Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tidak Ikut Mengantarkan, Tetapi Ikut Bahagia

Assalammualaikum wr wb

Menyambung tulisan Jumat lalu, kala keluarga kami mengantarkan Adek untuk menimba ilmu di Serpong selama tiga tahun ke depan, saya ingin berbagi kisah tentang LDR-an saya dengan keluarga saya di Serpong. Yaaaah meskipun LDR-an cuma beberapa hari, tapi cukup bangetlah bikin dag-dig-dug ser pengen tahu terus gimana kabarnya.

Jumat, 7 Juli 2017

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di sini (Pagi Sebelum Menanti Pagi Setahun Lagi), bahwa keluarga kami berangkat hari Jumat pagi. Pada pukul 3 sore, mereka beristirahat dan menikmati indahnya masjid Minasari di Lamongan.

persiapan ke man insan cendekia serpong

Perjalanan menuju Serpong membutuhkan waktu 36 jam yang mengharuskan mereka untuk bermalam. Bisa saja sih, mereka bermalam di pinggir jalan atau dimanapun saja, tetapi saat itu mereka memilih menginap di penginapan.

Sekitar jam 7 malam, saya videocall Mbak Angel. Saat divideocall, wajah saya terang benderang, tetapi di layarnya Mbak Angel malah remang-remang gimanaaa gitu, soalnya malam hari, sehingga minim penerangan, juga mereka sedang berada di luar penginapa, lagi jalan-jalan katanya.

"Okelah, videocallnya besok pagi aja, hari Sabtunya", begitu pikir saya.

Sabtu, 8 Juli 2017


Sabtu pagi itu saya nggak telpon mereka sama sekali. Mereka baru saya hubungi sekitar jam 2 siang. Sekitar jam 5 sore, Pakde Joko berkabar di grup whatsapp keluaga Mbah Uti bahwa mereka sudah sampai di Bekasi.

Langsung saya ajak videocall saat itu. Kebetulan waktu itu Pakde Joko lagi nggak nyetir, melainkan Ayah yang nyetir. Sebenarnya bisa saja saya videocall lewat Ayah, tetapi saya sangat yakin bahwa smartphonenya Ayah sedang digunakan untuk gps.
videocall-ayah
perjalanan-man-insan-cendekia-serpong
Huhuuhuu... seneng banget dengar kabar mereka... Bisa lihat kondisi mereka yang sedang bahagiaaaa banget akhirnya bisa berangkat ke Jakarta.

Kebahagiaan mereka membuat saya merenungi akan sesuatu. Ibu, Ayah, Bude Sukis, dan Pakde Joko awalnya merupakan orang yang nggak mampu secara finansial. Tetapi seiring kegigihan mereka, Ayah dan Pakde Joko yang menekuni profesinya sebagai guru, mereka bertahap bisa mensejahterakan keluarga. Alhamdulillah, tercapai sudah.

Laki-laki yang hebat pasti dihebatkan bersama istrinya. Beruntunglah, mereka memiliki Ibu dan Bude Sukis, yaitu perempuan yang bekerja keras. Ibu yang seorang pedagang, kini mampu memiliki karyawan. Bude Sukis, yang juga pedagang saat weekend, akhirnya diangkat menjadi PNS setelah sekian lama mengabdi sebagai perangkat kecamatan. Alhamdulillah 🙏🙏

Ibu dan Bude Sukis kompak banget. Mereka saling mendukung. Pun tentang masa depan anak-anak, mereka juga saling sharing dan memberi masukan kepada kami, anak-anaknya.

keluarga man insan cendekia serpong
Bude Sukis, Ibu dan saya (dokumen pribadi 2015)
Bagi mereka yang berasal dari desa, Jakarta adalah wow banget. Mungkin tak pernah terbersit sedikitpun di benak mereka bahwa suatu hari mereka akan berangkat dan singgah ke Jakarta, menikmati jalanan ibu kota.

Dan taraaaaaaaa 💃💃💃

Ternyata mereka (tanpa pernah bermimpi ke Jakarta) telah menginjakkan kaki di ibukota, walau hanya sejenak. Saya rasa itu merupakan hadiah yang luar biasa atas kerja keras mereka selama ini. Memperjuangkan finansial dirinya, kebahagiaan keluarganya, dan mendidik anak-anaknya sampai saat ini.

