Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah 10 Foto Masa Lalu - Sebuah Memoar

Assalammualaikum wr wb

Setiap gambar yang diambil, diabadikan dalam sebuah foto maupun video, tentu menyimpan kisah tersendiri di baliknya. Begitupun dengan 32.000 foto yang ada di laptop saya dengan total kapasitas sebanyak 113 GB. Ini pun belum terhitung dengan foto-foto yang saya unggah di Photos Google.

Enggak... di foto-foto yang bejibun tersebut isinya enggak didominasi foto selfie atau swafoto dengan muka sendiri kok. Yaaa palingan ada sekitar 5-7 foto sih kalau itu. Selebihnya, foto-foto biasa tanpa resolusi tinggi, namun kenangannya berkelas dan membekas sampai saat ini.

kisah-10-foto-masa-lalu

Kalau disuruh memilih 10 foto masa lalu yang paling berkesan... hmm, cukup susah sih. Harus menyortir satu persatu, mengiyakan atau mengurungkannya. Belum lagi saat melihat foto masa lalu, masih disambi melamun dan terngiang-ngiang kenangannya. Duhaaai~~~

Tapi kali ini saya sudah dapatkan 10 foto yang bisa menggambarkan kisah saya di masa lalu. Memang belum sepenuhnya bisa menggambarkan semua atau setiap detail kehidupan saya sih, tapi minimal 10 foto ini sudah merangkum setiap episode drama kehidupan saya, hehehe. Selamat menikmati 🙆

Masa Kecil di Rumah Kontrakan


di-rumah-kontrakan
Masa Kecil di Rumah Kontrakan
Ayah dan Ibu, menikah dengan tidak membawa apa-apa. Hanya ada dipan, pemberian Kakek (dari Ibu). Selebihnya, harus menafkahi dan memperjuangkan sendiri. Ayah bekerja sebagai guru, sementara Ibu membantu dengan menjahit baju.

Sebelum saya lahir, Ayah hanyalah seorang guru sukarelawan di salah satu sekolah negeri. Dan setelah saya lahir, tepat di bulan September, Ayah diangkat menjadi guru PNS. Yeeeey, memang benar ya, anak membawa rezeki, hehehe.

Sepertinya di foto ini saya sedang berumur 3-4 tahun. Pakai baju muslim bikinan Ibu. Sedari kecil, Ibu sengaja mendandani saya dengan pakaian muslimah. Alhamdulillah, hal ini membuat saya semakin terbiasa dan merasa nyaman mengenakan jilbab. Kalau keluar rumah tapi nggak pakai jilbab itu rasanya... gundul. Hahaha. Ibu pun, baru mengenakan jilbab ketika saya masuk TK, dan merasa malu dirinya enggak pakai jilbab sementara anaknya pakai jilbab. Lagi-lagi, anak membawa berkah, Alhamdulillah.

--Baca juga: Merapikan Kenangan di IdPhotobook

Ada 4 benda besar yang ada di situ, yaitu kulkas, televisi, meja kerja, dan mesin jahit. Kulkasnya, sampai kami sekeluarga pindah dari rumah kontrakan, ke rumah induk, sampai ke rumah sendiri, kulkas itu masih ada. Lalu kami merasa bahwa kebutuhan kami semakin banyak dan kulkasnya sudah nggak cukup, maka kami beli kulkas baru, sementara kulkas lama dikasihkan ke Mbah Uti. Sampai sekarang, kulkas tersebut masih awet dan masih bermanfaat.

Televisi, kata Ibu, sebelum kami punya televisi, dulunya saya sering banget merengek-rengek minta nonton televisi di rumah tetangga. Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan tetangga tersebut (Alhamdulillah umurnya masih panjang) yang beliau langsung membahas masa lalu saya yang nangisan dan umbelen sambil maksa-maksa nonton televisi di rumahnya. Duh laaaah, kok yaa yang diinget yang jelek-jelek sih.

