Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pustaka Unsyiah, Perpustakaan yang Meremaja

Assalammualaikum wr wb

Sudahkah kamu meluangkan waktu untuk membaca buku hari ini? Saya sudah, baru saja saya menuntaskan sebuah buku yang cukup berat untuk dibaca setelah berhari-hari saya mencicilnya di sela-sela kesibukan saya. Bagi saya, membaca itu seperti asupan makanan bagi otak dan pikiran saya. Sesuai dengan tagline blog saya, "Membaca itu lezat karena dapat mengenyangkan pikiran".

Datang ke perpustakaan adalah salah satu hal rutin yang saya lakukan setiap minggunya. Selain bertujuan mencari referensi untuk bahan baku skripsi saya, perpustakaan menjadi tempat yang paling cozy untuk membaca buku-buku santai. Buku santai yang saya maksud adalah buku yang gaya tulisannya menarik dan enak dibaca, cukup bisa membangkitkan energi sehingga saya lebih optimis untuk menapaki setiap hal yang akan saya lakukan.

Sejak kecil, Ayah sering mengajak saya untuk datang ke perpustakaan. Ketika memasuki sebuah perpustakaan, saya selalu jatuh cinta apabila melihat tatanan buku yang tersimpan rapi di rak setiap sudut perpustakaan. Saya tak bisa berdiri hanya sebentar untuk melihat-lihat buku yang ada di rak. Selalu saja saya rela berdiri lama-lama untuk mencari tahu bahkan sekedar tahu buku-buku yang telah dan akan selalu siap menginspirasi banyak orang.

Bersama Ayah, menjelajah perpustakaan di tempat persinggahan

Saya sudah menjelajah sebagian perpustakaan di kampung halaman dan di daerah perantauan. Sudah cukup puas saya mengenali setiap sudut perpustakaan yang sering saya kunjungi. Sebagai pegiat buku yang menganggapnya sebagai asupan makanan, berjelajah ke perpustakaan di daerah lain untuk merasakan atmosfer yang berbeda adalah salah satu mimpi saya. Beberapa pekan lalu, saya searching tentang perpustakaan yang semakin trendy dan mampu menghadirkan suasana yang berbeda.

Ada salah satu perpustakaan yang menarik perhatian saya, yaitu Perpustakaan Universitas Syiah Kuala atau yang lebih dikenal dengan nama Pustaka Unsyiah. Lokasinya berada di Darussalam Banda Aceh, lebih tepatnya di jalan T. Nyak Arief. Iyaa, saya tahu lokasinya sangat jauh dari jangkauan saya, padahal saya ingin berjelajah ke sana, menikmati setiap sudut ruangannya. Semoga lain waktu saya bisa berkunjung ke sana.

Gedung Perpustakaan Unsyiah

Perpustakaan Unsyiah ini telah berdiri sejak tahun 1970. Saat itu masih menggunakan gedung di Fakultas Ekonomi. Seiring berjalannya waktu, akhirnya pada tahun 1994 Perpustakaan Unsyiah mendapatkan gedung sendiri yang berdampingan dengan Kantor Pusat Administrasi (KPA) Unsyiah. Sejak saat itu pula, melalui Surat Keputusan Rektor No. 060 bahwa pendayagunaan UPT Perpustakaan Unsyiah ditingkatkan, yaitu dengan menyatukan semua perpustakaan yang ada di lingkungan fakultas Unsyiah dalam satu naungan, yaitu UPT Perpustakaan Unsyiah.

Perpustakaan Unsyiah didirikan bukan tanpa alasan, melainkan dengan visi dan misi yang jelas. Visi misi tersebut mengantarkannya untuk menjadi salah satu pelayan masyarakat yang baik. Visi misinya antara lain:

Visi: Menjadi pusat informasi ilmiah terkemuka dan berdaya saing di Asia Tenggara

Misi:
1. Menyediakan kebutuhan koleksi yang relevan dengan kebutuhan pemustaka
2. Mengembangkan pusat repository lokal konten (deposit) yang open access
3. Menyelenggarakan pelayanan prima yang memenuhi standar pelayanan minimum
4. Mengembangkan sistem otomasi perpustakaan yang standar
5. Mengembangkan komptensi kepustakawanan menuju sertifikasi profesi
6. Mengembangkan total quality management dalam pengelolaan perpustakaan.

