Nasi Campur Bali yang Halal

Posting Komentar
Assalammualaikum wr wb

Halo, apa kabar? Sudah sarapankah kamu pagi ini?

Hmm, kemarin saya mengenang liburan saya ke Bali. Saya ke Balinya udah hampir 5 tahun lalu, bareng keluarga. Lama banget nggak ke sana. Entah kapan ke sana lagi, yaa semoga dalam waktu dekat yaa...

Saya teringat secuil cerita, ketika saya menikmati jalanan Bali menggunakan mobil Ayah, tentunya bersama keluarga ya... Saya menikmati pemandangan kanan-kiri Bali yang asri, yang tenang, dan yang damai. Banyak warung berjejer di pinggir jalan, membuat saya lapar mata dan lapar perut, hehe.

Kemudian saya terpikir, warung pinggir jalan itu apakah halal semua ya
 
sumber gambar: travelingyuk.com

Begitu pikir saya, mengingat bahwa mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu, yang menghalalkan beberapa  makanan yang diharamkan oleh agama Indonesia. Nggak usah jauh-jauh ke makanan serba HAM yang mahal-mahal di restoran deh. Ambil aja satu sampel di warung pinggir jalan, yang merupakan warung rakyat segala zaman. Apakah makanan yang dijual di sana telah dijamin kehalalannya?

Biasanya kalau kita makan di warung pinggir jalan, berencana makan dengan menu seadanya, umumnya kita akan memilih makan nasi campur. Kalau di Jawa sih aman-aman aja ya makan nasi campur. Lah kalau di Bali? Apakah nasi campur yang ada di Bali bisa terjamin kehalalannya?

Yang jelas, nasi campur Bali yang kita ragukan kehalalannya, pasti hukumnya haram. Makanya kita perlu pandai-pandai memilih dan memilah warung mana yang akan kita tuju. Memastikannya halal, supaya halal pula makanan yang masuk ke mulit. 

Sebenarnya ada banyak cara apabila kita menginginkan nasi campur Bali yang halal. Tapi nggak akan bisa kita dapatkan seutuhnya sih. Misal, kalau khawatir sama suwiran ayam yang belum jelas kehalalannya, ya udah mending bilang aja ke penjualnya kalau nggak pake suwiran ayam di makanannya. 

Kalau menu lauk nasi campur Bali yang aman sih ya ikan. Lebih tepatnya ikan laut. Aman deh tuh. Tapi kembali lagi sih, kita nggak tahu mereka menggunakan minyak apa untuk penggorengan dan penumisannya. Menggunakan minyak goreng atau minyak babi kah? Wallahualam, kita nggak ada yang tahu.

Biasanya, warung yang jelas-jelas halal dan pemiliknya muslim, akan memasang tulisan “halal” di depan warungnya. Ya udah, kalau jelas begitu dan kita mempercayakannya, masuk aja, lalu makan deh. Apalagi kalau yang jual adalah wanita berkerudung atau bapak-bapak berpeci. Makin mantaplah iman kita terhadap urusan halal-halalan.

Saya sebagai kaum traveler zaman now, nggak memungkiri bahwa saya seringkali mengandalkan google maps apabila berada di jalanan yang saya nggak tahu kemana muara akan berakhir. Ya selama sinyal masih ada, ya oke-oke aja saya pegang android. Kalau nggak ada sinyal, ya sudah pake gaya lama, bertanya langsung ke warga sekitar.

Nah, berkali-kali mengandalkan google maps, saya tuh belum nemu gitu ya… fitur pelabelan halal atau enggak pada sebuah restoran, khususnya yang ada di daerah minoritas Muslim. Kan enak gitu, kita bisa langsung tahu dan menuju resto atau warung yang dijamin kehalalannya. Nggak perlu pusing-pusing lagi.

Kalau yang selama ini kan masih manual. Orang yang sudah berkunjung ke resto itu, lalu menuliskan ulasannya. Beruntung kalau dia jelas menulis “makanannya dijamin halal kok”. Lah kan enak kalau ditulis gitu, tapi kalau enggak? Kan kita ya jadinya bingung kemana-mana, hahaha…

Duh laaaaah bahas nasi campur Bali yang halal itu sampe segininya ya. Harusnya sih saya melengkapi tulisan ini pakai dalil. Tapi ilmu saya masih nggak nyahut, Inshaa Allah masih berproses. Doakan yaaa…

Nanti-nanti, kalau saya ke Bali, Inshaa Allah akan saya ceritakan kulineran Bali yang halal dan murah. Hahaha…

Wassalammualaikum wr wb



nb: https://www.foody.id/article/kelaparan-di-denpasar-makan-kenyang-murah-dan-enak-di-5-warung-nasi-campur-bali-ini-2612 (timeout)

Related Posts

Posting Komentar