Meja kerja. Itu meja kerja spesial milik Ayah. Rupanya sudah Ayah dapatkan semenjak ada di rumah kontrakan. Meja kerja Ayah yang sangar itu, menginpirasi saya untuk meminta meja kerja serupa untuk belajar. Saya bosan ah, punya meja belajar yang langsung jadi satu dengan lemarinya, hehe. Saat SMA, Ayah dan Ibu memberikan meja belajar seperti punya Ayah, tapi ukurannya lebih kecil. Senang? Senang banget doong, hehe

Mesin jahit, itu mesin jahit milik Ibu. Sebelum menikah, Ibu memang punya keterampilan atau keahlian dalam menjahit dan menyulam. Saat saya kecil, selain menerima pesanan baju, Ibu sering banget membuatkan baju untuk saya. Namun Ibu tidak lagi menjahit semenjak Ibu harus menghandle toko mulai jam 6 pagi sampai jam setengah 5 sore. Sekarang ini Ibu malas banget buat jahit atau bikin baju sendiri. Ya mending beli, harganya lebih murah daripada bikin sendiri, hahaha. Saya sih, oke-oke aja bajunya mau bikin sendiri atau beli di luar, yang penting kan... dibelikan, hehehe.

Btw, itu sengaja pintunya ditutup. Karena... di balik pintu itu ada dapur yang masih berdinding bambu ala kadarnya, hehe. Ibu malu katanya, kalau pintunya dibuka lalu difoto.

Presentasi KTI

presentasi-kti-sd
Presentasi KTI (Karya Tulis Ilmiah) saat SD
Saya bersekolah di SD Al-Ikhlash yang swasta, fasilitasnya oke, dan tentunya agak sedikit mahal. Saat kelas 6 atau berada di tingkat akhir, kami diwajibkan untuk membuat KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang bikinnya harus bolak-balik bimbingan ke guru pembimbing, lalu dipresentasikan di hadapan teman-teman sambil pakai jas, dikomentarin dan ditanya-tanyain oleh guru penguji, dst. Iya, serupa bikin skripsi saat kuliah. Berproses dengan KTI tersebut, manfaatnya terasa sampai kini. Sulit deh kalau dijabarin satu persatu manfaatnya, dijamin banyak banget.

Perempuan bertubuh besar itu, adalah Ibu. Sementara perempuan bertubuh kecil itu, adalah Ustazah Tari, guru pembimbing saya dan guru favorit saya. Alhamdulillah, saat SD maupun kuliah S1, saya selalu mendapatkan pembimbing yang saya suka dan saya favoritkan. Hmm, rezeki anak sholehah kali ya, hehehe. Sementara, cowok yang kecil itu adalah adik saya... Enggak usah merhatikan muka saya yang seperti kayak orang beler. Lanjut saja ke foto berikutnya.

Bocah-Bocah Dekat Rumah

bocah-dekat-rumah 
Bocah-bocah dekat rumah
Saat saya SD dan SMP, kami sekeluarga tinggal di rumah induk (dari pihak Ayah), karena beberapa sebab yang tidak bisa diceritakan, yang saya pun tidak tahu sebabnya, hehe. Enak sih tinggal di situ. Rumahnya kaplingan atau kompleks. Punya tetangga, orangnya ramah-ramah, dan sering mengadakan kegiatan. 

Teman perempuan yang sebaya cuma satu, itupun dia cuek sama saya. Mau main sama teman laki-laki yang sebaya, jelas enggak dibolehin. Lalu mainnya sama siapa? Mainnya sama anak-anak cowok yang masih SD, juga sama adik kecil yang masih umbelen. Ada Firhan dan adiknya, Revin. Ada Pram dan adiknya, Aldo. Yang ada di foto, hanya ada adik saya yang pakai baju kuning, ada Revin yang pakai baju biru, dan juga Aldo yang saya pangku.

Yang paling berkesan mainnya adalah sama Aldo. Dulu saya manggilnya Dik Aldo. Rumah kami berseberangan dan saling berhadapan. Biasanya, Dik Aldo amping-amping di pintu pagarnya, lalu saya panggil-panggil namanya dari kediaman saya.

"Dik Aldo...." panggil saya

"Mbak Ochaa....." jawabnya

"Dik Aldo...." panggil saya

"Mbak Ochaa....." jawabnya

Begiiiiitu seterusnya nggak selesai-selesai, hahaha. Enggak penting sih, tapi bagi saya hal itu seru banget. Apalagi kalau kita sudah menjadi seorang Ibu, yang si anak iseng melulu manggilin kita... "Bunda.... Bunda..." Huaaaa, rasanya tuh ya, enggak bakalan sanggup deh untuk dibayangin saking gemesnya. Apalagi kalau si anak manggil-manggil nama kita sambil menatap mata kita lekat-lekat, terus sambil senyum. Huaaaaa, sepertinya saya akan meleleh.