Sejak saat itu, Perpustakaan Unsyiah melakukan regenerasi dalam banyak hal terkait pelayanannya kepada pengunjung perpustakaan. Maka pada tahun 2008, Perpustakaan Unsyiah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008 sebagai perpustakaan dengan pelayanan terbaik. Tak hanya itu saja, pada tahun 2013, Pustaka Unsyiah dinobatkan sebagai perpustakaan berakreditasi A oleh lembaga Perpustakaan Nasional RI.


Koleksi Lengkap

Perpustakaan Unsyiah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pustaka Unsyiah memiliki puluhan ribuan koleksi yang bisa kita baca. Lebih tepatnya yaitu sebanyak 75.114 judul koleksi dengan total 136.925 eksemplar. Jadi, kita bisa memilih koleksi yang kita inginkan tanpa bingung lagi karena semua rujukan sudah tersedia secara lengkap.

Koleksi yang dimiliki Pustaka Unsyiah tidak hanya terwujud dalam bentuk buku teks, namun dalam bentuk lain seperti  jurnal (terbitan berkala), laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, majalah, buku referensi, CD-ROM, dan dokumentasi. Tenaaang, Pustaka Unsyiah juga mengerti kita yang kehidupannya tak lepas dari internet. Kita bisa mengakses  koleksi e-book dan e-jurnal secara mudah pada beberapa penerbit skala internasional melalui portal UILIS

Sarana Prasarana yang Semakin Cozy

Bagi sebagian besar mahasiswa, nongkrong di tempat cozy itu merupakan hal yang sangat penting (setidaknya menurut saya sih 😆). Bersantai ria dan bercanda tawa bersama teman sambil membahas isu yang penting dan nggak penting, menjadi salah satu alasan untuk hidup lebih lama lagi. Apalagi jika melakukannya di tempat yang sangat nyaman. Aduhai, syahdu nian karunia Ilahi...

Semua tempat bisa dijadikan sebagai tempat yang cozy. Tidak menutup kemungkinan seperti halnya Pustaka Unsyiah yang telah menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang banyak dikunjungi mahasiswa di waktu senggangnya. Menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang cozy itu perlu penanganan yang cukup serius, khususnya pada bidang infrastruktur.

Pembenahan infrastruktur menjadi hal mendasar dalam peningkatan pelayanan secara fisik. Pustaka Unsyiah, dengan cepat telah berbenah. Dulu, sering sekali ada plafon toilet yang bocor, hal ini menyebabkan mahasiswa tidak nyaman apabila ingin membuang hajat di sana, rasanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah atau ke kosan untuk menyelesaikan hajatnya, lalu malas untuk kembali lagi ke perpustakaan. Untuk itu, perbaikan plafon toiler yang bocor adalah langkah awal yang ditindak secara serius oleh Pustaka Unsyiah. Kini kita bisa melihat hasilnya, bahwa mahasiswa telah nyaman untuk merapikan diri dari kekusaman perutnya di toilet Pustaka Unsyiah.

Kondisi plafon yang tidak baik (sebelumnya) mengakibatkan banyak terjadi kebocoran dimana-mana. Hal ini juga berdampak pada mengelupasnya cat dinding. Hal tersebut merupakan masalah yang sangat serius. Orang menjadi malas apabila melihat fisik yang tak terawat. Maka dari itu, Pustaka Unsyiah bertindak cepat untuk segera melakukan pengecatan ulang di dinding perpustakaan. Tak hanya itu, perlunya nuansa baru juga dihadirkan dengan pemberian warna yang fresh dan instagramable

