginspirasi banyak orang. Mahasiswa berprestasi tidak hanya diukur dari akademik atau nilai IPK saja, melainkan dengan kontribusi yang ia berikan untuk sekitarnya melalui komunitas atau organisasi.

Saya ingin membuktikan, bahwa dengan menjadi pemimpin dan aktif berkesibukan di berbagai komunitas tidak membuat nilai akademik kita menjadi turun. Justru kegiatan-kegiatan di luar akademik tersebut mampu menunjang aktivitas perkuliahan kita karena banyak pengalaman tak terduga yang kita dapatkan di lapangan. Intinya, kita memiliki potensi yang lebih daripada teman lainnya.

sidang-skripsi

Perihal nilai IPK saya, hmm masih aman kok, cukup untuk mendapatkan gelar yang saya inginkan saat wisuda. Saya juga sedang berusaha menyelesaikan skripsi saya agar dapat dinyatakan lulus pada bulan Juni. Bukannya saya ngebut banget, hanya saja saya ingin mendapatkan gelar summa cum laude saat wisuda. Gelar ini akan saya persembahkan kepada orang-orang yang telah mendukung saya selama ini.

 Saya dan Teman-Teman, Bagaikan Bulan dan Bumi 

Saya pribadi berterima kasih kepada teman-teman kampus dan komunitas yang telah mendukung saya sampai sejauh ini. Mereka selalu meneriaki nama saya ketika saya tampil di muka umum untuk menunjukkan hasil berproses saya dalam berkegiatan. Mereka juga selalu antusias untuk menyemangati saya bahwa saya tidak boleh berhenti dalam memperjuangkan hak pendidikan anak-anak di pelosok desa. Mereka jugalah yang matanya selalu berbinar-binar  apabila mendengar kabar baik bahwa saya menjadi pembicara di radio maupun narasumber di media cetak. Mereka adalah tim huru-hara penyemangat saya.

Secara tidak langsung, ada sebuah energi dari mereka yang mampu mengantarkan saya berada pada fase ini. Energi itu bagaikan energi yang diberikan oleh bulan kepada bumi dan sebaliknya sehingga mereka sama-sama bisa saling berjaga di garis edarnya. Energi itulah yang disebut gaya gravitasi. Ibaratnya, saya adalah bulan dan teman-teman adalah bumi.

sumber gambar: pinterest.com

Bulan harus melakukan rotasi (perputaran terhadap dirinya sendiri) dan revolusi terhadap bumi. Sebagaimana saya yang harus tetap rajin belajar saat di kampus dan harus tetap aktif berorganisasi di dalam kampus maupun luar kampus. Tak hanya itu, bulan juga harus membersamai bumi untuk bergerak mengelilingi matahari. Sebagaimana halnya saya, yang harus berkontribusi untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Memang tidak mudah melakukan banyak hal seperti bulan yang multi talented. Saya harus pandai-pandai mengatur waktu untuk belajar, mengerjakan tugas, berorganisasi, menjalin relasi dengan orang baru, nongkrong bersama teman-teman, dan juga meluangkan waktu untuk blogging. Tetapi ketika kita yakin bahwa kita mampu mengatur waktu dan menjalani setiap aktivitas dengan baik, maka ragam kegiatan tersebut akan mudah terlaksana, tentu atas izin-Nya.

 Menjadi Gravitasi yang Membumi Bersama


Ingat yaa, apabila kita sudah mampu menginspirasi banyak orang, maka janganlah lupa dengan filosofi padi. Semakin berisi, maka semakin merunduk. Seperti halnya kita, yang apabila telah mampu berprestasi, maka harus selalu membumi.

Wassalammualaikum wr wb




PS: Ada review produk smartphone yang dihapus sebagai bentuk ketidaknyamanan atas hasil yang disampaikan karena menyinggung dunia perbloggeran 😆

10 komentar untuk "Menjadi Gravitasi Seperti Kartini yang Membumi "

  1. Wah sama-sama sedang dalam tahan Mahasiswa perjuangan ya kak hehe

    BalasHapus
  2. Kak Ros, Kartini masw kini! Duh hebat banget ya meski sibuk kuliah tapi tetap aktif di kegiatan organisasi.
    Kartini masa kini memang harus ditunjang dengan teknologi yang canggih. Cocok banget pake Luna. Ga perlu lama-lama nunggu batre penuh di tengah kesibukan yang ada.

    BalasHapus
  3. Seneeng yaa mbaak bsa ngajaar adik" gtuu. Berbagi selalu menyenangkan, membuat gravitasi jd lebih kuaat 😁

    BalasHapus
  4. Waduh udah lama juga gak main ke blog ka Ros, cuman baca aja tapi gak pernah komen :D
    iya,sebagai mahasiswa jangan sampai terlalu mengukur tentang IPK sih, tapi bagaiamana bisa berkontribusi untuk masyarakat juga

    BalasHapus
  5. Tiap ada yang mau jadi Kartini modern aku selalu berpesan jangan, Kartini itu kasian, punya otak tapi akhirnya menyerah pada sistem dan mati muda karena makan hati 😬

    BalasHapus
  6. Luar biasa ya mbak pengaruhnya terhadap lingkungan. Membuat diri menjadi poros memang perlu kemampuan yang bisa menginspirasi banyak orang dan smartphone LUNA bisa jadi senjata yang mumpuni. semoga apa yang dinginkan dan diharapkan mampu jadi nyata dan tetap berada diporosnya

    BalasHapus
  7. Aku ngerasain banget nih, gimana rasanya ada di dua kesibukan yg berbeda. Dulu aku juga kuliah sambil kerja T_T

    BalasHapus
  8. Uhui. Sektas moco lengkap, Ros :)) Aku nunggu collab konstribusi untuk pendidikan anak2 yuk, bikin project mandiri, hehe. Btw, artikelnya lengkap, wish us luck yahhh

    BalasHapus
  9. Nice post. Good luck ya

    BalasHapus
  10. aSyekk... lengkap bingit reviewnya mbak...
    Salut sama kesibukan2 kak ross...
    sukses ya mbak.. ^_^

    BalasHapus