Sudut Kamar Paling Spesial

sudut-kamar
Sudut kamar paling spesial saat SMA
Kisah SMA saya seru sih. Banyak kegiatan, banyak aktivitas, yang juga bertabur cerita cinta yang sueru meski endingnya tragis. Hahaha. Saat SMA, saya mulai mengenal blog, maka laptop sering banget nyala di malam hari untuk ngeblog, apalagi saat itu saya tahu password wifi sekolah seberang rumah, hehe. Jadinya, ngeblog pakai wifi gretongan.... 

Kala malam, jendela saya terbuka lebar. Untuk apa? Untuk melihat bulan. Backsoundnya lagu Talking to the Moon yang dinyanyikan oleh Bruno Mars. Saya akan berlama-lama melihat bulan, tatkala saya sedang penat, jengkel, atau berbahagia saat menulis diary. Dulu kan... pas SMA... saya jatuh hati banget sama seseorang... yang biasa saja sih, tapi bagi saya luar biasa karena berhasil bikin dag-dig-dug ser.

Kisahnya, saya tulis secara rapi di buku diary, yang spesial membahas dia, mulai dari yang saya jatuh hati, tatap-tatapan, sungkan-sungkanan, sampai akhirnya dia direbut oleh sahabat saya sendiri. Ah, pelakor. Hahaha. Eh bukan pelakor sih, melainkan pegenor (perebut gebetan orang).

Memang seru ya, kisah merah jambu saat SMA. Serupa Dilan itu laaah... tapi kan kalau Dilan, kisahnya memang jadian, beda sama saya yang malah sad ending. Buku diary tersebut, tercatat rapi di buku tulis dengan 38 lembar, yang bersampul batik, dan jumlahnya ada 10 buku. Banyak ya? Banyak banget, dan buku tersebut masih tersimpan rapi di kardus, bersama kenangan-kenangan lainnya semenjak SD, hahaha. Btw, enaknya kapan ya buku-buku tersebut dibuang? Kan enggak mungkin kalau saya sudah menikah dan punya anak, tapi bukunya masih tersimpan. 

Juara 3 Olimpiade Fisika di Jember

juara-fisika-jember
Juara 3 olimpiade Fisika di Jember
Saya mengakui, kalau Adek ini lebih pandai daripada saya. Saat SD kelas 1 pun, nilai ulangannya sudah 98. Lah saya? Masih kembang kempis di angka 7 dan 8.

Saat tes masuk MTs, Adek yang pengen banget masuk kelas akselerasi, mengikuti serangkaian tes PPDB, termasuk di dalamnya adalah psikotes. Kami semua kaget tatkala mengetahui IQnya Adek tinggi banget, yaitu 140. Ya Salaam... si Adek pinter banget.

Maka, Adek pun sering banget ikut olimpiade atau lomba. Dulu saat SD, Adek lebih sering ikut olimpiade Matematika, tapi enggak pernah menang, hehe. Saat SMP, Adek lebih memilih olimpiade Fisika. Pada tahun pertama, Adek enggak pernah menang, tapi lumayan banget sih pengalamannya bisa jadi bekal untuk berlaga lagi di tahun berikutnya.

Alhamdulillah, pada tahun kedua, Adek memenangkan banyak sekali olimpiade... Yeeeey. Kalau Adek sedang lomba di Jember, biasanya saya temani. Bela-belain nemenin. Ini saja, yang Adek olimpiade Fisika di MAN 1 Jember, malamnya saya masih ada kegiatan sampai menginap di lokasi, lalu pulang ke kosan sebentar untuk mandi, kemudian berangkat menemui Adek yang sedang berjuang dan menemaninya sampai selesai. Saya sering banget kayak gini. Merelakan waktu istirahat demi menemani Adek yang sedang mencicil mengembangkan mimpi-mimpinya.

Kalau saat SMA ini, kata gurunya, Adek lebih berbakat di bidang Kimia. Soalnya, yang bidang Fisika udah disabet oleh teman-temannya yang lebih jago. Btw, Adek juga jago banget Bahasa Inggris. Apaan nih ya, semester pertama, di raport, nilainya Adek untuk Bahasa Inggris adalah 99. Duh lah Dek, keahlian Bahasa Inggrisnya mbok yo dibagi nang Mbak Ocha... 😅

Menjadi Panitia Mata Najwa

panitia-mata-najwa
Menjadi Panitia Mata Najwa
Saat saya kuliah, aktivitas saya buanyak. Mulai dari perkuliahan dalam kampus beserta tugas-tugasnya, menjadi relawan dan pengurus di Univ Jember Mengajar, Kelas Inspirasi Jember, dan Kelas Inspirasi Lumajang. Kesemuanya itu, sibuk banget. Tapi saya memang butuh kesibukan sih saat kuliah. Alasannya? Karena kuliah itu nganggur baaangeeet... hahaha. Ya bayangin aja deh, jumlah SKS yang diambil cuma 24 sks dalam seminggu. 24 itu ibaratnya 24 jam, yang notabene adalah 1 hari. Dalam seminggu, ada satu hari saya full kuliah, lalu sisa 6 harinya mau diapain? Ya dimanfaatkan dengan baik lah, dengan mengikuti beragam aktivitas di luar kampus.