Dinding perpustakaan yang fresh dan instagramable

Selain itu, terdapat perubahan sangat mencolok yang dilakukan terhadap peningkatan mutu layanan Pustaka Unsyiah, yaitu penataan sirkulasi. Sebelum zaman berkembang pesat seperti saat ini, dibutuhkan sirkulasi yang sangat besar, yaitu untuk penyimpanan buku dan tempat pelayanan yang dilakukan oleh para pustakawan. Kini, seiring berkembangnya zaman, maka banyak pelayanan yang tidak membutuhkan campur tangan pustakawan karena telah mampu diselesaikan secara otomatis oleh kecanggihan teknologi, seperti pendaftaran anggota untuk dosen, ETD, dan pelayanan bebas Pustaka. Hal ini mengartikan bahwa pelayanan perpustakaan akan lebih efektif apabila sirkulasinya minimalis dan praktis.

Libri Cafe

Membaca buku di perpustakaan tidaklah baik apabila perut dalam keadaan kosong. Pustaka Unsyiah sangat mengerti keadaan mahasiswa yang suka lapar dan hobi makan. Maka dibangunlah sebuah kafe yang berada sangat dekat dengan perpustakaan. Libri Cafe namanya.

Menikmati waktu senggang di Libri Cafe

Cafe tersebut didesain ala-ala cafe malam di perkotaan. Lengkap dengan desain artistik di dinding cafe, menambah daya tarik pengunjung untuk sekedar melepas penat setelah selesai membaca atau mengerjakan tugas di perpustakaan. Tempat ini menjadi tempat singgah pelepas lelah sembari bercengkerama dengan kawan seperjuangan.

Semakin Canggih, Semakin Trendy

Piranti yang serba canggih telah mempermudah segala aktivitas keseharian di berbagai sektor, salah satunya adalah perpustakaan. Dengan kecanggihan teknologi, pengunjung perpustakaan tidak perlu lagi antri lama untuk meminjam buku ataupun mengembalikan buku. Hanya dengan melakukan scanning pada kartu identitas perpustakaan, maka buku akan terdeteksi dengan status terpinjam atau terkembalikan oleh alat canggih, yaitu RFID (Radio Frequency Indetification) dan SLiMS (Syiah Library Management System).

Pelayanan peminjaman buku dengan mesin canggih

Pelayanan canggih ini semakin mudah untuk dijalankan karena tidak perlu lama menunggu pencatatan identitas buku dan peminjam. Dengan RFID dan SLiMS, mahasiswa dapat memanfaatkan waktu senggangnya untuk lebih banyak membaca buku daripada harus antri untuk meminjam buku. Adanya alat ini menjadikan Pustaka Unsyiah semakin trendy karena selalu mengikuti perkembangan zaman.

Bertransaksi dengan EDC

Bukan mahasiswa namanya apabila belum pernah terkena denda perpustakaan. Biasanya pengunjung perpustakaan mendapatkan denda apabila ia terlambat mengembalikan buku atau menghilangkan buku koleksi perpustakaan. Dulu, mahasiswa harus datang menghadap staf perpustakaan untuk membayar denda. Kini, tidak lagi mahasiswa melakukan hal seperti itu karena Pustaka Unsyiah telah menyediakan EDC (Electronic Data Capture) yang memudahkan pengunjung perpustakaan untuk menggunakan kartu debit atau kartu kredit guna melakukan pembayaran denda di Pustaka Unsyiah.

EDC yang semakin mempermudah transaksi

Pustaka Unsyiah telah bekerjasama dengan BNI, BRI, dan bank Mandiri untuk mendukung cashless service. Jadi, mahasiswa tidak tidak perlu lagi datang dan antri untuk membayar denda di perpustakaan. Cukup cek saldo di rekening lalu melakukan transaksi via bank kapanpun dan dimanapun.

Kencan dengan Buku di Malam Hari

Bagi mahasiswa Unsyiah, kencan bukanlah lagi bermesraan dengan seseorang, melainkan dengan wujud lain yaitu buku. Iya, dengan dibukanya layanan perpustakaan malam menjadikan mahasiswa lebih produktif mengisi malam hari dengan kegiatan yang bermanfaat, yaitu membaca buku dan menghabiskan malamnya secara produktif.

