Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Balada Hape Hilang - Sebuah Cerita

hape-hilang

Assalammualaikum wr wb

Huaaaa, saya lama nggak nulis. Sejujurnya, akhir-akhir ini saya malas nulis, malas baca, malas blogwalking, dan malas apapun. Tapi di balik malas-malas itu, saya memang masih melakukan hal lain sih, yang tentunya lebih bermanfaat. Yaa semoga hal lain itu bukanlah kedok semata, hehe.

Sehari-hari, saya bantu Ibu di toko. Semenjak saya wisuda dan pulang ke rumah, aktivitas saya ya sederhana: bantu Ibu melayani pembeli di toko. Saya enggak ngelamar kerja atau cari sukwanan, Ibu juga santai aja ketika saya enggak ngelamar kerja.

Ibu malah senang-senang saja ketika saya stay  di toko. Apalagi semenjak karyawatinya Ibu menikah lalu resign, jadilah saya dan Ibu saja berdua mengurus toko mulai dari jam 6 pagi sampai jam setengah 5 sore.

Terkadang, kalau saya ada perlu di Jember buat mengurus administrasi S2, mau nggak mau Ibu jaga toko sendirian. Ya kasihan sih, capek, tapi Ibu suka dan rela. Saya juga beberapa kali ditinggal Ibu untuk kulakan pada jam kerja. Ya sama, jaga tokonya sendirian. Alhamdulillah semenjak dua bulan terakhir ini, saya sudah ahli mengurus fotocopy hehehe, sejak sebelumnya pantang mengurus fotocopy saat karyawati masih ada.

Jaga toko itu capek. Kalau saat rame, ya rame kewalahan. Sementara kalau sedang sepi, ya sampai ngantuk-ngantuk nungguin pembeli. Saya dan Ibu perlu banget istirahat, lalu kami istirahatnya bergantian. Biasanya, jam 9 pagi saya sudah minta izin tidur siang, hahaha. Iya, tidur jam 9 ini kalau saya bangunnya dini hari. Kadang-kadang juga minta izin tidur siang jam 11, padahal jam 11.30 saya harus ngaji hafalan di seberang rumah. Sementara, Ibu akan tidur dan istirahat jam 12 siang, setelah saya selesai ngaji. Begitulah kami sehari-hari. Tapi kalau sama-sama nggak ngantuk dan capek, ya kami akan santai-santai aja saat jaga toko.

Siang itu, seperti biasanya, Ibu tidur siang, sementara itu saya menjaga toko sendirian. Saat jaga toko, aktivitas yang sering saya lakukan antara lain baca buku, ngeblog pake laptop, atau hapean. Nah, saya melakukan aktivitas tersebut di dekat etalase. Duduknya pakai kursi tinggi, lalu barang-barangnya ditaruh di atas etalase, persis samping kasir.

Saat itu, saya sedang bosan dengan buku dan bosan dengan laptop, alhasil saya main hape, entah aplikasi apa yang saya buka. Saat pengunjung datang, maka saya akan meletakkan hape di kolong etalase atau kolong kasir. Setelah pembeli terlayani, saya kembali ke tempat dan main hape lagi. Begitu seterusnya.

Lah kok ya pas itu saya sedang apes. Saat itu ada beberapa pembeli. Saya lari ke kanan dan ke kiri untuk melayani pembeli. Hape saya masukkan ke dalam saku rok. Setelah dirasa pembeli habis, saya kembali ke tempat duduk dan berencana untuk main hape lagi. Eee, belum saya duduk, tiba-tiba ada pembeli datang. Hape enggak saya letakkan di kolong etalase, melainkan saya pegang di tangan kiri,

Pembelinya adalah bapak-bapak tua, yang ditemani oleh seorang laki-laki berumur 30an. Hmm, mungkin anaknya. Bapak-bapak tua itu menanyakan kamus. Saya sempat heran, ini ada apa bapak-bapak tua beli kamus? Oh, mungkin buat anaknya, begitu gumam saya saat itu.

Harga kamus yang dijual di toko kan bermacam-macam, bergantung dengan kualitasnya. Maka saya berinisiatif untuk menunjukkan beberapa kamus dan harga-harganya. Kamus-kamus itu berada di dalam etalase yang masih tertutup. Rencananya mau saya buka pakai tangan kanan saja, eh ternyata bukaan etalasenya alot. Mau enggak mau, harus pakai dua tangan. Refleks, saya meletakkan hape saya di atas etalase, lalu membuka pintu etalase dengan dua tangan. Secara enggak langsung, saya sudah melupakan hape saya.

Setelahnya, saya menunjukkan kamus-kamus yang tersedia. Bapak-bapak tua itu, pengennya kamus besar yang warnanya merah kuning biru itu loh, tapi kami enggak menyediakannya di toko. Jadinya, dia bilang kalau nggak jadi beli kamus.

“Maaf Mbak, enggak jadi. Maaf ya Mbak…” begitu katanya.