Pada semester 7, di kala saya sibuk-sibuknya KKMT (Kuliah Kerja Mengajar Terbimbing, semacam KKN), ngurus proposal seminar skripsi, juga menjabat sebagai direktur Univ Jember Mengajar, saya masiiiih aja sempet-sempetnya mendaftar jadi panitia Mata Najwa, hahaha.

Saat itu, akan diselenggarakan Mata Najwa on Stage Jember, mereka butuh banyak panitia dari kalangan mahasiswa. Alhamdulillah, saya lolos seleksi, hehehe. Awalnya saya pengen ada di divisi LO (Lead Officer), tapi malah dapatnya di divisi Crowded, lalu dipindah di divisi registrasi. Saya ada di bagian registrasi tahap dua, yang mana saya berada di stand iklan Mogu-Mogu, hehehe. Jadi, saat registrasi, saya semacam menjadi petugas scanner registrasi, sambil menjadi SPGnya Mogu-Mogu, hahaha.

Dua perempuan yang berada di samping saya ini adalah anak PMR. Mereka numpang berteduh di tenda saya. Iseng-iseng mereka beli Mogu-Mogu dan ikutan kuisnya. Kalau menang kuis, hadiahnya adalah dinner bareng Mbak Najwa Shihab. Uwaaaa, dan mereka menaaaang. Kan nyebelin ya, saya yang ada stand, yang kenal sama si dua krucil PMR ini, yang ngiler pengen Mogu-Mogu gratisan, yang menyaksikan pengundian pemenang tapi enggak boleh ikutan jadi peserta kuis karena saya panitia, merasa syok-syok-gembira gimanaaa gitu... saat tahu yang menang adalah dua krucil yang menyemarakkan stand registrasi saya. Hahaha.

Btw, saya di sana mengenakan baju oren, dari Mogu-Mogu. Kalau bajunya lengan pendek, saya kasihkan ke orang-orang, kan enggak mungkin saya pakai, eman-eman kalau cuma dipakai di dalam rumah. Baju Mogu-Mogu tersebut, saya berikan ke Adek karena Adek suka banget sama Mogu-Mogu dan suka banget dengan modelnya. Pun baju Mogu-Mogunya dibawa ke asrama, hehehe. Saya dapat juga baju official Mata Najwa yang warna item, saya kasihkan ke kawan saya yang bersedia menampung saya saat saya pulang larut malam kala itu. Ada juga kaos putih yang kece banget, yang ada quotenya dari Steve Jobs, saya berikan kepada pacar saya (saat itu). Ada juga baju sponsor Kapal Api, yang saya berikan kepada orang di jalan. Total, saya dapat 4 kaos dari Mata Najwa, yang kesemuanya itu saya berikan kepada orang-orang, tanpa menyisakan satu pun untuk saya. Biarlah saya menyimpan kenangan-kenangannya saja, huehehe.

Foto Keluarga

foto-keluarga
Adek, Ibu, Ayah, dan saya
Sepertinya ini kali pertama kami foto bareng, hehehe. Nuansanya juga bagus, monokrom. Btw, kameranya juga pake kamera cantik punya Oppo, hehehe. Semoga lebaran selanjutnya bisa foto bareng yaa... Aamiin...

Sejujurnya kami belum pernah foto bareng di studio,  saat senggang maupun selepas wisuda.  Kalau bukan saat lebaran kemarin,  belum tentu ada foto keluarga seperti ini.

Mengunjungi Adek di Serpong

man-ic-serpong
Mengunjungi Adek di Serpong
Kalau yang ini siiih, kisah serunya sudah saya ceritakan di blog. Sudah saya ceritakan panjang lebar di blog,  sampai 3 episode.  Kisahnya berkesan banget,  mulai dari perjuangan,  perjalanan,  pertemuannya,  dan kejutannya.