Hal ini didasari dari pengelola Pustaka Unsyiah yang menyadari bahwa mahasiswa umumnya berkuliah di pagi hari sampai sore hari, sehingga waktu yang bisa diluangkan untuk datang ke perpustakaan sangatlah terbatas. Padahal perlu sekali mahasiswa mencari referensi dari sumber-sumber terpercaya. Untuk itu dibukalah layanan malam hari yang dibuka mulai jam 5 sore sampai jam 11 malam selama hari Senin sampai hari Jumat.

Bercengkerama dengan teman di perpustakaan pada malam hari

Tak hanya itu, layanan perpustakaan juga dibuka pada hari Sabtu dan Minggu. Iyaaa, Pustaka Unsyiah mengerti kamu yang bingung mau kemana saat weekend, lebih baik datang ke tempat yang cozy sambil melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masa depan pasanganmu dan anak-anakmu 😆. Layanan perpustakaan pada hari Sabtu dibuka mulai jam 9 pagi sampai jam setengah 7 malam. Sedangkan pada hari Minggu mulai jam 2 sore sampai jam setengah 7 malam.

Perpustakaan yang Meremaja

Menurut saya, perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang meremaja. Maksudnya, dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan para pengunjung perpustakaan yang didominasi oleh para remaja, yaitu mahasiswa. Eh, mahasiswa termasuk remaja kan?

Mahasiswa erat kaitannya dengan kegiatan-kegiatan yang mengasah softskill dan hardskill mereka. Nah, Pustaka Unsyiah ini pekaaaa banget. Ia mengadakan ragam kegiatan yang menarik minat mahasiswa.

Relax and Easy

Relax and Easy merupakan kegiatan mingguan yang mewadahi kreatifitas seni mahasiswa. Kegiatan ini diselenggarakan setiap hari Rabu siang oleh Pustaka Unsyiah yang bekerjasama dengan BEM Unsyiah. Dilihat dari kacamata saya, saya jarang sekali melihat ada sebuah perpustakaan yang memotori kegiatan untuk meningkatkan kreatifitas mahasiswa dalam bidang seni. Banyak kegiatan kreatifitas mahasiswa yang ditampilkan, seperti penampilan musik akustik, pertunjukan sulap, teatrikal, talkshow, dan lainnya.

Kegiatan Relax and Easy

Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Rabu pada siang hari dan terbuka untuk umum. Mahasiswa dan dosen dapat berpartisipasi sebagai penonton atau penikmat seni, bahkan menjadi bintang tamu untuk menampilkan bakat dan keahlian yang ia miliki. Dari hal ini, kita semakin menyadari bahwa Pustaka Unsyiah tidak hanya sekedar perpustakaan, melainkan sebagai tempat untuk menyambung silaturahmi antar mahasiswa yang dibungkus dalam wadah kreatifitas.

Serupa dengan yang dikemukakan oleh Dr. Taufiq Abdul Gani selaku kepala Pustaka Unsyiah bahwa perpustakaan tidak hanya identik dengan buku saja, melainkan menjadi tempat interaksi sosial dari berbagai macam kalangan untuk mengekspresikan hal-hal yang ia miliki dan ingin ia bagi. 

Duta Baca 


Perlu sekali sosok yang mampu menginspirasi banyak orang agar mereka menjadikannya sebagai panutan, salah satunya yaitu panutan untuk gemar membaca buku. Sosok panutan itulah yang disebut dengan Duta Baca. Tugas utama Duta Baca adalah sebagai panutan dan motivator untuk meningkatkan minat baca masyarakat, serta sebagai pengungkit yang memperkuat kegiatan di Perpustakaan Unsyiah dalam mengampanyekan gerakan nasional pembudayaan kegemaran membaca secara sinergis dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di Universitas Syiah Kuala.