Dengan enteng, saya menjawab “Iya Pak, enggak papa”.

Lalu bapak-bapak tua itu berujar lagi, “Maaf ya Mbak…” ucapnya dengan mimik muka yang penuh perasaan bersalah.

“Eee iya Pak, nggak papa” Duh, malah jadi saya yang ngerasa enggak enak.

“Maaf ya Mbak…” katanya sekali lagi.

Lah kenapa bilang maafnya berkali-kali? Sekali aja udah cukup kok, Pak. Kami sudah terbiasa melayani pembeli yang enggak jadi beli.

Kemudian, bapak-bapak tua tersebut meninggalkan toko bersama anaknya. Lalu, saya kembali melayani pembeli yang berada di sudut lain.

Saat melayani pembeli tersebut, saya teringat dengan hape saya. Kemudian saya mencarinya. Sambil jalan ke sana kemari, saya merogoh kolong-kolong etalase dan mencari-cari hape saya. Banyak tempat yang saya cari, tapi saya tak menemukan satupun.

Sampai akhirnya Ibu datang, setelah beliau bangun siang. Saya sampaikan bahwa saya kehilangan hape, kemudian Ibu membantu saya mencari hape. Sayangnya, saya tak menemukan hape tersebut. Saat coba ditelpon pakai hapenya Ibu, mulanya nomor di hape saya itu nyambung dan bisa buat ditelpon. Namun saat saya mencoba menelponnya di panggilan ketiga, ee malah hapenya nggak aktif.

Sejujurnya saya kaget sih. Insting saya sudah meyakini bahwa hape saya hilang diambil orang. Tapi saya masih enggak mau mengakui insting tersebut. Saya bergerak menuju rumah saudara saya, untuk minta ditelpon lewat video call whatsapp, kali-kali aja diangkat dan kelihatan wajah malingnya, hehe. Namun hasilnya... ngambang... Ya jelas Whatsapp enggak bisa, lahwong telpon biasa aja enggak bisa.

Oke, sepertinya ini positif bahwa hape saya hilang. Saya lalu meminjam hape android saudara, untuk menghubungi beberapa teman terkait hape yang hilang. Teman-teman yang saya hubungi itu hanya beberapa, yang ada kegiatan mendesak dan terkait dengan aktivitas saya di luar.

Lalu saya kembali ke toko, dengan perasaan hampa dan Inshaa Allah sudah mengikhlaskan. Saya ambil hikmahnya saja, sembari berharap saya menang lomba juara 1 supaya bisa beli hape baru, hehe. Enggak papalah hapenya second, asal didapat dari uang sendiri. Ya, mungkin kehilangan hape tersebut adalah salah satu cara supaya saya bisa menikmati jerih payah saya sendiri, hehehe.

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Sabtu. Dan masih menunggu dua hari lagi untuk pengumuman pemenang lomba blog yang saya ikuti dan yang saya cemasi. Saya harap-harap banget dapat rezeki melalui lomba blog tersebut.

Rencananya, hasil lomba blog tersebut akan diumumkan pada tanggal 29. Namun saya kehilangan barang-barang untuk mengakses pengumuman lomba tersebut. Dengan rasa optimis, saya mampir ke ATM untuk mengecek uang masuk. Ya kali aja tiba-tiba saya menang dan uang langsung ditransfer ke rekening saya, hehe. Namun malang, digit ATM saya masih tetap. Belum ada tanda-tanda saldo bertambah. Saya pulang ke toko dengan langkah gontai.

Saya cek ATM selama tiga hari berturut-turut, sampai tanggal 31 pagi harinya. Namun saldo rekening masih belum menunjukkan angka yang signifikan.

Siang hari, saudara yang sering saya mintai tolong tersebut datang ke toko untuk ngobrol-ngobrol. Iseng-iseng, saya pinjam hapenya dan minta izin untuk buka facebook. Saya coba buka fanpage facebook dumet school.

Ya Allah... Alhamdulillah... menaaaang... juara satuuu...

Saya nulis ini sambil cengar-cengir, hehehe.

Pengumuman tersebut saya tunjukkan ke Ibu dan saudara saya. Mereka juga merasa senang dengan kabar baik tersebut.

Ibu bilang, "Alhamdulillah... yawes iku rejekine Rhosha. Iso gae tuku hape." (arti: Ya sudah, itu rezekinya Rhosha. Bisa buat beli hape)

Yaa sebenarnya kalau hape saya nggak hilang dan saya tetap memenangkan lomba, rencananya uang tersebut saya gunakan untuk memenuhi hajat saya yang lain. Namun apa daya saya terkena musibah, dan nggak bisa mengambil uang yang sudah ditabung untuk menunaikan hajat saya itu. Ya sudah, semoga dengan uang ini yang akan dibelikan hape second, saya bisa disegerakan untuk menjemput rezeki yang ada di langit-langit bumi untuk menunaikan hajat dan memakmurkan orang-orang sekitar. Aamiin.

