Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ah, saya rindu Ibu. Saya berhutang banyak padanya.

Assalammualaikum wr wb

Ada yang saya resahkan. Entah apa.
Ada yang saya lelahkan. Entah apa.
Ada yang saya khawatirkan. Entah apa.

Apa-apa itu sebenarnya memang sudah ada wujudnya. Tentang penelitian yang ala kadarnya, tentang validasi yang tak kunjung selesai, tentang pengelolaan blog yang misinya tak pernah habis. Bukan salah tugas-tugas itu atau target-target itu. Ini hanyalah salah saya, yang kurang padai mengatur waktu. Hmm, ralat. Bukan kurang pandai mengatur waktu, melainkan menganggap enteng pekerjaan yang bisa saya cicil atau kerjakan saat waktu senggang.

Saya terlalu menyia-nyiakan waktu.

Ternyata benar, firman Allah dalam surat Al-Ashr

terjemahan-surat-al-asr

Dulu saya pernah mempertanyakan tentang surat ini. Apakah manusia benar-benar merugi akan waktu?

Tentu sepertinya telah jelas bahwa saya tidak pernah memaknai surat ini sebelumnya. Menyia-nyiakan waktu, menyesal, terus dilupakan. Begitu seterusnya.

Dan sepertinya kini saya sudah sampai puncaknya. Saat saya mengingingkan semua berjalan lancar, terarah, dan bisa diakhiri dengan hamdalah.

Sedih, ketika teringat Ayah dan Ibu. Terutama Ibu, yang seharusnya nggak perlu bekerja keras seperti ini, toh uang Ayah sudah cukup. Tapi sepertinya belum cukup untuk memenuhi gaya hidup kami. Sebenarnya gaya hidup kami nggak foya-foya, melainkan ada target yang harus kami taklukkan, untuk mencapai definisi kebahagiaan yang Ayah buat.

Iya, visi Ayah lebih besar daripada Ibu. Ibu hanya mengimbanginya. Sedangkan saya dan Adik cukup mengikuti visi misi mereka karena Inshaa Allah tidak menyimpang dari aturan agama.

Saya rindu Ibu. Dengan toko sebesar itu, Ibu harus mengelolanya sendiri. Kalau jam 6 pagi sampai jam 1 siang, ada karyawannya. Tapi lepas dari itu, sampai jam 5, Ibu menjaga toko sendirian. Ya lelahnya dibawa sendiri. Ya menjaga sendirian sesepi apapun. Tetapi, Ibu punya visi yang berbeda. Hidup matinya hanya untuk anak-anaknya.

Ah, saya rindu Ibu. Saya berhutang banyak padanya.

Sudah ya, saya mau melanjutkan aktivitas saya yang tertunda karena saya menunda-nunda waktu.

Terima kasih sudah berkenan membaca.

Wassalammualaikum wr wb

Post a Comment for "Ah, saya rindu Ibu. Saya berhutang banyak padanya."