Duta Baca yang mewakili Universitas Syiah Kuala bukanlah orang sembarangan. Melainkan mahasiswa yang berdedikasi tinggi dan siap berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia gemar membaca 2019. Mahasiswa yang menjadi Duta Baca ini terpilih melalui tahapan seleksi yang cukup ketat. Rifki Alfiani adalah mahasiswa yang telah dinobatkan sebagai Duta Baca Unsyiah 2017. Dia siap mengemban amanah untuk menjadi panutan masyarakat dalam bidang literasi.

Meet and Greet Duta Baca adalah salah satu kegiatan yang sukses membuat saya iri. Sungguh saya terheran-heran, bahwa juga ada kegiatan seperti ini yang seakan-akan menjadikan Duta Baca layaknya seorang artis. Hal ini menunjukkan bahwa gemar membaca adalah kegiatan yang sangat dihargai oleh Universitas Syiah Kuala, utamanya oleh Perpustakaan Unsyiah. Sungguh, bikin iri 😏

More than Just a Library

Perpustakaan didirikan dengan mengemban visi misi yang mulia, yang tertera di pembukaan UUD 1945 yaitu ".... mencerdaskan kehidupan bangsa... ". Visi misi tersebut harus didukung secara penuh oleh lapisan kalangan masyarakat Unsyiah. Pembenahan perpustakaan juga harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan zaman. Tak hanya itu, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya bahwa perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang meremaja, yaitu yang mampu mewadahi hard skill dan soft skill dengan menjadikan perpustakaan sebagai wadah tumbuh kembangnya.

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Pustaka Unsyiah, sukses membuat saya iri karena kegiatan tersebut sangat "saya banget". Bagi saya, Pustaka Unsyiah tidak hanya sekedar perpustakaan saja, melainkan sarana untuk sambung silaturahmi antar civitas akademica yang ditata secara kreatif, ramah dan meremaja. Dengan banyak reformasi yang telah dilakukan, maka tidak heran bahwa Pustaka Unsyiah seringkali dijuluki more than just a library.

Ingin rasanya, suatu hari saya bisa berkunjung ke Pustaka Unsyiah untuk menikmati setiap detail cat dindingnya yang instagramable, berdiri berlama-lama di rak-rak buku, menikmati kecanggihan RDIF dan SLiMS, berbincang hangat dengan Duta Baca Unsyiah, memaknai setiap penampilan yang disuguhkan saat kegiatan relax and easy, dan hal-hal lainnya yang ingin saya habiskan di setiap sudut Pustaka Unsyiah. Sepertinya, untuk mengenal Banda Aceh cukuplah dengan datang dan bercengkerama dengan para penikmat buku di Pustaka Unsyiah 😆

Wassalammualaikum wr wb


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Blogger ULF 2017
Referensi dan gambar bersumber dari library.unsyiah.ac.id dan official account Pustaka Unsyiah

15 comments for "Pustaka Unsyiah, Perpustakaan yang Meremaja"

  1. Perpustakaannya keren banget.
    Aku udah lama ga ke perpustakaan, mungkin terakhir jaman kuliah, hmmm 10-15 tahun lalu *tutup muka malu*
    Di Jakarta udah buka perpustakaan bagus, di daerah TIM. Tapi aku blom ke sana-sana. Harus diniatin kayanya.
    Iya membaca itu menyenangkan dan penting.

    ReplyDelete
  2. Perpustakaannya keren banget, udah lengkap dan canggih. Kalau aku disitu pasti betah banget, dulu jaman kuliah aja paling betah di perpus bisa online, belajar dan kerjain tugas puas hehe

    ReplyDelete
  3. Mupeng euy sama perpustakaan dengan segala kelengkapannyaaa ><
    Perpustakaan umum di kota aku masih kurang banyak koleksi bukunya, mungkin yaaa karena belum lama dibangun juga. Alhasil kalau perlu buku referensi bacaan biasanya larinya ke perpus "kampus berjaket kuning" atau ngga ke perpusnas yang lumayan jauh :'D
    Btw mantap yaaa disana ada gerakan untuk membangkitkan minat baca dan sepertinya terbilang aktif *o*/

    [Lucky]

    ReplyDelete
  4. Perpusataan kekinian yang santai dan modern. Jauh dari kesan perpustakaan yang kuno , membuat betah berlama-lama di perpustakaan.