Sorenya, saya cek rekening lagi ke ATM. Hmm, lah kok duitnya belum ada. Apa saya perlu konfirmasi ya? Oke, Inshaa Allah malam nanti saya akan konfirmasi lewat email.

Malam harinya, saya nongkrong di warung lalapan yang lokasinya tak jauh dari rumah, sambil bawa laptop. Warung lalapan tersebut memang memberikan pelayanan wifi gratis untuk orang-orang yang makan di sana, dan wifi berbayar untuk adik-adik kecil yang cuma beli es seribuan.

Saya mencoba buka email, namun nggak bisa. Email saya pakai yahoo, dan hanya ada dua cara akses masuk. Yaitu dengan mengetuk ikon key di hape yang disingkronkan atau dengan konfirmasi ke nomor hape, yang mana nomor hape dan aplikasi yahoo dengan ikon key tersebut berada pada hape lama yang hilang. Saya juga mencoba mencari fitur lupa kata sandi dengan memasukkan kata sandi secara manual, eh ternyata udah nggak ada. Cara tersebut udah nggak digunakan lagi. Duh laaaah, saya sedih banget. Apalagi untuk kerjaan dan tugas-tugas, rekam jejaknya tersimpan di akun surel tersebut. Ya udah lah, mungkin masih bisa diusahakan lagi lain waktu.

Saya mencoba buka fanpage dumet school, pihak penyelenggara lomba. Mereka bilang bahwa konfirmasinya lewat pesan di fanpage tersebut. Alhamdulillah, dimudahkan. Lalu mereka meminta nomor rekening dan foto identitas.

Sebenarnya, kalau saya punya hape, untuk ngapa-ngapain itu bisa enak. Butuh nomor rekening, bisa cari di chat-chat klien yang pernah kerja sama. Butuh foto identitas, bisa langsung memotret KTP dengan hape. Lah saya???

Saya bingung deh sejadi-jadinya. Mau pulang ini ya kok repot banget. Harus meninggalkan laptop dan barang-barang di warung lalu pulang sebentar dan kembali? Atau membawa serta laptop untuk pulang lalu kembali?

Duh laaaaah, nggak ada cara lain apa???

Kemudian saya ingat, bahwa saya juga seringkali mengunggah data-data melalui laptop. Hmm, berarti ada data yang tersimpan melalui laptop. Saya coba cari-cari dokumen berupa nomor rekening dan foto KTP di folder-folder laptop. Selang setengah jam berkutat dengan tumpukan folder-folder, Alhamdulillah dapat juga. Yeeey. Yaa, meski nggak ada KTP nya sih, melainkan hanyalah foto KTM saja (padahal saat itu sudah 2 bulan saya lulus dan wisuda, hehe).

Alhamdulillah... keesokan harinya duit sudah cair, lalu saya langsung titipkan ke saudara saya untuk proses pembelian hape second. Iya, saya nitip saudara saya itu untuk membelikan hape. Saya pasrah deh, pokoknya standar saja, dan uangnya adanya segitu.

Alhamdulillah lagi, malam harinya saya dipertemukan dengan seseorang yang menjualkan hape milik adiknya, lalu cocok-cocok saja dengan saya. Minimal, hapenya standar: RAM minimal 2 GB, ukuran layar 5 inchi, kamera belakang 8 MP, kamera depan 2 MP. Praktis deh, saya langsung dapat dengan harga 1.050.000,-

Yeeeey, Alhamdulillah....

Kejadian hape hilang ini drama banget ya. Di balik drama-dramaan tersebut, tentu ada hikmahnya. Hikmahnya terasaaa banget. Harus diceritakankah hikmah-hikmahnya? Hmm, nggak usah deh ya, hahaha

Sekian cerita saya, terima kasih sudah membaca

Wassalammualaikum wr wb

9 komentar untuk "Balada Hape Hilang - Sebuah Cerita"

  1. kalau aku balada bukan hilang
    tapi jatuh dan layarnya pecah
    udah 2 kali beli dalam setahun dan akhirnya pos anggaran habis
    mungkin harus minta ke Bu Dendy
    #Eh

    BalasHapus
  2. semoga ga hilang lagi hpnya....

    juara 1 mantap...

    BalasHapus
  3. wahh...lebih hati-hati lagi mba

    semoga saja tidak terulang lagi kehilangan hp nya

    perlu waspada mba

    BalasHapus
  4. Oalaah, aku pikir ilangnya di Jember

    BalasHapus
  5. Alhamdulilah langsung dikaish rezeki y mba :) selamat mba Rhos juara 1 dan bisa beli hp lagi..kalau dulu aku hilang karena di maling nyesek banget karena aku liat malingnya masuk karena ga pake kacamat kukira adalah mertua karena pake kopeah duh nyesek kalau inget itu

    BalasHapus
  6. Hape ilang ceritanya bisa sepanjang ini ya.. super deh..

    Ati-ati neng besok lagi,, hehe
    pokoknya elektronik diamanin dulu...

    BalasHapus