Adek adalah perantaranya. Mau bilang mimpi-mimpinya, tetapi Ibu dan Bude Sukis tidak pernah memimpikannya 😅

Saya tidak memungkiri bahwa Adek saaaaaangat cerdas. Kalau bukan karena ambisi Adek yang pengen sekolah di tempat bagus, yaitu MAN Insan Cendekia Serpong, mungkin Ibu dan Bude Sukis tak akan menyentuh Jakarta.

Alhamdulillah... saya benar-benar bersyukur, mereka bisa menyentuh Jakarta, hal luar biasa yang tak pernah diimpikannya.

Mereka tiba di Serpong sekitar jam 8 malam. Mereka menginap di wisma  yang ada di MAN Insan Cendekia Serpong. Saya nggak telpon mereka malam itu, karena saya paham mereka akan riweuh dengan pembayaran dan pengepakan barang-barang ke wisma 😂. Saya hanya kirim kabar via whatsapp dengan Mbak Angel.

Baca Juga: Pendaftaran dan Daftar Ulang MAN Insan Cendekia Serpong


Minggu, 9 Juli 2017

Pagi itu, menjelang jam 7 pagi Mbak Angel mengirim dua buah foto di grup whatsapp Keluarga Mbah Uti.

banner man insan cendekia serpong

pintu masuk man insan cendekia serpong

Uwaaaaw 😍😍😍

Mereka keren baaaangeeet 😍😍

Ah, saya kehabisan kata-kata. Bingung bagaimana menunjukkan perasaan saya yang juga ikut bahagia bahwa mereka ada di sana, berfoto di depan gedungnya. Alhamdulillah 😍😍

Pagi itu juga, saya videocall Mbak Angel. Mbak Angel pasti lagi bareng Ibu, Bude Sukis, dan Adek. Videocall dengan mereka lebih seru sih, daripada sama Ayah dan Pakde Joko, hehehe.
video call di man insan cendekia serpong
Pagi itu juga, saya mengabarkan bahwa saya akan ke pantai Payangan (lagi) bareng Fatim, Mas Dian, dan Mbak Puja. Mas Dian ini anaknya Bude Sukis, Mbak Puja ini menantunya, dan Fatim adalah cucunya.

Nggak cuma mereka aja yang bisa jalan-jalan ke Serpong, kita mah juga bisaaaa 💃💃

main di pantai payangan
Mas Dian, Mbak Puja, dan Fatim
main di pantai payangan
Saya bersama Fatim
Saat kami di pantai Payangan, saya juga menelpon Mbak Angel lewat videocall. Mereka saat itu di Bojong Gede, lagi sarapan. Dan mereka sedang menuju Jakarta lagi, main-main di sana. Jalan-jalan di sana.

Sore harinya, mereka sholat dan menikmati Masjid Istiqlal, masjid yang sering mereka lihat di tv, akhirnya kesampean juga singgah di sana 😂

Senin, 10 Juli 2017

Tadi pagi saya videocall mereka lagi. Mereka sedang ada di Istana Bogor. Ciee elaaaah... Senangnya...


Meski mereka nggak masuk ke lokasinya, tapi rasanya cukuplah bagi mereka menikmati es krim enak di depan Istana Bogor.
video call di istana bogor
foto di istana bogor
Adek, Ayah, Ibu, Bude Sukis, dan Mbak Angel. Pakde Joko yang motoin.
Hmmm... mereka juga lanjut ke museum kebun raya Bogor.... mantaaap...

Selasa 11 Juli 2017

Hari ini adalah hari pertama Adek masuk asrama dan mempersiapkan diri untuk kegiatan taaruf keesokan harinya. Hari ini pula keluarga kami melepas Adek. Mewanti-wanti banyak hal, terutama jaga diri dan jaga hati. Tingkatkan iman dan juga prestasi.


Hari ini pula, keluarga saya kembali ke Lumajang.

Cerita serunya sudah saya dapatkan kemarin sore, tapi saya ceritakan hari Jumat depan yaaaa

Terima kasih telah membaca

Wassalammualaikum wr wb

1 komentar untuk "Tidak Ikut Mengantarkan, Tetapi Ikut Bahagia"