    ReplyDelete
  5. Menurutku perpustakaan daerah masih kurang digalakkan sebagai tempat favorit remaja. Mereka lebih suka hal2 yg modern dan seru diluar sana. Sayang sekali. Tapi aku suka kl diauruh ke perpustakaan bahkan bisa berlama2 baca buku disana.

    ReplyDelete
  6. Modern, itulah yg terlintas di benakku ketika membaca tentang perpus unsyiah ini. Mupeng bgt kalau ada yg begini di kotaku. Paling salut dg kafe library dan duta bacanya. Kekinian. Oya, bapak Kak Ros keren, bisa menularkan minat baca ke anaknya.

    ReplyDelete
  7. Wah ini perpus udh standar internasional yaa..keren.
    Aku jarang kperpus mba,pdhal cita2 mainannya diperpus,slu suka main ke perpus daerah dikampungku,skrg paling ke gramed hunting buku,tp gda kursinya gk enak.
    Semoga budaya membaca bisa terus dikembangkan,amin

    ReplyDelete
  8. Keren banget perpustakaannya kak Roos.. apalagi ada cafe dan denda bisa bayar non-cash..
    Kampus saya dl perpusnya kurang lengkap sih..

    ReplyDelete
  9. Saat masih sekolah/ kuliah dulu yang namanya perpustakaan tu tempat paling oke buat belajar, bahkan sekedar nglamun atau ngadem hehe.
    KAlau perpustakaannya keren kyk gtu udah pasti bakalan main betah ya Mbak Ros? Mana ada kafenya pula, perpustakannku dulu paling banter jualan minum sama gorengan hihihi
    TFS

    ReplyDelete
  10. wih, keren kali perpustakaannya. saya sendiri termasuk penggemar perpustakaan. banyak hal yang menyenangkan didalam perpustakaan. apalagi di kampus ini sepertinya banyak unit kerja. konsep santai dan penuh hiburan jadi daya tarik luar biasa. bravo!

    ReplyDelete
  11. Perpusnya udah canggih gitu ya, serba elektrik. Di Jepara gedungnya gak selebar itu. Malam jg tutup. Seru banget bisa duduk santai baca sampai malam tiba. Semoga makin byk yg cinta baca

    ReplyDelete
  12. Kalau setiap daerah perpustakaannya seperti ini pasti pada betah. Jam bukanya itu menggoda sekali buat pecinta baca

    ReplyDelete
  13. Kok ini perpustakaannya udah modern banget, sih? Aku kok iri, sih? :(
    Semangat skripsinya, Mbak! Aku juga, nih. Tapi sebalnya, boro-boro mau jadi tempat yang cozy, perpustakaan kampusku malah tutup selama satu bulan! Kan sebal, padahal lagi butuh-butuhnya. Hft. Tapi kalau gak tutup pun, aku gak begitu suka berlama-lama di perpustakaan kampus, sih. Infrastuktur Pustaka Unsyiah di atas tuh tampak lebih cerah, lebih enak gitu. Nah, kalau di kampusku keliatannya suram gitu. Padahal kalau kutelusuri, bukunya lumayan banyak, lengkap, dan bagus. :(

    ReplyDelete
  14. Kangen masa-masa ke perpus demi mencari literatur terkait penelitian.

    Dan itu gak akan terulang.


    Sekarang,
    Ke perpus malah cari buku anak...
    Hiihhii...


    Tapi aku juga suka curi-curi waktu buat baca novel siih...


    Keren perpusnya.
    Bikin remaja suka membaca bukan berarti remaja yang gak gaul...justru bergaulnya yaa di perpus.

    Kece!

    ReplyDelete
  15. Waduuuhhh, bisa jadi surga banget itu perpus buat yg suka baca.. Jarang-jarang tuh ada perpus yg buka sabtu minggu, bahkan beropersi sampai malam..

    ReplyDelete