Dari kiri,  ada Adek,  Ibu,  Mamanya Reta,  Reta,  dan saya.  Adek dan Reta ini sama-sama dari Lumajang,  yang sekolahnya juga sama di MAN IC Tangerang.  Kalau berkunjung,  ya bareng Mamanya Reta. Kalau mau jemput anak-anak saat libur sekolah,  ya bareng.  Pokoknya Adek harus sama Reta,  begitu kata Ibu dan Mamanya Reta. Eh ndilalah,  ekskul dan divisi OSIS mereka adalah sama.  Healaaaah,  ini enggak sengaja berjodoh kah???  😅

Main Sama Fatim

foto-keluarga

Semenjak Adek sekolah di Tangerang,  saya dan Ibu kehabisan mainan,  hahaha.  Maka jadilah kami sering membawa anak saudara untuk diajak main bersama kami.  Namanya Fatim,  kini umurnya 2,5 tahun. Kami sering main ke rumah Fatim,  melihatnya makan,  ngoceh,  dan berlarian kesana kemari.  Fatim juga sering main ke rumah,  lalu langsung minta es krim.

Foto ini adalah foto saat kami menonton karnaval Harja lu (Hari Jadi Lumajang).  Fatim tenang-tenang aja main sama kami.  Dan dia lucu baaangeeeet...  Pake kruduuuung...  Makin unyuuu...

Ibu memang gemas banget sama Fatim.  Hmmm mungkin sudah tanda-tandanya Ibu pengen punya cucu,  hahaha. Btw,  Ibu sering banget bilang "Ros,  Ibu kepengen putu... " Begitu ucapnya sambil ngiler,  pengen beli cemilan putu hangat bertabur parutan kelapa.

Lalu saya nyeletuk,  "Ah Ibu,  pengen putu terus,  kapan pengen mantu? " 😂😂 Sayangnya celetukan itu belum keluar dari bibir saya,  hahaha
-----

Nah,  itulah kisah 10 foto masa lalu,  yang secara sekilas dapat menggambarkan kehidupan saya yang sudah-sudah.  Panjang banget ya ceritanya 😅

Btw,  teman-teman juga boleh baca versi lainnya tentang Kisah 10 Foto Masa Lalu oleh Damar Gumilar

Terima kasih ya sudah membaca.  Semoga rasa keponya terpuaskan,  hahaha

W assalammualaikum wr wb

11 comments for "Kisah 10 Foto Masa Lalu - Sebuah Memoar"

  1. mengabadikan momen dalam sebuah foto memang asik, mbak. kita bisa lihat kenangan masa lalu gitu lah ceritanya. cuma kalau tiba2 foto itu hilang kitaa bakal sedih banget deh.

    ReplyDelete
  2. Hmm.. Maka dari itu menurutku mesin waktu itu ada...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hadehh.. Nggak perlu atuh neng..
      Lewat foto-foto semacam itu kan seenggaknya akan membawa kembali ingatan ke masa lalu.. hehe

      Delete
    2. Oooh maksudnya mesin waktunya mengembalika ingatan toh. Kukira kembali beneran 😂

      Delete
  3. Heeehhh, gak ada fotoku sama Mbak Saraahh!!!!

    ReplyDelete
  4. wah ngakak yang nangis dan umbelan minta nonton TV :D emang mba kalau ditanya masa lalu biasanya yang jelek2 yang dingat wkwkwk..

    Btw adenya masyaAlloh keren amat IQ sampe 140 semoga anak keduaku ini juga punya IQ segitu *elus2 perut* aamiin

    Seru2 y mba mengingat kenangan dari kisah foto yang kita simpan :) selalu ada dalam memori

    ReplyDelete
  5. Wah... seru.
    Tiap foto punya momen indah untuk dikenang.

    ReplyDelete
  6. wihh..masih ada yahh fotonya yang dulu...buat kenang kenangan mbaa..hehhe

    ReplyDelete
  7. Ibumu mirip banget sama kamu Cha. Btw, umurmu kan masih mudaaa... udah diminta cucu aja loh. Untung ibuku ngga pernah nagih cucu, lol. Ngga pernah bahas blas kapan mau nikah, dll.

    ReplyDelete
  8. Ku buka album biruuu...

    Ahh, selalu menenangkan kalo buka foto foto lama
    Bikin perasaan ajdi rindu dan hangat dan meluap luap

    coba dulu kita ngeblog dari balita ya..
    PAsti foto dari zaman balita sampe skrg ada semua di blog, gaperlu buka album biru tinggal buka blog post lama lama aja hahaha

    ReplyDelete